<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560</id><updated>2009-11-05T11:54:07.703-08:00</updated><title type='text'>Mesum Story</title><subtitle type='html'>Sex Stories Collection, Koleksi Cerita Seks, Cerita Mesum, Cerita Memek, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Erotis, Cerita Saru, Cerita 17tahun dan Cerita Dewasa Terbaik</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>283</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-3748901932932407115</id><published>2009-03-22T13:50:00.001-07:00</published><updated>2009-03-22T13:50:52.724-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Setengah Baya'/><title type='text'>Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 2</title><content type='html'>"Saann..!" Jeritku lirih memanggil namanya saat untuk yang kesekian kali, puting susuku disedotnya kuat-kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggelinjang kegelian. Hisapan itu nikmat luar biasa. Selangkanganku semakin basah dan meradang. Tubuhku menggeliat-geliat bagai ular kepanasan mengimbangi permainan lidah dan bibir Hasan di buah dadaku yang terasa semakin menggelembung keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh Kak.. Teteknya bagus banget.. Mmphh.. Wuih.. Montok banget.." rayu Hasan sambil terus memainkan sepasang payudaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku terus menyambut hangat setiap kecupan mesra bibirnya. Badanku melengkung dan dadaku kubusungkan untuk mengejar kecupan bibir Hasan. Lalu kudorong kepala Hasan ke bawah menyusur perutku. Dia mengerti dengan apa yang kuinginkan saat ini. Dengan nafas menggebu-gebu, ia mulai bergerak. Kedua tangan Hasan menyelusup ke bawah tubuhku dan mencekal pinggang, mengangkat pinggulku dan meloloskan kimono yang tersangkut di bawah kemudian mencampakkannya entah ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku benar-benar telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menghalangi. Kulirik Hasan yang terpesona memandangi ketelanjanganku. Gairahku semakin meletup melihat tatapan penuh birahi Hasan, membuatku begitu bangga dan tersanjung. Walau sudah sering melihatnya, tetap saja Hasan terkagum-kagum jika melihatku dalam keadaan telanjang seperti ini. Mataku melirik ke bawah melihat tonjolan keras di balik CD-nya. Dadaku berdegup, selangkanganku berdenyut dan semakin membasah oleh gairah membayangkan batang keras dibalik CD-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saann.. Nnghh.. Jangan diliatin aja.. Dingin nih.." rengekku manja dengan gaya yang genit. Hasan seperti tersadar dari lamunannya, dan mulai beraksi lagi.&lt;br /&gt;"Abisnya badan kakak seksi banget sih.. Gak bosen aku ngeliat ni badan kalo lagi telanjang.." katanya seraya melepaskan CD hingga kini kami sama-sama telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat batang kejantanannya yang keras itu meloncat keluar seperti ada pernya begitu lepas dari kungkungan CD. Mengacung tegang dengan gagahnya, besar dan panjang. Terlihat olehku otot-otot melingkar di sekujur batang itu. Aku sudah tak sabar lagi ingin merasakan kekerasannya dalam genggamanku. Yang dimiiki Hasan ini membuat punya suamiku seperti milik anak kecil saja. Segera kusambut tubuh Hasan yang menindih badanku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung menyambut hangat ciuman Hasan sambil merangkulnya dengan erat. Ciuman itu benar-benar membuatku terhanyut oleh gairah yang semakin meninggi. Terlebih lagi saat kurasakan batang kejantanan Hasan yang keras menggesek-gesek perutku, gairahku semakin meledak-ledak dibuatnya. Hasan kembali menciumi buah dadaku, kurasakan dan kuresapi setiap remasan dan hisapannya dengan penuh kenikmatan. Aku tak mau berdiam saja dimanja seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nakal tanganku menggerayang ke sekujur tubuh Hasan, bergerak perlahan namun pasti ke arah batang kemaluannya. Hatiku berdesir kencang saat merasakan batang nan keras itu dalam genggamanku, kutelusuri mulai dari ujung sampai ke pangkalnya. Jemariku menari-nari lincah menelusuri urat-urat yang melingkar di sekujur batang kejantanannya. Kudengar Hasan mengeluh panjang. Kuingin dia merasakan kenikmatan yang kuberikan. Ujung jariku menggelitik moncongnya yang sudah licin oleh cairan. Lagi-lagi Hasan melenguh, kali ini lebih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja dia membalikkan tubuhnya, kepalanya persis berada di atas selangkanganku sementara miliknya persis di atas wajahku. Kulihat batang kejantanan Hasan bergelantungan, ujungnya menggesek-gesek wajahku hingga dengan refleks mulutku langsung menangkap batang kejantanan itu. Kukulum pelan-pelan dengan penuh perasaan. Hasan sepertinya tidak mau kalah dengan gerakanku yang agresif. Lidahnya menjulur menelusuri garis memanjang bibir kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini membuatku terkejut, tubuhku bergetar seakan diserang listrik. Kurasakan darahku berdesir kemana-mana, sementara lidah Hasan bermain semakin lincah. Menjilat, menusuk-nusuk, menerobos rongga rahimku. Ini membuatku seperti melayang-layang di atas awan. Nikmatnya sungguh tidak terkira, pinggulku tak bisa diam mengikuti kemana jilatan lidah Hasan berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku seperti dialiri listrik berkekuatan tinggi. Gemetar menahan desakan kuat dalam tubuhku. Aku semakin tak tahan menerima berbagai kenikmatan yang dibuat oleh lidah Hasan. Perutku mengejang, kakiku merapat, menjepit kepala Hasan. Seluruh otot-ototku menegang, dan jantungku serasa berhenti berdetak. Sekuat tenaga aku bertahan sampai akhirnya tubuhku tak mampu lagi menahan kenikmatan gelombang orgasme yang meledak-ledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diiringi jeritan lirih dan panjang, tubuhku menghentak berkali-kali mengikuti semburan cairan hangat dalam liang kewanitaanku. Aku terhempas di atas ranjang dengan tubuh lunglai tak bertenaga. Lagi-lagi puncak kenikmatan orgasme yang kuraih bersama Hasan terasa dahsyat dan luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.. Ssann.. Nghh.. Enak sekali.." rintihku tak kuasa menahan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kenikmatan seperti ini tak bisa lagi kudapatkan dari suami yang sangat kucintai, yang ada hanya rasa menggantung jika sedang bercumbu dengannya. Semenatara Hasan memberikan kenikmatan tak terhingga setiap kali kami bercinta. Sambil menetralisir nafasku yang naik-turun tak karuan, kulihat Hasan tersenyum di bawah sana. Dia pasti sangat bangga dengan kehebatannya bercinta karena selalu mampu membuatku mencapai puncak kenikmatan orgasme yang sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan tahu bahwa suamiku tidak dapat memuaskan tubuhku seperti saat dia mencumbuku. Aku tak bisa berbuat banyak, karena kuakui kalau aku sangat membutuhkannya saat ini. Membutuhkan apa yang sedang kugenggam dalam tanganku ini, benda yang berulang kali telah memberikan kenikmatan lebih daripada apa yang kurasakan barusan. Hasan masih menjilati sisa-sisa cairan yang keluar dari liang senggamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jemariku meremas-remas kembali batang kejantanannya. Kukocok perlahan lalu kumasukkan ke dalam mulutku, kukulum dan kujilat-jilat. Kurasakan tubuh Hasan meregang dan dari mulutnya keluar rintihan kenikmatan. Aku tersenyum melihatnya seperti itu, aku ingin memberi kepuasan pada Hasan seperti dia telah memuaskan tubuhku. Kulumanku semakin panas, lidahku melata-lata liar di sekujur batang kejantanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdengar suara kuluman mulutku, sementara Hasan terus merintih-rintih keenakan. Dia menggerakkan tubuhnya di atasku seperti sedang bersenggama, hanya saja saat itu batang kelaminnya menancap dalam mulutku. Kuhisap dan kusedot kuat-kuat, tapi dia belum memperlihatkan tanda-tanda akan segera mencapai klimaks. Mulutku mulai terasa kaku karena kelelahan sementara gairahku mulai bangkit kembali, liang kemaluanku sudah mulai mengembang dan basah lagi. Sementara batang kejantanan Hasan masih tegak dengan gagah perkasa, bahkan lebih keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah Kak.. Ganti posisi aja ya.." kata Hasan seraya membalikkan tubuhnya dalam posisi umumnya bersetubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar pejantan tangguh pujiku dalam hati. Hasan memang piawai dalam bercinta, padahal baru sebulan kami berhubungan, dia sudah sepandai ini, batinku. Dia tidak langsung memasukkan batang kelaminnya dalam lubang vaginaku, tetapi digesek-gesekkan dahulu di sekitar bibir kemaluanku. Dengan sengaja ia menekan seperti hendak dimasukkan, tetapi kemudian di gesekan kembali ke ujung atas bibir vaginaku hingga menyentuh klitoris. Ngilu, enak dan entah apa rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saann.. Aduuhh.. Aduuhh saann! Sshh.. Mmppffhh.. Ayo saann.. Masukin aja.. Nggak tahann.." pintaku menjerit-jerit tanpa malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hampir mencapai orgasme lagi saat membayangkan betapa nikmatnya saat batang kemaluan Hasan yang perkasa itu mengisi liang kewanitaanku yang masih rapat dan singset terawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah nggak tahan ya.. Kak.." candanya hingga membuatku blingsatan menahan nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku gemas sekali melihatnya menyeringai seperti itu. Aku langsung menekan pantat Hasan dengan kedua tanganku sekuat tenaga. Hasan sama sekali tak menyangka akan hal itu, ia tak sempat lagi menahannya. Maka tak ayal lagi batang kejantanan Hasan melesak ke dalam liang kewanitaanku. Aku segera membuka kedua kakiku lebar-lebar, memberi jalan seleluasa mungkin bagi batang kelamin perkasa itu. Terasa batang kejantanan itu sangat sesak sehingga membuat liang kewanitaanku terkuak lebar-lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat wajah Hasan terbelalak tak menyangka akan perbuatanku. Ia melirik ke bawah melihat seluruh batang kemaluannya telah terbenam dalam liang senggamaku. Aku tersenyum menyaksikannya, Hasan balas tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak nakal ya.. Awas.. Ntar aku bikin mati keenakan.." ujarnya.&lt;br /&gt;"Mau doongg.." jawabku genit sambil memeluk tubuh kekarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan mulai menggerakkan pinggulnya, pantatnya kulihat naik turun dengan teratur. Kadang-kadang digoyang-goyangkan sehingga ujung batang kemaluannya menyentuh seluruh relung-relung vaginaku. Aku turut mengimbanginya, pinggulku berputar penuh irama. Bergerak patah-patah, kemudian berputar lagi. Efeknya luar biasa, Hasan memuji-muji goyanganku. Dia belum pernah melihat aku begitu bergairah sampai bisa bergoyang sehebat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin bergairah, pinggulku terus bergoyang tanpa henti sambil mengedut-ngedutkan otot vaginaku. Ini membuat Hasan merasa batang kejantanannya seperti dikulum-kulum dalam jepitan liang senggamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akkhh.. Kaa.. Eennaakkhh.., hebaathh.. Uugghh.." erangnya berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara tangan Hasan semakin kuat meremas-remas dan memilin-milin puting susuku dan bibirnya terus menyapu seluruh wajahku hingga ke leher, Hasan semakin mempercepat irama tusukannya, kurasakan batang kejantanannya yang besar keluar masuk liang senggamaku dengan cepatnya. Aku berusaha terus mengimbangi kecepatan gerak pinggul Hasan, dan harus kuakui permainan Hasan sangat luar biasa. Aku bisa merasakan bagaimana rasa nikmat yang berawal dari liang kewanitaanku mulai menjalari seluruh tubuhku, tanda bahwa puncak orgasme mulai merasuki tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Hasan nampak berusaha keras untuk bertahan, padahal tubuhnya juga mulai mengejang-ngejang tak karuan. Aku merasa kalau dia juga hampir mencapai klimaks. Pinggulku meliuk-liuk semakin liar, sementara pantat Hasan mengaduk-ngaduk kewanitaanku semakin cepat. Semakin cepat tak beraturan, sehingga aku yakin kalau dia akan segera mengeluarkan sperma hangatnya dalam liang kenikmatanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi secara tiba-tiba saja aliran kencang berdesir dalam tubuhku. Nampaknya tubuhku juga sudah hampir tidak tahan menerima rangsangan Hasan terus-menerus. Liang kenikmatanku terasa merekah semakin lebar, kedua ujung puting susuku semakin mengeras, mencuat berdiri tegak. Bibir Hasan langsung menangkapnya, dan menyedot kuat-kuat kemudian menjilatinya dengan penuh nafsu. Aku membusungkan dadaku sebisa mungkin dan oohh.. Rasanya aku tak kuat lagi bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ssaann..! Cepat keluarin doonng..!" teriakku sambil menekan pantatnya kuat-kuat agar kejantanannya lebih masuk ke selangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa detik kemudian tubuhku bergetar hebat, diiringi oleh gelombang rasa nikmat tak terhingga saat cairan hangat menyembur dari liang kewanitaanku. Bersamaan dengan itu, tubuh Hasan bergetar keras yang diiringi semprotan cairan hangat dari batang kejantanannya di dalam liang kewanitaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan langsung memeluk tubuhku erat-erat, dengan penuh perasaan aku membalas pelukan itu. Kami lalu bergulingan di ranjang merasakan kenikmatan puncak permainan cinta ini dengan penuh kepuasan. Kami merasakan dan meresapinya bersama-sama, peluh yang membasahi tubuh kami berdua menjadi satu dan tak kami pedulikan lagi. Bantal dan guling berjatuhan ke lantai. Sprei berantakan tak karuan terlepas dari ikatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eranganku, jeritan nikmatku saling bersahutan dengan geraman Hasan. Kakiku melingkar di sekitar pinggangnya, sementara bibirnya terus menghujani sekujur wajah dan leherku dengan ciuman-ciuman lembut. Aku masih bisa merasakan kedutan-kedutan batang kejantanan Hasan yang perkasa menggesek dinding vaginaku. Nikmat sekali permainan cinta yang penuh dengan gelora nafsu birahi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku termenung merasakan sisa-sisa akhir kenikmatan ini. Tak kusangka kalau aku akan berhubungan badan dengan Hasan di kamar orang tuaku. Dia memang seorang laki-laki jantan yang selalu memberi kejutan setiap kali kami bercinta. Setelah itu kami berdua tertidur dengan posisi aku menindih tubuhnya, sementara batang kejantanannya masih menancap di dalam liang kewanitaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-3748901932932407115?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/3748901932932407115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=3748901932932407115' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/3748901932932407115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/3748901932932407115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2009/03/bercinta-di-rumah-orang-tuaku-2_22.html' title='Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 2'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-4680046622832645705</id><published>2009-03-22T13:48:00.000-07:00</published><updated>2009-03-22T14:05:54.661-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Setengah Baya'/><title type='text'>Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1</title><content type='html'>Sekedar untuk mengingatkan para pembaca sekali lagi, namaku Irma tapi biasa dipanggil I'in oleh orang di rumah. Aku sulung dari 4 bersaudara yang semuanya perempuan. Saat ini usiaku 34 tahun dan adik bungsuku Tita 21 tahun. Aku sangat menjaga bentuk tubuhku, dengan tinggi badan 167 cm dan berat badan 59 kg, tidak ada yang menyangka kalau aku sudah memiliki 2 orang anak yaitu Echa 6 dan Dita 3 tahun. Kalau kata suamiku, teman-temannya sering memuji tubuhku, terutama pada bagian pinggul dan payudaraku yang berukuran 34B hingga terlihat sangat seksi jika sedang mengenakan baju yang pressed body.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percumbuanku dengan Hasan terus berlanjut tanpa pernah ada halangan yang benar-benar mengganggu, seperti jika suamiku datang dari kota tempat dia bekerja, atau "tamu" wanita yang datang rutin tiap bulannya. Setiap kali bercumbu dengannya aku selalu mendapatkan kenikmatan orgasme yang tak terhingga, mulai dari gaya yang baru sampai tempat-tempat yang selama ini tak pernah kukira akan dapat melakukan hubungan sex di sana hingga itu membuatku semakin merasa terikat dan sulit untuk dapat lepas darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tempat yang sangat berkesan olehku adalah saat kami berdua melakukannya di rumah orang tuaku. Itu semua berawal dari keberangkatan kedua orang tuaku kekota Bpp karena ada keluarga yang akan menikah, rencananya mereka akan menginap satu malam di sana. Atas permintaan Tita, aku dan kedua anakku diminta bermalam karena dia takut kalau harus sendirian. Selain itu atas izin ayah kami, Hasan diminta Tita untuk bermalam dan keberadaanku di sana bertindak untuk menjaga kalau sampai mereka kelepasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Hasan memiliki kejutan yang dia persiapkan begitu mendengar kalau aku juga akan ikut bermalam di sana. Malam itu sekitar jam 20:10, kami baru saja selesai makan malam. Setelah menyikat gigi, aku menidurkan kedua anakku di kamar yang dulu kutempati. Setelah 10 menit aku yakin kalau kedua anakku telah tertidur pulas, aku mematikan lampu dan keluar pelan-pelan dari kamar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sampai di depan TV aku mencari Tita, tapi dia tidak ada di sana sementara Hasan sedang asyik di sofa sambil tidur-tiduran di sana. Lalu aku mencarinya di dapur, kuketuk pintu WC, di sana tidak ada juga. Akhirnya aku kembali ke ruang tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Geser dikit San.. Kamu lihat Tita nggak..?" tanyaku padanya.&lt;br /&gt;"Sudah tidur Kak.." jawab Hasan sambil duduk.&lt;br /&gt;"Tumben sudah pulas jam segini.. Biasanya juga jam 10" komentarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan tersenyum mendengar perkataanku, lalu dia merapatkan posisi duduknya ke tubuhku. Sementara matanya menatap tajam ke arahku dari atas sampai ke bawah. Walau tahu sedang dipelototi aku pura-pura cuek sambil menonton TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku mengenakan T-shirt tipis tanpa lengan yang lebih mirip singlet warna putih dengan dalaman BH warna hitam. T-shirt itu agak longgar, tapi tidak dapat menyembunyikan bentuk lekukan yang menonjol di dadaku. Tipisnya kain T-shirt dan BH yang kupakai membuat bentuk puting susuku secara samar bisa terlihat. Dengan belahan dada T-shirt yang rendah membuat kedua payudaraku akan terlihat dengan jelas jika sedang membungkuk sedikit saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bawahanku adalah celana ketat selutut yang juga warna putih. Celana ketat itu memamerkan keindahan garis tubuhku pada bagian bawah. Lekukan pinggul dan pantatku yang sekal tercetak secara nyata di celana yang kukenakan saat itu. Sebenarnya aku memakai semua itu untuk menyenangkan Hasan, tapi aku tak mau mengatakannya karena aku sengaja ingin membuatnya menjadi panas dingin. Selain itu aku tak ada rencana untuk bercinta dengannya karena kondisi yang kurang mendukung, apa mau dikata rencana tinggal rencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak seksi banget malam ini.. Aku jadi terangsang nih" bisik Hasan di telingaku sebelah kiri.&lt;br /&gt;"Jangan San.. ini di rumah ayah.." aku menolak sambil mendorong dadanya dengan kedua tanganku.&lt;br /&gt;"Nggak apa Kak.. Toh mereka juga nggak bakal tahu.." kata Hasan sambil meremas payudaraku.&lt;br /&gt;"Mmmh.. Tapi.. Ada.. Tita di kamar.. Kalo dia.. Akkh.. Bangun.. Gimana..?" ujarku sambil mencoba menahan kedua tangannya yang mencoba menelusup ke dalam T-shirt yang aku kenakan.&lt;br /&gt;"Tenang aja Kak.. Aku udah masukin obat tidur ke dalam teh yang dia minum tadi.. Kalo kakak nggak mau.. Aku tidur sama Tita aja dah.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar perkataannya itu, aku kaget bukan kepalang. Selain masalah obat tidur, aku takut kalau Hasan akan benar-benar meniduri Tita malam ini. Selang beberapa waktu aku tenggelam dalam pikiranku, dan saat aku sadar ternyata tubuhku bagian atas tinggal tertutup oleh BH yang kaitannya telah terlepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke San.. Kakak mau.. Tapi jangan disini.." pintaku pada Hasan.&lt;br /&gt;"Terserah kakak aja.." kata Hasan sambil menghentikan kegiatannya.&lt;br /&gt;"Setengah jam lagi kamu masuk ke kamar.. Kakak mau siap-siap dulu.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan mengangguk, lalu mengangkat tubuhnya yang sedang menindihku yang sudah setengah telanjang. Setelah mengenakan kembali BH dan T-Shirt yang tadi dipreteli oleh Hasan, aku langsung berdiri. Saat hendak melangkah, tiba-tiba Hasan merangkul pinggulku, kepalanya langsung tenggelam di pangkal pahaku sementara kedua tangannya meremas pantatku. Aku mendesah saat merasakan lidahnya yang menusuk-nusuk celana tipis yang kukenakan. Selang 5 menit kemudian Hasan melepaskan tubuhku dan membiarkan aku berjalan ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuk ke kamar orang tuaku, pintu langsung kututup dan kulepaskan semua kain yang melekat di tubuhku kemudian dengan setengah berlari aku masuk ke toilet yang terdapat di kamar tersebut. Kuambil sabun sirih khusus untuk membersihkan alat vital wanita lalu kubersihkan kelaminku dengan sabun itu. Sekitar sepuluh menit kemudian aku keluar dan langsung duduk di meja rias ibuku. Kuperhatikan tubuhku di cermin, sepasang payudara berukuran 34B yang montok dan kenyal menggelantung indah dan menggairahkan. Kuturunkan mataku ke bawah, liang senggamaku yang merah terlihat dengan jelas tanpa terganggu oleh rambut kemaluan yang baru tumbuh pendek. Itu karena beberapa hari yang lalu rambut itu telah dicukur habis oleh suamiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuambil parfum khusus wanita milik ibu dan kusemprotkan ke beberapa bagian tubuh. Seluruh bagian leher, ketiak, payudara, perut dan paha. Semua itu adalah bagian tubuh yang biasa dijilat Hasan jika sedang mencumbuku. Tanpa mengenakan dalaman, kukenakan kimono tidur milik ibuku dan mengikat tali di pinggangnya. Kukecilkan volume cahaya kamar agar menjadi lebih romantis. Saat akan bercinta dengan suami saja aku tak pernah melakukan persiapan seperti saat itu, Hasan benar-benar telah membiusku. Setelah itu aku naik ke atas kasur. Kupeluk guling sambil menunggu Hasan masuk, aku merasa deg-degan seperti saat melalui malam pertamaku dengan suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa waktu kemudian kudengar pintu kamar diketuk, kupejamkan mata sambil bergulung ke arah kanan. Kemudian terdengar suara pintu dibuka lalu ditutup kembali, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahku. Hasan memanggil-manggil namaku, tapi aku pura-pura tertidur dan tak menjawabnya. Kurasakan kasur agak bergerak, rupanya Hasan sudah naik ke atasnya. Tangannya menyentuh bahuku dan menggoyangnya, aku masih berpura-pura tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia mengubah posisi tubuhku dengan menelentangkannya, guling yang sedang kupeluk diambilnya. Setelah itu terasa tali kimonoku ditariknya, dan saat Hasan membuka kimono yang kukenakan, hawa dingin ruangan menyengat tubuhku bagian depan. Tak ada gerakan setelah itu, tapi aku yakin kalau saat ini Hasan sedang memandangi tubuhku bagian depan yang sudah terbuka lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama beberapa saat aku tidak merasakan ada gerakan, ini membuatku hendak membuka mata karena penasaran. Tiba-tiba aku merasakan angin hangat pada pangkal pahaku, kubuka mataku sedikit, ternyata angin hangat tadi disebabkan oleh Hasan yang bernafas di selangkanganku. Pasti dia sedang menikmati wangi sabun sirih yang kupakai barusan. Hembusan nafas dari hidungnya bertiup ke arah pintu liang vaginaku. Ini menimbulkan sensasi nikmat tersendiri dalam tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan terus menghembuskan nafasnya di bagian bawah perutku, rasa geli dan nikmat bercampur menjadi satu dan merangsang tubuhku. Aku mencoba bertahan dan melawan kenikmatan yang terus menyerang, tapi tubuhku berkata lain. Kurasakan ada cairan hangat yang mengalir keluar dari lubang kemaluanku, padahal Hasan hanya menghembuskan nafas saja tanpa melakukan penetrasi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring keluarnya cairan hangat dari liang kenikmatanku, udara hangat dari hidung Hasan mulai naik ke atas. Udara itu berputar-putar sejenak di lubang pusar, kemudian menjelajahi setiap jengkal kedua payudaraku, bergerak ke atas lagi hingga ke leher. Di sini dia bergerak bolak-balik dari kanan ke kiri. Semua perbuatan Hasan itu membuatku semakin terangsang dan hampir saja kehilangan kontrol, berkali-kali aku ingin mengerang saat hidungnya menggesek-gesek puting susuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai kapan mau tidur Kak..?" bisik Hasan di telinga kiriku sementara salah satu tangannya memelintir puting susuku sebelah kanan.&lt;br /&gt;"Aucch.. Sshh.. Ampuun Saan.. Aku dah banguunn" erangku sambil membuka kedua kelopak mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga ternyata Hasan sudah hanya mengenakan CD. Wajah Hasan tampak jelas sekali di hadapanku, ada senyum nakal penuh kemenangan di sana. Kubalas senyumnya dan dengan penuh hasrat kulingkarkan kedua tanganku di lehernya. Kutarik wajah Hasan lebih mendekat ke arahku sampai bibir kami berdua bertemu dan langsung beradu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibir Hasan langsung saja melumat bibirku seakan ingin menelannya, lidahnya menusuk ke dalam rongga mulutku dan mencari-cari lidahku. Aku tak mau kalah, kujulurkan lidahku untuk menggelitik rongga mulut Hasan, ia terpejam merasakan seranganku. Tapi dia tak membiarkan aku mengendalikan permainan kami malam itu, dia melepaskan ciumannya dari bibirku dan menciumi wajahku sesuka hati. Sesekali dia mengulum bibirku, lalu menjilati wajahku. Aku semakin mengeratkan rangkulan tanganku pada lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin rasanya aku menjerit sekeras mungkin saat merasakan cumbuannya yang semakin liar saja, setelah menggerayang ke leher bibirnya terus turun hingga sampai ke atas payudaraku. Aku menahan nafas manakala bibirnya mulai menciumi kulit di seputar buah dadaku. Lidahnya menari-nari dengan bebas menelusuri kemulusan kulit sepasang payudaraku yang sekal dan menggairahkan. Nafas Hasan menderu semakin kencang disertai suara kecipak mulutnya yang dengan penuh hasrat melumat payudaraku yang montok seolah ingin merasakan setiap inci kekenyalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari bibirku meluncur desisan dan rintihan nikmat, sementara tanganku meremas rambut Hasan dan menekan kepalanya ke dadaku. Rangsangan maha dahsyat menghajar tubuhku manakala bibir Hasan mulai menjilat dan mengulum puting susuku yang telah mengeras. Dengan lihai lidahnya menyapu seluruh permukaan putingku secara bergantian, aku mengerang halus tiap kali bibir Hasan berhenti di salah satu puting susuku. Kemudian ia mulai menyedot-nyedot putingku yang malang itu sebelum mengakhirinya dengan sebuah gigitan halus dan menariknya perlahan dengan giginya yang putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Hasan melakukan itu, puting susuku yang lain tidak dibiarkannya menganggur begitu saja. Dengan nakal jari-jari tangan Hasan memilin dan memelintir puting susuku ini. Dan jika dia telah menggigit salah satu di antaranya, maka tangannya akan memencet puting yang lain dan menariknya dengan penuh gairah. Dan itu dilakukan Hasan bergantian kepada kedua puting susuku secara berulang-ulang. Perbuatannya itu makin membuatku lupa daratan dan serasa melayang-layang di awan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-4680046622832645705?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/4680046622832645705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=4680046622832645705' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/4680046622832645705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/4680046622832645705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2009/03/bercinta-di-rumah-orang-tuaku-2.html' title='Bercinta di Rumah Orang Tuaku - 1'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-6339840816343195365</id><published>2009-01-12T17:00:00.002-08:00</published><updated>2009-01-12T17:01:04.492-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tukar Pasangan'/><title type='text'>Pagar Makan Tanaman - 1</title><content type='html'>Namaku Robby. 10 tahun yang lalu, aku punya kisah nyata yang sangat asyik dan sayang untuk tidak aku bagikan pada rekan netter 17Tahun.com. Pengalamanku memuaskan istri teman yang sedang birahi berat namun tidak mendapatkannya dari sang suami, sangat membekas dalam kehidupanku, sehingga karena pengalaman ini pula yang membuat aku sampai kini sering sulit untuk menolak beberapa istri kesepian yang membutuhkan pemuasan birahi. Seperti netter ketahui (yang sudah berpengalaman RT), bila istri sudah birahi dan tidak mendapatkan pemuasan yang maksimal, banyak efek samping yang akan timbul, seringkali keluhan nyeri kepala, mual dan gangguan emosional selalu menyertainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hidup dan berbisnis di kota D dengan pulaunya yang sangat terkenal di mancanegara, juga dengan pantai K nya yang indah, tempat wisatawan menjemur diri. Aku bergerak dibidang farmasi. Aku punya teman dekat, baik secara persahabatan maupun dalam bisnis. Namanya Har (samaran) dan istrinya cantik, anggun, usianya sekitar 25 thn, biasa dipanggil Henny. Hubungan bisnisku dengan Har dan istrinya berjalan sinergis, karena Har dan Henny bergerak dibidang Alat Kesehatan (Alkes). Aku sering membawa klien/konsumen pada mereka, demikian juga aku sering mendapatkan orderan dari mereka. Setiap Har memberikan orderan sales untukku, Henny selalu menambahkan orderan tersebut, sehingga menguntungkan aku secara value. Hal ini menambah rasa respekku pada Henny, karena dia selalu memperhatikan dan membantu salesku kalau sedang jelek, tanpa sang suami mengeluhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalannya waktu, sekitar 1,5 tahun sejak aku kenal mereka, bisnis kami berdua sukses dan Har mengembangkan usahanya sampai keluar kota, bahkan keluar pulau. Seringkali kalau Har pergi cukup lama, dia selalu menitipkan istri dan anaknya padaku untuk aku perhatikan segala sesuatunya. Karena kedekatanku sudah seperti keluarga sendiri, setiap pesan Har selalu aku perhatikan. Aku akui, bahwa Har sungguh berbahagia memiliki istri yang boleh aku katakan mendekati sempurna, dengan tinggi 167 cm, berat sekitar 49 kg, kulitnya putih mulus, penampilannya lemah lembut dengan sedikit kemanjaan dan di pipinya tak ketinggalan dengan lesung pipitnya. Kesanku bahwa kedua insan ini nampak rukun, damai, karena setiap aku berkunjung ke tempatnya, tak pernah sekalipun sang suami tidak didampingi istrinya dan setiap kali istrinya selalu tidak pernah jauh duduk disebelah suaminya sambil salah satu tangannya menggelayut dipundak sang suami, mesra sekali nampaknya. aku jadi iri dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, Har telepon aku dan berpesan titip anak dan istrinya, karena Har akan ke pulau K selama seminggu.&lt;br /&gt;"Rob, aku mau ke K seminggu, kamu kalau butuh order, langsung aja sama henny yach, tolong perhatikan juga anak istriku ya", pesannya.&lt;br /&gt;"Okey Har, ngga usah kuatir, akan aku bantu apapun keperluan istrimu".&lt;br /&gt;Seperti biasanya, setiap Selasa aku selalu datang ketempat keluarga har untuk mendapatkan orderan, dan seperti biasa juga bila sang suami tidak ada maka Henny yang menemuiku.&lt;br /&gt;"Hay Hen, gimana kabarnya, aku minta orderan nikh, kasih yg banyak ya", pintaku padanya.&lt;br /&gt;"Mau berapa kamu Rob, aku sih siap bantu kamu berapapun kamu minta", balasnya.&lt;br /&gt;Ahh, kalau itu sih aku yakin Henny tahu kebutuhanku, iya ngga?".&lt;br /&gt;Setelah pelanggan sepi dan aku mendapatkan orderan dari Henny, aku akan pamit pulang.&lt;br /&gt;"thanks orderannya ya Hen, kalau ada problem, kontak aku aja", pesanku.&lt;br /&gt;Aku langsung tancap kemobil dan membuka pintu.&lt;br /&gt;"Robby, Rob, ntar dulu, kenapa sih buru-buru pulang?", tanya Henny.&lt;br /&gt;Belum sempat aku menjawabnya, dia langsung menyampaikan keluhannya.&lt;br /&gt;"Rob, itu lho si Raymond (anaknya) agak ngga enak badan, suhu badannya tinggi, dimana yach dokter anak yang bagus, kamu khan tahu?", katanya.&lt;br /&gt;"Oh ada, itu dr. AH di jl.Diponegoro, bagus dokternya", kataku.&lt;br /&gt;"Kamu bantuin aku yach, antarin aku ntar sore", pintanya.&lt;br /&gt;Aku bingung untuk menjawabnya, bingung antara menolong sebagai istri teman baikku dengan perasaan sungkanisasi yang tinggi karena suami tidak ada, kuatir jadi bahan gunjingan tetangganya, apalagi dokter spesialis anak tsb sampai malam selesainya. Henny tahu keraguanku.&lt;br /&gt;"Ayolah Rob, please bantu aku. Pegawai dan sopirku jam 05.00 sore khan udah pulang. Apa aku perlu telepon istrimu untuk mintain ijin?".&lt;br /&gt;Karena kasihan anaknya sakit dan dia sendirian tanpa suami, aku iba.&lt;br /&gt;"Okeylah, kamu mau telepon istriku atau ngga, terserah. Pokoknya ntar sore jam 16.50 wita, aku jemput kamu yach, jangan terlambat", jawabku.&lt;br /&gt;"Thanks ya Rob, kamu baik banget deh, aku udah siap pasti", sahutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 16.50 wita aku sudah berada di depan pintu rumahnya. Aku tekan bel rumah dan selang beberapa saat Henny muncul dengan pakaian sederhana.&lt;br /&gt;"Ntar ya Rob, tadi ada pelanggan itu lho, aku jadi belum siap kamu datang. Tunggu bentar yach, kamu baca-baca dulu deh", katanya.&lt;br /&gt;"Okey Henny, sampaikan dulu, rias yang cantik biar dokternya naksir ama kamu", gurauku padanya tanpa ada jawaban darinya.&lt;br /&gt;Sekitar 15 menit kemudian, muncul Henny dari balik pintu kamar dengan Gaun yang amboi indahnya. Gaun yang sepantasnya digunakan saat ada pesta atau acara resmi. Aku tertegun akan kecantikannya, kelembutannya dengan mengenakan gaun tersebut. Dengan gaun panjang, putih halus kombinasi bunga-bunga tulip pink didadanya kebawah, aroma parfumnya yang lembut dan pati harganya diatas 1 juta. Dengan sepatunya yang tidak terlalu tinggi (memang Henny body nya sudah tinggi), menambah keanggunan dirinya.&lt;br /&gt;"Hey Rob, emangnya kenapa? koq bengong gitu sih? cantik ngga gini?", tanya Henny.&lt;br /&gt;"Aduh, anggun banget lho Hen. sampai aku terpesona. Apa ngga terlalu bagus untuk hanya kedokter anak, Hen?", saranku padanya.&lt;br /&gt;"Karena Robby yang suruh, okey aja aku tukar bajunya. Kalau gitu, kamu tunggu dulu ya Say..", jawabnya sambil berlari masuk ke kamarnya.&lt;br /&gt;Terkejut aku dibuatnya. apa aku ngga salah dengar nikh, sejak kapan Henny panggil aku semesra itu? Memang bukan henny kalau tidak buat hatiku selalu berdetak keras, dag.. dig.. dug..! Kejutan demi kejutan makin membuat aku mengaguminya. Aku sendiri diruang tamu menunggu sang bidadari ganti pakaian. Sudah 2 kali aku dikejutkannya. Lamunanku pada kejutan pertama dengan gaun indahnya, kedua panggilan mesra yang "mungkin hanya boleh ditujukan pada orang yang paling dicintainya".&lt;br /&gt;"Rob, gimana kalau aku pakai pakaian casual gini, masih feminin ngga?", tanyanya dengan penuh manja sambil menggendong si Raymond (anaknya).&lt;br /&gt;Kembali aku tertegun dibuatnya.Dengan jeans ketatnya dikombinasikan atasan tipis warna biru muda, dengan bunga-bunga kecil warna putih hijau, dibagian bawah bajunya ditali simpul, menampakkan keanggunannya walaupun dengan pakaian gaya apapun. Bisa feminin, bisa juga sensual dengan pakaian casualnya.&lt;br /&gt;"Rob, koq diam aja sih, ngga setuju aku casual gini ya?", tanyanya.&lt;br /&gt;"Henny bidadariku, aku sangat setuju 1000% deh, anggun banget kamu".&lt;br /&gt;"Apa, apa kamu tadi bilang Rob, coba ulangi sekali lagi?", pintanya sambil mendekat dan mencubit perutku sebelah dalam.&lt;br /&gt;"Aduh, sakit lho Hen!", teriakku kecil, karena takut si kecil terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa basa-basi lagi, aku segera ajak Henny dan anaknya segera berangkat, karena aku sudah daftarkan dan mendapatkan urutan nomor 26. Perjalanan aku tempuh cukup singkat dan aku bersama Henny terdiam membisu selama menunggu giliran dipanggil masuk. Pikiranku berkecamuk membayangkan kemanjaannya, cara dia mencubitku. Juga saat itu aku kuatir bila ada teman istriku yang lain ketemu dipraktek tsb, atau jumpa relasi, khan bisa timbul rumors macam-macam nantinya, walaupun kalaupun istriku tahu, tidak akan menimbulkan masalah. Kemudian giliranku dipanggil masuk, aku suruh dia masuk sendiri keruang dokter, tapi wajahnya cemberut tanda protes. Aku bingung, gimana nanti sang dokter ngga kaget, koq aku sama perempuan lain? (dokternya sudah kenal denganku). Aku ikuti saja kemauannya, dan setelah aku jelaskan persoalannya pada sang dokter, diperiksa dan diberikan resep. Aku keluar dan menebus obat racikan diapotik sebelah praktek dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua berjalan lancar dan aku meluncur pulang kerumah Henny. Si kecil ternyata tertidur pulas dan ternyata tiudrnya terus sampai pagi tidak bangun. Rupanya si kecil cukup paham terhadap sikap, keinginan hati sang maminya. Dalam perjalanan, aku tidak banyak komentar, demikian juga dengan Henny. Entah mengapa, sejak aku panggil dia bidadari, sejak saat itu dia banyak diam. Diam yang bagaimana, hanya Henny yang bisa menjawabnya. Namun nampak wajahnya penuh sorot bahagia, dibuatnya dikit-dikit manja padaku, tanpa mau bicara. Itulah wanita, seribu rahasia hatinya disimpan rapat, bagaikan merpati yang tulus dan suci. Tapi kalau sudah kena hatinya, apapun dia akan pasrahkan, apalagi kalau sang arjuna bisa memanjakannya. Aku rasa semua wanita mempunyai kemiripan yang sama, wanita itu ingin dipuji, dipuja, disanjung, dimanjakan, maka pasti seluruh jiwa raganya akan dipasrahkan pada kita. Banyak pria kurang memahaminya, wanita dijadikan obyek derita, wanita dijadikan pelampiasan nafsunya, tanpa mau mengerti perasaan wanita. Karena hal ini, timbul banyak maslah RT dalam perkawinan, itu tidak lain karena kaum Adam biasanya super egois. Tapi syukur, aku salah satu type pria yang mau mengerti jiwa wanita, aku bisa menyelami perasaan wanita dan aku punya kelebihan bisa membaca suasana hati wanita yang sedang aku hadapi. Demikian yang aku hadapi saat ini, sesosok istri yang cantik, anggun dan manja, penuh romantisme, feminin dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 18.55 wita, aku tiba kembali dan Henny segera masuk kamar tidur si kecil dan aku menutup pintu pagar. Mobil tetap aku parkir diluar, karena aku pikir tidak lama aku akan pamit pulang. Semua aku lakukan hanya demi menghormati teman baikku, tidak enak berlama-lama dirumah dengan istri orang sendirian saja.&lt;br /&gt;"Rob, kamu jangan pulang dulu yach, temenin aku dinner, okey?", tegur Henny setelah keluar dari kamar.&lt;br /&gt;"Aduh Hen, sorry deh, ini udah malam, ngga enak dilihat tetangga. Khan suamimu ngga dirumah", jawabku.&lt;br /&gt;Tanpa kuduga, wajahnya langsung memerah dan menampakkan kekecewaan yang dalam.&lt;br /&gt;"Rob, aku itu ngga bisa ma'em sendirian, ntar aku ngga ma'em sakit, khan kamu yang repot nganterin aku ke dokter lagi", rayunya padaku.&lt;br /&gt;"Gimana ya Hen", jawabku singkat dan bingung.&lt;br /&gt;"Udah deh, apa aku perlu teleponin istrimu. Please Rob, please bantu aku, temenin aku sekali aja, khan ngga tiap kali kamu bisa nemenin aku berdua aja dinner di rumahku?", rayunya penuh manja.&lt;br /&gt;"Khan udah sering aku makan malam disini, Hen", jawabku menguji.&lt;br /&gt;"Aku pingin berdua aja ama kamu Say.., please yach. Aku mau banyak curhat ama kamu, kapan lagi Rob, mau ya, yach?", pintanya terus merengek tanpa aku diberi kesempatan menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayolah Rob, aku udah siapin masakan kesukaan kamu lho siang tadi. Kamu khan paling suka Tenderloin steak thoo..?", serbunya tanpa aku bisa komentar.&lt;br /&gt;"Okey Hen, gini aja. Aku call suamimu dulu deh, biar suamimu tahu anakmu sakit dan aku tadi ngantarin kamu dan.. aku diundang dinner kamu, gimana okey..?", ini permintaanku yang rasanya win-win situation.&lt;br /&gt;"Boleh aja Rob, berarti kamu mau khan, asyiik..!", begitu responsnya.&lt;br /&gt;Aku berpikir, gawat juga deh menghadapi istri seperti gini, situasi ini bikin aku sulit menolaknya dan segera aku kontak si Har untuk memberitahunya dan ternyata Har penuh pengertian dan sangat percaya padaku dan istrinya.Akankah kepercayaan ini disalahgunakan?&lt;br /&gt;Pembicaraanku dengan suaminya didengar oleh Henny dan langsung wajahnya menampakkan sinar bahagia, seperti anak kecil mendapatkan ice cream.&lt;br /&gt;"Nah Rob.., kamu tunggu bentar yach, aku ganti baju dulu dan siapin ma'em nya biar asyik, benar ngga Say..?", pintanya dengan senyum manis.&lt;br /&gt;"Yach.., aku tunggu deh", sahutku.&lt;br /&gt;Aku pikir, sejak sore hari sudah 3 kali panggil aku dengan kata "Say", apa gak salah tuh istri Har ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-6339840816343195365?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/6339840816343195365/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=6339840816343195365' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/6339840816343195365'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/6339840816343195365'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2009/01/pagar-makan-tanaman-1.html' title='Pagar Makan Tanaman - 1'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-891778765798685314</id><published>2009-01-12T17:00:00.001-08:00</published><updated>2009-01-12T17:00:33.335-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tukar Pasangan'/><title type='text'>Pagar Makan Tanaman - 2</title><content type='html'>Setelah aku tunggu cukup lama sekitar 20 menit, Henny keluar dari balik pintu kamarnya dengan "daster tipis tembus pandang" warna pink.Daster yang menurut aku hanya layak digunakan di kamar tidur bersama suami tercinta. Apalagi dasternya model tali kecil di pundak, dengan potongan di dadanya sangat rendah, sehingga jelas nampak olehku dadanya yang putih mulus dengan belahan bukit kembarnya yang aduhai.. seperti buah sedang ranum-ranumnya. Gila benar Henny ini, pikirku. Karena sinar lampu kamarnya yang sangat terang sedangkan diruang tamu cukup redup, maka di balik dasternya terlihat belahan pahanya yang mulus sampai ke pangkalnya. Di balik daster tipisnya, terlihat BH dan CD mininya berwarna "merah anggur", kombinasi warna yang sangat serasi dan nampaknya Henny ini sukanya warna-warna pastel dan pintar mengkombinasikan warna. Pikirku, di ranjangpun pasti suaminya puas, pasti Henny juga pintar mengkombinasikan gerakan-gerakan ataupun variasi sex yang bikin pria melayang-layang bagaikan di langit ke tujuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Robby sayang.., koq ngelamun terus to, ngga rela yaa dinner disini? Atau ada janji ama WIL mu? he.. he.., bercanda lho Rob..", sapanya bikin aku tersadar dari lamunan sambil dia mendekat padaku.&lt;br /&gt;"Ngawur aja WIL, emangnya aku ada tampang nge-WIL apa? Ngapain mikirin WIL yang jauh, wong ada bidadari disini..", sahutku.&lt;br /&gt;Aku pikir pertanyaan tentang WIl itu pasti cuman pancingan aja dari Henny dan sudah kepalang basah aku buat Henny makin tersanjung aja dengan panggilan bidadari. Aku ingin tahu reaksi selanjutnya.&lt;br /&gt;"Kamu anggap aku bidadari Rob? Ngga salah tuh? Apa pantas sih Rob?", pancingnya lagi makin mendekat, dekat sekali sampai tercium wanginya.&lt;br /&gt;Aku pikir, kena tuh pancinganku. Aku paham benar hati seorang istri/ceweq, kalau udah dimanjain gitu pasti langsung terkapar klepek-klepek, seperti ayam baru disembelih.&lt;br /&gt;"Iya bidadariku.., aku tadi bukan ngelamun tapi kagum ama penampilanmu Hen. Aku bayangkan betapa bahagianya suamimu punya istri seanggun gini. siapa ngga akan kerasan di rumah terus? Seandainya aku punya istri kayak Henny, wah.. aku betah dirumah..", aku sanjung lagi dia.&lt;br /&gt;"Itu menurut kamu.., tapi Har dingin banget koq ama aku. Lagian, apa hanya suami aja yang harus dibahagiakan istrinya? Apa istri juga ngga patut dibahagiakan Rob..?", protesnya dengan manja padaku.&lt;br /&gt;Wah.. mati aku, makin terbuka aja nampaknya nikh. Kena juga pancinganku.&lt;br /&gt;"Wouw, salah besar kalau suami harus dibahagiakan "tanpa" istrinya ikut bahagia. Itu pandangan jaman Siti Nurbaya Hen..!", sanggahku.&lt;br /&gt;"Terus, gimana pendapatmu tentang posisi seorang istri Rob?", tanyanya.&lt;br /&gt;"Aku sangat tidak setuju dengan type cowoq begitu. Di mataku, ceweq itu ciptaan Tuhan yang sempurna, patut untuk disayangi, dihargai, dimanjakan dan untuk itu kita nikah khan karena saling menyayangi, Hen..!".&lt;br /&gt;"Apa suamimu dingin toh Hen..? Kasihan dong kamu Hen..?", tambahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar dugaanku, dia tidak menjawab pertanyaanku tapi malah merebahkan kepalanya di pundakku, dan bajuku tahu-tahu sudah basah oleh airmatanya.&lt;br /&gt;"Rob, hanya kamu pria satu-satunya di luar suamiku yang tahu hal ini. Aku percaya kamu, aku tahu kamu baik dan bisa menyenangkan hatiku, makanya aku berani buka penderitaan bathinku selama ini", sahutnya pelan.&lt;br /&gt;"Ak.. ak.. aku lama memendam derita ini Rob! Istri mana yang kuat dengan situasi, Rob..!", tambahnya sambil mulai sesenggukkan.&lt;br /&gt;"Aku pingiin banget cerita ama kamu, aku tahu kamu penyabar dan pasti mau dengerin keluh kesahku.. dan aku harap kamu pria yang bisa membahagiakanku, mau kamu Rob..?", terus aja dia nyerocos tiada henti dan nampaknya bagi Henny malam inilah puncak pemberontakan hatinya.&lt;br /&gt;"Jangan gitu Hen, apalah aku, aku siap koq bantu kasih masukan ke suamimu bila perlu", jawabku sebisanya karena hatiku sudah terbuai aroma birahi.&lt;br /&gt;"Jangan.. jangan Rob, percuma. Dia sudah sangat dingin dan ngga akan berubah dan aku.. aku.. udah ngga respek lagi ama suamiku", jawabnya sambil tangannya menarik tanganku, didekapnya tangan kananku dan pelan-pelan ditaruh di dadanya sambil ditahan oleh kedua tangannya (posisi dia ada di sebelah kiriku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan-lahan aku tarik dia dan aku ajak duduk disofa panjang, aku tenangkan dia dan dia kududukkan dikiriku tanpa aku lepas tanganku didadanya, kapan lagi pikiranku yang sudah mulai ngeres. Aku belaian rambutnya yang harum dengan penuh kasih sayang dan kukecup keningnya tanpa permisi lagi. Dia diam saja bahkan matanya dipejamkan sambil wajahnya dipalingkan kearahku, seperti menanti ciuman berikutnya ditempat yang lebih nikmat, benar-benar siap menanti kulumanku.&lt;br /&gt;"Hen.. berapa lama kamu udah menderita, bidadariku..?", rayuku sambil tangan kananku mulai aku turunkan perlahan-lahan.&lt;br /&gt;"Bukan pertanyaan itu yang aku butuhkan Robbyku..", sambil reflek bibirnya menyerangku.&lt;br /&gt;Dikulumnya bibirku, diciumnya dengan nafsu sampai ke hidungku segala, demikian birahinya Henny malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa memikirkan bahwa itu adalah istri temanku sendiri dan memang "nafsuku akan sangat cepat meningkat" bila melihat kemanjaan wanita seperti di hadapanku saat ini. Ditambah gaunnya yang menerawang, aroma parfumnya yang pasti harganya jutaan, ketiaknya yang putih bersih tanpa bulu, mata hatiku sudah gelap.. gelap sekali. Aku balas ciuman bibirnya, aku mulai buka mulutkan, aku mainkan lidahnya, aku kulum bibir luarnya yang tipis dan sensual, aku jelajahi rongga mulutnya dengan jilatan lidahku sambil tanganku mulai berani makin turun. aku remas-remas halus, halus sekali buah dadanya. Henny mulai mendesah panjang, ahh.. ohh.. hhm.. hmm..! Tanganku kubawa ke belakang, ingin aku buka ikatan tali BH nya, ehh.. malah dia membusungkan dadanya seolah menginginkan agar segera tali BH itu dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali tekan, lepaslah tali itu dan.. Henny makin buas menyedot-nyedot lidahku, sampai ketarik dalam sekali dan mau muntah nikmat rasanya. Tangan kananku mulai kedepan kembali, kusentuh pinggir putingnya tanpa aku mau menyentuh putingnya dulu dan tangan kiriku membelai rambutnya. Dia memajukan dadanya, menggerak-gerakkan seolah minta segera disentuh putingnya, dan.. sengaja makin aku jauhi puting itu, makin dia penasaran dan makin desahannya tidak karuan (itu memang teknik aku memancing birahi wanita yang sudah puncak, aku biarkan birahinya tersiksa, dengan teknik ini wanita akan mampu orgasme berkali-kali. Pengalamanku dengan istriku, hanya foreplay dengan sentuhan dan kuluman bibirku di bibirnya di variasi di puting, di telinga dan terakhir di bibir vagina sampai masuk kena klitorisnya, dia bisa orgasme 2-3 kali. Baru setelah itu, aku tembakkan senjataku yang teramat tegang dengan kocokan lembutnya dengan berbagai variasi selama sekitar 10-15 menit, akan membuat minimal orgasme sekali dengan gelora birahi paling puncak dan biasanya aku mencapai klimaksnya dengan memuntahkan spermaku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Robby sayang, sentuh.. sentuh putingku Rob, kulum.. cepet kulum Rob.. aku butuh kenikmatan darimu Rob.., ayo.. jang.. jangan mainkan birahiku Rob, aku tersiksa bertahun-tahun, puaskan aku.. puaskan aku, please..!", pintanya sambil berontak dan gaun itu sudah tidak karuan lagi posisinya dan aku terkejut, bibirku digigitnya.&lt;br /&gt;Aku kecup lehernya yang jenjang dan aku kasih kecupan membekas merah anggur, karena aku tahu suaminya masih lama datangnya. Di tengah gelora nafsuku, otakku masih bisa berpikir normal, peduli amat, kalau suaminya mau datang masih nampak merah, aku kerokin aja lehernya, suruh Henny bilang kalau masuk angin, khan beres ngga akan curiga suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciumanku mulai turun ke dadanya, aku lama bermain di sekitar itu sambil jari kananku mulai sentuh putingnya lembut sekali. Puting itu demikian tegangnya, entah berapa lama ketegangan itu terjadi. Dia menggelepar menerima sentuhan lembut pertamaku di putingnya. Aku pilin pelan-pelan dan tangan kiriku mengangkat ketiaknya. Aku angkat dia biar berdiri dengan maksud aku ingin membuka dasternya. Dia paham banget dan membantu menaikkan dasternya keatas dengan cepat dan penuh nafsu, dilemparkannya daster itu jauh sekali sambil menyerbu bibirku kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggallah dua bukit indah dan kenyal di hadapanku dan dibawahnya masih menempel CD merah anggurnya. Demikian buas dan binalnya Henny bila birahinya memuncak, padahal Henny yang kukenal sangat kalem dan lemah lembut. Itulah wanita, sangat berbeda bumi langit antara penampilan luarnya dengan saat di ranjang (kalau mengerti merangsangnya lho yach). Dengan bertelanjang dada dan dengan nafsunya, aku ditarik keras sampai terjatuh di sofa panjangnya. Mungkin ini sudah diharapkan oleh Henny. Tertindihlah tubuh Henny olehku, dengan perlahan tanpa mau melepaskan bibirnya dari bibirku, dia merebahkan diri sambil tangan kirinya menekan kuat aku ketubuhnya, dia ngga mau tubuh kami terpisah, terasa olehku kekenyalan bukit kembarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa melewatkan kesempatan yang indah di depanku dan situasi birahi Henny yang sudah demikian meletup-letup, maka perlahan tapi pasti ciuman bibirku mulai mengarah ke payudaranya yang kanan, sementara tangan kananku masih melanjutkan memilin-milin puting kirinya. Desahan birahi dan geleparan badannya sudah tidak teratur. Tercium olehku aroma birahi wanita dari nafasnya. Jika pria kurang perhatian, pasti mereka tidak mengetahui perubahan aroma nafas seorang wanita yang birahinya memuncak. Lidahku aku mainkan menggelitik puting kirinya, sebentar aku lepas sesat kemudian aku kulum lagi. Nampak rasa kecewa Henny saat bibirku lepas dari putingnya, tapi matanya terpejam kembali sambil melenguh panjang bila bibirku menyentuh putingnya kembali. Permainan ini sengaja aku ciptakan, biar Henny merasakan ketagihan yang luar biasa, disitu biasanya orgasme wanita hampir tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kananku mulai lepas dari puting kirinya, perlahan dengan lembut sekali hampir tidak menempel di kulitnya, aku rabakan tangan kananku menurun ke perut dan sekitar pusarnya. Pantatnya sedikit terangkat sambil rambutku dijambak-jambaknya, pertanda meminta sentuhan yang lebih jauh dan lebih nikmat. Dipaksanya kepalaku turun ke bawah, tapi sengaja seolah aku kurang paham, aku terus permainkan puting kanannya, lidahku berputar-putar bagaikan baling-baling helikopter, menerjang keras dan kadang lembut, sambil tangan kananku berputar-putar di antara bawah pusar dan di atas rambut kemaluannya. (Pria yang paham akan hal ini, akan mempermainkan jari-jarinya cukup 1-2 menit di daerah ini, karena daerah ini mempunyai sensitifitas yang tinggi bagi wanita, aliran darah akan memusat di sekitar daerah tersebut, hingga menimbulkan rangsangan yang puncak untuk siap menyemprotkan cairannya. Aku permainkan jariku di situ tidak lama hingga timbul reaksi yang di luar dugaanku sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-891778765798685314?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/891778765798685314/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=891778765798685314' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/891778765798685314'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/891778765798685314'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2009/01/pagar-makan-tanaman-2.html' title='Pagar Makan Tanaman - 2'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-8549603568530405013</id><published>2009-01-12T16:59:00.001-08:00</published><updated>2009-01-12T16:59:57.606-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tukar Pasangan'/><title type='text'>Pagar Makan Tanaman - 3</title><content type='html'>Dari bagian 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hayo.. sayang, ayo.., sentuhlah pusat kenikmatanku. Henny butuhkan saat ini, ay.. ayo.. ayoo.. Rob. Kejam kamu Rob, kejam kamu, aku mau puncak Rob!", teriaknya keras sekali sambil pantatnya terangkat tinggi bertumpu pada kakinya.&lt;br /&gt;"Iya bidadariku.., tunggu saatnya tiba, aku tahu kapan saat kenikmatanmu akan tiba, aku akan buat bidadariku terbang ke Surga kembali, melayang diawan-awan, ayo Hen.. rasakan.. rasakan yach.., terus.. nikmati aja", celotehku tak karuan lagi sambil tetap memujanya.&lt;br /&gt;Pantatnya terus diangkat beberapa kali sambil menggelepar-gelepar, rambutku dijambak, didorong minta pusat kewanitaannya segera aku sentuh. Aku tetap mendiamkannya, aku buat dia tersiksa dan ciuman bibirku kupindahkan ke puting kirinya dan "secepat kilat", jari tengah kananku menyetuh bibir kemaluannya. Makin menggeleparlah dia dan terasa sudah sangat becek oleh cairan kewanitaannya. Aku gosok-gosok lembut antara bibir kemaluannya sampai ke bawah mendekati anusnya. Saat jariku menyentuh bagian bawah dekat anus, Henny berteriak keras sambil memukul kepalaku.&lt;br /&gt;"Robby.. Robby.., jangan siksa aku, ayoo.. lakukan untukku Say..", pintanya.&lt;br /&gt;Secara pelan aku gosok 3-4 kali, mendadak seluruh tubuhnya mengejang, pantat diangkat tinggi sekali, berteriak histeris dan pundakku dicengkeram dengan kuat dan sampai tergores oleh kukunya. Saat itu menyemprotlah cairan kewanitaannya sangat banyak. Semprotannya seperti pria sedang buang air seninya, sampai mengenai seprei putih di kasurnya. Inilah orgasme pertama yang diterimanya dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirku, tunggu bidadariku, sebentar lagi kubuat kamu melayang-layang kembali, menyemprotkan cairanmu kembali bagaikan pemadam kebakaran menyemprotkan air secara deras. Sejenak tubuhnya melemas, cengkeramannya lepas dari pundakku tapi tangannya mengelus kepalaku. Kulihat senyum manis.. sekali terlihat dari bibirnya yang sensual. Tangan kananku lepas dari kemaluannya, aku elus pahanya sambil bibirku menciumi pusarnya.&lt;br /&gt;"Ahh Rob, geli.. geli Rob! Sayang.., kamu hebat Say.. belum apa-apa aku sudah kamu buat orgasme. Sampai berapa kali Say mau buat aku orgasme seperti tadi?", tanyanya mengandung makna meminta dan meminta.&lt;br /&gt;"Tenang Hennyku yg lembut, berapa kalipun kamu inginkan, aku siap memuaskanmu, kamu malam ini menjadi milikku sepenuhnya", kataku merayu.&lt;br /&gt;"Jangankan malam ini, selamanyapun kalau Robby mau memilikiku, aku siap tinggalkan Har, serius sayangku. Aku butuh kenikmatan darimu", sahutnya.&lt;br /&gt;"Bener nikh bidadariku? Itu tadi belum apa-apa lho, tunggu babak berikutnya yang lebih heboh, surprise untukmu bidadariku..", janjiku.&lt;br /&gt;"Kapan.., sekarang dong Say, aku udah siap nikh menerima serbuanmu".&lt;br /&gt;"Tunggu sayang, sabar aja yach! Kamu akan rasakan bedanya sentuhanku dibanding suamimu dan pria lainnya, tunggu yaa..!", aku meyakinkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku mulai meraba bawah pusarnya secara halus, terasa gelinjang pantat Henny menerima sentuhanku kembali. Bibirku mulai menjelajahi ketiak kirinya. Menggelinjang lagi dia. Ketiak yang tanpa bulu, putih bersih dan harum baunya, membuat penisku berdenyut-denyut keras dan tak kuduga menyentuh tangan kanan Henny yang masih menggelayut lemas di pinggir sofa.&lt;br /&gt;"Rob.., apa nikh.. pentung karet atau Mr. "P"-mu Say?", celetuknya. (Henny pakai istilah itu untuk penisku).&lt;br /&gt;"Emangnya kenapa bidadariku?", tanyaku pura-pura tidak paham.&lt;br /&gt;"Koq gede banget, panjang dan keras.Apa ngga jebol vagina ceweqmu?", katanya terheran-heran.&lt;br /&gt;"Emang punya suamimu seberapa?", pancingku ingin tahu punya suaminya.&lt;br /&gt;"Ahh.. sudahlah.. jangan nanya-nanya itu lagi. Aku udah bilang, muak aku ama suamiku..", bentaknya.&lt;br /&gt;Bentakan seorang istri yang aku tahu tidak pernah mendapatkan kepuasan dari suaminya, walaupun menunggu sekian tahun, yang saat ini sedang merengkuh kenikmatan tersebut dan merajut kasih dengan teman suaminya.&lt;br /&gt;"Sorry Say, aku merusak susana kenikmatanmu. Okey lupain yach", kataku.&lt;br /&gt;"Ngga apa-apa sayang, sorry aku marah. Aku tidak mau terlewatkan sedetikpun kenikmatan yang baru aku raih bersamamu, Rob..!", sahutnya.&lt;br /&gt;"Robby, mau khan kamu kasih kenikmatan aku lagi, please mulai ya..", pintanya padaku dengan manja sambil mengelus meraih batang kemaluanku.&lt;br /&gt;Tanpa mendapatkan jawabanku, aku mulai menjelajahi seluruh permukaan perutnya dengan bibirku. Aku cium, aku sedot pusarnya yang bersih dan harum (mungkin tadi sedikit disemprotkan parfum).&lt;br /&gt;"Ahh.. nakal kamu yaa Say, geli banget lho Say..!", serunya.&lt;br /&gt;"Mau yang geli atau yang sakit, bidadarku?", tanyaku balik.&lt;br /&gt;"Terserah kamu aja. Aku seneng lho Rob kamu panggil aku bidadari".&lt;br /&gt;Aku teruskan cium pusar itu, terus turun dan turun mendekati bulu indah kemaluannya. Dipikirnya aku akan melanjutkan ke bawah dan mungkin ini yang diharapkan dan aku tahu itu. Sengaja aku buat "trik" agar dia protes dengan cemberut manjanya. Ternyata benar juga.&lt;br /&gt;"Rob, terusin ke bawah donk. Kenapa, jijik ya? Emang kamu ngga pernah kiss kewanitaan istrimu?", pancingnya penuh arti.&lt;br /&gt;"Tenang bidadariku, tunggu dong, sabar..! Kenikmatan akan makin puncak kalau dilakukan dengan lembut sayangku", sahutku.&lt;br /&gt;"Ini yang ngga aku dapetin dari Har lho sayang..", pengakuan jujurnya.&lt;br /&gt;Aku kulum terus sekitar pusar dan bulu halus kemaluannya dia terus mendesah dan makin keras desahan itu sambil mengangkat tinggi pantatnya minta kusentuh klitorisnnya. Tapi aku biarkan dia menderita dengan kenimatannya, aku bikin nafsu birahinya mendekati puncak lagi. Aku baru mau memulai babak kedua untuk kenikmatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak kedua aku mulai dengan mencium mata Henny. Dia diam dan menikmatinya sekali. Kudiamkan cukup lama kecupanku di matanya, sambil jari tengah tangan kananku bermain di pusarnya. Kuraba pinggir pusarnya, berganti masuk ke dalam pusarnya. Keluar lagi, masuk lagi terus menerus sampai dengus nafasnya mulai timbul lagi karena rangsangan itu.&lt;br /&gt;Ciumanku beralih ke rambutnya, turun ke telinga kanannya, lidahku menjilati daun telinga bagian dalamnya, menjelajahi semua daerah dalam telinganya dan nampak tubuh Henny mulai menggeliat penuh nafsu. (Bagi sebagian wanita, daun telinga karena kulitnya sangat tipis, sangat sensitif menerima rangsangan dan hasilnya biasanya dahsyat, biasanya langsung cairan kewanitaannya mengalir keluar di vaginanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu dia suka dengan jilatan di telinga itu, maka sengaja kuperlama, terus turun leher bagian dalam (bawah dagu) dan naik lagi ke dagunya. Lenguhan panjang mulai sering keluar spontan dari mulutnya. Kuturunkan ciuman tersebut ke payudara kirinya, sementara tangan kananku mulai turun menyentuh bibir kemaluannya, mengelusnya, sedangkan tangan kiriku memilin-milin puting kanannya. Aku tekan keras, aku longgarkan, aku tekan lagi sambil aku lakukan gigitan mesra di puting kirinya.&lt;br /&gt;"Auuw.., ihh nakal cayang yaa..", jerit kecilnya sambil membelai rambutku dengan manja.&lt;br /&gt;"Teruskan Say.. Say.., aku suka koq, gigit lagi Say, gigit..", pintanya.&lt;br /&gt;Ahh.. kena juga pancinganku, tambah lagi daerah sensitif Henny yang kuketahui (telinga, pusar, sekitar bulu kemaluannya dan putingnya). Seolah tanpa merespons, aku sedikit menjauh dan ternyata dia menyorongkan susunya mulutku. Aku gigit mesra lagi, pelan tapi lama tak kulepaskan. Dia menggeliat hebat dan menjambak rambutku.&lt;br /&gt;"Gila kamu Rob, pintar banget kamu menaikkan nafsuku. Gila.. gila..", celotehnya nggak karuan sambil tetap menjambak rambutku keras sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku buat strategi baru.Tangan kananku meninggalkan kemaluannya dan dia nampak tidak mau tanganku menjauh dari situ, sebab tangannya menuntun tanganku kembali ke sana. Tapi aku lepaskan. Kedua tanganku beralih ke gunung kembarnya yang putih dengan putingnya yang masih kemerah-merahan. Melihat bentuk sekitar putingnya, nampaknya si Har jarang menyedot dan mengulumnya. Sebab kalau puting sering dikulum dan disedot, apalagi sudah punya anak, pasti akan berubah warna coklat kehitam-hitaman. Aku remas-remas kedua susunya sambil aku mainkan putingnya. Kemudian aku tarik sama-sama ketengah dan kutemukan ujung puting kiri dan kanannya, aku hisap dalam-dalam sambil aku gigit pelan sekali. Nampaknya dia menikmati sekali dan minta lagi dan lagi dengan menekan kepalaku agar tidak bisa lepas dari kedua ujung putingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh.. Ohh.. hhm.. hmm.., terus Rob, terus! Gila bener, Ahh.. terus sedot, terus gigit Say sampai pagi, nikmat sayangku.. nikmat sekali, jangan pernah berakhir Say, terus.. terus, Ahh.. Ohh..!", rintihnya hebat.&lt;br /&gt;Wouw.. aku lihat rona wajahnya memerah pertanda telah terjadi dilatasi atau pelebaran semua pembuluh darahnya, menampakkan darah mengalir deras ke seantero tubuhnya. Kepalanya menengadah keatas sambil melenguh panjang. Terus aku sedot-sedot, aku pilin-pilin kedua putingnya dengan lidahku. Aku putar-putarkan lidahku menjelajahi semua daerah putingnya, makin mengeras sekali kedua putingnya (mungkin suaminya tidak pernah membuat sensasi seperti ini). Didorongnya kepalaku mengarah ke bawah dengan kedua tangannya yang halus dan aku tahu apa yang diinginkannya, tapi kembali birahinya benar-benar aku permainkan, aku ingin dia mendapatkan orgasme kedua kalinya. Aku acuh saja dan tetap menyedot kedua putingnya, sampai dia berteriak.&lt;br /&gt;"Ohh.. geli, ngilu, kejang semua tulangku Rob, stop.. stop ngga kuat aku Say, udah.. udah..! Ahh.. hmm.. hmm.. ehh..", dengusnya sambil mengangkat dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan aku lepaskan kedua puting susunya, ciumanku mulai turun ke sekitar pusarnya lagi, tangan kananku mulai meraba bibir vagina. 'Serangan fajar' mulai kuaktifkan, klitorisnya mulai aku sentuh dengan jari tengahku dan ciumanku di sekitar pusar dan bulu kemaluannya aku tingkatkan sambil aku sedot-sedot. Ini menaikkan aliran darah vaginanya. Jariku mulai masuk perlahan-lahan, mencari lubang pipisnya, terus masuk menjelajahi rongga-rongga labia minoranya. Secara refleks pantatnya terangkat keatas meminta agar terus disentuh. Pelan tapi pasti, jariku terus masuk dan naik ke atas klitoris bagian dalamnya, mencari pusat G-Spotnya. Dia berontak bukan marah tapi mungkin berontak, 'mengapa tidak dari tadi kau sentuh bagianku ini?'. (Siapapun wanita itu, kalau G-Spotnya sudah ditemukan dan dirangsang lembut, pasti akan terbang melayang diawan-awan dan dijamin 100% semprotan cairan kenikmatannya akan segera datang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutemukan segumpal daging kecil seperti kutil, masih lembut dan halus dan lembek. Perlahan tapi pasti aku gosok-gosokkan jariku disekitar G-Spotnya, dan.. bagian itu mulai mengeras, tidak lagi lunak tapi mulai kasar permukaannya, bagaikan pasir mengeras, bergerigi dan membesar. Gerakan tubuh Henny sudah tak teratur dengan lenguhan panjang penuh birahi, pertanda semprotan kedua segera tiba.&lt;br /&gt;"Ahh.. Oou.. ngilu Rob, ahh.. aku koq pingin pipis Rob, pipis Rob, pipis..! Rob.. tunggu, tunggu Rob, aku mau pipis nikmat..", rintihan birahinya.&lt;br /&gt;"Pipiskan aja Say, keluarkan, semprotkan Say, muncratkan, nikmati Say..", bisikku mesra ke telinganya.&lt;br /&gt;"Ngga kuat Rob.. ngga kuat! Ngga apa-apa to aku pipis?", tanyanya.&lt;br /&gt;Gila.. pikirku, dia ngga pernah ngerasain pipis birahi? Gila.. apa yg dilakukan suamimu Hen.., keluhku dalam hati. Betapa menderitanya Henny tanpa pernah ada yang membahagiakan bathinnya.&lt;br /&gt;"Aahh.. Ahh.., Rob.. aku pipis Rob..! Rob, tolongin aku Rob, ngilu Rob.., ngilu banget Rob! Ahh.. ahh..", teriaknya dengan histeris sambil tangannya mencakar punggungku kedua kalinya.&lt;br /&gt;Cairannya menyembur keluar seperti yang pertama, kembali mengenai sofanya banyak sekali.&lt;br /&gt;"Robby cayang, gila benar kamu Rob! Udah dua kali kamu buat aku mencapai puncak, meskipun Mr "P"-mu belum sempat menyelam lubang pipisku..", celoteh kekagumannya.&lt;br /&gt;Aku biarkan dia mengoceh dengan kenikmatannya.&lt;br /&gt;"Rob, aku lemes, panas! Keringatku banjir lho Rob.., bawa aku ke kamar, di kamar sejuk karena AC-nya udah aku hidupin dari tadi", sambil kedua lengannya menggelayut di pundakku pertanda minta kugendong manja.&lt;br /&gt;"Okey tuan putri, demi bidadariku, aku siap melakukan perintah tuan", sahutku memanjakannya.&lt;br /&gt;"Aku cayaang.. banget ama kamu Rob, kamu pintar banget puasin aku".&lt;br /&gt;"Hen, itu baru ronde kedua dan belum apa-apa lho, masih kuat ngga?", tanyaku memancing nafsunya sambil menggendongnya dan masuk ke kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-8549603568530405013?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/8549603568530405013/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=8549603568530405013' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/8549603568530405013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/8549603568530405013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2009/01/pagar-makan-tanaman-3.html' title='Pagar Makan Tanaman - 3'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-3704907983391475184</id><published>2009-01-12T16:58:00.000-08:00</published><updated>2009-01-12T16:59:14.665-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tukar Pasangan'/><title type='text'>Pagar Makan Tanaman - 4</title><content type='html'>Dari bagian 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar yang sangat pribadi yang hanya boleh dimasuki oleh suami istri sah, saat ini aku menginjakkan kakiku di dalamnya. Gila, suasana kamarnya demikian romantis, ranjangnya dibungkus kelambu tipis seperti dalam film roman barat atau seperti kamar hotel bintang lima saja. Dindingnya penuh wallpaper bernuasa lembut dan romantis. Kasurnya sangat empuk dan 'mentul-mentul'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuletakkan tubuhnya dengan lembut di ranjang, tapi lengannya tak mau lepas dari pundakku. Ditariknya aku mendekat dan diciumnya mataku dengan manja. Aku elus lembut betisnya, perlahan naik kepahanya dan aku stop sampai disitu dulu, memberi kesempatan dia melepas lelahnya. Dia nampaknya tidak setuju dan dia mengelus batang kemaluanku sambil tidur memandangku. Spontan penisku tegang. Dielusnya lembut naik turun penisku, nikmat sekali rasanya mendapatkan sentuhan seorang istri kesepian yang haus kenikmatan birahi. Matanya sayu menatapku dengan wajah meminta dilanjutkan di ranjangnya.&lt;br /&gt;"Rob, kapan kamu keluarinnya. Sini aku hisap mau..?", pintanya memelas.&lt;br /&gt;Batinku, 'Siapa yang ngga pingin? Tapi ntar dulu bidadariku. Aku akan bikin kamu bergetar lebih hebat dalam ronde ketiga, sampai habis cairan nikmatmu nanti'.&lt;br /&gt;Karena elusan lembut tangannya pada buah zakarku, aku mengelinjang dan jujur saja nafsuku naik demikian hebat. Mataku sudah gelap, ingin segera kutembakkan penisku ke liang memeknya. Tapi alam sadarku masih main, aku bertekad bikin Henny benar-benar terkapar dan mencari kenikmatan terus dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Henny telentang di tepi ranjang. Wajahku mulai kuturunkan ke kakinya. Henny heran dan melihatku ke bawah sambil meremas penisku tanpa sadar.&lt;br /&gt;"Kamu mau ngapain cayang, koq ke kakiku?", tanyanya dengan heran.&lt;br /&gt;Tanpa menjawab, aku teruskan program kerjaku ngerjain Henny, kapan lagi aku bisa tunjukkan kemampuanku memuaskan dia, pikirku. Aku ciumi ujung jarinya, aku hisap jempol kakinya.&lt;br /&gt;"Ahh.. gelii..", reflek dia tarik kakinya menjauh dari mulutku.&lt;br /&gt;"Aduh sayang.. nikmat sekali. Pintar juga kamu menaikkan birahiku", tambahnya sambil meremas penisku yang tak lepas dari genggamannya.&lt;br /&gt;Aku tarik kembali kakinya dan kuteruskan menciumnya, terus naik ke betisnya. Dia mulai menggoyangkan kedua kakinya, bergerak kesana-sini. Aku tahu dia mulai terangsang lagi. Segera bibirku kuarahkan ke lututnya dan aku cium kuat-kuat sambil kupegangi agar tidak lepas dari ciumanku. Dia berontak hebat.&lt;br /&gt;"Oouw.., geli..! Teknikmu banyak banget sih Rob, bisa gila aku ML ama kamu..", celotehnya penuh nafsu sambil mulai mengocok penisku lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teruskan ciumanku karena aku tahu dia menikmatinya dan lututnya diangkat ke atas sambil melenguh panjang. Tangan kiriku mulai meraba pahanya, pelan tapi pasti rabaanku menuju pangkal pahanya dan seperti mengerti dan memang menanti, dia buka lebar pahanya, sehingga terlihat klitorisnya yang memerah. Darah sudah mengumpul didaerah itu, pasti sensitifitasnya udah sangat tinggi. Jariku berputar-putar dibibir kemaluannya sambil sesekali seperti tanpa sengaja aku menyerempetkan tanganku ketengah vaginanya, dia menggelinjang manja seperti berharap terulang lagi. Setelah basah lututnya oleh air liurku dan penisku sudah ngga tahan karena elusan jarinya yang lembut, aku mengalihkan ciumanku ke pahanya. Nampak dia melenguh manja sambil kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan, tanda birahinya mendekati puncak. Pelan tapi pasti, kucium terus sampai menyentuh area lipatan pahanya yang menghubungkan bibir kemaluannya. Sebagian wanita, juga sangat mengharapkan daerah tersebut disentuh, dijilati dan dihisp-hisap. Kenikmatannya sungguh berbeda, mengantarkan ke puncak orgasme. Benar juga dia sudah mulai menggelinjang keras sambil mengangkat pantatnya, sehingga rambut halusnya menyentuh hidungku. Bibirku perlahan-lahan masuk ke wilayah rambut kemaluannya yang tipis. Bulu Henny tipis sekali, tidak terlalu lebat dan tidak kasar. Nampak sengaja bulu itu dirawatnya dengan baik dan harum bercampur aroma khas kewanitaannya mulai aku rasakan, menambah syahwatku meningkat. Kudenguskan nafasku ke liang vaginanya tanpa menyentuhnya dulu. Ini teknik juga untuk memancing agar sang wanita memburu dan setengah memaksa meminta agar menyentuhnya. Benar saja, dia sodorkan bibir kemaluannya ke mulutku kedua kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung aku meresponsnya karena aku pikir sudah saatnya gelombang kenikmatan aku antarkan ketiga kalinya. Dengan kedua jariku, kubuka sedikit bibir kemaluannya, kutemukan klitorisnya, kukulum, kujilat dan.. kusedot-sedot. Wouw.. rekasinya sungguh dashyat, pantatnya melonjak keatas memukul gusi dan gigiku, luar biasa reaksi wanita yang sedang penuh birahi. Kulumat lembut ujung klitorisnya, merembet ke tepi bibirnya dan menuju bibir bawah yang menyambung ke anusnya. Kembali lonjakan histeris terjadi hingga dia berteriak keras.&lt;br /&gt;"Rob.., ahh.. ahh.., aduhh.. ngga kuat, ayo masukkan, masukkan..", pintanya histeris.&lt;br /&gt;Aku diamkan saja, aku goyang-goyangkan dan lidahku menari-nari di permukaan vagina Henny. Gerakan kakinya tak beraturan lagi, kepalanya ke kiri-ke kanan sambil jari tangan kiriku aku masukkan ke mulutnya. Disedot-sedotnya jariku sambil kadang digigitnya menahan kegelian klitorisnya yang kusedot-sedot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidahku makin menjelajah lebih dalam ke rongga vaginanya, keatas-kebawah, sambil menari-nari. Cairan sudah mengalir namun orgasme belum tiba. Tangan kananku sedikit membantu membuka jalan agar lidahku bisa masuk jauh ke dalam, bila perlu sampai ke dekat G-Spotnya. Lidahku bisa masuk dan mulai naik ke bagian atas klitoris bagian dalam dan tak lama..!&lt;br /&gt;"Robby.., aku mau pipis lagi Rob! Gila kamu Rob, kamu apain aku ini?", teriaknya sambil kukunya mencengkeram rambutku dan menekannya keras kepalaku lebih menempel ke liang vaginanya dan kakinya menjepitku.&lt;br /&gt;"Crutt.. cruut.. cruut..! Ahh.. gila.. gila Rob, ngilu Rob..", cetusnya.&lt;br /&gt;Seketika itu juga cairan itu muncrat dan masuk ke kerongkonganku. Asin, gurih, putih pekat dan nikmat sekali. Langsung kaki dan tangannya lepas mencengkeramku dan kini lemah terkulai diatas kasurnya. Cairan itu tidak sampai jatuh ke sepreinya, karena tertelan semua olehku. Aku mulai menjilati vaginanya, membersihkan cairan yang tersisa dan menelan semuanya.&lt;br /&gt;"Ihh.. ngilu Rob.., kamu ngga jijik Rob?", tanyanya menatapku heran.&lt;br /&gt;"Ngapain jijik ama cairan orgasmemu, kalau sayang, maka segalanya yang bisa menyenangkan hatimu, pasti aku lakukan", jelasku padanya.&lt;br /&gt;"Kamu baik ya Rob! Aku ngga pernah lho dimimik ama suamiku. Apalagi mau sampai jilatin, wong orgasme sampai muncrat kayak tadi aja gak pernah", keluh kesahnya padaku sambil mengelus penisku.&lt;br /&gt;"Kamu bikin aku gila beneran Rob! Nafsuku menggila, puncak kenikmatanku pertama kali gila kayak gini. Aku bisa tergila-gila ama kamu Rob..", tambahnya belum puas memujiku.&lt;br /&gt;"Kamu belum tembakkan pelurumu, aku udah 3X orgasme, wah.. ceweq mana ngga gila ama kamu, Rob..!", celotehnya terus karena kepusan yang kuberikan.&lt;br /&gt;"Aku ngga pernah main ama ceweq lain kecuali istriku", bantahku.&lt;br /&gt;"Kalau malam ini sama siapa Rob, hayoo..!", sergahnya.&lt;br /&gt;"Ohh, itu lain bidadariku. Berdosa aku kalao nggak memuaskan birahimu", jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil saling memuji dan menyanjung, tanganku mulai memainkan putingnya lagi hingga terjadi denyutan di bibir vaginanya. Aku lihat handuk kecil di ujung ranjang. Aku tarik dan aku pergi ke toilet untuk memberikan sedikit air di handuk tersebut, lalu aku oleskan dengan lembut di vaginanya. Segera kukeringkan bibir kemaluannya dengan tiupan dari mulutku. Henny terkejut menggelinjang geli, mungkin sisa-sisa rasa ngilunya masih tersisa. Karena sudah ketiga kalinya aku membuat Henny orgasme, sudah menjadi kebiasaanku pada istriku, saatnya tiba babak terakhir dimana biasanya aku masukkan penisku ke liang kemaluan istriku. Dihadapanku ada Henny yang terkapar kenikmatan, sementara aku belum meraihnya, ini saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung straight, ciumanku tertuju pada klitorisnya. Kujilati kiri dan kanan, atas dan bawah sampai pertemuan anusnya. Anusnyapun tak luput aku jilati. Disini Henny menjerit hebat sambil pantatnya terangkat. Cairan putih membasahi klitorisnya, aku hisap dalam-dalam sampai Henny berontak melompat.&lt;br /&gt;"Rob.., ahh.. ooh.., geli Rob! Ayoo.. masukkan, aku capek Rob, please..", pintanya.&lt;br /&gt;Aku naiki tubuhnya dan posisiku menindihnya. Spontan lengan Henny meraih penisku.&lt;br /&gt;"Penismu gede banget cayang, ayoo masukin yach..", pintanya.&lt;br /&gt;Digosok-gosokannya ke klitorisnya, turun ke bawah dekat anus, ke klitoris kembali, sedikit ditekan masuk dan ditarik keluar kembali.&lt;br /&gt;"Ayoo cayang, aku udah ngga kuat. Ngga kebayang gimana ngilunya aku saat penismu yang besar ini nembus liang kenikmatanku..", pintanya.&lt;br /&gt;Perlahan dituntunnya penisku ke arah liangnya, pelan dan dengan lembut aku bantu dorong masuk, agar Henny tidak terkejut dan nyeri karena penisku. Kutekan, kutarik, kutekan dan kutarik. Makin lama tekanannya makin dalam dan.. masuklah setengah penisku ke liang kenikmatannya.&lt;br /&gt;"Oou.. sakit Say, pelan aja yach. Sini aku bantu", katanya meringis.&lt;br /&gt;Karena sudah terlumasi oleh cairan kewanitaannya, cukup mudah penisku masuk walaupun agak sempit. Makin lama makin habis tertelan penisku dan Henny melenguh nikmat sambil matanya melek merem, kepalanya ke kiri dan kanan. Kudiamkan sejenak, ini teknik juga buat membuat wanita menderita menanti sodokan akhir. Henny mengangkat pantatnya meminta aku memulai sodokan mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusodok pelan-pelan, bagaikan film slow motion.Ini membuat Henny merengkuh kenikmatan yang luar biasa. Biasanya kaum Adam kalau sudah begini digenjot seenaknya sendiri tanpa variasi kenikmatan pasangannya.&lt;br /&gt;"Hayo.. Rob, aku udah ngga kuat..! Aku mau puncak lagi nikh", rengeknya.&lt;br /&gt;Terasa penisku disedot-sedot di dalam lubang kenikmatannya, kuat sekali cengkeraman Henny sampai lututku terasa ngilu dibuatnya. Dipelintir, disedot tak karuan lagi rasanya, hanya nikamt surga kurasakan. Kugenjot makin kuat dan keras, terdengar bunyi ceplak.. ceplok.., karena basahnya bibir kenikmatan Henny. Selama 10 menit dengan posisi itu, Henny berteriak-teriak histeris karena penisku menyentuh mentok rongga dalam vaginanya. Seprei sudah acak-acakan dan cakaran-cakaran nikmat banyak tergores dipunggungku. Karena aku sudah lelah dan Henny juga loyo, tak terasa sudah 3 jam berlalu, dengan seluruh fantasiku, kupaksakan diri untuk segera orgasme. Dengan beberapa sodokan kilat, aku mengerang keras sambil menjambak rambut Henny. Demikian juga Henny mengerang keras makin menyedot-nyedot penisku di dalam, kedua pahanya menggapit pinggulku kuat sekali. Kepalanya bergoyang tak beraturan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahh.. ahh.., Hen.. aku keluar Hen! Ahh.. Ohh.., ayo sama-sama, Hen..", pintaku.&lt;br /&gt;Crott.. crott.. crott.., tembakan cairan spermaku keras menyembur di liang kenikmatan Henny. Demikian juga Henny.&lt;br /&gt;"Robby.. Robby.., peluk aku Rob, nikmat Rob, nikmat sekali..", lenguhnya keras sekali.&lt;br /&gt;Serr.. serr.. serr.., cairan itu dimuntahkannya. Terasa oleh penisku ada semburan hangat menerpa dan banyak sekali, deras..! Kami berdua lemas, lelah dan aku rebah disampingnya, diapun memiringkan tubuhnya tanpa mencabut penisku dari liang kenikmatannya.&lt;br /&gt;"Robby, thanks berat yach! Aku ngga nyangka bisa orgasme 4X dalam sekali permainan. Kamu hebat bisa bikin aku gini. Aku takut kehilanganmu Rob, please jangan pernah lupakan aku yach..", cetusnya.&lt;br /&gt;"Suamiku kalau ML denganku, ngga lebih dari 3 menit udah muncrat.., aku ngga pernah orgasme sekalipun, ini udah 7 tahun pernikahanku", keluhnya.&lt;br /&gt;Tanpa terasa airmatanya menetes lagi dan kusuap dengan jariku penuh kasih sayang dan kuyakinkan dia bahwa aku akan selalu menyayanginya.&lt;br /&gt;"Henny sayang, kapanpun kamu butuhkan aku, aku siap memuaskanmu. Suamimu di rumah, kamu call HP-ku, kita atur pertemuan di P Cottage yach..", pesanku.&lt;br /&gt;Aku cabut penisku yg masih tegang dan kami berdua mengakhirinya dengan mandi bersama dan kami tidak jadi dinner karena sama-sama lelah dan terpaksa aku menginap di rumahnya sampai mentari menyingsing di ufuk timur. Bahagia sekali Henny pagi itu, bagaikan baru saja meraih piala Citra yang diidam-idamkan oleh para artis film Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian kisah nyataku dalam memenuhi birahi istri temanku sendiri dan akan kulanjutkan kisah asmaraku dengan Henny dalam episode berikutnya yang lebih seru dimana Henny merekomendasikan 2 temannya dengan status istri, untuk menikmati kebahagiaan seperti yang dirasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-3704907983391475184?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/3704907983391475184/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=3704907983391475184' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/3704907983391475184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/3704907983391475184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2009/01/pagar-makan-tanaman-4.html' title='Pagar Makan Tanaman - 4'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-5549201894696474141</id><published>2009-01-11T18:08:00.001-08:00</published><updated>2009-01-11T18:08:43.001-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pesta Sex'/><title type='text'>Hadiah bagi Pahlawan 01</title><content type='html'>Saya berasal dari Tasikmalaya dan sudah 2 tahun menempuh kuliah di Jakarta. Di sini aku tinggal di sebuah rumah kost yang dihuni banyak mahasiswa perantauan sepertiku. Kisah ini bermula ketika aku sedang berbelanja ke sebuah mall di Jakarta. Aku tidak sendirian, tapi bersama 2 gadis teman kostku, mereka adalah Diana dan Sinta. Keduanya cantik dan sama-sama warga keturunan sepertiku. Diana adalah seniorku semester akhir, sama-sama jurusan manajemen denganku, sifatnya pendiam, banyak yang mengatakan dia judes karena jarang tersenyum, karena sifat tertutupnya inilah temannya cuma sedikit, tapi kalau sudah akrab ternyata orangnya baik dan menyenangkan. Dia sering membantuku dalam tugas-tugas kuliah. Hubungan kami seperti kakak adik, orangnya putih cantik, tinggi, rambut panjang, wajah oval dan bodinya ideal, kalau dilihat-lihat mirip dengan Vivian Hsu, sedangkan Sinta seangkatan denganku tapi dari fakultas psikologi, pacarnya adalah salah satu temanku yang sedang belajar di luar negeri, sifatnya periang dan humoris, kadang-kadang suka bercanda kelewatan, tingginya skitar 160 cm, bodinya langsing, berambut lurus sebahu, wajahnya putih licin dengan hidung mancung, dia dan aku termasuk beberapa dari segelintir orang yang dekat dengan Diana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu langit sudah gelap kira-kira jam 19:00, kami sudah selesai berbelanja dan sedang menuju tempat parkir bertingkat. Tempat itu sudah sepi dan gelap karena aku kebetulan parkir di tingkat agak atas jadi jarang ada kendaraan. Suasana di sana cukup menyeramkan hanya diterangi lampu remang-remang. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh 2 orang preman berpenampilan sangar yang menghadang jalan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei babi, tunggu dulu kalo mau lewat serahin dulu duit yang kalian punya, ayo!" kata yang kurus gondrong itu.&lt;br /&gt;"Wah gile bawa cewek juga nih dia, cakep-cakep lagi, eh cewek mau main sama kita nggak!" timpal temannya yang berambut cepak. Aku segera bergerak menepis tangan si cepak ketika hendak mengelus pipi Diana yang tampak ketakutan.&lt;br /&gt;"Hei, hei.. kalau mau duit gua ada tapi jangan macam-macan sama temanku!" bentakku padanya.&lt;br /&gt;Rupanya mereka tidak terima dan si gondrong mengeluarkan pisau lipatnya dan menyerang ke arahku, aku menghindar dan menangkap pergelangan tangannya, kupuntir dengan jurus aikido yang kupelajari sejak SMA, "Ci Diana, Sinta, cepat masuk ke mobil dan lari, jangan tunggu gua!" seruku pada mereka seraya memberi kunci mobil pada Diana, mereka segera masuk ke mobil dan kudengar mesin sudah dinyalakan tapi bukannya lari malah menungguku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Heh bangsat, mau jadi jagoan loe, ayo kita hajar dia dulu Wan baru kita kerjain cewek-ceweknya," kata yang gondrong pada temannya. Si cepak menerjang ke arahku tapi kutendang perutnya sampai terhuyung-huyung ke belakang.&lt;br /&gt;"Ayo masih berani maju?" tantangku dengan memasang kuda-kuda. Yang cepak itu masih belum kapok, dia mengeluarkan pisaunya dan mencoba menusukku, kami sempat terlibat pertarungan seperti dalam film-film action. Tanganku sempat tersabet pisau dan membuat luka gores sepanjang kira-kira 10 cm, namun aku berhasil merebut pisau si gondrong dan kupatahkan pergelangan tangannya, sementara yang cepak terkena tinjuku pada mulutnya sehingga terlihat darah pada bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku mulai kewalahan tapi aku mencoba tetap tenang dengan menggertak mereka dengan pisau yang kurebut sambil berdoa dalam hati, kami terdiam sesaat lalu mereka perlahan-lahan mundur, membalikkan badan dan kabur entah kemana, akhirnya berguna juga ilmu bela diri yang kupelajari selama ini. Aku segera masuk mobil, kusuruh Diana segera tancap gas, dengan wajah masih tampak tegang dia segera menjalankan mobil dan keluar dari situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinta berkata padaku, "Ihh tangan kamu berdarah tuh, kamu nggak apa-apa?". Sinta membantu mengobati lukaku dengan peralatan P3K di mobilku.&lt;br /&gt;"Leo, kamu nggak apa-apa, kita ke rumah sakit ya," sambung Diana.&lt;br /&gt;"Ah nggak usah kok cuma luka gores aja, nggak sampai kena tulang lagi, tinggal diobatin dan diperban sendiri aja, kalian tenang sajalah, harusnya gua yang terima kasih pada kalian, kalian sudah gua suruh kabur dulu tapi malahan nungguin, kalau gua kalah tadi gimana coba!"&lt;br /&gt;"Leo, kamu masih anggap Cici ini temanmu nggak sih, kamu pikir kita tega ninggalin kamu sendirian kayak gitu!" kata Diana dengan ketus dan menatap tajam ke arahku.&lt;br /&gt;"Udah Ci, lagi nyetir jangan marah-marah, Leo kan tadi kuatir keselamatan kita juga, uuhh.. kamu sih asal omong!" Sinta mencoba menenangkan sambil menyikut dadaku, aku diam saja daripada ribut sama cewek, bukannya takut tapi bikin pusing apalagi mendengar omelan Sinta kalau lagi bawel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di kost, aku menyuruh mereka istirahat saja supaya tenang, aku sendiri segera masuk kamar. Kira-kira jam 9 malam, aku sedang membaca tabloid Bola, pintuku diketuk, ternyata yang datang Diana dan Sinta yang sudah memakai pakaian tidur.&lt;br /&gt;"Loh, ngapain kalian berdua ke sini malam-malam begini?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Kita cuma mau berterima kasih barusan itu, kamu tadi hebat banget deh Le, mirip Jet Lee aja aksinya," puji Sinta dengan tersenyum.&lt;br /&gt;"Boleh kami masuk, ngobrol-ngobrol sebentar?" tanya Diana.&lt;br /&gt;Akhirnya kupersilakan mereka masuk juga mumpung belum ada yang lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana lukamu Le, sori banget ya demi kita kamu jadi gini, kalo nggak ada kamu nggak tau deh gimana nasib kami," kata Sinta sambil memegangi lenganku yang sudah diperban.&lt;br /&gt;"Ah luka kecil, nggak lama juga sembuh kok, kalian tenang deh."&lt;br /&gt;"Le, kamu hebat deh tadi, makannya kita ke sini rencananya mau membalas budi nih, kami ada hadiah kecil buat kamu," sahut Diana.&lt;br /&gt;"Oh, nggak usah Ci, kita kan temen kok pake hadiah-hadiahan segala."&lt;br /&gt;"Eee, harus diterima lho kalo nggak gua nggak mau omong sama kamu lagi nih!" sambung Sinta setengah memaksa.&lt;br /&gt;"Ya, iya deh, aku terima aja biar kalian puas, makasih loh."&lt;br /&gt;"Tapi loe tutup mata yah, soalnya ini surprise loh," katanya lagi.&lt;br /&gt;"Wah, apa sih pake rahasia segala, ya udah deh, gua merem nih," kataku.&lt;br /&gt;Aku bersandar di ranjang sambil memejamkan mata, kudengar suara tirai ditutup dan Diana berkata, "Awas jangan ngintip ya, ntar batal loh hadiahnya!" disambung dengan suara Sinta ketawa cekikikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku merasakan salah seorang duduk di sampingku dan meraih tanganku.&lt;br /&gt;"Sudah siap?" ternyata suara Diana.&lt;br /&gt;"Sudah, boleh buka mata belum Ci?"&lt;br /&gt;"Tunggu bentar lagi." jawabnya.&lt;br /&gt;Tanganku disentuh &amp; diusapkan pada suatu benda kenyal olehnya. Betapa kagetnya aku ketika meraba benda itu ternyata adalah payudara wanita. Segera kubuka mata dan benar saja, Diana duduk di samping kiriku tanpa sehelai benangpun dan menumpangkan tanganku di payudaranya, sementara Sinta yang juga sudah polos mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu meja sehingga suasana menjadi remang-remang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah kalo gini kan jadi romantis suasananya." katanya.&lt;br /&gt;Benar-benar kaget bercampur terangsang aku saat itu, aku baru pertama kalinya melihat mereka polos. Tubuh Diana ternyata benar-benar aduhai, perut rata, paha jenjang yang mulus, bulu kemaluan yang rapi dan lebat, dan payudaranya lumayan besar dan kencang, benar-benar mirip dengan Vivian Hsu yang sering kulihat gambar-gambar bugilnya. Tubuh Sinta tidak kalah menarik walaupun payudaranya tidak sebesar Diana, mungkin hanya 34 dengan puting merah muda dengan bulu kemaluan yang lebat pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Loh, kok.. kok begini sih, terima kasihnya kelewatan deh kayaknya," kataku sedikit gagap dan jantungku berdebar kencang karena aku belum pernah main dengan perempuan lain selain pacarku sendiri.&lt;br /&gt;"Tidak Le, kamu memang pantas menerimanya, jadi hutang budi ini impas," jawab Diana lalu dia membuka ikat rambutnya sehingga rambut panjangnya tergerai bebas sedada.&lt;br /&gt;"Wah, Ci liat, mukanya merah tuh, dia malu sama kita kali," kata Sinta sambil tertawa.&lt;br /&gt;"Nggak usah malu Le, kita kan temen dekat bukan orang lain," kata Diana seraya membelai pipiku dan mencium bibirku. Imanku langsung runtuh karena perlakuan mereka, begitu bibirnya menempel di bibirku segera kusambut dengan tarian lidahku di mulutnya, lidah kami saling beradu dengan penuh nafsu, tanganku sudah mulai memijat-mijat buah dadanya dan mulai turun meraba-raba paha mulusnya naik lagi ke kemaluannya dan kuberikan sentuhan halus pada klistorisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diana yang biasanya pendiam dan lemah lembut itu, malam itu begitu liar &amp; penuh nafsu jauh dari yang sehari-hari. Sinta tidak tinggal diam, dia memelorotkan celana trainingku dan CD-ku sehingga barangku yang sudah tegang menyembul keluar. "Wah besar juga nih, pantes si Vivi betah sama lu Le," godanya. Dijilatinya senjataku dengan penuh nafsu, lalu dimasukkan ke mulutnya dan diemut-emut seperti seperti permen lolipop. Sementara ciumanku pada Diana sudah mulai turun ke dagunya, lalu ke leher. Kusibakkan rambut panjangnya ke samping kiri lalu kujilat-jilat leher kanannya, kugigit pelan sambil menyapunya dengan lidahku. Nafas Diana sudah mulai kacau matanya terpejam sambil mendesah dan meremas-remas rambutku, aku sendiri merasakan sensasi hebat pada batanganku yang sedang dikulum Sinta, baru pertama kalinya kurasakan kenikmatan bercinta dengan dua wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku mulai naik dari kemaluannya menuju dadanya dan lidahku turun menuju sasaran yang sama, akhirnya kutangkap dada kanannya dengan tanganku dan dada kirinya dengan mulutku, disaat yang sama juga tangan kiriku mengelus-elus pantatnya yang indah itu. Puting yang ranum itu kusedot dan kutarik-tarik dengan mulutku dan dada kanannya kuremas-remas sambil memencet putingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa saat kurasakan barangku mau meledak karena kuluman Sinta.&lt;br /&gt;"Sin, Sin udah stop dulu.. gua udah nggak tahan nih!" kataku terbata-bata.&lt;br /&gt;Akhirnya dia menghentikan kegiatannya dan berkata, "Lu gitu ah, masa mainnya sama Ci Diana terus, kamu nggak suka Sinta ya, ntar gua bilangin loh ke Ko Hendy (pacar Diana) biar digebuk hehehe.."&lt;br /&gt;"Sori dong Sin, abis kan tadi Ci Diana yang mulai dulu, jadi dia yang duluan dapet."&lt;br /&gt;"Ya udah, biar adil kita undi saja siapa yang lebih dulu melayani Leo, gimana Sin?" Diana memberi usul. Mereka berdua suit dan yang menang adalah Diana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, Sinta kalah, ya udah Cici duluan deh, jahat ah!" kata Sinta mencibir pada Diana.&lt;br /&gt;"Tenang Sin kamu juga ntar kebagian kok, Leo kan kuat, ya nggak," kata Diana sambil melirik padaku. Kini Diana berbaring terlentang di ranjang dan Sinta duduk di tepi ranjang menunggu. Kuciumi sekujur tubuhnya mulai dari bibir dan sesampainya di kemaluan, kuangkat kedua kakinya ke bahuku sampai tubuhnya setengah terangkat lalu kudekatkan wajahku ke pangkal pahanya. Bulu-bulu lebat itu kusibakkan dengan jariku dan kujilati belahan di tengahnya. Lidahku bermain-main dengan ganas di daerah itu membuat tubuh Diana mengelinjang-gelinjang disertai suara-suara rintihannya. Tidak kuhiraukan lagi bahwa gadis ini sebenarnya adalah seniorku dan kuanggap kakak angkatku yang harusnya kuhormati, yang terpikir saat itu hanyalah nafsu dan nafsu yang makin membara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak kurasakan sebuah tangan dengan jari-jarinya yang lembut menggenggam batang kemaluanku yang nganggur. Pemilik tangan lembut itu adalah Sinta yang tidak tahan hanya menjadi penonton. Dikocoknya batang kejantananku lalu dimasukkan ke mulutnya dan diemut-emut, sementara lidahku terus bekerja di liang kewanitaan Diana, tanganku membuka bibir kemaluan yang rapat itu sampai kulihat tonjolan kecil di tengahnya, dan kumasukkan lidahku lebih dalam lagi agar bisa menjilat benda itu. Rintihan Diana makin menjadi-jadi sambil meremas-remas sprei dan Sinta berpindah menciumi payudara Diana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kemudian kedua paha Diana mulai menjepit kepalaku, badannya tertekuk ke atas. "Oh, Leo.. akhh.. ah!" Erangan itu diiringi menyemburnya cairan hangat berwarna bening membasahi mulutku, setelah itu kuturunkan badannya dan Sinta membantuku menjilati cairan yang masih tersisa di kemaluan Diana sampai bersih, tubuh Diana mulai melemas kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Leo, kamu waktu main sama Vivi juga seperti ini ya, permainanmu bagus sekali," puji Diana padaku.&lt;br /&gt;"Ah biasa aja kok Ci," sahutku sambil memiringkan tubuhnya dan kuarahkan batangku ke lubang yang sudah basah itu. Sedikit demi sedikit batang itu mulai tertancap di lubang itu diikuti desisan Diana sampai akhirnya dengan susah payah akhirnya mentok juga batangku di kemaluannya yang sempit itu. Setelah itu aku mulai memacu badanku maju mundur sambil meremas-remas payudaraya dan Sinta menjulurkan lidahnya untuk beradu dengan lidahku. Sungguh nikmat sekali rasanya menikmati pijatan-pijatan dinding liang kewanitaan Diana sambil memijat payudaranya dan bermain lidah dengan Sinta, sekali-sekali Sinta juga menjilati leher dan telingaku. Benar-benar aku merasakan diriku bagaikan seorang kaisar yang sedang dilayani selir-selirku saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian aku merasa mau keluar dan berkata, "Ci, mau keluar sebentar lagi nih."&lt;br /&gt;"Siram di mulut.. ohh.. ahh.. di mulut Cici!" katanya lirih.&lt;br /&gt;Akhirnya kami klimaks bersama dan kusuruh dia membuka mulut untuk menyemprot spermaku. Cairan putih kental membanjiri mulutnya sampai menetes di sekitar bibirnya, Sinta pun ikut menjilati spermaku yang masih berlepotan di batangku. Diana sekarang tergolek lemas dengan sisa-sisa sperma masih membekas di bibir, dagu, dan lehernya, sesudah mengatur nafas dia tersenyum padaku dan berkata, "Bisa-bisa besok pagi Cici nggak bisa kuliah gara-gara kecapean nih," jarang-jarang dia tersenyum begitu, padahal wajahnya semakin manis kalau lagi senyum. "Sama Ci, saya juga gitu mungkin, sekarang Cici istirahat aja dulu deh, Sinta udah nggak sabar nih," jawabku sambil merengkuh tubuh Sinta dalam pelukanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-5549201894696474141?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/5549201894696474141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=5549201894696474141' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/5549201894696474141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/5549201894696474141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2009/01/hadiah-bagi-pahlawan-01.html' title='Hadiah bagi Pahlawan 01'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-6939264603515631870</id><published>2009-01-11T18:06:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T18:07:33.290-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pesta Sex'/><title type='text'>Hadiah bagi Pahlawan 02</title><content type='html'>"Sin, biarin Cici istirahat di ranjang dulu ya, kita mainnya di tempat lain dulu, oke.."&lt;br /&gt;"Ya terserah kamu deh, asal jangan di luar kamar, kan malu," katanya sambil memencet hidungku dengan nakal.&lt;br /&gt;"Ya, iyalah masa di luar sih, dasar cewek sableng," kataku sambil membantunya berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdiri berhadapan saling peluk tanpa mengenakan selembar benangpun, kutatap wajah dan matanya dalam-dalam, semakin dilihat semakin cantik. Kurapatkan dia ke tembok, kukecup keningnya merambat ke telinganya dimana aku berbisik, "Sin, kamu pernah melakukan ini pada siapa saja?"&lt;br /&gt;"Baru loe, Andry, dan bekas pacar gua di SMA, loe sendiri gimana Le, gua ini cewek keberapa yang luperlakukan begini?"&lt;br /&gt;Aku terdiam sesaat lalu kujawab, "Selain Vivi dan Ci Diana mungkin kamu yang ketiga dan terakhir bagiku Sin."&lt;br /&gt;"Kenapa loe bilang aku yang terakhir Le?"&lt;br /&gt;"Ya, karena aku sudah berdosa pada Vivi, aku tidak mau menambahnya lagi."&lt;br /&gt;"Hihihi, ternyata masih ada juga pria lugu seperti kamu Le."&lt;br /&gt;Lalu dia berkata di dekat telingaku, "Jadi loe belum bisa membedakan antara seks dan cinta," habis menyelesaikan kata-kata dia langsung mengulum telingaku dan kubalas dengan meraba punggung mulus dan pantatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami saling raba bagian-bagian sensitif selama beberapa saat dan kini kuangkat kaki kanannya masih dalam posisi berdiri dengan bersandar di tembok. Pelan-pelan kumasukkan batang kemaluanku ke liang yang sudah becek itu, benar-benar sempit milik Sinta ini, lebih sempit dari Diana sehingga dia meringis kesakitan sambil mempererat cengkramannya di pundakku saat kumasukkan batangku.&lt;br /&gt;"Aduhh.. ahh.. pelan-pelan Le, sakit.. ahh..!" Sedikit demi sedikit batangku sudah masuk setengahnya.&lt;br /&gt;Kuhentikan gerakanku sejenak sambil berkata, "Sin, kamu siap?"&lt;br /&gt;"Siap apaan sih.. aawww..sakitt!" jeritnya. Sebab saat dia bilang 'sih' kuhujamkan sekuat tenaga sisa batangku yang belum masuk sampai mentok dan kurasakan kepala batang kejantananku menghantam dasar kemaluannya dengan kuat sehingga tubuhnya tersentak dan matanya membelakak kaget, telapak tanganku sudah kusiapkan di belakang kepalanya agar ketika terkejut kepalanya tidak membentur tembok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jahat loe, bikin kaget gua aja," tanpa banyak bicara lagi kugerakkan pantatku maju mundur membuatnya mengerang-erang setiap kusentakkan tubuhku ke depan. Dadaku saling bergesekan dengan dadanya. Sambil terus menggenjot kuciumi terus bibirnya sehingga erangannya tertahan, yang terdengar hanya suara, "Emmhh.. emmhh.. emhmm.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian tubuhnya kurasakan seperti menggigil dan dia mempererat pelukannya, demikian juga aku makin erat memeluknya sampai kurasakan hangat pada batang kejantananku disusul keluarnya cairan bening dari liang senggama Sinta, cairan itu mengalir deras dari sumbernya terus turun ke pahanya dan sampai ke ujung kakinya. Perlahan-lahan gerakanku melemah dan akhirnya berhenti, kuturunkan kakinya dan kulepaskan batangku yang masih menancap di kemaluannya. Tubuh Sinta yang sudah basah kuyup oleh keringat melemas kembali dan merosot sampai terduduk di lantai, keringat di punggungnya membasahi tembok di belakangnya. Kuambil tisu lalu kubersihkan cairan kenikmatan yang mengalir membasahi tungkainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua terdiam sesaat memulihkan tenaga kami yang terkuras. Setelah kurasa segar kembali kuperhatikan dia yang masih terduduk lemas di lantai dengan kaki kiri ditekuk, mataku terpaku mengagumi keindahan tubuhnya membuat gairahku bangkit kembali. "Ngapain sih loe, serem amat melototin gua kaya gitu," katanya sambil menyilangkan kedua tangan menutupi dadanya. Tanpa menjawabnya kutarik lengannya lalu kubuat posisinya berdiri membelakangiku dengan kedua tangannya bertumpu di pinggir meja belajarku. "Aduh.. tunggu dulu Le, gua masih capek, loe jahat ih!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segera kubasahi batang kejantananku dengan ludah lalu kumasukkan ke lubang pantatnya dengan paksa dan kuhentakkan biasa saja tapi dia malah menjerit histeris, "Awww.. sakit, toloongg!" Jeritannya ini sempat membuatku kaget juga karena kencang sekali, aku takut sampai mengundang perhatian tetangga sebelahku, untungnya lokasi kamarku ini agak di ujung namun jeritannya tadi cukup luar biasa. Aku melepaskan sebentar tusukanku dan mengintip dari jendela apakah ada yang datang ke sini, lega aku melihat koridor masih sepi tanpa suara dan kamar sebelahku juga sudah gelap, kurasa dia sudah terlelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudekati Sinta masih tetap dalam posisinya. "Aduh Sin, itu suara tolong dikecilin dong volumenya, gawat nih kalo ada yang tau, pake tolong segala lagi, bisa-bisa dikira ada pembunuhan."&lt;br /&gt;Dasar cewek bandel, dia malah sambil tertawa berkata, "Lucu tampang kamu lagi panik Le, masa kamu lupa si Ferry tetangga sebelah loe kan lagi pulang makanya gua kagetin loe, ini balasan waktu tadi ngagetin gua (ketika posisi berdiri), jadi kita seri hihihi!"&lt;br /&gt;"Ooo jadi loe sengaja ya, awas loe ayo sini tunggu ya balasan gua ntar!" kataku menghampirinya. Dia malah berkelit sambil berlari kecil.&lt;br /&gt;"Wek, sini tangkep kalo bisa," ejeknya dengan menjulurkan lidah.&lt;br /&gt;"Cewek bandel, awas kalo kena ya!"&lt;br /&gt;"Lho kalian lagi ngapain, kok kayak anak kecil aja sih, dari tadi ribut terus," kata Diana yang sudah bangun.&lt;br /&gt;"Ini Ci, gua lagi kasih pelajaran buat si bandel nih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kutangkap setelah dia terdesak di lemari pakaianku di sudut ruangan, kupeluk dia dari belakang, "Nah ketangkep loe sekarang, mau ke mana lagi."&lt;br /&gt;"Hihihi Leo ampun ah, jangan kasar-kasar!" dia masih tertawa-tawa ketika itu, lalu aku membuat posisinya seperti tadi lagi, kini kedua tangannya yang bertumpu pada lemari.&lt;br /&gt;"Sekarang tau rasa nih balesan gua!" kataku dengan senyum penuh kemenangan.&lt;br /&gt;Kutuntun batang kejantananku memasuki lubang pantatnya yang sempit, sedikit demi sedikit akhirnya amblas seluruhnya. Waktu kumasukkan suara tawanya perlahan-lahan berubah menjadi suara rintihan, senyumnya sirna berganti menjadi ekspresi kesakitan, "Hi.. hi.. hi.. Leo udah ah, lepasin ah.. ahh.. jangan.. ahh.. sakit..!" Mendengar rintihan tak karuan itu nafsuku semakin bangkit, pinggulku segera bergerak maju mundur dengan ganas. Dasar sifatnya bawel, waktu bertempurpun dia masih sempat berceloteh sambil merintih, "Akhh.. kamu.. sadis.. ah.. ntar gua mau.. ohh.. lapor.. aakhh.. sama.. sama Vivi.. ahh!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinggulnya ikut berpacu menyelaraskan dengan gerakanku, yang paling enak adalah saat sentakan kita saling berlawanan arah sehingga menambah tenaga tusukanku agar menancap lebih dalam, bila sudah begitu selalu histeris tapi tidak sehisteris waktu mengagetkanku tadi. Payudaranya juga ikut berayun-ayun kesana kemari, kedua putingnya kutangkap dengan jariku, kupuntir, kutarik, dan kupencet tanpa menyentuh dadanya, aku sengaja berbuat begitu agar dia penasaran dan memohon padaku. Benar saja perkiraanku setelah beberapa lama kumainkan putingnya tanpa menyentuh dadanya dia mulai memohon.&lt;br /&gt;"Le.. ahh.. kamu kok.. oohh.. cuma mainin.. aahh putingnya.. remas dadaku Le.. please!"&lt;br /&gt;"Hehehe.. gua kan udah janji mau ngebales loe tadi, tunggu aja sampai saatnya nanti Sin, hehehe," jawabku sambil tetap menggenjot lalu tangan kiriku menjambak rambutnya hingga kepalanya menengadah ke atas.&lt;br /&gt;"Aaawww.. kamu.. kamu.. ahh.. jahat.. kasar.. awas ya nanti!" Puas hatiku menyiksa si bandel ini hingga tak berkutik memohon-mohon padaku. Menurutku bercinta dengannya lebih enak daripada Diana yang agak pasif, Sinta cukup pintar mengimbangi gerakan-gerakanku, staminanya pun lebih baik sedangkan Diana belum apa-apa sudah takluk, maklum Sinta ini orangnya rajin fitness.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uaah.. mau keluar Sin!" jeritku ketika mau mencapai puncak.&lt;br /&gt;"Gua juga.. aahh.. ayo perdalam lagi.. ouchh!"&lt;br /&gt;"Uahh.." begitu spermaku muncrat aku langsung berteriak dan meremas kedua buah dada Sinta dengan keras disusul pula oleh jeritannya.&lt;br /&gt;"Aaakkhh sakiitt.. eenakk..!" Tanpa melepas batang kejantananku , kepalaku menyelinap ke balik ketiak kirinya, sasaranku adalah puting susu yang ranum itu. Mulutku menangkap benda itu lalu kusedot dengan gemas sementara tanganku masih meremas buah dadanya. Kubalikkan tubuhnya hingga kami saling berdiri berhadapan. "Sin, kamu nggak menyesal melakukannya padaku?" tanyaku, dia hanya menggeleng dengan nafas yang masih memburu, tubuhnya licin mengkilap karena berkeringat. "Le gua capek berdiri terus, bantu gua ke ranjang dong," pintanya. Maka kugendong dia ke ranjang dengan kedua tanganku sambil bercumbu mesra, kubaringkan dia di sebelah Diana yang sudah bangun, lalu aku duduk di tepi ranjang karena ranjangku tidak cukup berbaring 3 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wuiih main sama Sinta ribut banget, sori ya ngebangunin Cici nih," kataku pada Diana.&lt;br /&gt;"Eee.. loe yang sadis kok masih nyalahin gua, awas ya!" kata Sinta sambil menangkap kemaluanku dan menggenggamnya erat.&lt;br /&gt;"Idiih.. idihh.. gitu ya, lepasin Sin malu tuh diliatin Ci Diana!"&lt;br /&gt;"Minta ampun dulu, kalo nggak kagak bakalan gua lepas nih!"&lt;br /&gt;"Iya, sori.. sori deh yang mulia putri, sekarang lepas dong!" gila bukannya dilepas malahan dijilatinya batang kejantananku yang masih ada sisa-sisa sperma dan cairannya itu.&lt;br /&gt;"Kalian kok berantem melulu sih, lucu ah!" kata Diana lalu dia mendekati kami dan ikut menjilati batang kejantananku. Aku jadi merem melek keenakan menikmati permainan mulut mereka sambil mengelus-elus rambut indah Diana. Aku lalu menyandarkan badanku di ujung ranjang agar lebih nyaman, kedua gadis cantik ini kini berada di depanku sedang mempermainkan kemaluanku. Jilatan demi jilatan, emutan demi emutan membuatku menyemburkan kembali maniku namun kali ini sudah tidak banyak lagi yang keluar akibat terkuras pada ronde-ronde sebelumnya. Dengan rakusnya mereka berebutan melahap cairan putih itu sampai habis bersih, pada bibir-bibir mungil itu masih terlihat percikan spermaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lalu menyuruhku telentang di ranjang, aku tidak tahu mereka mau apa lagi tapi kuturuti saja. Diana lalu naik ke atas kemaluanku dan memasukkan batang itu hingga terbenam dalam kemaluannya, kemudian dia mulai bergoyang-goyang naik turun seperti naik kuda. Sinta naik ke atas wajahku berhadapan dengan Diana dan menyuruhku agar menjilati kemaluannya. Sambil kuelus-elus pantat yang mulus itu, lidahku menjelajahi liang kemaluannya, gerakan lidahku bervariasi dari berputar-putar membuat lingkaran, mempermainkan klitorisnya, menggigit lembut klistorisnya, menusukkan jari tengahku sampai mendorong-dorongkan lidahku ke liang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku bargantian memijati kedua payudara Sinta dan mengelus paha serta pantatnya, suatu ketika kuraba payudaranya, tanganku juga bertemu tangan Diana di situ, jadi masing-masing payudara Sinta dipijati 2 tangan. Suara desahan mereka berdua memenuhi kamarku, terkadang suara itu berubah menjadi, "Emhh.. emhh.. emhh!" sepertinya itu suara mereka berdua sedang berciuman sehingga desahannya terhambat, aku tidak tahu persis karena waktu itu pandanganku tertutup tubuh Sinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goyangan pinggul Sinta bertambah dahsyat ditambah lagi jepitan pahanya terkadang mengencang membuatku agak kewalahan mengatasinya, sementara Diana yang tidak kalah gilanya makin mempercepat gerakannya sehingga terasa sedikit sakit pada buah pelirku akibat tindihannya. Aku pun tak mau kalah, kubalas dengan menggerakkan pinggulku, kurasakan batang kejantananku sudah terasa licin dan hangat oleh cairan yang keluar dari liang kewanitaannya, bersamaan dengan itu terdengarlah jeritan histeris Diana yang tidak lama sesudahnya disusul erangan Sinta dan tetesan cairan kenikmatannya ke wajahku. Tubuh keduanya mengejang di atas tubuhku selama beberapa saat, kurasakan goyangan Diana mulai melemah sampai akhirnya berhenti, Sinta turun dari wajahku dan langsung menjatuhkan diri di sampingku. Kulihat tampang Diana sudah kusut, rambut panjangnya berantakan sampai menutupi sebagian wajahnya dan tubuhnya sudah bermandikan keringat, dia jatuh telungkup di atasku, payudaranya menindih dadaku, empuk dan nikmat sekali rasanya, lebih enak dari ditindih bantal bulu angsa sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu w bahkan Diana, gadis bagaikan gunung es itu sudah tidak perawan lagi, tapi aku tidak peduli soal itu yang penting kenikmatan yang kudapat waktu itu sangat hebat, lagipula liang kemaluan mereka masih sempit karena menurut pengakuan mereka jarang melakukannya karena pacar mereka tinggal terpisah jadi jarang bertemu. Gara-gara permainan liar malam itu besok paginya aku tidak ikut kuliah jam 7 karena tubuhku pegal-pegal terutama bagian pinggang seperti mau copot rasanya, kumatikan wekerku dan meneruskan tidur sampai jam 10.00 ketika si bandel Sinta menggedor pintuku, "Wei.. wei.. bangun pemalas, semalam ngapain aja loe!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-6939264603515631870?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/6939264603515631870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=6939264603515631870' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/6939264603515631870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/6939264603515631870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2009/01/hadiah-bagi-pahlawan-02.html' title='Hadiah bagi Pahlawan 02'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-9222604816895754755</id><published>2009-01-11T17:55:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T18:03:14.730-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tukar Pasangan'/><title type='text'>Desahan Istri-istri Kami</title><content type='html'>Triyono (samaran) adalah sahabat lamaku sejak aku SMA. Kini setelah kami sudah mempunyai anak remaja (umurku 46 tahun) dia masih sahabatku, bahkan istrinya yang bernama Atik (samaran) dan istriku sangat akrab, dan kami rutin selalu ketemu kalau tidak dirumahnya, ya dirumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan jika aku dan Triyono pergi mancing ketengah laut dengan sewa perahu, tak jarang istriku menginap dirumah menemani istrinya atau sebaliknya (karena anak kami sudah remaja dan mereka kuliah dikota lain). Begitu akrabnya kami sehingga tak jarang kami melakukan yang menurut pandangan orang ketiga adalah hal yang aneh, misalnya ditengah gurauan, kadang kadang Triyono memeluk istriku dan menciumi pipinya berkali kali, didepanku maupun didepan istrinya. Demikian pula sebaliknya ketika kami bercengkarama berempat kadang kadang Atik dengan manja tiduran berbantal pahaku. Tentunya sikap kami ini tidak didepan anak anak yang sudah berangkat remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pernah didapur rumahku aku memergoki Triyono mencolek pantat istriku, dan kulihat istriku pura pura marah, aku tahu itu dari raut wajahnya, tentu saja sebagai lelaki normal kadang aku dilanda cemburu. Tetapi kami selalu lebih memegang persahabatan, apalagi akupun sering melakukan hal yang sama terhadap istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja keadaan ini tidak terjadi begitu saja, kami menjalin hubungan kekeluargaan sejak kami menikah. Namun sejauh itu kami tidak pernah melakukan hal hal yang terlalu jauh. Sampai suatu hari terjadilah apa yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, setidak tidaknya olehku. Tapi aku yakin ini adalah rencana Triyono dan istrinya yang sudah dipersiapkan (ini kusadari setelah cukup lama peristiwa itu terjadi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sering kami lakukan, pada hari jumat yang kebetulan hari libur kami berempat ber week end di Villaku didaerah Ciloto. Walaupun tidak terlalu mewah namun villaku ini cukup luas dan cukup nyaman untuk beristirahat di akhir pekan. Kami selalu rutin mengunjunginya paling tidak sebulan sekali, biasanya hanya aku dan istriku, kadang kadang anak anak ikut, atau famili lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku mengajak Triyono dan istrinya, tidak ada yang istimewa kami hanya ingin menikmati liburan dan seperti biasanya selesai makan siang dijalan, istriku mampir untuk beli pepes ikan Mas kesukaanku. Sampai di villa sekitar jam jam 2 siang, aku tidur pulas, sampai akhirnya dibangunkan istriku untuk makan malam. Kami makan malam berempat dengan nasi hangat dan pepes ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai makan malam kami menonton TV sambil ngobrol kesana kemari diruang keluarga. Setelah bosan ngobrol, Triyono mengambil inisiatif mengambil kasur dikamarnya dan dihamparkan didepan TV dia dan istrinya menonton TV sambil tiduran, dan akupun berbuat hal yang sama. Atiek masuk kamarnya dan mengganti dasternya dengan baju tidur yang amat tipis tanpa BH dan CD, ini terlihat jelas dari bayangan tubuhnya dibalik gaun tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat dia sangat atraktif mempertontonkan tubuhnya didepanku dan didepan istriku. Kulihat Triyono acuh saja melihat tingkah istrinya. Kamipun menonton TV sambil tiduran, istriku dan Atiek tidur berdampingan ditengah sedangkan aku berada disamping istriku dipinggir. Acara TV terasa membosankan mungkin karena aku tidak bisa konsentrasi, aku lebih terpesona menikmati tubuh yang menggairahkan yang tergolek disamping istriku dan itu membuat adik kecilku dibalik sarung setengah ereksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pah.., puterin film yang hot.. dong.., aku kedinginan nih.." Atiek menyuruh suaminya memutar film porno.&lt;br /&gt;Aku tahu mereka sering muter film porno karena kami sering tukar menukar film, tapi selama ini kami belum pernah nonton bersama sama.&lt;br /&gt;Sebelum beranjak mengambil film, Triyono basa basi minta ijin istriku "Rin..muter film blue ya.."&lt;br /&gt;"Terserah aja " jawab istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filmnya cukup bagus dengan latar belakang jaman kekaisaran romawi, adegan sexnya tidak vulgar, dan ini membuat gairahku cepat bangkit. Sarungku sudah terdongkrak keatas sementara kulihat Atiek sering mencuri padang kearah sarungku yang memang sengaja tidak kusembunyikan. Sementara itu istriku sudah memindahkan kepalanya diatas lenganku dan jari tangannya meremas remas jari tanganku. Aku sudah hapal sekali, istriku pasti sudah terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triyono menonton film itu dengan memeluk istrinya secara ketat dan tangannya mengusap usap payudara Atiek dari luar baju tidurnya, sesekali diciumnya bibir istrinya dalam dalam. Sementara itu kaki kanan Atiek ditekuk dan pahanya menindih paha istriku, sehingga tak terhindarkan baju tidurnya yang memang pendek makin tersingkap sehingga akupun makin leluasa melahap pahanya yang putih mulus, dan sebagian rambut dipangkal pahanya dengan sudut mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak Rin,.. Aku jadi pengen nih.." Atiek bicara kepada istriku.&lt;br /&gt;"Ya nggak apa apa, wong Mas nya nyanding koq." Istriku menyahut sambil senyum penuh arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku makin terangsang, kumiringkan tubuhku menghadap istriku sehingga aku bisa melihat paha mulus Atiek, dan kuselusupkan tanganku dibalik blouse istriku yang tidak ber BH untuk meremas remas buah dadanya, sementara tangannya sudah masuk kesarungku untuk mengelus elus penisku yang sudah berdiri keras. Ia menutup tanganku dengan bantal sehingga gerilya yang kulakukan tidak terlihat oleh Triyono dan Atiek. Walaupun itu sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan, karena mereka sudah tidak memperhatikan kami lagi, keduanya sudah mulai tenggelam dalam percintaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Atiek melepaskan seluruh pakaiannya dan mencopoti pakaian suaminya, Triyono menggeser posisinya merapat keistriku, sedangkan Atiek menindihkan tubuhnya yang bugil dari sebelah kanan, sehingga Triyono berdampingan dengan istriku.&lt;br /&gt;Mereka berciuman sambil saling saling mengelus penuh nafsu, kulihat istriku sering melirik mereka dengan gairah, ikut terhanyut dengan adegan panas persis satu jengkal disampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba Atiek menghentikan pergulatan dengan suaminya dan tangannya meraih blouse depan istriku dan melepas kancingnya.&lt;br /&gt;"Biar adil dong Mbak.." sambil tangannya terus melolosi seluruh pakaian istriku.&lt;br /&gt;Walaupun wajah istriku protes, tapi usaha mencegah tangan Atiek yang nakal, tidak serius sehingga dengan mudah Atiek melucuti pakaian istriku. Sekelebat kulihat mata Triyono melahap seluruh tubuh indah istriku, bahkan ia segera mengeser posisinya merapat ketubuh istriku, sehingga lengannya menempel pada pinggir payudara istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak sempat berfikir macam macam, nafsuku mendominasi pikiranku, kucopot seluruh pakaianku sehingga kami berempat sudah bugil, kuciumi istriku, sambil jariku mengelus vaginanya yang sudah basah. Istriku mendesis desis keenakan tangan kanannya mendekap punggungku erat erat, sedangkan tangan kirinya tertindih tangan Triyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan elusan lembut sebuah tangan halus menelusuri bokongku, bahkan kemudian mengarah keselangkangan dan mengelus buah zakarku. Aku sudah menduga pemilik tangan itu, dan hatiku berdesir ketika kulihat tangan Atiek lah yang sedang mengelus batang penisku, sambil mulutnya menciumi dada suaminya. Aku yakin Triyono melihat tangan istrinya yang sedang beroperasi di batangku yang keras seperti kayu, tapi dia tampak acuh saja, bahkan kini lengan kanannya telah mendidih susu istriku.&lt;br /&gt;Istriku tidak menyadari atau pura pura tidak tahu bahwa tangan Triyono sudah menindih payudaranya, dan wajahnya dipalingkan kearah yang berlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atiek sambil berubah posisi dengan setengah duduk dipaha suaminya dengan selangkangan yang terbuka lebar memperlihatkan vagina merah basah yang sangat indah, sementara tangan kanannya menggosokan gosokkan kemaluan suaminya ke klitorisnya, sementara buahdadanya menggantung diremas remas suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisinya tersebut membuat tubuh Triyono merenggang dari tubuh istriku sehingga tangan kiri istriku yang tertidih menjadi bebas. Dari padangan matanya yang sayu dan pahanya sudah direntangkan, aku tahu baha istriku sudah memberi lampu hijau. Dituntunnya penisku kearah lubang vaginanya, dan dalam tempo singkat aku sudah melayang menikmati jepitan lobang kemaluan istriku. Sementara aku mengocoknya perlahan lahan, istriku mendesis desis keenakan, kini wajah istriku menghadap kearah Triyono bahkan hanya berjarak sejengkal dengan wajah Triyono namun matanya terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atiek sudah terlengkup ditubuh suaminya, sementara pinggulnya naik turun, mengocok batang suaminya yang sudah melesak ditelan liang kenikmatannya. Sekali kali tangannya meremas bokongku dan istriku melihat aktifitas tangan Atiek ini, tapi rupanya diapun tak ambil peduli. bahkan beberapa kali Triyono mencium mulut istriku yang tengah mendesis, istriku diam saja, walaupun tidak meresponnya. Entah kenapa aku tidak cemburu melihat istriku diciumi oleh Triyono saat sedang kusetubuhi, bahkan aku makin terangsang. Karena kulihat ciuman itu membuat istriku makin bergolak gairahnya. Ini kurasakan dari gerakan dan nafasnya mendengus tidak seperti adat biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu yang tidak terlalu lama gerakan istriku tak terkendali, bahkan ia membalas menyedot ciuman Triyono, dan pada saat itulah istriku menghentak hentakkan pinggulnya keatas, mulutnya menghisap mulut Triyono dalam dalam sambil merintih. Dia telah orgasme. Ini diluar kebiasaan, istriku biasanya cukup tahan lama, tapi kali ini dia cepat selesai, padahal aku merasa masih tahan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhentikan kocokanku, kucabut penisku, aku masih tanggung tetapi aku memang tidak ingin selesai sekarang, aku masih berharap istriku bangkit lagi setelah istirahat. Kutatap wajah istriku yang penuh kepuasan. Disampingnya kulihat Triyono menggengam tangan istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat aku tegeletak disamping istriku, dengan kemaluan yang masih tegar, Atiek segera tahu bahwa aku belum ejakulasi. Tiba tiba Atiek menghentikan goyangan pinggul, dicopotnya penis suaminya dari vaginanya. Dengan melangkahi tubuh istriku, Atiek segera menghampiriku, kemudian dengan dasternya yang diambil dari sisi kasur dibersihkannya penisku yang penuh lendir istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menindihku dan menciumku. Aku sempat kaget, aku tak menduga kejadian itu, kulirik Triyono tetapi dia hanya melihat tingkah istrinya tanpa reaksi. Istriku juga hanya melirikku sebentar kemudian memejamkan mata kembali, menikmati sisa orgasme yang ia dapat dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubalas ciuman Atiek dengan nafsu, tangan kiriku mengelus bokongnya sedangkan tangan kanan meremas buah dadanya. Atiek menjulurkan lidahnya menyambut lidahku, sementara vaginanya yang basah digesek gesekan ke diatas kemaluanku. Tampak Atiek sudah sangat terangsang, sehingga ciuman kami hanya berlangsung sebentar, segera dia menghentikan ciumannya, ditariknya badannya sehingga sekarang posisinya duduk diatas pahaku, sementara belahan kemaluannya menidih pada batang penisku yang rebah diatas perut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat belahan kemaluannya yang merah penuh lendir, aku sudah tidak sabar lagi, kuangkat pinggangnya dengan kedua tanganku, Atiek cepat tanggap, sambil mengangkat pantatnya, diambilnya penisku dan diarahkan kelobang vaginanya. Dalam hitungan detik, kemaluanku sudah menyelusup kedalam vagina Atiek. Atiek melenguh pelan, badannya ambruk kedadaku dan wajahnya menempel disamping kepalaku sambil mendesis desis. Kuangkat pinggulku berusaha mengocok kemaluan Atiek, dan diapun mengikuti gerakanku tetapi pinggulnya digoyang memutar sedangkan otot vaginanya menjepit kemaluanku, jepitan dan putaran pinggulnya tidak akalh dengan istriku, kenikmatan menjalar keseluruh penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh menit telah berlalu dan kurasakan Atiek mulai mempercepat goyangannya, mulutnya menciumku dan lidahnya menerobos masuk ke mulutku. Nafasnya tersengal, aku segera mengerti bahwa sedang mulai masuk kemasa orgasme. Tanpa menunggu waktu lagi kupercepat kocokanku, karena kemaluankupun sudah berdenyut denyut enak, dan segera akan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kurengkuh bokongnya, Atiek merengkuh pundakku makin kencang, dari mulutnya keluar erangan kenikmatan yang panjang dan kemaluannya ditekan keras ke kemaluanku, dia sedang orgasme. Dan segera kulepas pula air maniku menyemprot didalam vaginanya. Kenikmatan yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun permainanku sudah berakhir tetapi Atiek tidak mau mencopot kemaluanku dari vaginanya, dia hanya mengeser tubuhnya dari dadaku untuk meringakan tindihan tubuhnya diatas tubuhku. Kesadaranku mulai pulih, kulihat istriku sedang bergumul dengan Triyono. Dengan tubuh yang bugil dia menindih tubuh istriku, mereka berciuman dengan pelan dan dalam, tangan meremas remas buah dada istriku yang tergolong besar dan montok, sementara tangan istriku mengelus bokong Triyono, dan kudengar desahan halus dari mulutnya itu pertanda istriku sudah mulai terangsang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat istriku terangsang, tiba tiba akupun terangsang kembali. Aku sangat senang istriku menikmati sexnya, Kuhadapkan tubuhku kearah istriku, dan Atiek segera merangkul pinggangku dengan kakinya dari belakang, sambil menikmati sisa orgasme yang kuberikan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triyono sedikit mengeser tubuhnya dan tangan yang tadinya meremas tetek istriku turus kebawah, kearah kemaluan istriku, dan istriku mengangkat pinggulnya ketika jari tengan Triyono memutar mutar clitorisnya. Desahan dari mulutnya makin keras.. Triyono mengangkat tubuhnya dan dibukanya lebar lebar paha istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku menoleh kearahku, matanya sayu memandangku seolah minta ijin padaku. Kupandangi dia, dia sangat cantik tak kuasa aku menghalanginya. Kukecup bibirnya kuusap rambutnya tanda bahwa aku menyetujuinya. Dan ketika penis priyono melesak kedalam vaginanya, istriku memejamkan mata keenakan, dan tangannya mengelus elus penisku seirama dengan kocokan yang diberikan Triyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuciumi bibirnya, pipinya lehernya, atau mana saja yang kudapat karena istriku dalam kenikmatan, selalu kepalanya tidak bisa diam, menoleh kekiri kekanan sambil menjilat jilat bibirnya sendiri. Sementara tangan kanannya mengocok penisku tangan kirinya merangkul pundak Triyono. Tangankupun tak henti hentinya meremas remas buah dadanya. Kudengar pula desisan Triyono menambah suasana jadi makin mengairahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba istriku berhenti menggelengkan kepalanya, dahinya berkerut dan giginya menggigit bibr bawahnya, dia menoleh kearahku, istriku akan selesai dan sebentar lagi pasti akan melenguh panjang.&lt;br /&gt;"Pah.. aku sudah nggak tahan.. Pahaahh.. eghh.. eegghh"&lt;br /&gt;pada saat itu dia mendongakkan wajahnya keatas, matanya menatap mata Triyono dengan sayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, aku tak tahan menahan ejakulasi, digenggaman tangannya. Kulihat Triyono menekan kemaluannya dalam dalam kevagina istriku untuk berejakulasi.. Ketika dia mencabut kemaluanya, kulihat sisa air mani meleleh keluar dari bibir vagina istriku, yang berwarna kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini adalah malam pertama dimana istriku merasakan penis orang lain selain punyaku apalagi dia merasakannya sekaligus dalam selang beberapa menit, sebuah pengalaman yang sangat memuaskan kami berempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu kami sering melakukannya, sedikitnya sebulan sekali, dan kami berkomitmen ini hanya dilakukan berempat, Bahkan kini muncul ide baru dari Atiek untuk menambah menjadi tiga pasangan. Hanya saat ini kami belum menemukan pasangan yang bisa diajak main. Pengalaman ini ditulis juga atas persetujuan kami semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-9222604816895754755?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/9222604816895754755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=9222604816895754755' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/9222604816895754755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/9222604816895754755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2009/01/desahan-istri-istri-kami.html' title='Desahan Istri-istri Kami'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-8433372606345397927</id><published>2009-01-06T06:13:00.000-08:00</published><updated>2009-01-06T06:17:22.274-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tukar Pasangan'/><title type='text'>Kenikmatan Dalam Perselingkuhan</title><content type='html'>Awalnya aku hanya iseng mengobrol mengisi waktu luang di waktu jam istirahat, Namun lama-kelamaan Dewi salah satu staffku yang agak manis malah penasaran dan bertanya lebih jauh tentang orgasme. Ya sebuah misteri yang kelihatannya mudah namun susah diungkapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang banyak sekali wanita yang belum sadar akan arti pentingnya sebuah orgasme, bahkan menurut penelitian hanya 30% wanita yang dapat meraih orgasme, banyak hal-hal yang mempengaruhi wanita dalam meraih orgasme, baik dari faktor si wanitanya ataupun dari faktor prianya atau bahkan dari suasana, perasaan, dll. Termasuk Dewi salah satu staffku ini, selama menikah 2 tahun lalu, dia belum tahu apa itu orgasme, yang dia tahu hanya rasa enak saat penis suaminya memasuki kewanitaannya, Dan berakhir saat penis suaminya menyemprotkan cairan hangat kedalam kewanitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar ceritanya, lalu aku korek lebih jauh tentang perasaan, foreplay, gaya, waktu, dan lain-lain tentang hubungannya dengan suaminya, Dengan malu-malu Dewi pun menceritakan dengan jujur bahwa selama ini memang dia sendiri penasaran dengan apa yang namanya orgasme namun dia tak tahu harus bagaimana, yang jelas saat berhubungan dengan suaminya dia cukup foreplay, bahkan suaminya senang mengoral kewanitaannya sampai banjir, dan selama penis suaminya masuk sama sekali tidak ada rasa sakit, yang ada hanya enak saja namun tidak bertepi, rasanya menggantung tidak ada ujung, dan tahu-tahu sudah berakhir dengan keluarnya sperma suaminya ke dalam kewanitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kira-kira berapa lama penis suami kamu bertahan dalam kewanitaan kamu?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Mungkin sekitar 10 menit" jawabnya pasti.&lt;br /&gt;"Gaya apa yang dipakai suami kamu?"&lt;br /&gt;"Macam-macam, Pak, malah sampai menungging segala"&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum mendengar jawabannya yang polos.&lt;br /&gt;"Kira-kira berapa besar penis suami kamu?"&lt;br /&gt;"Berapa ya?, saya tidak tahu Pak!" jawabnya bingung.&lt;br /&gt;Akupun jadi bingung dengan jawabannya, tapi aku ada tidak kekurangan akal.&lt;br /&gt;"Waktu kamu genggam punya suami kamu pakai tangan, masih ada lebihnya tidak?"&lt;br /&gt;Dewi diam sejenak, mungkin sedang mengingat-ingat.&lt;br /&gt;"Kayanya masih ada lebih, pas kepalanya, Pak!"&lt;br /&gt;Aku tak dapat menahan senyumku.&lt;br /&gt;"Maksud kamu, 'helm'nya masih nongol?"&lt;br /&gt;"Ya!" Dewipun tersenyum juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku suruh tangannya menggenggam, aku pandangi secara seksama tangannya yang sedang mengepal, yang berada dalam genggamanku, sungguh halus sekali, Namun aku sadar bahwa aku ditempat umum.&lt;br /&gt;"Aku perkirakan penis suami kamu berukuran 10-14 cm, berarti masih normal, Wi!"&lt;br /&gt;"Bagaimana dengan kekerasannya?" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;"Keras sekali, Pak, seperti batu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam sejenak mencoba berfikir tentang penghambatnya meraih orgasme, sebab dari pembicaraan tadi sepertinya tidak ada masalah dalam kehidupan seksnya, tapi kenapa Dewi tidak bisa meraih orgasmenya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok diam Pak?"&lt;br /&gt;"Aku lagi mikir penyebabnya."&lt;br /&gt;"Apa mungkin masalah lamanya, Pak? Sebab sepertinya saya sedikit lagi mau mencapai ujung rasa enak, tapi suami saya keburu keluar" terangnya.&lt;br /&gt;Aku diam sejenak, mencoba mencerna kata-katanya, tapi tak lama Dewi sendiri membantahnya.&lt;br /&gt;"Tapi, tidak mungkin kali, Pak, sebab biarpun kadang lebih lama dari sepuluh menit, tapi tetap saya merasa hampir di ujung terus, tanpa pernah terselesaikan."&lt;br /&gt;Aku sedikit mengerti maksudnya,&lt;br /&gt;"Maksud kamu, kalau 10 menit kamu maunya semenit lagi? Namun kalau 12 menit atau 15 menit pun kamu maunya tetap semenit lagi?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Ya, betul, kenapa ya Pak?"&lt;br /&gt;Aku kini mulai mengerti posisi sebenarnya, kemungkinan besar ada titik dalam vaginanya yang belum tersentuh secara maksimal, Itu kesimpulan sementara, Namun aku belum sempat mengucapkan apa-apa, keburu jam istirahat kerja habis.&lt;br /&gt;"Ya udah Wi, nanti kita terusin via SMS, oke?"&lt;br /&gt;"Oke deh!" sahutnya riang sambil meninggalkan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di meja kerjaku, aku kembali memikirkan benar-benar masalah yang Dewi hadapi, sebenarnya ada niat untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, karena setelah aku pikir-pikir Dewi punya kelebihan di Buah dada dan pantatnya yang besar juga kulitnya yang bersih dengan bulu-bulu halus, Namun Dewi akrab dengan istriku, dan aku sendiri kenal sudah lama dengannya dan suaminya, ini yang jadi masalah, Lama aku berfikir, akhirnya aku putuskan untuk mencoba menolongnya semampuku tanpa mengharapkan apapun darinya, Aku yakin aku bisa membantunya berbekal pada pengalamanku selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kirim SMS kepadanya, "Wi, Sepertinya masalah kamu agak kompleks, Kalau sempat, bisa tidak nanti pulang kerja kita cari tempat yg enak utk mengobrol?"&lt;br /&gt;5 menit aku tunggu belum ada jawaban juga, Aku jadi tegang sendiri, jangan-jangan dia marah, karena aku dianggap kurang ajar, Tapi untunglah tak lama HPku bergetar 2x pertanda SMS masuk, Aku langsung lihat pengirimnya Dewi, aku baca isinya.&lt;br /&gt;"Boleh, tapi jangan di tempat sepi ya.., kata nenek itu berbahaya"&lt;br /&gt;Aku tersenyum membaca balasannya yang sedikit bergurau, lalu aku balas kembali,&lt;br /&gt;"Wi, jangan salah tangkap ajakanku ya.. aku cuma tidak enak saja kalau kita terlalu mencolok, karena kamu istri orang &amp; aku suami orang juga"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata Pukul 5 sore kami janjian ketemu di sebuah rumah makan yang nyaman di daerah Jakarta timur, Suasana rumah makan yang agak temaram menambah rileks obrolan kami, Sambil makan kami melanjutkan obrolan kami yang tadi siang, Aku utarakan kesimpulan sementaraku bahwa ada kurang sentuhan di area vaginanya, aku sarankan agar nanti malam mencari titik tersebut dan jika sudah ketemu aku suruh Dewi meminta kepada suaminya untuk menekan lebih kuat saat hubungan intim, Dewi mengangguk mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menurut Bapak, apakah body saya cukup bagus?"&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja Dewi bertanya seperti itu. Aku kaget mendengarnya, berarti kemungkinan Dewi kurang percaya diri dengan tubuhnya, dan menurut yang aku tahu ini sangat berbahaya untuk meraih orgasme.&lt;br /&gt;"Wi, dalam sebuah hubungan intim, Jangan merasa body kamu jelek atau vagina kamu tidak wangi atau buah dada kamu jelek atau apa saja yang menurut kamu negatif, itu faktor yang sangat penting dalam meraih orgasme, Ingat Wi, kalau tubuh kamu tidak bagus kan tidak mungkin suami kamu mau mencumbu kamu, dan mau berhubungan dengan kamu!"&lt;br /&gt;"Justru kamu harus berfikir bahwa wajah dan tubuh kamu sangat bagus, buktinya suami kamu minta melulu, kan?"&lt;br /&gt;"Tapi, saya tidak nyaman dengan perut saya yang tidak ramping"&lt;br /&gt;"Wi, yang lebih gendut dari kamu banyak, ingat itu, lagian menurutku perut kamu tidak terlalu gendut, Biasa saja!" jawabku tegas.&lt;br /&gt;"Pokoknya malam ini, kamu coba untuk menghilangkan rasa tidak percaya diri kamu, dan saat ada sentuhan nikmat yang kamu bilang tidak berujung, suruh suami kamu menekannya lebih kuat, itu saja dulu, besok aku tunggu kabarnya!"&lt;br /&gt;Aku jadi terkesan menyuruh, mungkin karena dikantor Dewi bawahanku, sehingga menjadi kebiasaan. Karena waktu sudah menunjukan jam 19.00 kami pun pulang ke rumah masing-masing, aku antar Dewi sampai tempat dia biasa menunggu angkot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya, Aku baru saja ngopi dan HP baru aku aktifkan, Sudah ada pesan dari Dewi, bunyinya singkat, "Belum berhasil, Pak!".&lt;br /&gt;Aku lihat dikirim jam 23.10 malam, berarti kemungkinan Dewi mengirimnya saat baru selesai berhubungan dengan suaminya.&lt;br /&gt;Sampai dikantor aku baru membalas SMSnya.&lt;br /&gt;"Memang kenapa?"&lt;br /&gt;Tak lama Dewi pun membalasnya.&lt;br /&gt;"Tidak tahu kenapa, apa nanti sore kita bisa ketemu lagi, Pak?, saya merasa nyaman mengobrol dengan Bapak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berfikir tentang arti pesannya, Apakah dia mengajakku selingkuh? Atau hanya perasaanku saja? Atau memang dia hanya ingin mengobrol saja? Sebagai lelaki jelas aku tidak mungkin menampiknya, Sorenya kami janjian di tempat yang kemaren, dan ungkapan Dewi yang jujur sangat mengagetkanku.&lt;br /&gt;"Pak, terus terang, keinginan saya untuk meriah orgasme jadi tambah kuat, tapi herannya malah saya inginnya dari Bapak, Entahlah saya yakin sekali saya bisa meraihnya bersama Bapak"&lt;br /&gt;Jantungku terasa berhenti berdetak mendengarnya, belum selesai aku menenangkan pikiranku, Dewi kembali melanjutkan pembicaraannya.&lt;br /&gt;"Tapi bukan berarti saya ingin berhubungan dengan Bapak lho, saya hanya ingin tahu kenapa perasaan saya begini?"&lt;br /&gt;Aku hanya diam, namun aku mengambil kesimpulan dalam hati bahwa kemungkinan Dewi terkesan dengan aku karena aku atasannya, bisa saja dia tanpa sadar kagum dengan cara kerjaku, atau apalah yang berhubungan dengan pekerjaan, Karena kalau secara fisik tidak mungkin, jauh lebih ganteng dan atletis suaminya dari pada aku.&lt;br /&gt;Namun hal ini tidak aku ungkapkan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana hening diantara kami beberapa saat, tapi tiba-tiba saja tangan Dewi meraih tanganku,&lt;br /&gt;"Pak." Hanya itu yang keluar dari mulutnya&lt;br /&gt;Tatapan mata kami beradu, Aku melihat ada gairah disana, Aku balas meremas jarinya, Sentuhan halus kulitnya terasa menimbulkan percik-percik gairah di antara kami, Akhirnya aku beranikan diri untuk mengajaknya,&lt;br /&gt;"Wi, Bagaimana kalau kita diskusi langsung dengan praktek untuk meraih orgasme kamu?" suaraku terasa agak bergetar, mungkin agak canggung.&lt;br /&gt;"Terserah Bapak deh" jawabnya manja sambil mencubit tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pucuk dicinta ulampun tiba, aku segera membayar makanan kami dan langsung menuju hotel, sepanjang jalan ke hotel, jari-jari kami saling bertaut mengantarkan kehangatan ke jiwa kami, Dan setelah sampai di kamar hotel yang asri, Kami lamgsung mulai.. Meskipun awalnya agak canggung, Namun akhirnya kami dapat menikmati semuanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam keadaan berpakaian, aku memeluk tubuh Dewi yang padat, bibir kami saling melumat lembut, kadang lidah kami saling kait dan saling dorong, sehingga gairah di dada kami semakin membuncah, Satu per satu pakaian kami bertebaran dilantai, seiring dengan nafsu kami yang semakin menggebu, Kini Seluruh organ tubuhku bekerja untuk memenuhi hasrat Dewi, aku rebahkan tubuh mulusnya di ranjang, sungguh pemandangan yang indah dan mendebarkan, dengan kulit tubuh yang putih bersih kontras dengan bulu-bulu halus dipermukaan kulitnya apalagi di kemaluannya yang begitu lebat menghitam. Aku langsung mengelus buah dadanya yang padat dengan lembut, sementara mulut dan lidahku menciumi dan menjilati centi demi centi tubuhnya tanpa terlewati,&lt;br /&gt;"Tubuh kamu bagus sekali, Wi!" Aku mencoba memberinya rasa percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Jilatanku sudah sampai pada vaginanya, aku sibakkan bulunya dengan lidahku, aku kemut lembut klitorisnya, kadang lidahku menusuk langsung vaginanya, Jari-jariku ikut membantu memberi kenikmatan dengan memilin-milin puting buah dadanya yang semakin mencuat, Sehingga membuat Dewi mengerang dalam nikmat, Sementara Dewi pun tidak tinggal diam, dia balas mengelus dadaku, kadang ujung dadaku di pilinnya, Tangan yang satunya lagi meremas-remas dan mengocok senjataku sehingga semakin meregang kaku dalam genggamannya, Yang aku yakin berdasarkan ceritanya pasti punyaku lebih besar dari pada punya suaminya, Gairah yang membuncah didadaku membuat aku lupa bahwa aku punya tugas untuk mengantarnya meraih orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh kami berguling-guling dikasur saling memberikan rangsangan dan kenikmatan, hingga akhirnya Dewi sendiri yang tidak tahan dan mengambil inisiatif, dia langsung mengangkangi tubuhku, dan langsung memegang senjataku untuk dibimbing kedalam liang surganya, Perlahan, centi demi centi, senjataku memenuhi rongga vaginanya berbarengan dengan rasa nikmat dan hangat disenjataku, Cengkraman vaginanya yang begitu kuat terasa mengurut senjataku, Dewi terus menggoyangkan pantatnya yang bulat padat, Tanganku memilin kedua putingnya, butir-butir keringat mulai membasahi tubuh kami berdua, tak lama Dewi berteriak histeris dan menggigit pundakku, tubuhnya mengejang kaku, dan wajahnya agak memerah melepas orgasmenya,&lt;br /&gt;Aku berhasil mengantarnya meraih orgasme, Tubuhnya diam sejenak diatas tubuhku.&lt;br /&gt;"Terima kasih, Pak" ia mencium keningku.&lt;br /&gt;"Saya masih mau lagi" ucapnya serak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh diluar dugaan, mungkin karena baru kali ini dia meraih orgasme, Dewi begitu liar, hanya beberapa detik, tubuhnya mulai bergoyang diatas tubuhku, Dan anehnya lagi, Hampir disetiap gaya Dewi bisa meraih orgasmenya begitu cepat, Mungkin ada 6 kali dia sudah orgasme tapi dia belum puas juga, sementara aku sendiri bersusah payah menahan orgasmeku, Aku benar-benar ingin memuaskan dahaganya, Apalagi saat gaya doggy, sambil meremas buah pantatnya yang bulat, aku benar-benar tak kuat lagi menahan semprotan dalam spermaku, sentuhan buah pantatnya di pangkal senjataku menambah sensasi tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wi, aku mau keluar, di dalam atau di luar?" sambil aku mempercepat kocokanku.&lt;br /&gt;"Di dalam aja Pak, cepat sodok yang kuat!" erangnya.&lt;br /&gt;Akhirnya Seluruh tubuhku bagai tersetrum nikmat, aku melepas orgasmeku, menyemburkan cairan hangat ke dalam kemaluan Dewi yang telah basah berbarengan dengan kedutan-kedutan kecil hangat dari dalam liang vagina Dewi.&lt;br /&gt;Yah, kami orgasme berbarengan, Sungguh nikmat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, namun Dewi kelihatannya belum puas juga, aku sampai bingung sendiri, biasanya istriku sekali orgasme tidak bisa lagi orgasme, Namun memang pernah aku baca ada wanita yang seperti Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya waktu jualah yang harus memisahkan kami, kembali ke kehidupan nyata, Aku dengan istriku dan Dewi dengan suaminya, Namun sejak saat itu hubungan kami semakin hangat membara, Ada satu kelebihan Dewi yang tidak bisa aku lupakan, Vaginanya sangat mencengkram meskipun sudah puluhan kali kami berhubungan, Pernah aku Tanya katanya dia sering minum jamu, Dan Dewi sendiri pun jelas sangat membutuhkan orgasme dariku, Karena terakhir cerita dia belum bisa meraih dengan suaminya, entahlah sampai kapan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-8433372606345397927?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/8433372606345397927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=8433372606345397927' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/8433372606345397927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/8433372606345397927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2009/01/kenikmatan-dalam-perselingkuhan.html' title='Kenikmatan Dalam Perselingkuhan'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-8578223328093107487</id><published>2009-01-06T06:04:00.000-08:00</published><updated>2009-01-06T06:13:22.734-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pesta Sex'/><title type='text'>Cheerleader Baru menggelinjang</title><content type='html'>Namaku Deny, aku seorang siswa SMU di salah satu besar yang cukup terkenal. Aku memang tidak memiliki tampang yang cukup tampan atau badan yang atletis. Tetapi aku cukup lumayan untuk seorang cowok tidak terlalu jelek dan termasuk biasa-biasa saja dalam hal penampilan. Tetapi yang sangat menarik dari diriku adalah kekayaan yang orangtuaku miliki. Setiap hari aku selalu berpergian dengan mengendarai Honda Estillo yang sangat gaul karena modifikasi yang aku lakukan, aku juga selalu mambawa HP Nokia 8250. Belum lagi sifatku yang royal terhadap setiap cewek cantik dan sexy, semakin membuatku dikejar cewek terutama para cewek matre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolahku terdapat berbagai macam ekstra kurikuler yang menarik, tetapi yang paling menarik untuk para cewek centil di sekolahku adalah ekstra kurikuler cheerleader, karena untuk masuk dalam ekstra kurikuler tersebut diharuskan melewati seleksi yang cukup ketat. Selain itu cewek yang dapat masuk ke dalam ekstra kurikuler tersebut adalah cewek-cewek yang memiliki tubuh seksi, tampang yang cantik dan keberanian dalam memakai baju minim di depan umum, karena para anggotanya selalu mengenakan baju yang sangat seksi ketika mengadakan pentas. Biasanya mereka hanya mengenakan tank-top atau kembel yang dipadukan dengan rok yang sangat mini atau dengan celana ketat yang super pendek. Secara tidak langsung hal ini membuat para cewek yang dapat masuk memiliki kebanggaan tersendiri karena berarti mereka telah dianggap sebagai cewek yang cantik dan seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para anggota dari cheerleader biasanya selalu cewek yang sangat centil dan matre. Karena itu sangatlah mudah bagiku untuk mengajak mereka jalan dan "bermain" dengan mereka atau hanya sekedar memegang-megang mereka. Memang predikat "perek" cukup melekat dalam setiap anggota cheerleader, walaupun tidak semua cewek tersebut gampangan, dan ada juga yang memang hanya cewek baik-baik dan mengikutinya karena menyukai tari modern, walaupun jumlahnya paling hanya 2 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasanya pada tahun ini cukup banyak cewek kelas 1 yang mau mencoba mengikuti ekstra kurikuler ini. Dan memang pada tahun ini cewek yang mengikutinya terlihat seksi-seksi dan tampang yang cantik. Seluruh anggota baru ini memiliki payudara dan pantat yang besar. Belum lagi mereka memang selalu ke sekolah dengan mengenakan baju ketat dan tipis dan mengenakan BH yang selalu berwarna mencolok seperti hitam, hijau, biru, kuning atau warna mencolok lainya yang membuat payudara mereka terlihat dengan jelasnya oleg setiap mata. Mereka juga selalu mengenakan rok yang pendeknya sekitar satu telapak tangan di atas lutut dan sangat ketat sehingga menunjukkan pantat mereka yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat para perawan baru yang tersedia aku menjadi ingin mencoba kenikmatan tubuh mereka. Ada 8 anggota baru yang masuk dari kelas 1 angkatan ini. Tapi yang paling menarik perhatianku adalah Melati dan Mawar (sebut saja begitu). Karena mereka memiliki payudara yang besar dan pantat yang besar pula, belum lagi wajahnya yang cukup manis. Melati adalah seorang cewek keturunan Arab dengan ukuran payudara 34B dan pantat yang padat. Cewek ini adalah cewek yang paling merangsang di antara para anggota baik yang baru maupun yang lama. Mawar adalah saorang cewek dengan payudara yang tidak terlalu besar dan itu pula dengan pantatnya bila dibanding Melati. Ukuran payudaranya hanya 32B, tetapi bodinya seksi dan yang paling menarik adalah wajahnya yang manis dan cantik. Ia adalah cewek keturuna Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat berhasrat untuk menikmati tubuh keduanya, tetapi aku belum akrab dengan mereka. Sehingga aku meminta bantuan salah satu anggota cheerleader di angkatanku yang bernama Rani yang sebelumnya sudah sering aku nikmati tubuhnya, bahkan aku secara teratur berhubungan dengannya karena memang kami berdua memilki nafsu yang sangat besar walaupun diluar itu kami juga sering melakukanya dengan pacar kami masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang aku mengutarakanya ke Rani dan tentu saja Rani menyanggupinya, bahkan di luar dugaan Rani menantang aku untuk melakukannya sekaligus dengan mereka bertiga. Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini karena ini memang sensani yang belum pernah aku lakukan hanya sering aku bayangkan. Entah dengan bujuk rayu apa yang dikatakan Rani kepada Melati dan Mawar sehingga mereka berdua mau malakukan itu. Rani menyuruh aku datang ke villa Rani di puncak yang memang sudah sering kugunakan untuk menikmati tubuh Rani pada malam minggu itu juga tetapi dengan syarat aku tidak pernah membahas kesepakatan ini dengan Melati dan Mawar sebelum hari itu dan aku juga tidak boleh mengatakannya kepada siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya sampai juga hari yang sangat kunantikan. Sekitar jam 14:00 aku segera berangkat untuk menghindari kemacetan, tapi apa boleh buat aku tetap terjebak kemacetan dan aku sampai di villa itu jam 05:00 sore, padahal biasanya bila tidak macet aku hanya mambutuhkan 1-2 jam untuk sampai ke villa tersebut. Sampai di sana, aku disambut oleh Rani yang pada hari pulang terlebih dahulu dari sekolah dengan Mawar dan Melati dengan alasan mereka sakit. Mereka berangkat terlebih dahulu untuk menghindari macet dengan menggunakan mobil Rani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana aku langsung masuk ke kamar yang terletak di lantai atas, di sana sudah terlihat Melati dan Mawar. Pada saat itu mereka masih mengenakan seragam sekolah mereka yang ketat dan tipis, Melati mengenakan BH berwarna biru langit, Mawar dengan warna kuning dan Rani sendiri mengenakan BH berwarna merah cerah. Penampilan mereka semakin meningkatkan gairahku yang sudah lama kupendam terhadap mereka. Tanpa basa-basi mereka langsung mendorongku ke ranjang yang masih rapi dengan sprei putih. Melati dan Mawar langsung mendekatiku, sementara Rani mengambil handycam dan meminta ijinku untuk merekam adegan yang akan berlangsung, dan mengatakan hanya sebagai kenang-kenangan untuk dirinya tanpa ada maksud menyebarkannya. Aku mengiyakannya saja karena sudah sibuk dengan Melati dan Mawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu Melati menciumiku dengan ganasnya dan Mawar mulai menyupang leherku. Tanganku segera beraksi, aku menggerayangi seluruh tubuh mereka berdua, terasa olehku kulit mereka yang halus di paha mereka. Pelan-pelan aku mulai membuka kemeja Melati dan mulai meremas kedua payudaranya di balik BH birunya. Terasa olehku payudaranya yang halus dan empuk, lalu aku mulai memuntir putingnya. Setelah itu aku juga membuka kemeja Mawar dan meremas payudaranya seperti halnya pada Melati. Aku juga mulai menjilat payudara mereka secara bergantian dan menghisapnya tanpa membuka BH mereka.&lt;br /&gt;"Ahh.. ahh.." mereka berdua mulai mendesah saat puting mereka kuhisap.&lt;br /&gt;"Isep terus Den toked gue!" kata Melati.&lt;br /&gt;Mawar pun memohon hal yang sama kepadaku, dan aku semakin bersemangat menghisap puting mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melati mulai membuka kemeja yang aku kenakan dan Mawar membuka celana dan CD-ku sehingga aku benar-benar telanjang. Melati dan Mawar menjilat dadaku dan pelan-pelan mulai turun ke perut sampai akhirnya Melati mulai menyedot batang kemaluanku sedangkan Mawar mulai mengulum kedua biji zakarku, terkadang Melati menggigitnya dari samping secara pelan-pelan.&lt;br /&gt;"Ahh," aku mulai mendesah karena kenikmatan yang tiada tara.&lt;br /&gt;Aku menyuruh mereka berdua berhenti. Aku segera meraih tangan Melati dan membuatnya telentang di atas ranjang. Kubuka BH-nya dan mulai kulahap kedua putingnya, aku juga mulai membuka roknya dan celana dalamnya, tampak olehku vaginanya yang kemerahan dengan bulu-bulu halus di sekitarnya. Aku buat kakinya mengangkang sehingga terllihat lebih jelas, aku pun langsung menjilati liang kemaluannya dengan ganasnya.&lt;br /&gt;"Ahh.. ahh.." tubuh Melati gemetar dan ia menjepit kepalaku di antara kedua pahanya dan.. "Ahh, ahh.." keluarlah cairan dari liang kemaluannya dan ia mengalami orgasmenya yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali mencium bibirnya dengan ganas dan melahap kedua putingnya, sambil aku gesek-gesekkan batang kemaluanku di atas liang kemaluannya, "Ahh, Ahh.." tubuh Melati mulai kembali menegang.&lt;br /&gt;"Den Ayo masukin batang kemaluan loe, gue udah nggak tahan," aku mulai mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya dan memasukkannya pelan-pelan, aku keluar-masukkan sedikit demi sedikit sampai akhirnya, "Bless," dan "Ackhh.. Akchh.." Melati berteriak keras sekali karena kesakitan.&lt;br /&gt;Kudiamkan batang kemaluanku di dalam liang kemaluannya sebentar dan mulai aku goyangkan pelan-pelan.&lt;br /&gt;Lama-lama Melati mulai tampak nikmat sambil terus mendesah, "Ahh.. Ahh.."&lt;br /&gt;Aku pun berganti gaya dengan Melati di atas, tanpa disuruh Melati mulai memompa naik-turun batang kemaluanku dengan semangat, aku pun menggerakkan pantatku naik-turun sehingga terdengar bunyi "Cleb.. cleb.." yang cukup keras pada saat batang kemaluanku masuk ke liang kemaluannya dengan full-nya.&lt;br /&gt;"Ahh, ahh, ahh.." Melati mendesah-desah sambil tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 7 menit kemudian Melati kembali meminta posisi kembali di bawah. Aku menyetubuhinya dengan sangat bernafsu, dan sektar 6 menit kemudian, "Ahh, ahh.. gue mau keluar Den.."&lt;br /&gt;"Tahan sedikit! gue juga.." kataku.&lt;br /&gt;Kupercepat gerakanku dan akhirnya,&lt;br /&gt;"Akhh.. ahh.."&lt;br /&gt;Melati keluar duluan, dan tidak lama kemudian aku semakin mempercepat gerakanku, aku bertanya,&lt;br /&gt;"Mel, mau di luar apa di dalem?"&lt;br /&gt;"Di dalem aja," jawabnya.&lt;br /&gt;Dan, "Crott.. crott.." aku ejakulasi di dalam liang kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpelukkan sesaat dengan Melati dan melap keringat di sekujur tubuhnya dengan tanganku, Melati tampak sangat kelelahan. Tapi tiba-tiba Mawar membuatku telentang di atas ranjang, dengan ganasnya ia mulai membersihkan sisa sperma yang ada di ujung batang kemaluanku, dan terus menghisapnya dengan ganasnya. Tak lama kemudian batang kemaluanku kembali bangun dan siap tempur, staminaku tiba-tiba kembali pulih dan nafsuku kembali menggebu. Aku segera meremas pantat Mawar dan menelanjangi dia, sekitar 7 menit aku habiskan untuk merangsang dia, dengan cara menghisap payudaranya dan meremas-remasnya, aku juga menjilat klitorisnya. Terlihat dari wajahnya dia sangat menikmatinya dan sesekali mendesah karena foreplay yang kulakukan.&lt;br /&gt;"Masukkin kontol loe dong Den! masa cuman bigini aja, gue udah nggak tahan.."&lt;br /&gt;Aku menyuruhnya berpegangan ke pinggir tempat tidur dengan posisi seperti mau merangkak. Aku mau melakukan doggy style. Dia melakukannya dengan cepat, dan terlihat dua bongkah pantat yang mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melap keringat yang ada di kedua pantat tersebut dan meremas-remasnya. Aku pun mulai mengarahkan batang kemaluanku ke liang kemaluannya, dan aku masukkan sedikit, aku pegang dengan kuat kedua pahanya, dan secara tiba-tiba "Bless.." aku memasukkannya secara mendadak dan langsung seluruhnya, "Akhh.. akhh.." Mawar berteriak dengan sangat keras karena selaput daranya robek mendadak. Ia meronta-ronta tetapi batang kemaluanku tetap di dalam liang kemaluannya, karena pahanya telah aku tahan dengan kuat. Tidak lama kemudian Mawar mulai tenang, dan aku mulai menggerakkan batang kemaluanku maju-mundur secara pelan-pelan. Tak beberapa lama kemudian tampak Mawar mulai menikmatinya, aku pun semakin mempercepat gerakanku.&lt;br /&gt;"Ahh, ahh, ahh.." Mawar mulai mendesah nikmat, tampak olehku dari kaca besar di dinding bahwa wajahnya mulai menikmati batang kemaluanku.&lt;br /&gt;Aku juga melihat adegan yang sering kulihat di film-film porno dari kaca besar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama aku semakin mempercepat gerakkan maju-mundurku, dan Mawar pun mulai merespon dengan menggerakkan pantatnya maju-mundur berlawanan arah dengan apa yang aku lakukan, sehingga batang kemaluanku keluar-masuk dengan cepat dan sangat keras, "Bless, bless.." aku dan Mawar sangat menikmatinya. Setelah melakukan doggy style selama kurang lebih sepuluh menit, aku mengganti gaya. Mawar tiduran menghadap ke samping sementara aku berlutut dan meletakkan paha kiri Mawar di atas pahaku sehingga Mawar dapat melihat keluar-masuknya batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya.&lt;br /&gt;"Ahh, ahh, ahh," Mawar terus mendesah selama aku setubuhi.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, "Ahh," Mawar mengalami orgasmenya yang pertama, "Ahh," ia terus mendesah, terasa cairan hangat mengalir dari liang kemaluannya sehingga memperlicin gerakan batang kemaluanku. Aku terus menyetubuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mawar meminta untuk berganti gaya dengan gaya konvensional, yakni dengan ia berada di bawah. Aku menurutinya dan terus menyetubuhinya. Sekitar 4 menit kemudian,&lt;br /&gt;"Ahh, ahh.. Den gue udah mau keluar lagi.."&lt;br /&gt;"Tahan sebentar! gue juga," kataku.&lt;br /&gt;Kupercepat gerakanku dan, "Ahh, ahh.." aku ejakulasi di dalam liang kemaluan Mawar, dan Mawar pun mengalami orgasmenya secara bersamaan.&lt;br /&gt;"Ahh, ahh.." Mawar mendesah panjang, dan aku pun mengeluarkan batang kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Rani yang sejak tadi diam langsung menghisap batang kemaluanku dan membuka bajunya. Setelah agak lama aku kembali "on", aku kembali bernafsu dan menelanjangi Rani dengan ganasnya. Kuhisap payudaranya dengan ganas dan kugigit lehernya sampai tampak merah-merah. Tanpa membuang waktu aku langsung memasukkan batang kemaluanku dan mulai menyetubuhinya dengan kedua pahanya di atas kedua pundakku.&lt;br /&gt;"Ahh, ahh," Rani terus mendesah dan terasa olehku liang kemaluannya sudah basah, mungkin ia dari tadi sudah terangsang.&lt;br /&gt;Rupanya kamera yang tadi ia pegang telah diambil alih oleh Melati untuk merekam semua kegiatan kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 6 menit menyetubuhi Rani, aku mengganti gaya, kusuruh Rani berpegangan di kusen pintu dan melingkarkan kedua kakinya di pinggangku. Aku kembali memasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kemaluannya dan mulai menyetubuhinya kembali.&lt;br /&gt;"Ahh, ahh," Rani terus mendesah, sementara itu aku menopang punggungnya dengan kedua tanganku dan menghisap kedua paayudaranya selama menyetubuhinya.&lt;br /&gt;"Ahh, ahh," Rani terus mendesah, dan setelah menyetubuhinya selama 15 menit, "Den, gue mau keluar," dan.. "Ahh, ahh," Rani mendesah panjang dan mengeluarkan cairan kewanitaannya dari dalam liang kemaluannya.&lt;br /&gt;Ia tidak sanggup meneruskan gaya tersebut, ia memilih melakukan doggy style.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 5 menit melakukannya, ia kembali mengalami orgasme yang kedua, sementara aku terus menggenjotnya. Tidak lama kemudian aku juga mau keluar,&lt;br /&gt;"Ran, mao dimana?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Di mulut gue saja!"&lt;br /&gt;Ia langsung menghisap batang kemaluanku sambil mengurut-ngurut batang kemaluanku dengan jarinya dan "Ahh.." aku keluarkan semua spermaku di mulutnya dan ia menelan seluruhnya. Ia terus menghisap batang kemaluanku hingga bersih dari sisa sperma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami semua kelelahan dan tertidur sebentar. Saat bangun, aku kembali bernafsu karena melihat 3 tubuh seksi tergeletak. Aku mulai kembali merangsang mereka dan mereka juga mulai merangsang diriku. Tubuh mereka kembali menegang dan aku pun mulai tambah bernafsu. Mereka bertiga berposisi seperti akan malakukan doggy style. Rani berada paling depan, Mawar di belakangnya, dan Melati berada di belakang mawar, sedangkan aku berada paling belakang dan mulai menyetubuhi Melati dari belakang, sedangkan Melati menjilat liang kemaluan Mawar, dan Mawar menjilat liang kemaluan Rani, sehingga semua dapat menikmati kenikmatan duniawi.&lt;br /&gt;"Ahh, ahh," terdengar mereka bertiga mendesah dan suara batang kemaluanku ketika memesuki liang kemaluan Melati yang basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 10 menit kemudian Rani mengalami orgasme disusul dengan Mawar. Tinggallah aku dan Melati meneruskan permainan kami.&lt;br /&gt;Tapi tak lama kemudian, "Ahh, ahh," Melati pun mengalami orgasme, ia merasa kesakitan pada liang kemaluannya.&lt;br /&gt;Tapi karena aku berum mengalami ejakulasi, Mawar berinisiatif dengan menggosokkan kedua payudaranya dengan baby oil sehingga tampak mengkilat batang kemaluanku dijepit di tengah kedua payudaranya dan aku bergerak maju-mundur dengan cepatnya.&lt;br /&gt;Sekitar 5 menit aku mau mengeluarkan spermaku dan, "Crott.. crott.." spermaku keluar di wajah Mawar tapi Rani segera memasukkan batang kemaluanku ke mulutnya dan menelan seluruh spermaku walau agak terlambat karena sudah ada yang mengenai wajah dan rambut Mawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami menginap di villa itu, pada pagi harinya kami melakukannya lagi sampai 6 kali. Sungguh pengalaman ini sangat mengesankan dan terkadang sampai sekarang kami masih sering meneruskannya, walaupun berganti orang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-8578223328093107487?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/8578223328093107487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=8578223328093107487' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/8578223328093107487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/8578223328093107487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2009/01/cheerleader-baru-menggelinjang.html' title='Cheerleader Baru menggelinjang'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-1936366375436814271</id><published>2009-01-04T17:32:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T17:34:36.781-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pesta Sex'/><title type='text'>Mesumnya Ci Fiona, Guru Lesku</title><content type='html'>Kisah ini terjadi pada waktu aku duduk dipertengahan kelas 3 SMA dulu. Waktu itu nilai-nilai pelajaranku terutama matematika, fisika dan kimia bisa dibilang hancur lebur. Aku kadang-kadang menyesal juga dulu mamilih kelas IPA, kenapa waktu itu tidak memilih IPS saja supaya tidak ketemu 3 pelajaran keramat itu, tapi ya nasi sudah jadi bubur, ya mau apa lagi. Demi memperbaiki nilai-nilaiku, aku terpaksa mengiluti les bersama 2 temanku, Hans dan Vernand. Yang memberi les seorang mahasiswi tingkat akhir, umurnya kira-kira 22 tahun waktu itu. Aku mengenalnya melalui perantaraan ciciku. Namanya Fiona, penampilannya perfect sekali, kulit putih, body langsing dengan buah dada yang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, pas lah untuk ukuran orang Asia, rambutnya panjang sedada, biasanya dikucir, wajahnya juga cantik, tidak lebar tidak juga panjang, sekilas mirip artis Moon Lee dari Hongkong, dia juga memakai kacamata minus, yang membuatnya terlihat seperti orang pintar, tapi itu tidak mengurangi kecantikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu aku pergi les ke rumahnya bersama dengan Hans, waktu itu Vernand tidak bisa datang karena sakit. Sesampainya di sana, kami memencet bel berulang kali tapi tidak ada yang membukakan pintu, sialnya lagi waktu itu hujan sudah mulai turun deras sedangkan kami tidak membawa jas hujan, terpaksa kami mampir dulu ke restoran kecil tepat di seberang rumahnya, minum kopi dulu sambil menunggu hujan reda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira 15 menit kemudian aku melihat Ci Fiona turun dari taksi dan langsung berlari ke rumahnya karena tidak membawa payung. Aku langsung memberitahu Hans, setelah kami membayar, lalu kami membawa motor masing-masing ke depan pagar rumah Ci Fiona, sebelum dia masuk rumahnya kami sudah sampai di depan pagar sehingga kami tidak bertambah basah karena dia sudah melihat kehadiran kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam rumah kami membuka jaket kami yang basah. Ci Fiona memberikan handuk pada kami untuk mengeringkan diri dan memberikan kami minum teh panas. Dia sendiri sempat kebasahan sehingga pakaiannya mengerut dan makin memperlihatkan lekuk tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh sori banget yah, hari ini Cici ada kuliah tambahan lupa beritahu kalian jadi bikin kalian basah gini", katanya.&lt;br /&gt;"Tidak apa-apa kok Ci kita maklum, tapi kok kenapa di rumah sekarang sepi amat nih, yang lain pada ke mana nih?", tanya Hans.&lt;br /&gt;"Papa dan Mama lagi ke Surabaya ngikutin undangan pernikahan saudara nih, terus pembantu cici udah pulang, kan udah deket lebaran".&lt;br /&gt;"Wah jadi repot dong Ci di rumah sendirian", kataku padanya.&lt;br /&gt;"Yah begitulah, tapi besok ortu pulang kok", katanya.&lt;br /&gt;"Eh, sebelum les Cici mau mandi dulu sebentar ya, basah nih nanti flunya kambuh lagi, kalian tunggu saja dulu di sini oke..".&lt;br /&gt;Mendengar itu pikiranku mulai ngeres membayangkan di saat dingin begini bisa mandi bersama cewek secantik Ci Fiona. Ooh enaknya, dingin-dingin empuk deh rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kamar mandi mulai terdengar suara percikan air, ingin rasanya aku mengintipnya tapi sayang lubang kuncinya sempit sekali. Kami mulai melihat-lihat isi ruang tamunya, melihat foto-fotonya waktu kecil, foto pernikahan kakaknya, dan foto-foto keluarga yang terpajang di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dari kamar mandi terdengar jeritan disusul Ci Fiona keluar dari kamar mandi hanya dengan ditutupi handuk yang dilipat dan secara refleks memeluk Hans yang saat itu dekat kamar mandi. "Ada kecoa besar sekali di sana!", katanya. Aku masuk ke kamar mandi dan melihat ada seekor kecoa yang cukup besar yang bisa membuat wanita terkejut, segera kutepuk binatang itu dengan sandal dan kubuang bangkainya ke tong sampah. Waktu aku keluar kamar mandi kulihat Ci Fiona masih dipelukan Hans dengan hanya selembar handuk saja, dalam hati aku merasa sirik. "Huh kenapa gua dari tadi bukan berdiri di situ, sialan", gerutuku dalam hati. Ci Fiona terlihat seksi sekali saat itu, rambutnya yang basah tergerai dan pahanya yang putih panjang itu kulihat dengan jelas sekali membuat penisku bangkit saat itu, ingin rasanya menarik handuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hans berkata, "Ci kecoanya sudah mati Ci, tenang.., tenang..!".&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Ci Fiona mulai tenang dan berkata, "Terima kasih ya untung ada kalian, Cici takut banget sama kecoa".&lt;br /&gt;Dia mulai melepaskan pelukan tidak sengajanya itu, tapi mendadak Hans menangkap pergelangan tangan kirinya dan tidak melepasnya.&lt;br /&gt;"Eh, kenapa kamu ini Hans, sudah cici mau berpakaian dulu nih".&lt;br /&gt;"Sudah Ci tidak usah repot-repot berpakaian deh, saya lebih suka ngeliat Cici seperti ini", jawab Hans.&lt;br /&gt;"Udah ah, kamu jangan main-main keterlaluan gitu ya", kata Ci Fiona sambil menghentakkan tangannya, tapi Hans bukannya melepas malah semakin erat menggenggamnya sambil tangan satunya menarik lipatan handuk yang dipakai Ci Fiona sehingga handuk itu jatuh, dan terlihatlah pemandangan terindah yang pernah kulihat tubuh putih indah dengan buah dada yang putingnya merah muda dan kemaluannya yang tertutup bulu-bulu hitam yang lebat, persis seperti model-model nude Jepang yang kulihat di internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurang ajar kamu ya!", bentaknya sambil menampar Hans.&lt;br /&gt;Ditampar begitu Hans bukannya kapok, malahan memegang tangan satunya itu dan melipat kedua tangan Ci Fiona ke belakang, lalu mencium bibirnya, membuat pipi Ci Fiona memerah malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat adegan panas itu aku yang sudah terbuai nafsu langsung mendekati mereka. Aku memeluk Ci Fiona yang sedang berciuman dari belakang. Tubuh Ci Fiona terasa harum, karena baru selesai mandi. Tanganku agak gemetar ketika memegang buah dadanya yang indah. Kumain-mainkan putingnya sampai terasa mengeras, aku juga menciumi kupingnya dan turun menjilati lehernya, kemudian tangan kiriku mulai turun meraba kemaluanya dan memainkan klitorisnya, hangat rasanya tanganku di tempat itu. Hans melepas ciumannya setelah merasa susah bernafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah.., sudah berhenti.., kalo tidak Cici teriak nih!", kata Ci Fiona.&lt;br /&gt;Tapi bukannya berhenti, Hans kembali melumat bibir Ci Fiona dan mulai meraba dadanya, aku gantian memegangi tangan Ci Fiona. Menurutku Ci Fiona sebenarnya suka diperlakukan begitu hanya saja dia sok jual mahal atau mungkin juga malu. Buktinya kalau dia tidak suka dia pasti sudah berteriak sejak tadi, dan lagi pula dia bisa dengan mudah menendang sekangkangan Hans untuk melepaskan diri, tapi nyatanya dia hanya meronta-ronta sedikit dan lebih lagi dia juga mulai mengeluarkan lidahnya untuk beradu ketika Hans menciuminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian rontaannya mulai melemas dan kelihatannya dia mulai menikmati semua ini.&lt;br /&gt;Hans kembali berkata, "Ci di sini tidak nyaman kan, gimana kalo kita ke kamar Cici aja?".&lt;br /&gt;"Sudah.., cukup.., kalian memang keterlaluan, Cici ini kan guru kalian!".&lt;br /&gt;Tanpa menjawab Hans mencari dan menemukan kamar Ci Fiona, aku menutup mulut Ci Fiona dengan tanganku sambil memegangi kedua tangannya yang terlipat ke belakang dan aku menggiringnya masuk ke kamarnya. Setelah Hans mengunci pintu aku mendorong Ci Fiona ke ranjang. Ci Fiona meraih selimut dan menutupi tubuhnya lalu berkata, "Kurang ajar kalian ya.., pergi kalian dari rumah ini..!". Tapi kami mana mungkin menurutinya, aku mendekatinya sementara Hans membuka pakaiannya, kurebahkan dia di ranjang. Kulumat bibir mungilnya, lalu kujilat buah dadanya, sambil tanganku memainkan vaginanya yang sudah basah karena kumainkan waktu di ruang tamu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Stop.., pergi.., jangan gitu Siung.., ah.., jangan.., ahh!", kudengar Hans berkata padaku.&lt;br /&gt;"Eh Siung mau main kok masih pake baju, lepas dulu dong sana!".&lt;br /&gt;Hans yang sudah bugil duduk di samping kami, lalu kulepas sebentar Ci Fiona untuk membuka bajuku, Hans langsung menyambar Ci Fiona dan menjilati vaginanya, sesudah bugil aku mendekati lagi Ci Fiona yang lagi terbaring. Aku berlutut di depan wajahnya dan berkata, "Ci tolong dong jilatin, boleh tidak?". Ci Fiona menatapku sejenak sambil mendesah karena jilatan Hans, lalu diraihnya penisku dan dimasukkannya ke dalam mulutnya. Kulumannya enak sekali, penisku terasa hangat dan basah. Sambil dikulum, kuremas-remas buah dadanya yang montok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas menjilati vagina Ci Fiona, Hans mengarahkan penisnya yang cukup besar itu ke liang vagina Ci Fiona, dengan perlahan Hans memasukkannya sementara Ci Fiona terus mengulum dan menjilati penisku. Ternyata Ci Fiona sudah tidak perawan lagi, karena ketika Hans memasukkan penisnya tidak ada darah sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira 10 menit lebih penisku dikulum olehnya, aku merasakan sudah mau keluar dan aku sebenarnya sudah mau melepasnya namun tak tertahankan lagi akhirnya aku menyemburkan maniku di mulutnya, dia pun melepas kulumannya. Kulihat mulutnya penuh dengan mani dan sisanya muncrat membasahi wajahnya, "Sori Ci, Cici terlalu semangat sih tadi, Cici nggak marah kan?", kataku. "kurang ajar ya kamu ke guru sendiri berani berbuat gini..". Aku mengambil tisu untuk membersihkan wajah Ci Fiona, ketika aku hendak mengelap penisku, Ci Fiona mencegah, "Siung, jangan.., sini biar Cici bersihin aja.., uhh!", katanya teputus-putus karena sedang digenjot Hans. Dia meraih penisku dan menjilati sisa-sisa maniku sebelum dia menelannya tadi, semua maniku berada di dalam mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana Ci? rasanya enak gitu?", kataku.&lt;br /&gt;Dia hanya mengangguk sambil terus menjilat sampai bersih.&lt;br /&gt;Setelah bersih aku bertanya padanya, "Ci gua haus nih, ambil minum di mana nih?".&lt;br /&gt;"Ambil saja di kulkas di tingkat 2 sana.., ahh.., ahh..", katanya lagi dengan nada terputus-putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar dan membuka kulkas, setelah minum kulihat di frezeer juga ada sekotak es krim, terpikir olehku untuk makan es itu di atas tubuh Ci Fiona pasti lebih nikmat. Maka kubawa es itu ke kamar. Sebelum sampai kamar pun suara desahan Ci Fiona masih terdengar, untung kamarnya agak di dalam dan ada suara hujan deras di luar, jadi suaranya tidak terdengar sampai ke tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku sampai kulihat tubuh Ci Fiona menggelinjang hebat, sampai terlihat tulang-tulang rusuknya, kelihatannya dia sudah mencapai klimaks, dia merangkul erat Hans sambil medesah panjang. Hans mencabut penisnya dan memuntahkan isinya ke mulut Ci Fiona. Ci Fiona menelan semuanya sambil menjilati penis Hans. Aku dekati mereka dan berkata, "Capek ya Ci, nih minum dulu deh!", kusodorkan segelas air padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ci sambil istirahat bagi dong es krimnya boleh tidak?", tanyaku sambil menunjukkan es itu.&lt;br /&gt;"Kamu ini bener-bener tidak sopan ya, tidak bilang-bilang main ambil aja.., ya udah makan sana", katanya.&lt;br /&gt;"Tapi tidak ada gelasnya nih Ci.., gimana kalo kita makanya di atas badan cici aja ya?", tanapa menunggu jawaban darinya, aku sudah mulai mengoles es krim itu ke tubuhnya mulai dari leher, dada, kemaluan, dan paha indahnya. "Eh tunggu dulu, kalian ini apa-apaan nih, dingin ah jangan!". Sebelum dia berbuat lebih kami langsung menjilati tubuhnya, Hans menjilati leher dan dadanya, aku bagian vagina dan pahanya. Hans berkata, "Wah Ci enak banget esnya, apalagi yang bagian dada, es kayak gini pasti cuma ada 1 di dunia". Ci Fiona cuma bisa mendesah karena geli bercampur nikmat. Kujilati kemaluannya, agak aneh memang rasa es krim bercampur cairan cinta, tapi enak juga kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah es di tubuhnya habis, aku berbaring dan memintanya duduk di atas penisku sambil menggenjotnya. Ci Fiona mulai memasukkan penisku ke vaginanya, kelihatannya agak sempit walaupun tidak perawan lagi. Dia mulai bergoyang-goyang di atas tubuhku dan Hans memasukkan penisnya ke mulut Ci Fiona. Ku remas buah dadanya yang hot itu, sampai akhirnya kutembakkan maniku di vaginanya. Kami akhirnya bermain sampai puas, hari sudah gelap waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sempat tertidur kira-kira 1 jam, ketika bangun kulihat Ci Fiona sudah memakai piyama bersandar di pinggir ranjang sambil merokok, baru kali ini kulihat dia merokok, katanya sih dia memang jarang sekali, hanya kalau lagi strees saja biasanya. Kulihat dimeja belajarnya ada fotonya sedang dirangkul seorang pria yang cukup ganteng, pas untuknya. Kutanya siapa orang itu, ternyata dialah pacar Ci Fiona yang sekarang sedang mengambil gelar master di Amerika, dia sudah 1,5 tahun tidak pulang hanya ada kabarnya lewat e-mail dan telepon. Karena itulah Ci Fiona sudah lama tidak menikmati lagi hubungan seks. Sekaranglah Ci Fiona mendapat penyaluran kebutuhan itu, meskipun sebelumnya dia malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkata, "Sudah bangun? gimana.., sudah puas? Kalian ini benar-benar deh, belum pernah ada murid les saya yang seberani kalian, tapi please yah, jaga rahasia ini, biar ini cuma kita yang tau aja, ok!"&lt;br /&gt;"Beres Ci", kata Hans, "Asal cici seneng kita juga seneng kan, tapi Vernand boleh tau tidak, dia kan temen kita juga Ci", kata Hans.&lt;br /&gt;"Hmm.., iya deh tapi dia orang terakhir yang tau rahasia ini loh".&lt;br /&gt;"OK Ci beres!", jawab kami bersamaan.&lt;br /&gt;"O iya, Cici udah masak makan malam, lu duaan makan aja di sini".&lt;br /&gt;Kami pun makan bersama, masakannya enak, hoki banget pacarnya kalau sudah nikah nanti. Sesudah makan kami pulang diantar Ci Fiona sampai pintu pagar. Baru kutahu ternyata dibalik wajah alim dan terpelajar Ci Fiona tersembunyi banyak hal di luar dugaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu sampai pacar Ci Fiona pulang bila ada kesempatan kami sering melakukan hal itu lagi, kadang berempat (ditambah Vernand), kadang 1 lawan 1 saja, kadang triple, macam-macam lah. Untuk mencari tempat sepi biasa bila di rumah salah satu dari kami sedang kosong, kami meneleponnya untuk datang ke sana saja. Sekarang aku sudah kuliah semester 4, Ci Fiona pun sudah menikah dengan pacarnya, kami bertiga diundang ke pestanya, di sana dia tersenyum manis pada kami bertiga mungkin tanda terima kasih karena kamilah yang memenuhi kebutuhan biologisnya waktu pacarnya tidak ada dulu. Selamat ya Ci, semoga bahagia selalu, kamilah yang tidak bahagia karena tidak bisa bermain dengannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-1936366375436814271?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/1936366375436814271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=1936366375436814271' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/1936366375436814271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/1936366375436814271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2009/01/mesumnya-ci-fiona-guru-lesku.html' title='Mesumnya Ci Fiona, Guru Lesku'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-7905275923877912974</id><published>2009-01-04T17:30:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T17:32:11.974-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pesta Sex'/><title type='text'>Di Balik Kamar WC</title><content type='html'>Pada waktu itu aku masih duduk di SMP kelas II, pernah terjadi kejadian yang sangat mengasyikan dan lebih baik ini jangan ditiru. Pada waktu di SMP, aku termasuk anak yang cukup nakal dan sekolahku itu pun merupakan sekolah yang banyak menampung para anak–anak nakal, sehingga tanpa kusadari aku pun bisa dibilang lumayan lebih banyak nakalnya dari pada baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu ada seorang teman sekelasku yang bernama Ika. Ika memang cewek yang paling dekat dengan cowok dan terkenal paling bandel juga nakal. Tidak jarang teman–teman pun menyimpulkan bahwa dia cewek binal, karena dia berpenampilan agak seronok dibandingkan teman-temannya, yaitu dengan baju sekolah yang tidak dimasukkan ke dalam, melainkan hanya diikat antar ujung kain dan menggunakan rok yang sangat minim dan pendek, yaitu satu telapak tangan dari lutut. Ika seorang gadis yang cukup manis dengan ciri-ciri tinggi yang pada waktu itu sekitar 160 cm, berat badan 45 kg dengan kulit putih serta bentuk wajah yang oval. Ika memiliki rambut sebahu, hitam tebal, pokoknya oke punya tuh doi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bel kelas berbunyi yang tandanya masuk belajar, semua murid–murid masuk ke kelas. Tetapi anehnya, empat anak yang terdiri dari 3 cowok dan 1 cewek itu masih mengobrol di luar kelas yang tempatnya tidak jauh dari WC, dan sepertinya terjadi kesepatan diantara mereka. Setelah pelajaran kedua selesai, teman–teman cowok yang bertiga itu meminta ijin keluar untuk ke WC kepada guruku yang mengajar di pelajaran ketiga, sehingga membuatku curiga.&lt;br /&gt;Di dalam hatiku aku bertanya, "Apa yang akan mereka perbuat..?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama setelah teman–teman cowok meminta ijin ke WC tadi, malah Ika pun meminta ijin kepada guru yang kebetulan guru pelajaran Bahasa Indonesia yang lumayan boring. Rasa penasaranku makin bertambah dan teman–temanku juga ada yang bertanya–tanya mengenai apa yang akan mereka perbuat di WC. Karena aku tidak dapat menahan rasa penasaranku, akhirnya aku pun meminta ijin untuk ke WC dengan alasan yang pasti. Sebelum sampai di WC kulihat teman–teman cowok kelasku yang bertiga itu kelihatannya sedang menunggu seseorang. Tidak lama kemudian terlihat Ika menuju tempat teman–teman cowok tersebut dan mereka bersama-sama masuk ke kamar WC secara bersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa penasaranku mulai bertambah, sehingga aku mendekati kamar WC yang mereka masuki. Terdengar suara keributan seperti perebutan makanan di ruangan tersebut. Akhirnya aku masuk ke kamar WC, secara perlahan–lahan kubuka pintu kamar WC yang bersampingan dengan kamar WC yang mereka masuki, sehingga percakapan dan perbuatan mereka dapat terdengar dengan jelas olehku.&lt;br /&gt;"Hai Tun, Sep, siapa yang akan duluan..?" tanya Iwan kepada mereka.&lt;br /&gt;Dijawab dengan serentak dari mulut Ika seorang cewek, dia menjawab dengan nada menantang, "Ayo.., siapa saja yang akan duluan. Aku sanggup kok kalaupun kalian langsung bertiga..!"&lt;br /&gt;Aku bertanya-tanya, apa sih yang mereka perundingkan, sampai–sampai saling menunjuk dan menantang seperti itu. Tapi aku tetap terdiam membisu sambil memperhatikan kembali, apa yang akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, tidak lama kemudian Asep menjawab dengan nada ringan, "Yah udah, kalau begitu Kita bertiga bareng–bareng ajah. Biar rame..!" katanya.&lt;br /&gt;Langsung disambut ucapan Asep tersebut oleh Ika, "Ayo cepetan..! Nanti keburu pulang sekolah."&lt;br /&gt;Dan akhirnya Utun pun berucap, "Ayo Kita mulai..!"&lt;br /&gt;Setelah itu tidak terdengar suara percakapan mereka lagi, tetapi terdengar suara reslueting yang sepertinya dibuka dan juga suara orang membuka baju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian terdengar suara riang mereka bertiga dengan ucapan menanyakan pada Ika, "Hey Ka.., Siapa sih yang paling besar alat kelamin Kami bertiga ini..?"&lt;br /&gt;Ika pun menjawab dengan nada malu–malu, "Kayanya sih Utun yang paling gede, hitam lagi." dengan sedikit nada menyindir dan langsung dijawab oleh Utun, "Hey Ka..! Cepetan buka tuh baju Kamu, biar cepet asik si Joni, Kita nih enggak kuat lagi..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terdengar Ika membuka bajunya, tidak lama kemudian terdengar suara teman–teman cowok bertiga, Utun, Asep, Iwan dengan nada ganas, "Wauw.., benar–benar body Kamu Ka, kaya putri turun dari langit..!"&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian Asep bertanya pada Ika, "Ka.., kalau Aku boleh tidak meraba buah dadamu ini yang bagaikan mangkuk mie ini Ka..?"&lt;br /&gt;Ika pun menjawab dengan nada enteng, "Yah sok aja, yang penting jangan dirusak ajah..!"&lt;br /&gt;Utun pun sepertinya tidak mau kalah dengan Asep, dia pun bertanya, "Ka.., Aku bolehkan memasukkan alat kelaminku ke lubang gua rawamu ini kan Ka..?" sambil meraba-raba alat kelamin Ika.&lt;br /&gt;Ika pun menjawab dengan nada mendesak, karena alat kelaminnya sepertinya sedang diraba-raba oleh Utun, "Aahh.. uhh.. boleh Tun.. asal jangan sangar yah tun..!"&lt;br /&gt;Dan terakhir terdengar suara Iwan yang tak mau kalah juga, "Ka.., Aku boleh kan menciumimu mulai dari bibir hingga lehermu Ka.., boleh kan..?"&lt;br /&gt;Ika menjawab dengan nada seperti kesakitan, "Awww.. Uuuhh.. iya–iya, boleh deh semuanya..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara–suara tersebut terdengar olehku di samping kamar WC yang mereka isi, yang kebanyakan suara–suara tersebut membuat saya risih mendengarnya, seperti, "Aaahh.. eehh.. aawww.. eh–eh.. oww–oowww.. sedap..!"&lt;br /&gt;Dan tidak lama kemudian terdengar suara Ika, "Kalian jangan terlalu nafsu dong..!" kata Ika kepada teman–teman cowok tersebut, "Karena Aku kan sendirian.., sedangkan Kalian bertiga enggak sebanding dong..!"&lt;br /&gt;Tetapi mereka bertiga tidak menjawab ucapan Ika tersebut, dan akhirnya terdengar suara jeritan kesakitan yang lumayan keras dari Ika, "Aaawww.., sakit..!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ika kemudian melanjutkan dengan ucapan, "Aduh Tun.., Kamu udah mendapatkan keperawanan Saya..!"&lt;br /&gt;Dijawab dengan cepat oleh Utun, "Gimana Ka..? Hebatkan Saya."&lt;br /&gt;Setelah itu Utun pun mendesah seperti kesakitan, "Adu.. aduh.., kayanya alat kelaminku lecet deh dan akan mengeluarkan cairan penyubur." kata-katanya ditujukan kepada teman–temannya.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian Iwan bertanya kepada Ika, "Ka aku bosan cuma menyiumi Kamu aja Ka.., Aku kan kepingin juga kaya Utun..!"&lt;br /&gt;Iwan pun langsung bertukar posisi, yang anehnya posisi Iwan tidak sama seperti yang dilakukan Utun, yaitu memasukkan alat kelaminnya ke lubang pembuangan (anus) dari belakang, sehingga Ika tidak lama kemudian menjerit kedua kalinya.&lt;br /&gt;"Aaawww.. Iiihh.. perih tahu Wan..! Kamu sih salah jalur..!" rintih Ika menahan sakit.&lt;br /&gt;Tetapi sepertinya Iwan tidak menghiraukan ucapan Ika, dan terus saja Iwan berusaha ingin seperti Utun, sampai alat kelaminnya mencapai klimaks dan mengeluarkan cairan penyejuk hati. Hanya berlangsung sebentar, Iwan pun menjerit kesakitan dan alat kelaminnya pun dikeluarkan dari lubang pembuangan dengan mengatakan, "Aaahh.., uuhh.., uuhh.., enaak Ka, makasih. Kamu hebat..!"&lt;br /&gt;Asep yang setia hanya meraba-raba payudara Ika dan sekali-kali menggigit payudara Ika. Tetapi ternyata akhirnya Asep bosan dan ingin seperti kedua temannya yang mengeluarkan cairan penyubur tersebut sambil berkata, "Ka.., Aku juga mau kaya mereka dong, ayo Ka..! Kita mainkan.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ika menjawab dengan nada lemas, "Aduh Sep..! Kayanya Aku udah capek Sep, sorry yah Sep..!"&lt;br /&gt;Akhirnya Asep kesal pada Ika dan langsung saja Asep menarik tangan Ika kepada alat kelaminnya dengan menyodorkan alat kelaminnya.&lt;br /&gt;"Ka.., pokoknya Aku enggak mo tahu.., Aku pinggin kaya mereka berdua..!"&lt;br /&gt;Ika menjawab dengan nada lemas, "Aduh Sep.., gimana yah, Aku benar benar lemas Sep..!"&lt;br /&gt;Aku tetap terdiam di kamar WC tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sekitar 45 menit berlanjut, dan aku pun berpikir apakah mungkin mereka berbuat oral seks karena masih duduk di SMP. Hal ini mendorong rasa penasaran tersebut untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya aku dapat melihat mereka dari atas, karena kamar WC di sekolahku pada waktu itu tembok pembaginya tidak tertutup sampai dengan atas langit, sehingga aku dapat melihat mereka berempat. Karena kesal akibat Asep tidak dipenuhi permintaannya, akhirnya Asep menarik kepala Ika ke depan alat kelaminnya yang sudah menegang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asep berkata dengan nada mengancam kepada Ika, "Ayo Ka..! Kalo gitu kelomohi alat kelaminku hingga Aku merasakan enaknya seperti mereka..!"&lt;br /&gt;Setelah berusaha memanjat untuk melihat adgean secara langsung, aku dapat melihat dengan jelas. Ika seorang cewek langsung saja mengerjakan apa yang disuruh oleh Asep, sedangkan temannya yang berdua lagi, Utun dan Iwan duduk di lantai, tergeletak menahan rasa enak bercampur sakit yang mereka rasakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berlangsung lama, Asep berkata kepada Ika, "Ka.., Ka.., Ka.., ahh.. aah.. awas Ka..! Aku akan mengirimkan cairan penyuburku yang hebat ini..!"&lt;br /&gt;Kulihat Ika langsung menyopotkan alat kelamin Asep dari mulutnya, dan terlihat raut wajah Ika yang sayu dan sendu bercampur gembira karena dapat uang dan sedih karena keperawanannya sudah hilang oleh mereka bertiga. Dasar Asep sedang kesal, Asep menyemprotkan cairan penyuburnya kepada Ika dan kedua temannya dengan mendesis kesakitan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;"Aaahh.., uuhh.., Awas cairan penyuburku ini diterima yah..!" kata Asep sambil tangannya tetap mengocokkan penisnya.&lt;br /&gt;Kulihat Asep menyempotkan cairan penyubur itu dari alat kelaminnya secara kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ada 15 menit sehabis Asep mengeluarkan cairan penyuburnya, kulihat mereka langsung berpakaian kembali setelah mereka menyopotkan baju–baju mereka sampai tidak tersisa sehelai kain pun. Sebelum mereka keluar, aku langsung cepat keluar dari kamar mandi tersebut secara perlahan–lahan agar tidak terdengar oleh mereka. Kemudian aku menuju ke kelas yang telah memulai pelajarannya dari tadi. Hanya berselang beberapa menit, mereka masuk ke kelas seorang–seorang agar tidak ketahuan oleh guru kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu tidak terasa lama sampai bel keluar sekolah berbunyi. Kulihat mereka bertiga teman cowokku, Asep, Iwan, Utun sedikit lelah, seperti kehabisan nafas dan anehnya mereka berjalan seperti kehabisan tenaga.&lt;br /&gt;Karena aku suka iseng ke temen, aku langsung bertanya kepada mereka bertiga, "Hey Kalian kayanya pada lemes banget. Habis ngebuat su.., sumur yah..?"&lt;br /&gt;Langsung dijawab dengan enteng oleh perwakilan mereka bertiga, yaitu Asep, "Iya Bie, enak tahu kalo ngegali sumur tersebut dengan rame–rame..!"&lt;br /&gt;"Ohh gitu yah..?" jawabku dengan tersenyum karena tahu apa yang mereka perbuat tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jauh dari tempatku berdiri, kulihat Ika berjalan sendirian dengan memegang tas kantongnya yang sehari-hari tasnya selalu di atas pundaknya. Sekarang hanya dibawa dengan cara dijingjing olehnya.&lt;br /&gt;Langsung saja aku memanggilnya, "Ka.., Ika.. Ka.. tunggu..!"&lt;br /&gt;Ika menjawab dengan nada lemas, "Ada apa Bie..?"&lt;br /&gt;Karena aku juga ingin iseng padanya, kulangsung bertanya, "Ka.., kayanya Kamu kecapean. Habis tertembak peluru nyasar yang menghajarmu, ya Ka..?"&lt;br /&gt;Ika pun menjawab dengan nada kesal, mungkin bahkan tersindir, "Yah.. Bie.., bukan peluru nyasar, tapi burung gagak yang nyasar menyerang sarang tawon dan goa Hiro, tahu..!"&lt;br /&gt;Mendengar nadanya yang tersinggung, aku langsung meminta maaf kepada Ika.&lt;br /&gt;"Ka.., maaf. Kok gitu aja dianggap serius, maaf yah Ka..?" kataku menenangkannya sambil tersenyum bersahabat.&lt;br /&gt;Karena aku penasaran, aku langsung menyerempet–menyerempet agar terpepet.&lt;br /&gt;"Ka.., boleh enggak Ka, Aku coba masuk ke goa Hiro tersebut..? Kayanya sih asik.. bisa terbang kaya burung..!" pintaku sambil tertawa pelan.&lt;br /&gt;Karena Ika sudah kesal dan lelah, Ika menjawab, "Apa sih Kamu Bie..? Kamu mau goa Saya, nanti dong antri.., masih banyak burung yang mau masuk ke goaku, tahu..!"&lt;br /&gt;Dan akhirnya aku tertawa dengan rasa senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan pengalaman hidup saya yang dijamin asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-7905275923877912974?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/7905275923877912974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=7905275923877912974' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/7905275923877912974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/7905275923877912974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2009/01/di-balik-kamar-wc.html' title='Di Balik Kamar WC'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-4610637488125314945</id><published>2009-01-04T17:16:00.000-08:00</published><updated>2009-01-04T17:28:36.180-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tukar Pasangan'/><title type='text'>Jayus, Tukang Ojek Sepeda</title><content type='html'>Orangnya tuna aksara atau buta huruf. Tapi kalau ngomong ngentot sama ngomong yang mesum, dia adalah playboy. Playboy kampunglah. Tetapi aku percaya. Tubuh macam dia punya biasanya memang memiliki nafsu gede dan mesum. Lihat saja punggungnya nampak sedikit bongkok. Tangan-tangan dan kakinya penuh bulu. Warna kulitnya yang coklat kehitaman mengkilat kena keringat keringnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri macam itu biasanya kontolnya juga gede. Aku selalu merinding dan menggelinjang menahan gejolak birahiku kalau dekat dia. Tak bisa kulepaskan dari tonjolan bagian depan celananya, menggunung. Pantes saja, ibu-ibu gatel hingga babu-babu genit sangat asyik kalau ngomongin bagaimana sepulang dari pasar tadi ngebonceng ojeknya Jayus. Mereka cerita soal baunya yang merangsang, soal senggolan dengan tangannya yang penuh bulu berurat. Kadang-kadang mereka sengaja menempelkan susunya saat mbonceng ojek sepeda si Jayus. Sebaliknya si Jayus, dia juga termasuk banyak omong. Dia ceritakan kalau si Nem, babu Koh Abong demen banget nyiumin kontolnya. Dia enyotin kontolnya hingga pejuhnya muncrat ke mulutnya. Dia telan tuh pejuh, nggak ada sisanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dia juga cerita kalau Enci'nya (bininya) Koh Abong suka mencuri-curi pandang, dan menaik-naikkan alisnya kapan pandangannya berbenturan dengan mata Jayus. Dia lagi cari kesempetan atau alasan bagaimana bisa ketemu empat mata tanpa dilihat lakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi Dety, orang Menado yang lakinya kerja di kapal yang hanya 6 bulan sekali lakinya pulang dari laut, itupun tidak lebih dari 1 minggu. Dety berbisik sama Atun temen gosipannya, 'Uhh Tuunn, gue mau klenger deh rasanya', suatu pagi dia buka omongan, 'Kenape emangnya?', tanya Atun balik dengan logat Betawinya yang kental. 'Gua baru ngrasain deh. Tuh kontol Jayus yang sedepa (mau cerita betapa panjangnya) bener-bener bikin semaput'. Kemudian dia ceritakan bagaimana tanpa sengaja suatu siang si Jayus kencing di kebon samping rumahnya. Sebagai perempuan yang kesepian karena jarang dapat sentuhan lakinya, dia iseng ngintip dari balik pohon angsana dekat dapurnya. Dia lihat saat Jayus merogoh celananya dan menarik kontolnya keluar. Dety bilang napasnya langsung nyesek. Dia plintirin pentilnya sembari ngintip Jayus kencing. Dia mengkhayal, '.. coba aku yang dia kencingin.. hhuuhh..'. Dan beberapa menit sesudah Jayus meninggalkan tempat, dengan gaya yang tidak memancing perhatian orang dia nyamperin tuh tempat kencingnya Jayus. Bagian terakhir ini dan selanjutnya nggak dia ceritakan sama si Atun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia amati batang pohon mangga yang dikencinginnya. Basah. Air liur Dety menetes keluar, jakunnya naik turun. Darahnya tersirap. Dan tanpa bisa menahan diri, tahu-tahu tangan kanannya sudah nyamperin tuh yang basah di batang pohon. Diusapnya basah kencing si Jayus di pohon itu. Matanya nglirik kanan-kiri-depan nggak ada orang lain, dia endus tuh basah di tangannya itu. Wuu.. pesing banget. Kemudian lidahnya menjulur menjilati basah kencing Jayus itu. Eddaann..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua cerita-cerita itu terung terang membuat aku dipenuhi setumpuk obsesi. Kapaann memekku diterobosi kontolnya?! Dan dari kepalaku mengalir berbagai gagasan untuk menjebak Jayus. Dan kalau sudah begini, mataku menerawang. Aku pengin jilatin batangnya, bijih pelernya sampai dia teriak-teriak keenakkan. Aku akan ciumin pentilnya. Kemudian ketiaknya. Aku akan jilatin semua lubang-lubang bagian tubuhnya. Wwwuu.. nafsu libidoku.. kenapa liar begini ssiihh..?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore, karena ada beberapa bumbu dapur yang habis, aku pergi ke warung langgananku di pasar. Aku pikir jalan sih nggak begitu jauh saat tiba-tiba Jayus dari arah belakangku naik sepeda ojeknya nawarin, 'Kemana bu? Saya anter?'. Terus terang aku langsung terkesiap dan .. gagap..,'Eehh kang Jayus (begitulah aku biasa memanggil orang lain akang atau kang sebagai tanda hormatku) ..eehh, ..bb ..boleehh, ..mau ke warung langganan nihh'. seperti kebo yang dicocok hidungnya, aku nyamperin jok belakang sepedanya, naruh pantat di boncengan sepeda si Jayus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika aku diserang obsesiku. Sementara Jayus nggenjot sepeda, agar tidak jatuh tanganku berpegangan pada sadel yang tentu saja menyentuh bokongnya. Ada setrum yang langsung menyerang jantungku. Deg, deg, deg. Aku dekatkan wajahku ke punggungnya hingga aku cium bau keringatnya. 'Narik dari jam berapa mas?', aku buka omongan, 'Yaah nggak tentu bu. Hari ini saya mulai keluar jam 10.00 pagi. Soalnya pagi-pagi tadi tetangga minta bantu pasang kran air. PAM-nya nggak mau keluar'. Wwaaoo.., tiba-tiba ada ide yang melintas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Apa yang nggak mau keluar ..?', nada bicaraku agak aku bengkokkan. 'Kenapa nggak mau keluar ..?', untuk lebih memperjelas nada bicaraku yang pertama. Jawabannya nggak begitu aku dengar karena ramainya jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ooo.., kirain apaan yangg.. nggakk keluarr..'. Dan tanpa aku sadari sepenuhnya, tanganku menjadi agresif, menepuki paha Jayus. 'Kirain barang Mas Jayus yang ini nggak mau keluar', mulutkupun tak lagi bisa kukendalikan dengan sedikit aku iringi sedikit ha ha hi hi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Aahh, ibuu, ntarr dilihat orang lhoo', sepertinya dia menegor aku. Kepalang basah, 'Habiiss.., orang-orang pada ngomongin ini ssiihh..', aku sambung omongan sambil tanganku lebih berani lagi, menepuki bagian bawah perutnya yang naik turun karena kaki-kakinya menggenjot sepeda. Dalam hatiku, kapan lagi kesempatan macam ini datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Siapa yang ngomoong buu..??', dia balik tanya tapi nggak lagi ada tegoran dari mulutnya. Dan tanganku yang sudah berada di bagian depan celananya ini nggak lagi aku tarik. Bahkan aku kemudian mengelusi dan juga memijat-mijat tonjolan celananya itu. Aku tahu persis nggak akan dilihat orang, karena posisi itu adalah biasa bagi setiap orang yang mbonceng sepeda agar tidak terlempar dari boncengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ibu berani banget nih, n'tar dilihat orang terus nyampai-in ke bapak lho buu'. Aku tidak menanggapi kecuali tanganku yang makin getol meremas-remas dan memijat. Dan aku rasakan dalam celana itu semakin membesar. Kontol Jayus ngaceng. Aku geragapan, gemetar, deg-degan campur aduk menjadi satu. 'Mas Jayuuss..', suaraku sesak lirihh. 'Bbuu.., aku ngaceng buu..'. Ooohh, obsesiku kesampaian.., dan aku jawab dengan remasan yang lebih keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, aku belum pernah melakukan macam ini. Menjadi perempuan dengan penuh nafsu birahi menyerang lelaki. Bahkan sebagai istri yang selama ini cinta dan dicintai oleh suaminya. Dan nggak perlu diragukan, bahwa suamiku juga mampu memberi kepuasan seks setiap aku bersebadan dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi juga nggak diragukan pula bahwa aku ini termasuk perempuan yang selalu kehausan. Tidak jarang aku melakukan masturbasi sesaat sesudah bersebadan dengan suamiku. Biasanya suamiku langsung tertidur begitu habis bergaul. Pada saat seperti itu birahiku mengajak aku menerawang. Aku bayangkan banyak lelaki. Kadang-kadang terbayang segerombolan kuli pelabuhan dengan badan dan ototnya yang kekar-kekar. Telanjang dada dengan celana pendek menunjukkan kilap keringatnya pada bukit-bukit dadanya. Mereka ini seakan-akan sedang menunggu giliran untuk aku isepin dan kulum kontol-kontolnya. Wwoo, khayalan macam itu mempercepat nafsuku bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Kang Jayus, aku pengin ditidurin akang lho', aku bener-bener menjadi pengemis. Pengemis birahi.&lt;br /&gt;'Jangan bu, ibu khan banyak dikenalin orang di sini', jawabnya, yang justru membuat aku makin terbakar. 'Kita cari tempat, nanti aku yang bayarin', kejarku. 'Dimana bu, aku nggak pernah tahu'. Iyyaa, tentu saja Jayus nggak pernah mikir untuk nyewa kamar hotel. Klas ekonominya tukang ojek sepeda khan kumuh banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat nyampai di warung tujuan aku turun dari sepedanya, 'Kang Jayus tungguin saya yah', biar nanti aku kasih tahu kemana mencari tempat yang aman dan nyaman untuk acara bersama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Nih tempatnya yang kang Jayus tanyain tadi, barusan aku pinjem pensil enciknya (pemilik warung) dan aku tulis tuh alamat hotel yang pernah aku nginap bersama suami saat nemenin saudara yang datang dari Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Maapin bu, saya nggak bisa baca', ahh.. aku baru ingat kalau dia buta huruf.., konyol banget nih. 'OK kang, gini aja, besok akang tunggu saja aku di halte bis depan sekolah SD Mawar, tahu? Jam 10 pagi, OK?', dia ngangguk bengong. Walaupun nggak bisa baca rupanya dia tahu apa artinya 'OK'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Tt.. tapi bu.., n'tar ada yang ngliatin, n'tar diaduin ke suami ibu, n'tar..', rupanya dia belum juga mengambil keputusan. Keputusan nekad. Ampuunn.. Aku jadinya nggak sabar. 'Udahlah kang, ayyoo, sambil jalan..', sementara hari udah mulai gelap, lampu jalanan sudah menyala. Pada jam begini orang-orang sibuk, kebanyakan mereka yang baru pulang kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali aku duduk di boncengan sepedanya. Dan kembali aku langsung merangkul pinggangnya hingga tanganku mencapai bagian depan celananya. Rupanya kontol Jayus udah ngaceng. Tangankupun langsung meremasi gundukkan di celananya itu. 'Bbuu, enaakk..', dia mendesah berbisik. 'Makanya aayyoo kang.., aku juga pengin ini banget..', jawabku sambbil memijat gundukkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kami saling terdiam, saling menikmati apa yang sedang berlangsung.&lt;br /&gt;'Buu, bagaimana kalau ketempat lain aja yang gampang bu??', wwoo.. aku berbingar. Rupanya sambil jalan ini Jayus mikirin tempat. 'Dimana?', tanyaku penuh nafsu, 'Di rumah kontrakan temen saya, kebetulan lagi kosong, yang punya rumah lagi mudik, lagian kebonnya lebar, nggak akan ada yang ngliatin, apa lagi gelap begini'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Jadi kang Jayus maunya sekarang ini?', aku agak terperangah, nggak begitu siap, n'tar suamiku nyariin lagi. 'Habis kapan lagi bu? Sekarang atau besok-besok sama saja, lagian besok-besok mungkin di rumah itu udah ramai, pemiliknya udah pulang lagi'. Kalau menyangkut nafsu birahi riupanya Jayus ini nggak begitu bodoh. Cukup lama sebelum akhirnya aku menjawab, 'Ayyolahh..', sepeda ojek langsung berbalik, beberapa kali berbelok-belok masuk gang-gang kumuh. Nampaknya orang-orang ramai sepanjang jalan nggak mau ngurusin urusan orang lain. Mereka nampak tidak acuh saat kami melewatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sepeda ini nyeberangin lapangan yang luas dibawah tiang tegangan tinggi sebelum masuk rumah kontrakkan yang diceritakan Jayus tadi. Di depan tanaman pagar yang rapat ada pintu halaman dari anyaman ambu, kami berhenti. Dari dalam ada orang yang bergegas keluar, 'Min, ini mpok gua, baru dateng dari Cirebon, numpang istirahat sebentar sebelum nerusin ke Bekasi, rumah mertuanya. N'tar aku nggak pulang mau ngantar ke Bekasi ya?!', aahh.., lihai banget nih Jayus, ngibulnya bener-bener penuh fantasi.. Aku salaman sama 'Min' tadi. Saat bersalaman, salah satu jarinya dia selipkan ke telapak tanganku kemudian mengutiknya. Kurang ajar, batinku, rupanya dia tahu kalau si Jayus sekedar ngibul. Rupanya cara macam ini sudah saling mereka kenali. Rupanya kibulan tadi justru untuk aku. Untuk menyakinkan aku bahwa tempat ini aman untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ayo bu, istrirahat dulu, mandi-mandi dulu, n'tar aku ikut ke Bekasi, biar nggak nyasar-nyasar', uuhh..tukang kibulku.. yang.. sebentar lagi akan aku jilati kontolnya.. Dan memang aku sudah jadi perempuan yang nekad, pokoknya harus bisa merasakan ngentot sama Jayus. Dan sekarang ini kesempatanya. Masa bodo dengan segala kibulan Jayus, masa bodo dengan tangan usil si 'Min' tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak tahunya aku dibawa ke loteng. Dengan tangga yang nyaris tegak aku mengikuti Jayus memasuki ruangan yang sempit berlantai papan dengan nampak bolong sana-sini. Dalam ruangan tanpa plafon hingga gentingnya yang rendah itu hampir menyentuh kepala, kulihat tikar tergelar. Dan nampak bantal tipis kusam di ujung sana. Kuletakkan barang bawaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu ba bi Bu lagi Jayus langsung menerkam aku. Tangannya langsung memerasi bokongku kemudian susu-susuku. Akupun langsung mendesah.. Birahiku bergolak.. Darahku memacu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjadi sangat kehausan.. Tanganku langsung membuka kancing celana Jayus kemudian memerosotkannya. Dalam dekapan dan setengah gelagapan yang disebabkan kuluman bibir Jayus, aku merabai selangkangannya. Kontol yang benar-benar gede dan panjang ini kini dalam genggaman tanganku. Aku keras dan liatnya, denyut-denyutnya. Kontol yang hanya terbungkus celana dalam tipis hingga hangatnya aku rasakan dari setiap elusan tangan kananku. Kami saling melumat. 'Bbuu, aku nafsu bangett bbuu..', aku dengar bisikan desah Jayus di telingaku. Hhheehh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tangan Jayus menekan pundakku supaya aku rebah ke tikar yang tersedia. Terus kami bergumul, dia menaiki tubuhku tanpa melepaskan pagutannya. Dan tanganku merangkul erat tubuhnya. Kemudian dia balik hingga tubuhku ganti yang menindih tubuhnya. Aku terus melumatinya. Lidahnya yang menjulur kusedoti. Ludahku di-isep-isep-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Bbbuu, aayyoo ..aku udah nggak tahan nihh..'. Sama. Nafsu liarku juga sudah nggak terbendung. Aku prosotkan sendiri celana dalamku tanpa mencopot roknya. Sementara itu ciuman Jayus telah meruyak ke buah dadaku. Wwwuu.. Aku menggelinjang dengan amat sangat. Bulu-bulu bewok dan kumis yang tercukur rasanya seperti amplas yang menggosoki kulit halus dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu yang singkat berikutnya kami telah sama-sama telanjang bulat. Jayus menindih tubuhku. Dan aku telah siap menerima penetrasi kontolnya ke vaginaku. Aku telah membuka lebar-lebar selangkanganku menyilahkan kontol gede Jayus itu memulai serangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ujung kemaluannya menyentuh bibir vaginaku, wwuuhh ..rasanya selangit. Aku langsung mengegoskan pantatku menjemput kontol itu agar langsung menembusi kemaluanku. Sungguh aku menunggu tusukkan batang panas itu agar kegatalan vaginaku terobati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak kasar tapi membuatku sangat nikmat, Jayus mendorong dengan keras kontolnya menerobos lubang kemaluanku yang sempit sekaligus dalam keadaan mencengkeram karena birahiku yang memuncak. Cairan-cairan pelumas yang keluar dari kemaluanku tidak banyak membantu. Rasa pedih perih menyeruak saraf-saraf di dinding vaginaku. Tetapi itu hanya sesaat..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu Jayus mulai menaik turunkan pantatnya untuk mendorong dan menarik kontolnya di luang kemaluanku, rasa pedih perih itu langsung berubah menjadi kenikmatan tak bertara. Aku menjerit kecil.. tetapi desahan bibirku tak bisa kubendung. Aku meracau kenikmatan, 'Enak banget kontolmu kang Jayuss.. aacchh.. nikmatnyaa.. kontolmu Jayuss.. oohh.. teruusszzhh.. teruuzzhh.., uuhh gede bangett yaahh.. kangg.. kangg enakk..'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genjotan Jayus semakin kenceng. Bukit bokongnya kulihat naik turun demikian cepat seperti mesin pompa air di kampung. Dan saraf-saraf vaginaku yang semakin mengencang menimbulkan kenikmatan tak terhingga bagiku dan pasti juga bagi si Jayus. Dia menceloteh, 'Uuuhh buu, sempit banget nonokmuu ..buu.., sempit bangeett.. bbuu enaakk bangett..'. Dan lebih edan lagi, lantai papan loteng itupun nggak kalah berisiknya. Aku bayangkan pasti si 'Min' dibawah sono kelimpungan nggak keruan. Mungkin saja dia langsung ngelocok kontolnya sendiri (onani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang aku sangat tersanjung oleh celotehannya itu. Dan itu semangatku melonjak. Pantatku bergoyang keras mengimbangi tusukkan mautnya kontol Jayus. Dan lantai papan ini .. berisiknyaa.. minta ampun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percepatan frekwensi genjotan kontol dan goyangan pantatku dengan cepat menggiring orgasmeku hingga ke ambang tumpah, 'Kang .. kang.. kang..kang.. aku mau keluarrcchh.. keluarrcchh.. aacchh..', aku histeris. Ternyata demikian pula kang Jayus. Genjotan terakhir yang cepatnya tak terperikan rupanya mendorong berliter-liter air maninya tumpah membanjiri kemaluanku. Keringat kami tak lagi terbendung, ngocor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian semuanya jadi lengang. Yang terdengar bunyi nafas ngos-ngosan dari kami. Dari jauh kudengar suara kodok, mungkin dari genangan air comberan di kebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersedar. Dirumah pasti suamiku gelisah. 'Kang Jayus, aku mesti cepet pulang nih ..', Dia hanya melenguh '..hheehh..'. Kulihat kontolnya ternyata masih tegak kaku keluar dari rimbunan hitam jembutnya menjulang ke langit. Apa mungkin dia belum puas?? Aku khawatir kemalaman nih. 'Ayyoo kang, pulang dulu.., kapan-kapan kita main lagi yaahh ..'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jayus bukannya bangun. Dia berbalik miring sambil tangannya memeluk tubuhku mulutnya dia tempelkan ke pipiki dan berbisik, 'Buu, aku masih kepingin..', 'Nggak ah.., aku kan takut kemalaman, nanti suamiku nyariin lagi'. 'Jangan khawatir bu.. Sebentar saja.. Aku pengin ibu mau ngisepin kontolku. Kalau diisepin cepat koq keluarnya dan aku cepat puas. Lihat aja nih, dianya nggak mau lemes-lemes. Dia nunggu bibir ibu nihh..'. Jayus menunjukkan kontolnya yang gede panjang dalam keadaan ngaceng itu. 'Ayyoo dong buu.., kasian khan .., bbuu..?!'. Dia mengakhiri omongannya sambil bangkit, menggeser tubuhnya, berdiri kemudian ngangkangin dadaku lantas jongkok. Posisi kontolnya tepat di wajahku. Bahkan tepat di depan bibirku. 'Aayyoo buu, isepin duluu.., ayyoo buu, ciumin, jilat-jilat..'. Aku jadi nggak berkutik. Aku pikir, biarlah, OK-lah, supaya cepat beres dan cepat pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuraih kontol itu, kugenggam dan kubawa kemulutku. Aku jilatin kepalanya yang basah oleh spermanya sendiri tadi. Aku rasain lubang kencingnya dengan ujung lidahku. 'Aammpuunn.. Enakkbangett..', Jayus langsung teriak kegatalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tanganku mempermainkan bijih pelernya, kontol itu aku enyotin dan jilatin. Rupanya Jayus ingin aku cepat mengulumnya. Dan dia kembali mulai memompa. Kali ini bukan memekku tetapi mulutku yang dia pompa. Pelan-pelan tetapi teratur. Dan aku.., uuhh.. merasakan kontol gede dalam rongga mulutku.., rasa asin, amis, pesing dan asem berbaur yang keluar dari selangkangan, jembutnya, bijih pelernya.., nafsuku kembali hadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pompa Jayus mencepat. Aku mesti menahan dengan tanganku agar kontol itu tidak menyodok tenggorokanku yang akan membuatku tersedak. Tidak lama ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Jayus menarik kontolnya dan tangan kanannya langsung mengocoknya dengan cepat persis didepan muluku. 'Ayoo bu, minum pejuhku.. Buu, ayo makan nih kontolkuu.. Ayoo buu..minumm..buu.. Bbbuu..', kocokkan itu makin cepat. Dan reflekku adalah membuka mulut dan menjulurkan lidahku. Aku memang pengin banget, memang menjadi obsesiku, aku pengin minum sperma si Jayus. Dan sekarang ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa banyak sperma Jayus yang tumpah kali ini. Kurasakan langsung ke mulutku ada sekitar banyak kali muncratan. Dan aku berusaha nggak ada setetespun yang tercecer. Uuuhh.., aku baru merasakan. Gurihnya sperma Jayus mengingatkan aku pada rasa telor ayam kampung yang putih dan kuningnya telah diaduk menjadi satu. Ada gurih, ada asin, ada tawarnya.. dan lendir-lendir itu ..nikmatnyaa..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pulang kuselipkan dalam genggaman si 'Min' lembaran Rp. 50 ribu. Mungkin semacam ongkos bungkam. Dia dengan senang menerimanya. Tak ada lagi jari ngutik-utik telapak tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jayus menurunkan aku di belokkan arah rumahku. Aku beri Jayus lembaran Rp. 100 ribu, tetapi dia menolak, 'Jangan bu, kita khan sama-sama menikmati.., dan terserah ibu.., kalau ibu mau, kapan saja saya mau juga .. Tetapi saya nggak akan pernah mencari-cari ibu, pemali, n'tar jadi gangguan, nggak enak sama bapaknya khan?!'. Wah.., dia bisa menjaga dirinya dan sekaligus menjaga orang lain. Aku senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumah ternyata suamiku tidak gelisah menunggu istrinya. Kebetulan ada tamunya, tetangga sebelah teman main catur. Aku cepat tanggap, 'Udah dibikinin kopi belum pak?!' ..yang terdengar kemudian .. Skak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-4610637488125314945?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/4610637488125314945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=4610637488125314945' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/4610637488125314945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/4610637488125314945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2009/01/jayus-tukang-ojek-sepeda.html' title='Jayus, Tukang Ojek Sepeda'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-3132618124666756028</id><published>2008-12-25T13:00:00.000-08:00</published><updated>2008-12-25T13:01:52.527-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pesta Sex'/><title type='text'>Gairah Dua Mantan Kekasih</title><content type='html'>Sepulang sekolah kurasakan suasana yang sepi di rumahku. Satu persatu nomor telepon teman kusambung dan tiada yang ada di rumah. Sesaat kucoba telepon mantan pacarku, ternyata ada, dan kucoba satunya lagi dan ternyata juga ada. Kuajak mereka janjian ke rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejam telah berlalu. Mereka berdua akhirnya datang. Suasana sepi rumah hilang. Akhirnya kami saling bercanda. Rian dan Anto adalah mantanku dan kami awalnya teman yang cukup akrab dan suka berkumpul bersama. Sebenarnya masih ada perasaan suka di hatiku terhadap mereka. Rasanya kurindu akan suasana dulu. Kami mulai bercanda dan duduk bersamaan. Rian memang mantanku yang agresif. Terkadang ia memegang tanganku dan juga merangkulku. Anto melihat reaksi Rian tampaknya ia tak mau kalah. Hal yang sama pun ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena mereka mantanku maka aku tidak canggung. Sebenarnya aku menyukai sentuhan-sentuhan mereka. Tahap demi tahap kejadian pun terlewati. Kadang aku dipeluk Rian dan kadang aku dipelukan Anto. Aku pun tak mau kalah, kebetulan Anto saat itu diam dan kupeluk ia dari belakang. "Rin, itu kamu empuk ya," sahut Anto sambil menggoyangkan punggungnya yang tertempel dadaku sehingga bergesekan. Kurasakan nyilu dan nikmat di putingku, dan membuatku terdiam sesaat. Kemudian,&lt;br /&gt;"Masa, sori Nto.. tapi enak ya," ucapku sambil bercanda.&lt;br /&gt;"Kayak gitu nggak enak, yang enak kayak ini," perlahan Rian menarikku dan perlahan kulepaskan Anto.&lt;br /&gt;Rian memelukku, tangannya kurasakan menyentuh dadaku dan mengusap-usapnya lalu meremas-remas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kuterdiam menahan nafas dan agak terkaget dengan sentuhan Rian. Kurasakan putingku mengeras dan menegang membuat aliran darahku terangsang keseluruh tubuh. Rasanya nyilu dan nikmat membuat seluruh tubuhku merinding dan lemas. Perlahan mengalir ketonjolan didekat saluran kencingku. Kemudian kurasakan bibir vagina dan anusku berdenyut-denyut. Kusadari aku terangsang. Untung Rian tak menyentuh selangkanganku. "Udah yan, lepasin tangannya dong!" ucapku sambil kedua tanganku melepaskan kedua tangan Rian dari dadaku. Walaupun sebenarnya kusuka, tapi kutolak karena aku terangsang. Kurasakan sebuah bibir mencium kupingku. Mataku melirik ke arah wajah tersebut dan kulihat sekilas wajah Anto. Sesaat kuterdiam kembali. Nikmat di dalam darahku mengalir kembali. Bibir Anto kemudian melumat daun telingaku. Kurasakan nikmat dan lembut mulut Anto dan membuatku tidak dapat mengelak dan menolak. Perlahan lidah Anto menjulur masuk ke lubang telingaku. "Aaahh.." hanya itu yang bisa kuucapkan. Daguku terangkat tinggi. Kurasakan putingku mengeras dan menegang menjadi sensitif. Kurasakan nyilu dan nikmat di putingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya Rian tak mau kalah. Segera tangannya meremas-remas dadaku. Perlahan kurasakan mulut Rian melumat bibirku. Lidahnya menjilati semua yang ada di mulutku. Aku hanya bisa terdiam tak bergerak, kurasakan pikiranku melayang jauh. Birahiku mengalir di dalam darahku. Tubuhku semakin sensitif dan haus akan sentuhan. Terlintas di pikiranku berharap mendapatkan yang lebih lagi. Kurasakan buaian tangan Anto di pahaku sehingga membuat daerah sensitif di selangkanganku semakin menjadi. Kurasakan rokku perlahan diangkat Anto. Tangannya mengelus-elus pahaku dari daerah paha luar, dalam dan sampai di belahan selangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlintas di pikiranku bahaya bila pembantuku melihat kejadian ini. Perlahan kulepaskan bibirku dari bibir Rian. Dengan suara yang tegang dan gemetar akhirnya dapat kuucapkan,&lt;br /&gt;"Udah dong..! Jangan ya, nanti pembantuku ngeliat."&lt;br /&gt;Akhirnya mereka berhenti.&lt;br /&gt;"Sorry ya Rin, aku kangen ama kamu," ucap Anto.&lt;br /&gt;"Aku juga, maaf ya.. abis tubuh kamu bagus nggak kayak pacar gua sekarang," sahut Rian sambil salah satu tangannya mengelus dadaku.&lt;br /&gt;"Nggak apa-apa aku juga, kita ke atas yuk!" ucapku.&lt;br /&gt;Lalu kami bergegas pindah ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai naik tangga ternyata Rian langsung memelukku sambil berjalan. Kedua tangannya menggerayangi buah dadaku. Kurasakan putingku menegang nyilu yang nikmat. Birahi mengalir dalam darahku membuatku terangsang. Kemudian kami bertiga duduk. Dan tak lama kemudian tubuhku kali ini dirangkul oleh Anto. Tangannya mengelus dan meraba pahaku, kemudian perlahan menyusup di rokku. Tak lama kemudian celana dalamku yang membentuk belahan kemaluanku terlihat jelas. Tangannya bergerak dari bagian paha luar, dalam, dan selangkanganku. Terasa bibir vaginaku berdenyut dan sensitif. Sebenarnya tanpa mereka sadari aku sedang menikmati kejadian ini dan aku terangsang. Aku berusaha menyembunyikan perasaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rina.. Paha kamu mulus.. putih.. kulit kamu lembut ya," sahut Anto dengan kedua tangan yang menikmati tubuhku. Sesaat kemudian kurasakan tangan Rian mendekap salah satu buah dadaku yang sedang terangsang. Sesaat nafasku tertahan kemudian batinku terdiam. Kurasakan nikmat di dadaku. Putingku sedang dialiri darah birahi. Perlahan daguku terangkat tinggi. Akhirnya nafasku berburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya Rian dan Anto tahu bila aku terangsang. Tanpa basa basi lagi mereka melakukan permainan selanjutnya. Perlahan tangan Rian yang mendekap dadaku turun dan menyusup kaosku. Kurasakan tangan Rian menyentuh kulit perutku dan menyusup sampai mendekap dadaku yang tertutup BH dan kemudian meremas-remas. Daguku terangkat tinggi. Kemudian bibir Rian kurasakan mengecup dan mencuimi leherku. Mataku terpejam dan kugigit lembut bibir bawahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oouuhh.." dengan pelan desahan itu keluar dari mulutku. Semakin kukeluarkan suara dari mulut maka semakin mereka menjadi. Kurasakan tali BH-ku terlepas dan BH-ku mengendor. Entah siapa yang melakukannya. Kurasakan tangan Rian mendekap dadaku secara langsung. "Aahh," kurasakan. Dadaku diremas-remas lagi dan kemudian kedua putingku dimainkan oleh Rian. Nikmatnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan BH dan kaosku diangkat. Udara pun menyentuh putingku langsung dan merangsang tubuhku. Celana dalamku dibuka Anto. Kaos dan BH-ku dilepas Rian. Rokku tidak ketinggalan. Pakaian yang menyelimuti tubuhku berserakan entah berada dimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya tiada sehelai kainpun di tubuh ini. Semakin tubuhku polos semakin buaian udara merangsang tubuhku. Rasanya tubuh ini ingin dinikmati. Perlahan tangan Anto membuat kakiku mengangkang lebar. Rasanya buaian angin merangsang paha dalam dan daerah kemaluanku dan membuatku berharap untuk mendapatkan kenikmatan. Kurasakan bibir Anto menyentuh dan mengecup bibir vaginaku. Daguku terus terangkat tinggi dan dadaku reflek membusung seakan menyodorkan diri. Kurasakan seperti ada setrum yang mengalir dari bibir vagina ke seluruh tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oouuhh.." dengan panjang kuucapkan. Kurasakan tangan Rian meremas dadaku dan memainkan putingku. Ah, dua titik sensitifku terangsang. Dengan reflek dadaku kubusungkan sesampai-sampainya. Tampaknya Rian tidak diam melihatku begini. Segera ia menghisap salah satu putingku lagi. Ah, sekarang ketiga titik sensitifku terangsang. Kurasakan jari-jari Anto perlahan masuk ke liang vaginaku. Lalu keluar lagi dan akhirnya keluar masuk dengan cepat dan serakah. Kurasakan birahiku melayang dan terangsang membuatku pasrah dan menikmati cara mereka yang sedang menikmati tubuhku. Kuarasakan kemaluanku basah. Anusku juga terkena air yang mengalir. Tampaknya Anto mengetahui hal ini. Perlahan salah satu jarinya masuk ke anusku. Semakin lama anusku licin dan jari Anto dapat keluar masuk mudah. Akhirnya jari-jari Anto keluar masuk dikedua liang tubuhku. Nikmat kurasakan dan entah mengapa semakin kusodorkan kedua liangku ke arahnya. Bibir Anto menikmati daerah pinggang dan perutku. Aah, seperti listrik mengalir dalam darahku dan juga daerah daerah tubuhku yang mereka sentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kuterbaring dan kulihat Anto melepaskan celananya. Kulihat miliknya terhunus dan ia tujukan ke liang vaginaku. Kurasakan sentuhan miliknya di bibir vaginaku. Perlahan-lahan masuk. Dagu dan dadaku terangkat tinggi. "Aaahh.." kuucapkan sambil akhirnya milik Anto menancap dalam di liang vaginaku. Kemudian ia keluar-masukkan. Kurasakan gesekan milik Anto keluar masuk. Nikmat rasanya sampai-sampai anusku berdenyut-denyut. Mataku setengah terpejam dan kadang-kadang tubuhku goyang karena tak tahan merasakan nikmat. Sekilas terlihat Rian melepaskan celananya. Kulihat miliknya lalu ia tempelkan ke mulutku. Kurasakan di bibirku dan tampaknya aku menyukainya. Perlahan miliknya dimasukkan ke dalam mulutku. Entah mengapa mulutku terangsang. Lalu kudekap milik Rian dengan tanganku. Kuayun-ayunkan dan kuhisap dengan mulutku. Kurasakan seluk beluknya dan kunikmati dengan lidah dan mulutku. Kujilat, kuhisap, kutelan dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian kurubah posisiku jadi mengungging. Dengan begini mulutku dapat menikmati milik Rian yang terhunus. Perlahan kurasakan kenikmatan yang berbeda. Milik Anto perlahan ia cabut dari liang vaginaku dan kemudian ia hunuskan ke anusku yang kurasakan berdenyut-denyut nikmat. Perlahan ia masukkan ke anusku yang sudah terangsang, basah dan longgar karena jemarinya. Akhirnya tertancap dalam dan ia keluar masukkan dengan pelan. Karena sudah licin maka ia keluar-masukkan dengan cepat dan akhirnya menyembur cairan di liang anusku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ouuhh.." kuucapkan sambil menikmati semburan yang Anto keluarkan. Setelah itu Anto mendiamkan miliknya diam tertancap. Sesaat kemudian ia mainkan lagi. Anusku sangat licin karena cairannya. Kadang ia keluarkan dulu dan kemudian dia tancapkan lagi. Tampaknya ia sengaja. Karena setiap tancapan aku mendesah karena merasakan nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian kurasakan banyak cairan yang menyembur dari milik Rian. Karena kubenar-benar terangsang maka kurasakan nikmat. Lalu kutelan dan entah mengapa malah membuatku tambah terangsang. Setelah habis kulepaskan hisapanku. Rian terdiam. Anto menarik pundakku. Sehingga ia dapat memelukku dari belakang. Tangannya meraba-raba dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan ia berdiri dan aku tergantung di miliknya yang menancap. Kulihat Rian menghampiriku lagi. Kurasakan miliknya ia tancapkan ke liang vaginaku. Ah, aku diapit. Kurasakan kedua liangku mereka masuki. Dan akhirnya kami sama-sama sampai puncak dan puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana rumah yang sepi sangat merangsang kami. Kemudian aku ajak mereka ke kamarku. Di sana tubuhku mereka nikmati lagi dan lagi. Aku pun menikmatinya juga. Karena gairah kami yang tinggi maka kami lakukan berulang-ulang. Sampai disaat kuhisap milik mereka dan tiada cairan yang mereka keluarkan di mulutku dan liangku. Kurasakan tak ada semburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah malam akhirnya kami jalan keluar bertiga. Kami jalan-jalan dengan mobilku yang kaca filmnya hampir 100%. Kami main di utara Jakarta. Kemudian kami buat mobil goyang sampai jam 04:00 pagi. Tentu kami melakukan istirahat. Dan kami keluar dan balik jam 04:00 lebih. Tampaknya gairah seumur kami memang fit. Anto dan Rian bergiliran menyetir. Dan diperjalanan tiada sehelai kainpun di tubuhku. Kondisi kaca mobil yang memungkinkan sehingga selepas dari mojok aku pun masih bercinta dengan mereka. Sampai-sampai penjaga karcis pun tidak melihat tubuh polosku. Diperjalanan aku duduk di belakang dan mereka bergiliran bercinta denganku. Mungkin karena tubuhku yang lebih unggul dari cewek-cewek lain jadi mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan yang jarang ini. Dan mereka terus menikmati tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-3132618124666756028?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/3132618124666756028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=3132618124666756028' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/3132618124666756028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/3132618124666756028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2008/12/gairah-dua-mantan-kekasih.html' title='Gairah Dua Mantan Kekasih'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-2140074665355182420</id><published>2008-12-25T12:59:00.000-08:00</published><updated>2008-12-25T13:00:11.826-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Aib Membawa Sengsara</title><content type='html'>Aku ingin menceritakan pengalaman nyata teman ayahku yang selalu kudengar dari mulut ke mulut. Nama teman ayahku adalah Gunawan, dia adalah seorang pemuda yang cukup tampan dari kalangan orang strata atas. Sebenarnya posisinya lebih tinggi dari ayahku tetapi karena aib yang telah menimpanya (yang akan kuceritakan di kisah ini), membuat posisi yang sangat diidam-idamkan oleh semua orang di kantor ayahnya hanya tinggal impian bagi Gunawan. Saat itu dia memegang posisi sebagai Vice President tetapi karena aib itu terpaksa posisinya digantikan oleh ayahku, tetapi walau demikian Gunawan bisa menerimanya dan tetap menganggap ayahku sebagai temannya walaupun tidak begitu akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunawan tinggal di daerah Pondok Indah dan semenjak orang tuanya pindah ke Semarang, dia hanya ditemani oleh seorang pembantu rumah tangga yang masih gadis. Nama pembantu itu adalah Rini. Rini bekerja di keluarga Gunawan sejak Gunawan masih bersekolah di TK, jadi Rini sudah dianggap sebagai keluarga sendiri oleh keluarga Gunawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu adalah hari senin (menurut pengakuan Gunawan kepadaku), saat itu adalah hari pertama dia menjadi Vice President di kantor tempat ayahku bekerja. Gunawan berhasil mengalahkan semua kandidat yang ingin menjadi Vice President termasuk ayahku. Kebanggaan menjadi Vice President membuat Gunawan menjadi lupa diri, dia meliburkan diri karena dia merasa bahwa perusahaan gas bumi yang cukup terkenal di Jakarta telah hampir jatuh ke tangannya. Selama perjalanan ke rumah, dia menggoyang-goyangkan kepala sambil mendengarkan lagu Metallica kesukaannya. Akhirnya Gunawan sampai di rumah dan duduk di serambi depan. Gunawan memanggil Rini untuk menyiapkan kopi yang menjadi kegemarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian muncullah sosok Rini yang hanya mengenakan BH dan celana dalam memberikan secangkir kopi kepada dirinya. Gunawan sempat kaget karena tidak biasanya Rini memakai pakaian seperti itu, Rini menjelaskan bahwa dia memakai demikian karena dia baru saja selesai mandi dan dia berpakaian seadanya untuk menemui Gunawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunawan menjadi gugup melihat pemandangan yang menggairahkan di depan matanya karena secara jujur Rini secara sekilas mirip dengan finalis sabun LUX yang sering muncul di TV apalagi dia selalu memakai sabun LUX yang membuat tubuhnya selalu harum dari jauh. Gunawan tidak bisa menutupi dirinya bahwa dia terangsang melihat pemandangan ini terbukti dari batang kemaluannya yang sudah menegang dan seakan-akan memaksa keluar dari celana kerjanya. Untuk menghilangkan gairah seksual karena melihat tubuh Rini yang indah, Gunawan meluangkan waktu untuk membaca surat kabar Kompas yang berada di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, nafsu seksual Gunawan yang cukup tinggi tidak dapat diredam hanya dengan membaca surat kabar. Gunawan bangkit dari kursinya dan mendekati Rini yang sedang memotong daging untuk sarapan Gunawan. Gunawan berkata, "Rin, aku mau tidur dulu sebentar, jika ada telpon bangunkan aku ya", dan Rini cuma mengiyakan perkataan Gunawan. Setelah itu, Gunawan beranjak pergi dari Rini menuju ke kamar tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya saat itu Gunawan tidak bisa tidur nyenyak karena dia masih terbayang oleh sosok molek Rini yang selama ini dia selalu anggap sebagai seseorang yang membantu urusan di rumah. Sosok pembantu rumah tangga telah berubah menjadi obsesi seksual bagi Gunawan, sehingga secara sadar ataupun tidak sadar, Gunawan mulai membuka celananya dan mengelus-elus batang kemaluannya yang semakin lama semakin besar dan dia mulai mengocoknya dengan ritme yang teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat Gunawan sedang bermasturbasi ria, tiba-tiba dia dikejutkan oleh masuknya Rini ke dalam kamarnya sambil mengatakan, "Den, ada telpon, katanya dari petugas Asuransi.. ahh.." dan setelah itu dia menutup matanya mungkin karena malu melihat tuannya sedang memperlihatkan batang kemaluannya yang besar dan mengocoknya dengan ritme yang teratur. Gunawan menjadi kaget dan dia langsung menghentikan masturbasinya dan mulai mendekati Rini yang sedang menutup matanya dengan kedua tangannya. Gunawan dengan mendadak langsung menyerang Rini dan memeluknya dengan beringas. Rini menjadi takluk karena bagaimanapun Gunawan adalah majikannya yang selalu dia turuti selama bertahun-tahun semenjak dia masih berumur 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunawan mulai memeluk Rini dan mengangkat Rini ke ranjang yang tidak jauh dari posisi Rini berdiri. Rini sama sekali tidak memberikan perlawanan dan nampaknya dia mulai mendesah-desah ketika lidah Gunawan mulai menjilati liang kenikmatan Rini yang sudah semakin basah. Dengan nafsunya yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun, Gunawan merobek pakaian Rini sehingga sekarang Rini telah telanjang bulat dan tanpa membuang waktu, Gunawan mencium payudara Rini yang lumayan besar sambil jari-jarinya memainkan klitoris dan liang kenikmatan Rini yang sudah semakin basah. Rini semakin menyukai permainan ini dan di hadapannya dia tidak lagi menganggap Gunawan sebagai sosok majikan, dia menganggap Gunawan sebagai sosok laki-laki jantan yang berusaha membantu Rini untuk mendapatkan kepuasan batin yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya dan dia tidak bisa menolak bahwa sebenarnya sejak dulu, dia sangat mencintai majikannya yang bernama Gunawan ini dan sekarang dia sedang bercinta dengan dream lovernya dan dia merasakan ini semua seperti mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Rini menyadari bahwa ini semua adalah kenyataan karena Rini bisa mencium Den Gunawan yang sangat dia sayangi dan dia mencium Gunawan bagai seorang kekasih. Hingga akhirnya permainan jari-jari Gunawan di selangkangan Rini memberikan puncak kenikmatan yang tidak pernah di terima oleh Rini sebelumnya. Rini menjadi gemetar dan memeluk kepala Gunawan yang sedang mencumbunya dan pada saat dia mencium Gunawan, dia mendesis panjang karena dia sadar bahwa dia sedang mengalami puncak kenikmatan yang sangat dinanti-nanti oleh seorang wanita di saat senggama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rini kelelahan karena dia baru saja melepaskan nafsu birahinya akan tetapi Gunawan masih belum puas karena di saat Rini sedang beristirahat dengan menutup matanya, Gunawan memainkan batang kemaluannya yang sudah menegang di sekitar liang kenikmatan dan klitoris Rini. Hal ini membuat nafsu Rini menjadi naik kembali dan dia mendesah-desah dan memohon kepada Gunawan untuk sesegera mungkin memasukkan batang kemaluannya. Mendengar permintaan Rini kemudian Gunawan memasukkan batang kemaluannya dengan perlahan-lahan ke dalam liang kewanitaan Rini dan Rini sempat menggigit bibir bagian bawahnya karena merasakan kesakitan di saat batang kemaluan Gunawan yang cukup gagah menantang itu memasuki goa kenikmatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunawan mendiamkan batang kemaluannya di dalam liang kewanitaan Rini untuk beberapa saat sambil memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Rini. Ketika liang kewanitaan Rini dapat menerima kehadiran batang kemaluan Gunawan, Gunawan mulai menggoyangkan selangkangannya sehingga batang kemaluannya di dalam liang kenikmatan Rini mulai mengocok-ngocok dinding liang kewanitaan Rini. Rini tidak bisa membohongi perasaannya karena dia sangat menyukai permainan tuannya. Dengan perkasa, Gunawan mengangkat tubuh Rini yang sedang tiduran sehingga dia sekarang sedang bersenggama dengan Rini dalam posisi duduk. Gunawan terus menaik-turunkan tubuh Rini yang sangat seksi itu dan dengan refleks, Rini mencium Gunawan sambil mendesis-desis kenikmatan yang membuat Gunawan semakin mempercepat gerakan selangkangannya yang sedang mengocok liang kenikmatan Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, Gunawan tidak puas dengan posisi duduk yang dia lakukan secara cukup lama, dia kemudian menyuruh Rini berdiri dan menyandar ke meja rias yang berada di belakangnya. Rini menuruti perintah pujaannya itu dan dia bersandar di meja rias yang selalu dipakai oleh Gunawan sebelum dia pergi ke kantor. Ketika perintah dilakukan, Gunawan langsung memasukkan batang kemaluannya yang masih tegang dan mulai basah oleh cairan kewanitaan Rini ke dalam anus Rini. Rini menjadi sangat kesakitan karena dia belum pernah menerima anal sex sebelumnya, tetapi lama-kelamaan dia mulai menyukai permainan ini dan dia malah mengusap-usap batang kemaluan tuannya yang sudah masuk ke dalam anusnya dengan tangan kirinya dari depan dan di saat yang bersamaan dia mengulum jari-jarinya sambil mengeluarkan desahan-desahan yang cukup erotis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bermenit-menit melakukan doggy style, Gunawan akhirnya melepaskan batang kemaluannya dari dalam anus Rini dan menyuruh Rini untuk berada di posisi atasnya. Rini menyetujui usul itu dan ketika Gunawan tiduran di ranjang, Rini mulai berada di atas tubuh Gunawan dan berusaha memasukkan batang kemaluan Gunawan ke dalam liang kenikmatannya. Rini sudah terbiasa oleh ukuran batang kemaluan Gunawan sehingga dia tidak merasa sakit ketika batang kemaluan Gunawan masuk ke dalam liang kewanitaannya. Rini bergoyang-goyang ke kiri ke kanan membentuk suatu sensasi sendiri bagi Gunawan dan Gunawan berkata, "Rinn, gue sukaa bangett.. gue udah gak tahan nih" Kata-kata Gunawan yang bercampur desahan membuat Rini semakin bersemangat dan mempercepat gerakannya. Gunawan mendesah sambil mendelikkan matanya di saat dia mengetahui bahwa Rini sedang bergetar hebat karena dia sedang melepaskan hasratnya dan dia merasakan bahwa batang kemaluannya sedang dialiri oleh cairan kenikmatan dari Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunawan juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri karena pijitan liang kewanitaan Rini terhadap batang kemaluannya akan segera meledakkan puncak nafsunya. Memang benar karena tidak lama kemudian, Gunawan memeluk Rini dengan erat sekali sambil memuntahkan cairan spermanya ke dalam liang kewanitaan Rini. Gunawan sempat bergetar hebat untuk waktu 2 menit karena melepaskan cairan spermanya yang seakan-akan tiada henti itu. Gunawan kemudian memeluk Rini dan mencium bibirnya sambil membiarkan batang kemaluannya yang semakin lama semakin melemah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu terulang sampai lebih dari beberapa kali yang berakibat Rini mengandung bayi dari Gunawan dan hal ini membuat banyak orang malu atas aib yang dialami oleh Gunawan, sehingga perusahaan di mana dia bekerja dan sanak keluarganya tidak mengenal Gunawan lagi dan sekarang dia telah pindah ke Cirebon. Dari berita terakhir yang aku terima, Gunawan bekerja sebagai penjaga kedai makanan Sunda di Cirebon. Sungguh malang nasib Gunawan karena dari Vice President menjadi penjaga kedai makanan hanya karena dia terbawa hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-2140074665355182420?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/2140074665355182420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=2140074665355182420' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/2140074665355182420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/2140074665355182420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2008/12/aib-membawa-sengsara.html' title='Aib Membawa Sengsara'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-2671497563065146550</id><published>2008-12-25T12:56:00.000-08:00</published><updated>2008-12-25T12:58:55.289-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Umum'/><title type='text'>Akhir Pekan Terindah</title><content type='html'>Aku sudah berkeluarga, tapi aku punya WIL yang juga sangat kucintai. Aku sudah menganggap ia sebagai istriku saja. Karena itu aku akan memanggilnya dalam cerita ini sebagai istriku. Dari obrolan selama ini ia mengatakan bahwa ia ingin melihatku 'bercinta' dengan wanita lain. Akhirnya tibalah pengalaman kami ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang di hari Sabtu itu terasa panas sekali, tiupan AC mobil yang menerpa langsung ke arahku dan 'istriku' kalah dengan radiasi matahari yang tembus melalui kaca-kaca jendela. Aku sedang melaju kencang di jalan tol menuju arah Bogor untuk suatu keperluan bisnis. Seperti telah direncanakan, kubelokkan mobil ke arah pom bensin di Sentul. setelah tadi tak sempat aku mengisinya. Dalam setiap antrian mobil yang cukup panjang terlihat ada gadis-gadis penjaja minuman berenergi. Sekilas cukup mencolok karena seragamnya yang cukup kontras dengan warna sekelilingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sederetan gadis-gadis itu tampak ada seorang yang paling cantik, putih, cukup serasi dengan warna-warni seragamnya. Ia terlalu manis untuk bekerja diterik matahari seperti ini walaupun menggunakan topi. Tatkala tersenyum, senyumnya lebih mengukuhkan lagi kalau di sini bukanlah tempat yang pantas baginya untuk bekerja. Aku sempat khawatir kalau ia tidak berada di deretanku dan aku masih hanyut dalam berbagai terkaan tentangnya, aku tidak sempat bereaksi ketika ia mengangguk, tersenyum dan menawarkan produknya. Akhirnya dengan wajah memohon ia berkata, "Buka dong kacanya.." Segera aku sadar dengan keadaan dan refleks membuka kaca jendelaku. Istriku hanya memperhatikan, tidak ada komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meluncurlah kata-kata standar yang ia ucapkan setiap kali bertemu calon pembeli. Suaranya enak didengar, tapi aku tak menyimaknya. Aku malah balik bertanya, "Kamu ngapain kerja di sini?"&lt;br /&gt;"Mom, kita kan masih perlu sekretaris, kenapa tidak dia aja kita coba."&lt;br /&gt;"Ya, boleh aja", jawab istriku.&lt;br /&gt;"Gimana mau?" tanyaku kepada gadis itu.&lt;br /&gt;"Mau.. mau Mas", katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kenalan sebentar dan saling tukar nomor telepon, kulanjutkan perjalananku setelah mengisi bensin sampai penuh. Istriku akhirnya tahu kalau maksudku yang utama hanyalah ingin 'berkenalan' dengannya. Ia sangat setuju dan antusias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam sekitar jam 20:00 HP istriku berdering, sesuai pembicaraan ia akan datang menemui kami. Setelah diberi tahu alamat hotel kami, beberapa saat kemudian ia muncul dengan penampilan yang cukup rapi. Ia cepat sekali akrab dengan istriku karena ternyata berasal dari daerah yang sama yaitu **** (edited), Jawa Barat. Tidak sampai setengah jam kami sudah merasa betul-betul sebagai suatu keluarga yang akrab. Ia sudah berani menerima tawaran kami untuk ikut menginap bersama. Ia sempat pamit sebentar untuk menyuruh sopir salah satu keluarganya untuk pulang saja, dan telepon ke saudaranya bahwa malam itu ia tidak pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cerita kesana-kemari akhirnya obrolan kami menjurus ke masalah seks. Setelah agak kaku sebentar kemudian suasana mencair kembali. Kini dia mulai menimpali walau agak malu-malu. Singkat cerita dia masih perawan, sudah dijodohkan oleh keluarganya yang ia belum begitu puas. Keingintahuannya terhadap masalah seks termasuk agak tinggi, tapi pacarnya itu sangat pemalu, termasuk agak dingin dan agak kampungan walau berpendidikan cukup. Kami ceritakan bahwa dalam masalah seks kami selalu terbuka, punya banyak koleksi photo pribadi, bahkan kali ini kami ingin membuat photo ketika 'bercinta'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah ah, kita sambil tiduran aja yuk ngobrolnya", ajak istriku.&lt;br /&gt;"Nih kamu pakai kimono satunya", kata istriku sambil memberikan baju inventaris hotel. Sedangkan aku yang tidak ada persiapan untuk menginap akhirnya hanya menggunakan kaos dan celana dalam. Ia dan istriku sudah merebahkan badannya di tempat tidur, kemudian aku menghampiri istriku langsung memeluknya dari atas. Kucumbu istriku dari mulai bibir, pipi, leher, dan buah dadanya. Istriku mengerang menikmatinya. Aku menghentikan cumbuanku sejenak kemudian meminta tamu istimewaku untuk mengambil photo dengan kamera digital yang selalu kami bawa. Tampak ia agak kikuk, kurang menguasai keadaan ketika aku menolehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku mengajarinya bagaimana menggunakan kamera yang kuberikan itu, kemudian kuteruskan mencumbu istriku. Dengan telaten kucumbu istriku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kini tamuku tampaknya sudah menguasai keadaan, ia dengan leluasa mengintip kami dari lensa kamera dari segala sudut. Akhirnya istriku mencapai klimaksnya setelah liang senggamanya kumainkan dengan lidah, dengan jari, dan terakhir dengan batang istimewaku. Sedangkan aku belum apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang gantian Rin, kamu yang maen aku yang ngambil photonya", kata istriku.&lt;br /&gt;"Ah Mbak ini ada-ada aja", kata Rini malu-malu.&lt;br /&gt;Sebagai laki-laki, aku sangat paham dari bahasa tubuhnya bahwa dia tidak menolak. Dalam keadaan telanjang bulat aku berdiri dan langsung memeluk Rini yang sedang memegang kamera. Tangan kirinya ditekuk seperti akan memegang pinggangku, tapi telapaknya hanya dikepal seolah ragu atau malu. Kuraih kamera yang masih di tangan kanannya kemudian kuberikan kepada istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku lebih leluasa memeluk dan mencumbunya, kuciumi pipi dan lehernya, sedang tanganku terus menggerayang dari pundak sampai lekukan pantatnya. Pundaknya beberapakali bergerak merinding kegelian. Kedua tangannya kini ternyata sudah berani membalas memelukku. Kemudian aku memangkunya dan merebahkannya di tempat tidur. Kukulum bibir mungilnya, kuciumi pipinya, kugigit-gigit kecil telinganya, kemudian kuciumi lehernya punuh sabar dan telaten. Ia hanya mendesah, kadang menarik nafas panjang dan kadang badannya menggelinjang-gelinjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terlalu susah aku membuka kimononya, sejenak kemudian tampak pemandangan yang cukup mempesona. Dua bukit yang cukup segar terbungkus rapi dalam BH yang pas dengan ukurannya. Kulitnya putih, bersih dengan postur badan yang cukup indah. Sejenak aku menoleh ke bawah, tampak pahanya cukup menawan. Sementara itu onggokan kecil di selangkangan pahanya yang terbungkus CD menambah panorama keindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak menolak ketika aku membuka BH-nya, demikian juga ketika aku melepaskan kimononya melewati kedua tangannya. Kuteruskan permainanku dengan mengitari sekitar bukit-bukit segar itu. Seluruh titik di bagian atasnya telah kutelusuri tidak ada yang terlewatkan, kini kedua bukti itu kuremas perlahan. Ia mendesah, "Eeehh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala kukulum puting susunya, badannya refleks bergerak-gerak, desahnya pun semakin jelas terdengar. Kuulangi lagi cumbuanku dari mulai mengulum bibirnya, mencium pipinya, kemudian lehernya. Kemudian kuciumi lagi bukit-bukit indah itu, dan kemudian kupermainkan kedua puting susunya dengan lidahku. Gelinjangnya semakin terasa bergerak mengiringi desahannya yang terasa merdu sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petualanganku kuteruskan ke bagian bawahnya. Ia mencegah ketika aku akan membuka CD-nya yang merupakan pakaian satu-satunya yang tersisa. "Ya nggak usah dibuka" ujarku, "Aku elus-elus aja ya bagian atasnya pakai punyaku", bujukku. Ia tidak bereaksi, tapi aku langsung saja menyingsingkan CD-nya ke bawah. Tampaklah dua bibir yang mengapit lembah cintanya dihiasi bulu-bulu tipis. Kupegang burungku sambil duduk mengangkang di atas kedua pahanya, kemudian kuelus-eluskan burung itu ke ujung lembah yang sebagian masih tertutup CD. Agak lama dengan permainan itu, akhirnya mungkin karena ia juga penasaran, maka ia tidak menolak ketika kulepaskan CD-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kamu sama-sama telanjang, tak satu helai benang pun yang tersisa. Kuteruskan permainan burungku dengan lebih leluasa. Tak lama kemudian cairan kenikmatannya pun sudah meleleh menyatakan kehadirannya. Burungku pun lebih lancar menjelajah. Tapi karena lembahnya masih perawan agak susah juga untuk menembusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kucoba untuk memasukkan burungku ke dalam lembah sorganya, tampak bibir-bibir kenikmatannya ikut terdorong bersama kepala burungku. Menyadari alam yang dilaluinya belum pernah dijamah, aku cukup sabar untuk melakukan permainan sampai lembah kenikmatannya betul-betul menerimanya secara alami. Gelinjang, desahan, dan ekspresi wajahnya yang sedang menahan kenikmatan membuatku semakin bersemangat dan lebih percaya diri untuk tidak segera ejakulasi. Ia sudah tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Akhirnya kepala burungku berhasil menembus lubang kenikmatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuteruskan permainanku dengan mengeluarkan dan memasukkan lagi kepala burungku. Ia merintih kenikmatan, ia pasrah saja dengan keadaan yang terjadi, karena itu aku yakin bahwa rintihan itu bukan rintihan kesakitan, kalaupun ada, maka akan kalah dengan kenikmatan yang diperolehnya. Selanjutnya kulihat burung yang beruntung itu lebih mendesak ke dalam. Aku sudah tidak tahan untuk memasukkan seluruh burungku ke tempatnya yang terindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kurebahkan badanku di atas tubuhnya yang indah, kuciumi pipinya sambil pantatku kugerakkan naik turun. Sementara burungku lebih jauh menjangkau ke dalam lembah nikmatnya. Akhirnya seluruh berat badanku kuhempaskan ke tubuh mungil itu. Dan.., "Bless.." seluruh burungku masuk ke dalam surga dunia yang indah. Ia mengerang, gerakan burungku pun segera kuhentikan sampai liang kewanitaannya menyesuaikan dengan situasi yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah agak lama aku pun mulai lagi memainkan gerakan-gerakanku dengan gentle. Kini ia mulai mengikuti iramaku dengan menggerak-gerakkan pinggulnya. Selang berapa lama kedua tangannya lekat mencengkram punggungku, kakinya ikut menjepit kedua kakiku. Kemudian muncul erangan panjang diikuti denyut-denyut dari lembah sorganya. "Eeehh.." desahnya. Aku pun sudah tidak tahan lagi untuk menumpahkan seluruh kenikmatan, segera kucabut burungku kemudian kumuntahkan di luar dengan menekan ke selangkangannya. "Eeehh.." erangku juga. Kami berdua menarik nafas panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah agak lama kemudian aku duduk, kuraih kaos dalamku kemudian aku mengelap selangkangnya yang penuh dengan air kenikmatanku. Tampak tempat tidurnya basah oleh cairan-cairan bercampur bercak-bercak merah. Ia pun segera duduk, sejenak dari raut wajahnya tampak keraguan terhadap situasi yang telah dialaminya. Aku dan istriku memberi keyakinan untuk tidak menyesali apa yang pernah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok paginya aku sempat bermain lagi dengannya sebelum check out. Betul-betul suatu akhir pekan yang susah dilupakan. Akhirnya ia kutitipkan bekerja di perusahaan temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-2671497563065146550?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/2671497563065146550/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=2671497563065146550' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/2671497563065146550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/2671497563065146550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2008/12/akhir-pekan-terindah.html' title='Akhir Pekan Terindah'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-866351529579802760</id><published>2008-12-01T21:13:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T21:13:00.733-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sesama Pria'/><title type='text'>Aan, Valentinku - 7</title><content type='html'>Saat itu, kami merasa seolah-olah tubuh kami melebur menjadi satu. Penis kami yang tadinya sudah melemas, kini bangkit lagi. Aan hanya memandangku sambil tersenyum mesum. Saya tahu apa yang Aan mau, dia mau bersetubuh denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau yach?" bujuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa dibujuk, saya juga sudah mau. Tetap memeluk tubuhku, Aan menggesek-gesekkan alat kelaminnya. Batang itu mengetuk-ngetuk lubang anusku. Sisa cairan sperma Aan menempel di belahan pantatku. Aan dan saya saling bertatapan muka, napasnya mengenai wajahku. Lalu, dengan sebuah ciuman mesra, Aan memulai penetrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmpphh.. Mmpphh.." erangku saat lubang anusku dibuka paksa oleh penisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun selama lima tahun Aan setiap hari menyodomiku, lubang pantatku tetap rapat. Saya selalu membiasakan diri untuk melatih otot anusku, maka anusku selalu ketat. Aan tidak perlu memakai kondom lagi, karena kami berdua bersih. Maka, dengan lumuran spermanya, Aan memasuki tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmpphh.." erangku saat bibir anusku mulai membuka dan menelan batang kelaki-lakian Aan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oohh.. Batang itu merayap masuk. Dinding duburku yang gatal akan penis terasa nikmat sekali saat bergesekkan dengan batang Aan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhoohh.." desah Aan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun turut merasakan kenikmatan yang teramat sangat saat menyodomiku. Senyum mesumnya masih terpampang di wajahnya yang tampan itu. Saya suka tiap kali Aan tersenyum, sebab wajahnya menjadi semakin ganteng. Bless.. Akhirnya penisnya sudah masuk seluruhnya. Kehangatannya menyebar ke seluruh tubuhku. Selama beberapa menit, kami hanya saling berpelukan saja. Denyutan-denyutan penis Aan membuat duburku gatal, ingin disodomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.. Endy.. I love you.. Oohh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Aan menggeliat-geliat, memposisikan penisnya. Setelah mendapat posisi yang nyaman, Aan mulai menggenjot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.. Oohh.. Aahh.." erangku, panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aan membuatku semakin gila dengan nafsu karena dia menyodomiku pelan sekali. Mula-mula, penisnya ditarik mundur sampai kepalanya hampir keluar. Lalu Aan pelan-pelan mendorong masuk penisnya itu sedalam-dalamnya. Kemudian, ritme ini diulang-ulang terus. Memang terasa nikmat, tapi saya menjadi semakin terangsang. Batang kelaki-lakianku menjulang tinggi, basah dengan precum dan sisa pejuh. Ada dorongan kuat untuk mengocok-ngocok penisku, tapi penisku terperangkap di bawah tubuh Aan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritme penetrasi Aan secara tak langsung menyebabkan perutnya bergesek-gesekan dengan penisku. Sungguh nikmat rasanya. Dan saya sungguh menikmati setiap detik dari saat-saat intimku bersama Aan. Ingin rasanya waktu berhenti agar Aan dapat terus menyodomiku tanpa henti. Tanpa mengenal lelah, penis itu terus menerus dihujamkan ke dalam anusku. Bagaikan piston mesin, penis itu bergerak keluar masuk dengan irama yang konstan. Aan nampak sangat menikmati pantatku sebab dia tak henti-hentinya mendesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.. Hhoohh.. Oohh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih banyak precum dikeluarkan dari lubang penisnya, melumasi dinding lubang pelepasanku. Sesekali, kepala penisnya menghajar prostatku dan hal itu membuatku semakin terangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhoohh.. Fuck.. Aahh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin lama, ritme penetrasinya mulai meningkat. Sodokannya pun menguat sehingga saya harus mengerang tiap kali penisnya disodokkan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aarggh!! Oohh!! Aarggh!! Aarrgghh!!" erangku, tubuhku terguncang-guncang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Aan mengangkat tubuhku, penisnya masih tertancap di dalam anusku. Saya terkejut dan buru-buru berpegangan dengan erat. Untuk sementara, penetrasi terhenti namun penis kami berdua tetap menegang. Dengan susah payah, Aan menggendongku turun dari ranjang. Kelopak-kelopak mawar yang masih melekat di tubuh kami satu-persatu jatuh berguguran ke atas lantai berkarpet. Agak terhuyung-huyung, karena harus menahan berat badanku, Aan berjalan ke arah tembok. Bersandar pada tembok, Aan mendapat kekuatan ekstra untuk menyodomiku sambil menggendongku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhoohh.. Sayang.. Aahh.." desah Aan-ku, wajahnya agak sedikit letih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penetrasi pun dilanjutkan. Penis Aan kembali menghunjam masuk sedalam-dalamnya. Saya sampai berteriak karena penis Aan seolah-olah akan keluar dari dalam mulutku. Aan sengaja menggunakan berat badanku untuk membantu penetrasi. Harus kuakui, seks dengan gaya ini memberi kenikmatan lebih daripada seks gaya biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aarrgghh.. Aarrgghh.." erangku, tetap berpegangan pada tubuh Aan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penisku yang tegang masih terperangkap di antara perutku dan perutnya, tergesek-gesek. Prostatku terstimulasi dengan hebat tiap kali penis Aan bergerak masuk. Aahh.. Jika berlangsung terus, saya pasti akan mencapai klimaks. Saya pasti akan ngecret!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhoohh.. Aan.. Aahh.. Mau keluar.. Hhohh.." desahku, memeluk tubuhnya erat-erat.&lt;br /&gt;"Aahh.. Aku juga.. Aahh.. Endy.. Mau kelluuaarr.. Aargghh.." desah Aan, matanya terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otot-otot tubuhnya berkontraksi hebat untuk menopang berat tubuhku. Untuk sesaat, saya merasa seolah-olah sedang disodomi oleh seorang pria berotot. Dan hal itu malah membuatku makin terangsang. Akhirnya, saya pun berejakulasi dan berorgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aarrgghh!! Oohh!! Aarrgghh!! Aan!! Oohh!! Aarggh!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku mengejang-ngejang, hampir terlepas dari genggaman Aan. Namun Aan yang kuat memelukku makin erat untuk meredam goncangan orgasmeku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Air maniku muncrat ke atas beberapa kali dalam jumlah banyak. Dada dan perut kami basah dan licin berlumuran sperma. Muncratan pejuhku bahkan terpercik ke wajah kami. Saat orgasme, otot anusku juga berkontraksi, memeras batang penis Aan tanpa ampun. Diperas-peras seperti itu, penis Aan tak kuasa menahan tumpahan spermanya. Maka, Aan pun berejakulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh!! Aarrgghh!! Uugghh!! Aarrgghh!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan erangan berat dan panjang, Aan menyemprotkan cairan kejantanannya ke dalam duburku. Air mani yang kental dan hangat itu tersembur masuk dalam sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Sel-sel sperma Aan langsung berebutan untuk berenang mencari sel ovum untuk dibuahi. Aan sedang menghamiliku! Tapi karena saya laki-laki, sel-sel sperma itu diserap oleh tubuhku. Sebagian dari diri Aan kini berada di dalam tubuhku. Aan dan saya telah bersatu, dan tak ada yang dapat memisahkan kami, kecuali kematian. Penis Aan berdenyut-denyut dengan liar sampai tak ada lagi sperma yang keluar dari lubang kencingnya. Aan-ku langsung melemas. Punggungnya perlahan-lahan meluncur menuruni tembok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelelahan, Aan terduduk di atas lantai berkarpet. Napasnya terengah-engah, keringat membasahi wajah dan dadanya. Penisnya yang masih menancap di dalam anusku melemas dan mengecil. Sebagian sperma Aan mengalir keluar dari anusku, melumuri pahanya. Gurat-gurat lelah memang masih nampak pada wajah Aan, tapi senyum kepuasan juga mengembang. Dengan romantis, Aan menciumi bibirku. Kucium balik, menyambut lidahnya dengan lidahku. Kami berdua saling berpelukan dan berciuman, tak terpisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih, Aan, sayang. Aku sayang banget ama kamu," bisikku.&lt;br /&gt;"Aku juga, honey. Aku senang bahwa kamu suka ama kejutanku," balas Aan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penisnya yang sudah sepenuhnya lemas pelan-pelan meluncur keluar dari lubang anusku yang berlumuran sperma. Kami berdua kemudian bangkit dan pindah ke ranjang. Akibat permainan seks tadi yang sangat panas dan melelahkan, kami berdua langsung tertidur nyenyak di ranjang mawar. Aroma mawar masih memenuhi hidungku. Kepalaku bersandar di atas dada Aan yang bidang sementara badanku dipeluk olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat sebelum saya tertidur pulas, kudengar Aan berbisik, "Aku mencintaimu, Endy.. Selamanya.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, mungkin khayalanku tentang hidup bahagia bersama Aan hanya dapat terjadi dalam angan-anganku saja. Aan tidak percaya bahwa pasangan homoseksual dapat hidup bahagia di Indonesia karena masih ditentang nilai agama dan moral. Meskipun demikian, dia pernah mengatakan bahwa jika ingin hidup bersama, kami harus pindah jauh ke tempat di mana tak ada seorang pun yang mengenal kami. Namun saya tak berani berharap banyak. Cinta Aan padaku mungkin hanyalah cinta semusim, yang akan mati begitu tiba saatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi cintaku padanya adalah cinta sejati dan takkan pernah mati. Selamanya saya akan tetap mencintainya, tak peduli apakah dia menjadi milikku atau tidak. Saya tahu Aan akan selamanya sayang padaku, namun saya takut bahwa rasa sayangnya itu akan hanya sampai sebatas teman saja, sedangkan saya ingin agar Aan sudi menjadi pendamping hidupku. Saya tak meminta banyak; hanya minta dicintai. Mengapa, dalam hidupku, saya tak pernah merasakan kebahagiaan sejati dari sebuah cinta? Mengapa semua pria yang pernah kucintai tak ada yang sudi hidup bersamaku dan mencintaiku selamanya? Mengapa saya selalu saja disakiti oleh cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku diburamkan oleh air mata. Segera kuseka. Sulit rasanya untuk menahan isak tangis ini. Namun dengan sisa tenagaku, saya tetap melanjutkan membaca emailku. Saya ingin memastikan bahwa saya tidak mengetikkan hal-hal yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedih sekali memikirkan kepergianmu ke Arab karena saya akan sangat kesepian dan kehilangan dirimu. Takkan ada lagi senyumanmu yang menawan. Takkan ada lagi kehangatan pelukanmu. Takkan ada lagi yang memanggilku sayang. Ingin rasanya kuminta agar kamu tak pergi. Ingin rasanya saya berkata, "Aan, jangan pergi. Tetaplah di sini. Saya amat membutuhkan cinta dan kasih sayangmu. Saya mencintaimu. Kumohon, cintailah aku.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sungguh takut bahwa setelah dua tahun, kamu akan berhenti mencintaiku sebagai seorang kekasih. Sekarang saja, kamu sudah mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa kamu ingin menjalani kehidupan heteroseksual:(Apa yang akan terjadi denganku tanpa cintamu, tanpa perhatianmu, dan tanpa perlindunganmu? Siapa yang akan mencintaimu? Tak ada pria lain sebaik kamu, Aan. Semalaman saya menangisimu, berharap kamu akan berubah pikiran. Jika kau memintaku untuk menunggu kepulanganmu agar nanti kita bisa menjadi pasangan, saya akan menunggu dengan setia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika suatu hari kamu melamarku dan memintaku untuk menjadi kekasihmu, saya pasti akan langsung menjawab ya. Dan saya akan menangis bahagia dalam pelukanmu. Saya akan menjadi pria gay yang paling bahagia di dunia. Saya tak ingin apa-apa darimu; hanya ingin cintamu saja. Memang terdengar gombal dan basi, tapi itulah yang sebenarnya. Dari semua pria yang pernah kukenal, kamulah yang paling tulus menyayangiku. Jika saja kamu tahu isi hatiku dan besarnya cintaku padamu, mungkinkah kamu akan menerimaku sebagai pendamping hidupmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu pernah bilang bahwa kamu ingin hidup 'normal', punya seorang istri dan anak-anak. Saya tak punya hak untuk mengikatmu bersamaku karena saya bukan apa-apa-mu. Cinta sejati takkan menyakiti hati orang yang kita kasihi dan saya tak ingin menyakiti hatimu. Hatiku akan sangat hancur membayangkanmu hidup dengan orang lain, apalagi dengan seorang wanita. Tapi saya harus rela melepasmu, jika itu memang keputusanmu, membiarkanmu menjalani hidupmu dengan orang lain. Asalkan kamu bahagia, saya juga bahagia. Satu yang kuminta, jangan pernah lupakan aku. Ingatlah selalu bahwa, dalam hidupmu, ada seorang pria yang sangat mencintaimu, yaitu aku. Saya akan selalu berada di sini untukmu. Kamu akan selalu menjadi Aan-ku yang tersayang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluk hangat dan ciuman mesra,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasihmu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mataku kembali mengalir saat selesai membaca emailku. Saya tahu bahwa isi emailku takkan dapat mencegah kepergiannya, tapi setidaknya Aan akan tahu isi hatiku yang paling dalam. Tanpa berpikir panjang, kutekan tombol 'send'. Dalam beberapa detik, emailku telah disampaikan. Monitorku masih menyala saat program Winamp-ku secara otomatis memainkan file MP3 lagu Jim Brickman yang lain, yaitu 'The Gift' (Pemberian) yang sangat romantis. Tangisan bisuku pecah menjadi isakan, mendengar lirik lagu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.. All I want is to hold you forever (Yang kuinginkan adalah memelukmu selamanya)&lt;br /&gt;All I need is you more every day (Yang kubutuhkan adalah kamu, lagi dan lagi, tiap hari)&lt;br /&gt;You saved my heart from being broken apart (Kau menyelamatkan hatiku yang hampir pecah berkeping-keping)&lt;br /&gt;You gave your love away (Kau memberikan cintamu)&lt;br /&gt;I can't find the words to say (Saya tak dapat menemukan kata-kata untuk mengatakan)&lt;br /&gt;That I'm thankful everyday (Bahwa saya sangat bersyukur setiap hari)&lt;br /&gt;For the gift.. (Atas pemberian ini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aan memang pemberian yang amat berharga dari Tuhan. Saya selalu bersyukur telah diberi kesempatan untuk mengenal Aan. Dan mungkin sudah tiba saatnya bagiku untuk mengembalikan pemberian ini. Andai saja saya dapat tetap menyimpan pemberian ini selamanya. Andai saja Aan sudi hidup bersamaku.. Tak peduli apa yang akan terjadi di masa depan, Aan akan selalu berada di hatiku. Saya akan selalu mengenang semua saat-saat indah bersamanya dan mencintainya, sampai ajal menjemputku kelak. Aan, Valentineku, di mana pun kau berada, saya akan selalu mencintaimu. Selalu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-866351529579802760?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/866351529579802760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=866351529579802760' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/866351529579802760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/866351529579802760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2008/12/aan-valentinku-7.html' title='Aan, Valentinku - 7'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-8998856688520249017</id><published>2008-12-01T21:12:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T21:12:00.747-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sesama Pria'/><title type='text'>Aan, Valentinku - 6</title><content type='html'>Di sudut ruangan tertata sebuah meja makan kecil berhiaskan lilin untuk candle-light dinner. Hatiku sungguh terharu sampai saya meneteskan air mata. Kutatap wajah Aan dan kulihat dia memberiku sebuah senyuman yang paling menawan. Dengan tangis haru, kupeluk Aan-ku erat-erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makasih.. Atas semuanya, sayang.." isakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Aan yang penuh dengan cinta membelai-belai kepalaku. Kami mulai berciuman mesra. Bibirku membuka, membiarkan lidah Aan menyelinap masuk. Di dalam mulutku, lidahnya bergerak-gerak dan menyapu-nyapu. Gigi dan gusiku dijilat-jilat, terutama pada bagian langit-langit mulutku. Rasanya sangat erotik apalagi saat dijilati, Aan memelukku erat-erat sehingga saya merasa tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibirnya kemudian memagut-magut bibirku. Brewoknya yang tipis menggesek daguku, memberi kesan macho dan jantan. Udara di sekitar kami mulai terasa panas dan menyesakkan meskipun kamar itu dilengkapi dengan air conditioner. Pakaianku lepas satu-persatu, kubiarkan Aan melucutinya. Mula-mula kemejaku jatuh ke lantai, lalu disusul celana panjangku. Saya hampir tak menyadari saat Aan akhirnya berhasil memelukku dalam keadaan telanjang bulat. Ketika saya tersadar sepenuhnya, Aan dan saya sudah bertelanjang bulat. Penisnya yang tegang mendesak-desak selangkanganku, minta dipuaskan. Noda precum melumuri pahaku. Rupanya Aan sudah tegang sejak tadi, pantas saja penisnya basah sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu basah banget?" tanyaku, tetap berada di dalam pelukannya.&lt;br /&gt;"Ya, sayang. Sejak tadi siang, saya sudah memikirkanmu. Kita bercinta, yuk. Udah gak tahan lagi nih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aan membuat ekspresi memelas yang kocak dan saya tak tahan untuk tidak tersenyum. Atas kemauanku sendiri, saya berlutut di depan tubuh telanjang Aan dan mulai menyedot batang kemaluanya. Batang itu masih tetap sama walau lima tahun sudah berlalu. Seiring dengan berjalannya waktu, saya makin mahir dalam menyepong penis. Lidahku, dengan lincah, membelai-belai kepala penis Aan. Air liurku membungkus kemaluannya, membuatnya semakin licin. Tetesan precum yang mengalir dari lubang penis Aan kuhabiskan tanpa mengeluh. Rasanya enak sekali, asin-asin manis. Aan membelai-belai kepalaku sambil mengerang-ngerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.. Hhoohh.. Hisap terus, honey.. Oohh.. Buat saya ngecret.. Aahh.. Hisap, sayang.. Hhoosshh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui bahwa Aan puas dengan servisku, saya senang sekali. Hanya itu yang kuinginkan: memuaskan Aan. Kutambah tenaga hisapanku dan Aan mengerang makin kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhoohh..!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak precum yang mengalir keluar. Bahkan penisku sendiri juga membocorkan precum ke atas lantai. Karena saya terangsang berat tapi tak ada yang dapat menolongku maka saya mengocok-ngocok penisku sendiri. Mulutku masih saja telaten menghisap batang kejantanan Aan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SLURP! SLURP! SLURP! Mm.. Enak sekali. Suara hisapanku bergema ke mana-mana. Untung saja, kamar itu agak kedap suara sehingga kami bebas mengerangkan kenikmatan yang kami rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmpphh.. Mmpphh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Precum yang mengalir keluar dari lubang penis Aan semakin banyak. Saya berpesta pora menjilati alat kelaminnya. Kebetulan, precum adalah cairan kesukaanku. Desahan Aan pun terdengar semakin kencang. Penisnya mulai digerak-gerakkan, menyodomi mulutku. Saya hanya berlutut diam dan membiarkan Aan memakai mulutku. Aan memegang kepalaku dan megontrol irama penetrasinya. Semakin lama, Aan semakin bergairah dan ritmenya pun meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.. Hhoohh.. Aahh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sodokannya menjadi keras dan bertenaga sampai-sampai batang kelaminnya mencapai tenggorokanku. Berkat pengalaman, saya kini sudah biasa memberikan servis oral sedalam itu. Kubungkukkan badanku sedikit agar penis Aan dapat lebih leluasa menyodomi tenggorokanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh!! Aahh!!" Erangan Aan mengeras, nampak akan segera berejakulasi. Cairan precum yang meleleh dari penis Aan turun meluncur perlahan di kerongkonganku.&lt;br /&gt;"Oohh.. Endy.. Oohh.. Saya mau.. Aahh.. Ngecret.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan itu, Aan mencabut batang kejantanannya dari mulutku dan membiarkanku menghisapnya sampai klimaks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh!! Saya keluaarr.. Aarrgghh!!" erang Aan, menyodokkan batang penisnya dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekejab, kepala kemaluannya mengembang sesaat dan kemudian menyemprotkan air mani bertubi-tubi. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Cairan kental kelaki-lakian yang hangat itu membanjiri mulutku. Dengan lahap, kutelan semua. Sebelumnya, saya memang ogah menelan air mani Aan. Bukan karena tidak suka, tapi karena takut terkena AIDS mengingat Aan dulu adalah seorang 'playgay'-gay yang suka gonta-ganti pasangan. Tapi setelah kami berdua dinyatakan bebas HIV, kami tak sungkan-sungkan memadu kasih. Aahh.. Enak sekali. Kutelan semua sperma Aan. Terasa lental dan asin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh!! Uugghh!! Hhoohh!! Aarggh!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aan masih saja terus mengerang dan mengejang sampai tetes sperma yang penghabisan. Setelah itu, dengan napas panjang, Aan melemas. Meski melemas, Aan masih sanggup berdiri. Dengan lembut, dia memelukku kembali. Tanpa saya duga, Aan langsung menggendongku. Tubuh telanjangku kini berada di dalam genggaman kedua tangannya yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, seperti layaknya pasangan pengantin baru, Aan menggendongku ke ranjang. Perlahan, dia membaringkanku di atas ranjang mawar itu. Aroma mawar kembali memenuhi lubang hidungku. Segar sekali dan juga harum. Aan juga ikut naik ke atas ranjang, namun dia menghampiri kemaluanku yang setengah tegang. Tanpa berpikir lagi, Aan memain-mainkan penisku. Pelan tapi pasti, penisku mulai menegang dan mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.. Hhoohh.." desahku, tubuhku mengeliat-geliat seperti ular.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Aan langsung mencaplok batang kejantananku. Batangku dikulum-kulum. Ah, saya langsung terbang melayang. Dulu penisku memang masih berkulup. Namun, kulup itu tak dapat kuturunkan semauku karena mulutnya terlalu kecil sehingga kepala penisku tak dapat menyembul keluar. Saat menegang, penisku nampak aneh karena masih tetap terbungkus kulup. Ketika Aan dan saya hidup bersama, Aan membawaku ke dokter dan, atas keputusan bersama, saya disunat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saya sudah terbiasa dan dapat menikmati bagaimana rasanya dioral. Aan memang seorang penghisap penis yang jago. Entah di mana dia belajar ilmu itu. Yang pasti Aan melambungkanku ke langit ketujuh. Setiap hisapannya begitu bertenaga dan nikmat. Lidahnya, dengan ahli, menyapu-nyapu kepala penisku yang sensitif, membuatku mengerang-ngerang dan mengejang-ngejang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.. Enak, Aan.. Hhoohh.. Aahh.." desahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang kejantananku meluncur keluar masuk mulut Aan, bahkan sesekali mencapai tenggorokannya. Aan terus saja menghisap dengan sepenuh hati. Kedua buah zakarku sesekali diremas-remas agar tekanan di dalam kantung penyimpan spermaku bertambah. Jika tekanan bertambah, sperma akan muncrat keluar. SLURP! SLURP! Hisapan Aan mulai membuatku gila dengan kenikmatan. Semakin lama, saya menjadi semakin dekat ke puncak orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhoohh.. Aahh.." Di saat napasku semakin berat, tiba-tiba Aan menusukkan jari telunjuknya masuk ke dalam anusku.&lt;br /&gt;"Aarrgghh!!" erangku. Tusukan dari jari itu memang terasa agak sakit karena Aan tidak memakai lotion, tapi rasanya tetap nikmat.&lt;br /&gt;"Aahh.. Oohh.. Aan.. Hhoohh.. Mau kkeelluuaarr.. Aarrgghh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Cairan maniku tersemprot keluar. Aan langsung menampung semua pejuhku di dalam mulutnya. Saya terus-menerus mengerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aarrggh!! Aahh!! Oohh!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala penisku menjadi jauh lebih sensitif pada saat ejakulasi sehingga kenikmatanku berlipat ganda. Tubuhku bergetar dan mengejang, tak kuasa menahan gejolak orgasmeku yang begitu dahsyat. Ketika semuanya berakhir, saya merasa lemas sekali. Aan berpindah, dari penisku ke mulutku. Kubuka bibirku dan Aan menyambutnya. Cairan maniku yang sempat tertampung di dalam mulutnya mengalir masuk ke dalam mulutku. Kami saling berciuman dengan mesra sambil berbagi sperma. Setengah kutelan, dan setengahnya lagi ditelan oleh Aan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ooh.. Indahnya bercinta.. Kami kembali saling berpelukan sampai akhirnya kami berdua kelelahan dan harus beristirahat sejenak. Aan membaringkan tubuhnya di sampingku, sambil membelai-belai rambutku. Terbaring di sana dengan Aan di dekatku terasa seperti mimpi. Air mataku kembali mengalir saat Aan kupeluk dengan segenap cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih, Aan. Terima kasih atas segalanya. Saya amat mencintaimu," bisikku, air mataku menempel di wajahnya yang tampan.&lt;br /&gt;Aan menyeka air mataku seraya berkata, "I love you, too. Semenjak kita hari pertama kita bertemu, saya sudah tahu bahwa kita pasti akan bersama. Saya lega bahwa ternyata saya tidak salah memilih pasangan hidup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ciuman mesra mengakhiri kata-katanya. Lidahnya menyeruak masuk dan bertemu dengan lidahku. Bibir kami saling berciuman, lapar akan cinta. Aan dan saya berguling-guling di atas ranjang mawar; kelopak-kelopak mawar menempel di tubuh kami. Kaki kami saling melingkar, tangan kami saling memeluk, dan tubuh kami saling menghangatkan. Noda-noda sperma melekat di badan kami akibat pergesekkan dengan penis kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-8998856688520249017?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/8998856688520249017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=8998856688520249017' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/8998856688520249017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/8998856688520249017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2008/12/aan-valentinku-6.html' title='Aan, Valentinku - 6'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-6003899945565238023</id><published>2008-12-01T20:51:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T20:51:00.888-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sesama Pria'/><title type='text'>Aan, Valentinku - 5</title><content type='html'>Aan mencoba sebisanya untuk membuatku semakin terangsang. Kata-katanya memang berhasil menaikkan dorongan orgasmeku karena saya langsung ngecret pada waktu itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ccrrott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Spermaku menyembur-nyembur dan membuat lantai kamar mandiku belepotan. Tubuhku mengejang-ngejang saat orgasme menguasaiku. Aan langsung memelukku dan mencaplok mulutku dengan mulutnya. Berorgasme sambil berciuman terasa jauh lebih merangsang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmpphh!! Mmpphh!! Mmpphh!!" erangku, tertahan di dalam mulut Aan. Pelukan Aan mengendor saat orgasmeku selesai.&lt;br /&gt;"Aahh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badanku langsung melemas. Lalu saya ingat bahwa Aan belum ngecret. Namun Aan tak mau dengan alasan bahwa dia kegerahan. Saya tentunya tak dapat memaksanya walaupun sebenarnya saya ingin sekali melihat Aan terpuaskan. Setelah saya membersihkan diri, saya dibawa Aan kembali ke ranjangku. Di sana, kami hanya tidur-tiduran sambil berpelukan. Tubuh kami masih telanjang bulat; lebih enak rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aan memelukku dan menunjukkan betapa dia sangat menyayangiku. Saya hampir menangis terharu saat dia menyandarkan kepalaku di atas dadanya. Ini adalah pengalamanku yang pertama bermesra-mesraan secara romantis di atas ranjang dengan seorang pria. Kudengar detak jantungnya, berirama tetap dan menghanyutkan. Dengan lembut, Aan membelai-belai rambutku. Kubalas dengan memeluknya. Saat itu sungguh sangat indah. Jika saja waktu dapat kuhentikan pada saat itu, sebab saya ingin berada dalam pelukannya selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersadar bahwa saya rupanya sedang memeluk diriku sendiri. Tiba-tiba saya merasa sangat bodoh. Kupandang jam di sudut monitorku, menunjukkan hampir jam 11 malam. Saya jadi bertanya-tanya: apa yang sedang Aan lakukan pada saat itu? Apakah dia juga sedang memikirkanku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya melanjutkan membaca emailku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kita saling mengenal, kita sudah sering 'kencan' di mall. Kamu selalu penuh kasih dan perhatian dan saya sangat berterima kasih. Kamu selalu bersikap layaknya seorang pria sejati. Saat makan, kamu selalu mentraktirku dan saya juga tak pernah mengeluhkan makanan yang kamu belikan untukku. Sat saya butuh pelukan hangat, kamu slelau siap memelukku dan menciumiku. Sungguh, susah rasanya menemukan pria lain sebaik dirimu, Aan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aan, kasihku, masih ingat saat kita berdua berkencan di Mall Taman Anggrek? Saat itu, kukatakan padamu bahwa saya tak mau terikat denganmu. Dan ternyata, kamu pun menginginkan hal yang sama. Saya bersumpah bahwa saya telah berusaha sekuatku untuk berhenti mencintaimu, tapi saya tidak bisa. Cinta tak dapat dibohongi. Aan, saya tak mau kehilanganmu. Kenapa kita harus bertemu jika hanya untuk segera berpisah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kenapa saya harus jatuh cinta padamu? Saya terus-menerus menanyakan hal itu pada diriku, namun tak pernah mendapatkan jawaban. Semenjak bertemu denganmu, saya telah belajar banyak hal tentang cinta. Aan sayang, apa yang harus kulakukan agar kamu sudi membalas cintaku? Apa yang harus kulakukan agar kamu mau tetap di sisiku selamanya, mencintaiku sebagai seorang kekasih? Katakan padaku..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah lagu romantis milik pianis tampan Jim Brickman mengalun dari speaker komputerku, dimainkan secara otomatis oleh program Winamp-ku. Saya sempat tertegun sejenak sebab lagu itu sangat mengingatkanku pada Aan. Aan lahir tepat pada hari Valentine's Day, dan judul lagu itu adalah Valentine. Jadi, Aan adalah Valentine-ku yang tercinta. Martina Mcbride menyanyikannya dengan penuh perasaan, menghanyutkanku dalam lamunanku. Air mataku yang tadi sudah hampir mengering, kini kembali mengalir. Setiap kata dalam lirik lagu itu terasa begitu menyentuh; benar-benar merupakan ungkapan perasaanku pada Aan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All of my life I have been waiting for (Seumur hidupku, saya telah menantikan) All you give to me (Semua yang kau berikan untukku) You've opened my eyes (Kau telah membuka mataku) And shown me how to love unselfishly (Dan menunjukkan cara mencintai dengan tulus) I've dreamed of this a thousand times before (Kuimpikan hal ini ribuan kali) But in my dreams I couldn't love you more (Tapi di dalam mimpiku, saya tak dapat mencintaimu lebih) I will give you my heart until the end of time (Akan kuberikan hatiku sampai akhir waktu) You're all I need, my love, my Valentine.. (Kau yang kubutuhkan, cintaku, Valentine-ku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubayangkan dalam benakku alangkah indahnya jika Aan dan saya tinggal bersama sebagai pasangan. Setiap saat, saya akan dapat bersamanya: menghiburnya saat dia sedih, menyemangatinya saat dia putus asa, melayani semua kebutuhannya termasuk seks, dan juga mencintainya seumur hidupku. Saya tak mengharapkan kehidupan mewah bersamanya. Yang kuinginkan hanyalah dia. Hanya Aan seorang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ilusi indah muncul dalam benakku. Dapat kulihat masa depanku bersama Aan-ku yang tersayang. Kubayangkan bahwa dalam lima tahun mendatang, kami berdua telah hidup bersama dalam sebuah rumah sederhana yang indah. Aan sering pulang sore dari kerja sementara saya mengurus rumah sambil mengerjakan pekerjaan terjemahan sebagai pekerjaan sampinganku. Kehidupan kami bergulir dengan damai. Meskipun demikian, kami tidak memamerkan gaya hidup homoseksual kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada para tetangga, kami mengaku sebagai rekan kerja. Memang sulit untuk hidup seperti itu, tapi dengan Aan apapun dapat kuhadapi dengan tabah! Tak ada yang kutakutkan selama Aan besertaku. Suatu sore Aan pulang dengan wajah capek. Ketampanannya masih nampak meskipun agak ditenggelamkan oleh kepenatan. Membanting tubuhnya ke atas sofa di ruang tamu, Aan buru-buru melonggarkan dasinya. Saya bergegas melayaninya dengan membawakan segelas air dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makasih, honey," jawabnya sambil menegak habis air itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai partner hidup yang baik, saya beralih ke belakang sofa dan memberikan pijat gratis pada Aan. Pundaknya pasti pegal setelah bekerja seharian. Tapi Aan memegang tanganku sambil menoleh ke arahku. Mukanya jelas nampak letih, namun sebuah senyum tetap mengembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang, kamu ingat hari apa ini?"&lt;br /&gt;"Hari apa?" ulangku, tak mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, melakukan pekerjaan rumah seharian membuatku lupa akan hari dan tanggal. Saya sama sekali tak bisa mengingat tanggal jika tidak melihat kalender. Pertanyan Aan membuatku curiga, takut kalau saya telah melupakan hari penting. Tapi hari apa yang kulupa? Aan tidak menjawab pertanyaanku. Dia bangkit berdiri dan langsung memelukku. Memang, tiap pulang kerja, Aan pasti bermesra-mesraan dulu bersamaku. Tapi, kali ini, Aan lebih mesra dan bernafsu dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Happy anniversary, darling," bisiknya sambil mencium bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya langsung tersadar. Bagaimana mungkin saya lupa akan hari sepenting itu? Hari itu tepat lima tahun Aan dan saya bertemu. Tanggal 4 Juli. Kami sengaja memakai hari itu sebagai hari jadi kami, berhubung kami tidak mempunyai tanggal pernikahan. Waktu memang cepat berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun setelah hari itu, Aan dan saya telah bertambah umur: saya 29 tahun dan Aan 35 tahun. Sebagai pasangan gay, lima tahun termasuk jangka waktu yang lumayan sebab banyak pasangan gay berpisah karena dorongan untuk hidup secara heteroseksual, ataupun karena masalah selingkuh. Rasa bosan tak pernah ada dalam hubungan kami sebab cinta takkan membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciuman Aan di bibirku terasa menggelora dengan cinta dan nafsu. Lima tahun sudah kulalui bersamanya. Aan adalah 'suami'ku dan kami berdua sangat bahagia. Kubuka mataku dan kulihat wajah Aan begitu penuh dengan cinta. Hatiku sungguh bahagia dan terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, Aan.. I love you."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya itu yang dapat kukatakan karena saya kemudian tenggelam dalam lautan cinta dan hasrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita ke hotel yuk," usul Aan tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya saya menolak karena hal itu merupakan suatu pemborosan yang tak perlu, tapi Aan tetap mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayolah, sekali ini saja. Kita 'kan butuh perubahan. Siapa tahu malah nanti kamu makin terangsang dan ketagihan ML di hotel," goda Aan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak mudah mengajakku tapi setelah Aan meyakinkanku berulang-ulang, saya menyerah. Maka kami pun berangkat ke hotel dengan mobil kami; Aan yang menyetir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di sana, kami berlaku seperti sepasang teman baik. Kami tak mau menarik perhatian. Saya agak heran saat Aan langsung berjalan masuk tanpa melewati bagian resepsionis. Aan hanya tersenyum nakal padaku sambil menunjukkan kartu pembuka pintu kamar padaku. Rupanya Aan sudah terlebih dahulu memesan kamar tanpa sepengetahuanku. Dalam pikiranku, saya bertanya-tanya apa yang sedang Aan lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tutup matamu, honey," bisiknya saat kami sudah berdiri di depan pintu kamar kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menurut saja karena ingin secepatnya tahu apa yang terjadi. Kudengar suara pintu terbuka dan Aan membimbingku masuk, mataku masih tertutup. Aroma bunga mawar begitu menusuk hidungku, saya makin penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang buka matamu, sayang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mataku terbuka, sebuah pemandangan indah terpampang di hadapanku. Aan menyiapkan ranjang mawar untukku; ranjang hotel itu tertutup kelopak-kelopak mawar. Pantas saja aroma mawar sangat tajam saat saya melangkah masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-6003899945565238023?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/6003899945565238023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=6003899945565238023' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/6003899945565238023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/6003899945565238023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2008/12/aan-valentinku-5.html' title='Aan, Valentinku - 5'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-5912923846743111383</id><published>2008-11-30T20:45:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T20:45:01.099-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sesama Pria'/><title type='text'>Aan, Valentinku - 4</title><content type='html'>Pertempuran pertama pun dimulai di ruang tamu. Aan dan saya sudah bertelanjang bulat dengan penis ngaceng. Duduk dengan santai, Aan sengaja mengencang-ngencangkan penisnya sehingga batang itu nampak berkedut-kedut dengan liar. Precum yang dilelehkan keluar terperangkap dalam kondom. Dengan lembut, Aan menolongku duduk di atas batangnya. Mula-mula terasa sulit karena batang Aan tak pernah gol. Tapi setelah lubangku ditemukan, batang itu langsung menghunjam masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bleess..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.." desahku, wajahku agak meringis, sakit bercampur nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segurat kekhawatiran nampak di wajah Aan. Tapi karena saya sudah mulai melenguh-lenguh dengan nimat, Aan mulai mempenetrasiku. Penisnya yang perkasa itu pun mulai bergerak masuk lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aarggh.." desahnya, napasnya tersembur ke wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dengan cepat, batangnya dimundurkan keluar. Lalu dimasukkan kembali, begitu seterusnya, dengan ritme tetap dan mantap. Batang kelaki-lakiannya membawa sejuta kenikmatan yang tak terkatakan. Dengan bentuk penisnya yang agak bengkok, secara anatomi, prostatku jarang tersentuh. Untuk merangsangnya, Aan harus memiringkan tubuhnya agar penisnya dapat menyapa prostatku. Tapi dalam anus terdapat berjuta-juta sel syaraf. Jika mereka terangsang, kenikmatan tetap akan datang. Dan itulah yang sedang kualami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.. Aan.. Enak banget.. Oohh.. I love you.. Aahahh.. Fuck me.. Aarrgghh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berusaha meringankan tubuhku agar Aan dapat lebih mudah dan leluasa memasuki tubuhku. Dengan kedua tangannya yang kuat, Aan mengangkat dan menurunkan tubuhku. Dua keuntungan sekaligus: melatih otot dan kenikmatan seksual. Napsnya terdengar semakin berat saat rasa letih mulai mendatanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun nafsunya tetap berkobar dan Aan tetap semangat bersetubuh denganku. Kami berdua seperti sepasang bintang porno homoseksual yang terbakar libido. Kami mengerang dan saling berciuman, tangan kami meraba-raba, dunia serasa milik kami berdua saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aarrgghh.. Oohh.." desah Aan, matanya terpejam sementara bibirnya asyik menciumiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eranganku tak kalah hebat dibanding erangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.. Yyeeaahh.. Aan.. Fuck me.. Oohh.. Fuck.. Aarrgghh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibir kami saling berpagutan seperti ular dan tangan kami sibuk meremas dan meraba. Semakin saya menyemangatinya, semakin Aan bernafsu. Oh, dia memang sungguh jantan! Tubuh kami berguncang-guncang mengikuti irama persetubuhannya. Akal sehat kami hilang dan yang tersisa hanyalah hasrat untuk saling memuaskan dan untuk dipuaskan. Penisku basah dan licin dengan precum. Sebagian mengenai dada Aan yang padat berisi; sebagian dengan otot dan sisanya dengan lemak. Dadanya begitu enak untuk diremas-remas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan dada adalah bagian yang paling kusuka dari seorang pria, apalagi yang berisi. Kedua puting Aan yang agak lebar dan berwarna kecoklatan juga tak luput kumainkan. Dari semua pria yang pernah meniduriku, Aan-lah yang paling kusuka. Tiba-tiba, Aan bangkit dari sofa. Kaget, saya berpegangan erat-erat pada tubuhnya. Kedua tanganku kulingkarkan di lehernya dan kedua kakiku pada pinggangnya. Saat sudah berdiri dengan sempurna, meski agak kepayahan karena harus mengangkat tubuhku, Aan mulai melakukan penetrasi. Pinggulnya mulai bekerja, maju-mundur. Alhasil penisnya pun juga ikut bergerak masuk dan keluar. Kami berdua serentak mendesah-desah akibat rasa nikmat yang kami dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aarrgghh.. Hhoohh.. Uugghh.. Aahh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Aan dengan kuat memegangi tubuhku. Kurasakan otot-ototnya berkontraksi dengan hebat, sungguh macho. Terus-menerus kuerangkan namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aan.. Oohh.. Aan.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski gaya penetrasi ini asyik, tapi butuh banyak tenaga sehingga Aan dan saya langsung lemas. Akhirnya kami putuskan untuk mengganti gaya. Saat Aan mencabut penisnya dengan perlahan, saya mendesah-desah, menikmatinya. PLOP! Batang kejantanannya sudah tercabut keluar. Wajah Aan nampak cemas melihat kondomnya yang agak kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang? Kamu berdarah?" Kugeleng-gelengkan kepalaku.&lt;br /&gt;"Tidak, kok. Kalo berdarah, pasti sakit. Sedangkan saya gak merasa sakit sama sekali. Malahan enak banget." Kucoba untuk menenangkannya.&lt;br /&gt;"Tapi tadi mukamu meringis-ringis kesakitan. Saya jadi takut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aan-ku yang baik memang sangat perhatian. Dia tak mau melukaiku dengan batangnya. Saya yakin, jika saya benar-benar terluka pada saat itu, Aan pasti akan lebih memilih untuk tidak melanjutkan persetubuhan sejenis yang belum usai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya meringis bukan karena sakit, tapi karena nikmat. Enaknya tak terkira. Dan soal bercak kemerahan itu, mungkin aja 'ee'-ku. Sudahlah, sayang. Jangan khawatir. Saya gak 'Pa-Pa, kok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucium bibirnya yang seksi itu dan kami pun kembali terkunci dalam ciuman maut. Selain kepribadiannya yang baik, wajahnya yang rupawan, dan dadanya yang berisi, saya sangat tertarik apda bibirnya. Bibir Aan agak tebal dan seksi. Tebal di sini bukan berarti dower seperti Mandra. Tapi tebalnya bibir Aan itu proposional dan enak untuk dicium. Bibirnya mengingatkanku pada bibir salah satu kontestan pria Indonesian Idol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku sih, bibir Aan agak mirip dengan bibir milik Lucky Octavian. Dan nampaknya Aan juga berpikir demikian. Saya sering tersenyum sendiri bila memikirkan hal itu. Mungkin karena itulah, dari semua peserta, saya paling suka dengan Lucky. Tapi bagaimana pun juga, Aan jauh lebih tampan daripada Lucky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persenggamaan kami berlanjut di kamar tidur. Saat itu adalah saat pertama kalinya Aan dan saya bercinta di atas ranjangku. Bagiku, hal itu penting sekali karena saya merasa seolah-olah sedang menjalani malam pertamaku dengannya. Dengan pasrah, dan tentunya bahagia, saya berbaring telentang di ranjang. Sebuah guling diselipkan Aan di bawah punggungku. Tanpa ragu, kubuka selangkanganku. Dan tereksposlah lubang anusku yang berkedut-kedut. Sisa-sisa lotion masih melekat di daerah pantatku, namun Aan mengoleskan lagi sejumlah lotion. Setelah semuanya siap, Aan mulai memasuki tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aarrgghh.." desah Aan-ku saat kemaluannya kembali mengoyak anusku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PLOP! Tanpa kesulitan yang berarti, penisnya masuk seluruhnya. Dan bersarang di dalamnya. Kehangatan mulai menyebar dan merasuki tubuhku. Oh, nikmatnya disetubuhi oleh pria yang kita puja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.. Gimana, sayang? Enak?" tanya Aan, megap-megap menahan nikmat. Dengan desahan nikmat, kujawab.&lt;br /&gt;"Enak, sayang.. Aahh.. Enak banget.. Oohh.. Fuck me.. Aarrgghh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuremas-remas dadanya untuk menunjukkan betapa saya sedang terbakar libido. Aan mengerti dan langsung saja mempenetrasiku dengan ritme tetap. Penisnya keluar masuk dalam kecepatan yang sama, seakan seperti mesin yang sudah diatur. Sodokannya kuat dan nikmat, mampu merangsang setiap sel syaraf di dalam duburku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.." erangku, panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku terguncang-guncang mengikuti irama penetrasinya. Penisku yang tegang nampak agak melambai-lambai, akibat dari guncangan-guncangan itu. Percikan precumku menyebar ke mana-mana. Sementara itu keringat mulai membanjiri tubuh kami. Namun keringat Aan-lah yang paling banyak. Tubuh Aan yang seksi itu mengkilap-kilap. Tetesan-tetesan keringatnya jatuh ke atas tubuhku. Bagiku, hal itu seksi sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aan makin bernafsu untuk menuntaskan hasratnya. Semakin dia menggenjot tubuhku, semakin keras eranganku. Bukan karena sakit, melainkan karena rasa nikmat yang tak terlukiskan. Kutatap wajah Aan yang basah berkeringat. Dia tersenyum padaku dan memberiku hadiah sebuah ciuman. Oh, Aan selalu berhasil membiusku dengan ciumannya. Saya merasa tak berdaya tiap kali dia memeluk atau menciumiku. Dengan kuatnya, Aan menarik tubuhku mendekat agar penisnya amblas lebih dalam lagi. Saya hanya dapat mengerang, terasa nikmat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.. Hhoohh.. Aahh.." Kejantanan Aan membuatku mabuk dengan nafsu. Saya hanya ingin disodomi terus-menerus.&lt;br /&gt;"Aahh.. Yyeeaahh.. Fuck me.. Oohh.. Aahh.." Napasku tak beraturan, terasa berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genangan precum di pusarku sudah penuh dan akhirnya mengalir menuruni sisi perutku. Saya sungguh tak kuat lagi, merasa ingin berejakulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.. Aan.. Uugghh.. Mau keluar.. Uugghh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungku berdegup kencang saat orgasmeku hampir menjelang. Tapi akal sehatku mencegahku. Bagaimana jika cairan spermaku tertumpah ke ranjang? Orangtuaku pasti tahu. Aan rupanya juga mengerti, maka dia berhenti menyodomiku. Dengan lembut, Aan membimbingku ke kamar mandi. Di sana, saya dapat menumpahkan spermaku sepuasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mencabut kondom, Aan mulai merangsangku. Penisnya yang setengah tegang itu digesek-gesekkan di belahan pantatku, seolah sedang menyodomiku. Terasa precumnya menempel di pantatku. Memejamkan mataku, saya mengocok penisku seagresif mungkin. Satu yang ada di benakku, ejakulasi. Orgasmeku yang tadi sempat terputus kini mulai dibangun kembali. Pelan tapi pasti, tekanan di dalam buah zakarku mulai meningkat. Hal itu berpengaruh pada irama napasku yang mulai menjadi berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhoohh.. Aan.. Hhoohh.. Mau keluar.. Oohh.. Aahh.."&lt;br /&gt;"Ya, keluarkan saja, sayang. Jangan ditahan. Semprotkan saja. Ayo, Endy sayang, semprotkan pejuhmu.. Aahh.. I love you.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-5912923846743111383?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/5912923846743111383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=5912923846743111383' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/5912923846743111383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/5912923846743111383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2008/11/aan-valentinku-4.html' title='Aan, Valentinku - 4'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-5140618532965249227</id><published>2008-11-30T20:43:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T20:43:00.721-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sesama Pria'/><title type='text'>Aan, Valentinku - 3</title><content type='html'>Lagi dan lagi, Aan menyemprotkan cairan kelaki-lakiannya itu. Semua cairan itu tertampung di dalam kondom. Dapat kurasakan, penisnya mengejang-ngejang saat ejakulasi berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhoohh.. Oohh.." 30 detik kemudian, keadaan menjadi tenang kembali.&lt;br /&gt;"Aahh.." desahnya saat menarik penisnya keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondomnya nampak penuh dengan cairan kental putih seperti susu. Namun wajah Aan nampak agak kecewa, membuatku penasaran. Tak dapat menahan rasa ingin tahuku, kutanya dia. Aan hanya menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya kecewa karena belum puas aja."&lt;br /&gt;"Apakah karena saya? Apa karena saya kurang seksi?" tanyaku panik, rasa bersalah menghantuiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kuinginkan hanyalah untuk memberi kepuasan padanya. Jika Aan tidak puas setelah bersetubuh denganku, tentu saja saya merasa bersalah dan bertanggung-jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan, sayang," jawab Aan, menciumku.&lt;br /&gt;"Kamu hebat sekali. Kamu seksi, dan saya suka banget ama kamu. Masalahnya ada pada diriku. Saya gak bisa mengontrol ejakulasiku. Saya ngecret lebih cepat dari yang saya inginkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengarnya, saya menjadi lega sekali. Segera kupeluk tubuhnya yang basah dengan keringat itu dan kucium pipinya. Rasa cintaku bertambah besar tiap kali kami berciuman. Aan-ku nampak jauh lebih ganteng. Saya tak dapat menyangkal perasaan cinta yang sedang bersemi di dalam hatiku. Saya telah benar-benar jatuh cinta pada Aan. Saat kami sedang seru-serunya berciuman, temannya menyeruak keluar dari kamar mandi. Tahu bahwa permainan kami sudah habis, dia menyarankan kami untuk segera mandi. Sambil berpelukan mesra, Aan dan saya pindah ke kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memang benar-benar mesra. Bahkan di dalam kamar mandi pun, kami belum puas berciuman. Bibir kami kembali saling bertautan sementara lidah kami saling bergulat. Kedua tangan kami sibuk meraba, membelai, dan meremas. Mulutku terbuka dan menyambut lidah Aan yang tak puas-puas menyapu lidah, gusi, gigi, dan bibirku. Belum pernah mulutku dipuja seperti itu. Penisku yang masih tegang mendesak-desak belahan paha Aan. Dan kemudian saya baru ingat bahwa saya belum sempat ngecret. Ingin cepat berejakulasi, saya merangsang penisku dan bermasturbasi. Aan ingin membantu menambah rangsangan, menggesek-gesek penisnya yang sudah lemas ke belahan pantaku. Kututup mataku dan kubayangkan bahwa kami kembali bercinta. Rangsangan demi rangsangan membangun orgasmeku. Perlahan, saya mulai mendekati klimaks..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh!!" Sperma segar menyembur keluar dari penisku. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Badanku mengejang-ngejang namun Aan memelukku kuat-kuat. Bahkan ketika sedang berejakulasi, kurasakan betapa amannya saya dipeluk seperti itu olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh!! Uugghh!! Oohh!!" Cairan semenku tertumpah ke atas lantai, disaksikan oleh Aan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat orgasmeku meninggalkan tubuhku, saya merasa lemas sekali. Masih menyangga tubuhku, Aan kemudian menciumku kembali dan saya membalasnya. Memori itu membuat kemaluanku tegang dan berdenyut-denyut. Kenangan itu begitu indah tapi juga menyedihkan. Indah karena Aan bersamaku pada waktu itu. Sedih karena saya tak tahu kapan saya dapat bercinta dengannya lagi. Aan pasti akan kembali lagi setelah masa kerjanya berakhir. Tapi mungkin dia akan didesak oleh orangtuanya untuk segera menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta bahwa Aan adalah seorang biseksual sangat mencemaskanku. Saya tahu bahwa suatu saat saya akan kehilangannya Aan. Andai saja Aan mau memperjuangkan cinta kami bersama.. Masalah itu pernah kusinggung saat kami bersama, tapi Aan hanya menghiburku bahwa suatu saat saya akan menemukan seorang pria lain. Hatiku agak tersayat saat mendengarnya karena saya tak menginginkan pria lain. Saya hanya ingin bersama Aan-ku sampai ajal memisahkan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedih, kulanjutkan membaca emailku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aan sayang, saya suka caramu bercinta denganku. Meskipun kamu sering mengeluhkan dirimu sendiri, tapi saya puas. Saya tak pernah mengeluh, kan? Bagiku, kamu tetap merupakan seorang pejantan yang tangguh. Dan saya sangat menikmati setiap detik dari percintaan kita. Masih ingat gak saat kita bercinta untuk yang kedua kali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bercinta selama satu jam lebih di rumahku. Sisanya, kita habiskan dengan berbaring di ranjangku sambil telanjang bulat. Harus kuakui, saya suka sekali saat kamu merengkuhku dan memelukku di dadamu. Saya merasa sangat aman dan dicintai. Ingin rasanya waktu berhenti saja di saat itu agar saya bisa selamanya berada dalam pelukanmu. Aan, terkadang saya bertanya-tanya pada diriku sendiri, tahukah kamu seberapa dalam saya mencintaimu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan lain saat bersamanya kembali hadir di dalam pikiranku. Saya teringat kembali saat kami memadu kasih di rumahku. Kejadiannya agak heboh dan sempat membuatku kalang kabut karena Aan lupa membuang bungkus kondom. Dan bungkus itu ditemukan oleh mamaku! Tapi semuanya berakhir dengan baik meskipun sejak saat itu keluargaku jadi agak was-was tiap kali saya keluar rumah dengan pria lain. Mereka hanya takut kami akan pergi ke motel dan berubungan badan sejenis. Tapi bukan kejadian heboh itu yang ingin kuingat, melainkan persetubuhan romantis dan seru yang kami alami bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, beberapa hari setelah hari di mana kami bercinta untuk yang pertama kalinya, Aan kembali datang mengunjungiku. Kali ini kami memutuskan untuk bersantai di rumahku saja. Saya mengenalkannya pada keluargaku dan mereka berpikiran positif tentangnya. Kata mereka, Aan adalah pria tersopan dan teramah yang pernah saya bawa ke rumah. Aroma parfum Aan yang lembut tapi memabukkan memenuhi lubang hidungku. Wewangian parfum atau cologne pria memang dapat merangsangku, apalagi wewangian itu berasal dari tubuh Aan. Saat kami hanya berduaan saja, saya tak dapat menahan diri untuk meraba-raba tubuhnya. Aan hanya tersenyum mesum dan merabaku balik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan sekali, orangtuaku harus keluar dalam rangka bisnis MLM yang mereka geluti. Kesempatan emas bagi Aan dan saya! Aan memelukku dari belakang dan memutar tubuhku agar kami saling bertatapan. Dan kulihat wajah pria yang sangat kucintai itu. Matanya menyiratkan sejuta gairah. Jelas sekali bahwa Aan rindu untuk memelukku. Tanpa ragu, kubiarkan bibirnya menciumku. Kobaran api nafsu pun menyala-nyala dan membakar kami. Tubuh kami kegerahan, keringat mulai bercucuran. Tak kuasa menahan nafsu, kami buru-buru melepas pakaian kami. Sambil membugili diriku, kupandangi gerak-gerik Aan dengan penuh nafsu. Pria itu terlihat begitu dewasa, begitu maskulin, dan begitu penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung saja kupeluk dia. Kami pun terkunci dalam pelukan penuh birahi. Batang kejantanan kami menegang dan menjadi hidup, saling beradu pedang. Untung bagiku, Aan adalah tipe pria romantis. Dia suka sekali dengan aktifitas ciuman dan pelukan. Saya menjadi bulan-bulanan; hampir pingsan karena kebanyakan dicium dan dipeluk. Tapi saya suka, suka sekali, dan Aan membuatku sangat bahagia, sangat bahagia sampai saya ingin menangis terharu. Kutemukan kebahagianku di dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aan," bisikku.&lt;br /&gt;"Ada apa, sayang?" tanyanya, membelai-belai kepalaku.&lt;br /&gt;"I love you," bisikku lagi. Kucium bibirnya selama beberapa detik.&lt;br /&gt;"I love you, too," jawabnya, romantis.&lt;br /&gt;"Suck me, please."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tangannya, Aan mendorong tubuhku ke bawah dengan pelan, memberi tanda bahwa dia ingin dihisap. Saya tentu saja sangat tidak keberatan. Berlutut di depannya, kukerahkan semua kemampuanku. Batangnya yang sudah mengencang langsung masuk ke alam mulutku yang lapar. Seperti bayi yang menyusu, saya menyedot-nyedot penisnya. Otot-otot mulutku bekerja sama untuk menciptakan sensasi nikmat pada perkakas kejantanan Aan. Desahan-desahan lembut terdengar pelan; Aan menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhoohh.. Oohh.. Hhoosshh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinggul Aan mulai dipompakan ke mulutku agar penisnya dapat masuk lebih dalam lagi. Terus saja kusedot batangnya. SLURP! SLURP! Precum dialirkan keluar dari lubang kencing Aan sebagai hadiah atas usahaku. Penuh rasa terima kasih, kujilat habis semuanya. Rasa precum Aan sangat memabukkan, membuatku ingin menyedot lagi, lagi, dan lagi. Yang ada di dalam benakku hanyalah ingin membahagiakannya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.. Hhoohh.. Hhoosshh.." desah Aan menguat dan dia mulai bernafsu memperlakukan mulutku seperti pantat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat kelaminnya dipompakan keluar masuk dengan semangat. Air liurku bercampur precum milik Aan mulai membusa di sekitar bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.. Aahh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas inisiatifku, kutarik batangnya keluar. Napasu agak terengah-engah. Letih rasanya harus menyedot penis sebesar penis Aan. Dan saya puas dengan penisnya! Aan tak nampak kecewa karena setelah dioral dia akan segera menganalku. Pria ganteng itu kemudian membimbingku ke sofa dan duduk di sana. Seperti biasa, kami bermain secara aman. Berbekal kondom dan lotion, Aan siap menggempur lubang pertahananku dengan rudalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-5140618532965249227?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/5140618532965249227/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=5140618532965249227' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/5140618532965249227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/5140618532965249227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2008/11/aan-valentinku-3.html' title='Aan, Valentinku - 3'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-5607639065148481768</id><published>2008-11-30T20:42:00.001-08:00</published><updated>2008-11-30T20:42:00.504-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sesama Pria'/><title type='text'>Aan, Valentinku - 2</title><content type='html'>Oohh.. Saya sungguh tak sabar bercinta dengan Aan. Saya mau dipenetrasi oleh batangnya. Saya ingin sekali digagahi oleh Aan. Tak tahan lagi, kuhentikan hisapanku dan saya berkata terus terang pada Aan bahwa saya ingin sekali difuck olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fuck me donk.. Udah gak tahan lagi nih.." mohonku, memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aan memang baik dan pengertian. Dia pun segera merogoh kantung celana panjangnya dan mengeluarkan dua bungkus kondom. Temannya langsung meminta satu. Dalam sekejab, kedua penis itu sudah 'berpakaian', diselubungi oleh karet kondom. Saya memang lebih suka seks secara aman, lebih bersih dan sehat, meskipun saya sering berfantasi tentang nikmatnya disodomi tanpa kondom. Tapi nyawa lebih penting daripada kenikmatan sesaat! Dan untungnya Aan mempunyai pikiran yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan antusias, saya berbaring di atas lantai yang dingin tapi bersih itu. Kedua kakiku kuangkat tinggi dan lebar, mempertontonkan anusku yang berkedut-kedut. Di bawah punggungku diselipkan tumpukan pakaian kami agar anusku lebih terekspos. Aan pun bersiap-siap; duduk berhadapan dengan pantatku. Penisku masih saja tegang dan basah. Precumku turun menuruni batang kemaluanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhoohh.." desahku membayangkan betapa nikmatnya disodomi oleh Aan.&lt;br /&gt;"Ayo, Aan.. Oohh.. Cepetan.. Fuck me.."&lt;br /&gt;"Sabar sayang. Saya juga gak sabar mau nyodomi kamu. Siap-siap, yach," kata Aan, membelai-belai rambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kakiku dilebarkan lagi dan kemudian dilingkarkan di pinggangnya sementara Aan memposisikan batangnya tepat di depan bibir anusku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uugghh.." Kepala penis itu pun mulai pelan-pelan memasuki tubuhku.&lt;br /&gt;"Aarrgghh.." Aan mengerang akibat nikmatnya sensasi pergesekkan antara penisnya dengan anusku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat lotion yang terlebih dahulu sudah dilumuri pada kondom, Aan hampir tak menemui kesulitan yang berarti saat mempenetrasiku. Bleess.. Kepala batang kemaluan Aan dengan mudah masuk, disusul batangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.." desahnya, beristirahat sebentar untuk menikmati kehangatan duburku.&lt;br /&gt;"Oohh.." Saya juga tak dapat menahan eranganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama sejak saya terakhir disodomi. Tapi sodomi kali ini terasa beda sekali, karena saya benar-benar menyukai orang yang menyodomiku. Tak ada yang lebih nikmat daripada disodomi orang yang kita cintai. Air mataku hampir menetes keluar. Bukan karena rasa perih, tapi melainkan karena kebahagiaan. Merasakan perkakas kejantanannya berkedut-kedut hangat di dalam tubuhku membuatku sangat bahagia. Akhirnya Aan dan saya bersatu. Tubuh kami berdua disatukan oleh batang kejantanannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.. Fuck me.. Oohh.." Aan hanya tersenyum saja menanggapi permintaanku itu.&lt;br /&gt;"Udah horny yach?" Lubang anusku mulai digempur dengan rudalnya.&lt;br /&gt;"Aarrgghh.. Oohh.. Aahh.." desahnya saat penisnya mulai digesek-gesekkan mengenai dinding anusku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah pernah disodomi beberapa kali oleh pria lain, anusku masih ketat dan sempit. Penis Aan terus saja membor anusku, membuatnya semakin longgar. Bibir anusku dengan rakus mencoba menghisap batang penis Aan yang meluncur keluar masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uugghh.." desah Aan saat dia merasakan lubangku mengetat.&lt;br /&gt;"Aarrgghh.. Enak.. Oohh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri mulai dimabukkan kenikmatan disodomi. Kepala penis Aan mendesak-desak organ dalamku. Sesekali prostatku menajdi sasarannya, melambungkanku ke langit ketujuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aarrgghh.. Fuck me.. Oohh.. Enak banget.. Oohh.. Ayo, Aan.. Fuck me.. Aarrgghh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin saya sering mengatakan 'fuck me', Aan makin bernafsu. Itu yang kutunggu-tunggu. Saya memang lebih suka seks romantis yang lebih banyak melibatkan ciuman dan penetrasi lembut. Tapi jika sedang terbakar nafsu, saya lebih suka dianal yang dalam dan kuat, dan Aan sedang melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aargghh.. Aahh.. Aarrgghh.." erangku, tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pasrah, kuterima semua sensasi nikmat yang diberikan oleh penis Aan. Rasanya bagian dalam perutku sudah dirombak ulang berkat hajaran batang kejantanannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.. Hhoohh.. Aarrgghh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sedang terbaring tak berdaya, sebuah penis berkondom disodorkan ke mulutku. Mulanya saya ogah dan ingin menolaknya, namun teman Aan itu memaksakan kontolnya masuk. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, saya merasakan bagaimana menyedot kontol berkondom. Rasanya kurang enak karena rasa karet begitu menyengat. Saya merasa seakan-akan sedang menyedot dot bayi. Tanpa daya, penis teman Aan itu menyerbu masuk dan menyodomi mulutku. Kucoba untuk menghisapnya sebagai tanda terima kasih. Berkat dia, Aan dan saya punya tempat untuk bercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmpphh.. Mmpphh.." Suaraku bergetar dan getarannya merambat ke batang kemaluan pria itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dia pun mendesah-desah keenakkan seraya tetap menyodomi mulutku. Sebenarnya ini bukan 3some (seks bertiga) pertamaku. Dulu saya juga pernah melakukannya. Hanya bedanya, dulu saya sebagai pemain pendukung, dan sekarang saya menjadi pemain utama. Bagaimana tidak? Dua orang pria memfokuskan penisnya padaku. Saya menjadi bintang utama! Lubang anusku harus melayani batang kejantanan Aan, sedangkan mulutku harus meghisap kontol temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aahh.. Sungguh seru dan merangsang! Bosan dengan posisi itu, saya mengambil posisi doggy style. Penis Aan tetap menggempur anusku sementara temannya menghajar mulutku dengan batang kemaluannya. Oohh.. Saya merasa seperti bintang porno gay saja. Di tengah permainan, teman Aan tiba-tiba cabut. Katanya, dia ada janji dengan seseorang. Maka sementara dia mandi, Aan dan saya tetap memadu kasih. Aan tak henti-henti menyodomiku, napasnya mendengus-dengus. Sesekali, Aan meremas-remas dadaku. Oh, sungguh erotis. Kepalaku berputar-putar karena nafsu, hanya ingin disodomi lagi dan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uugghh.. Sempit.. Aahh.. Endy.. Aahh.. I love you.. Oohh.." desah Aan, membungkukkan badannya.&lt;br /&gt;"I love you, too.. Aahh.." balasku, menerima ciumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami saling berpelukkan sementara penisnya masih bersarang di dalam tubuhku. Meskipun kipas angin menyala, Aan kegerahan. Tubuhnya yang seksi basah bersimbah keringat. Sebagian menempel di tubuhku saat kami tadi berpelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.." desahku, agak kecewa, saat kurasakan penisnya menyelinap keluar dari pantatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat Aan kepayahan, udara panas telah menurunkan libidonya. Batang yang atdinya sekeras baja, kini sudah melemas. Meskipun agak kecewa, tapi saya berusaha mengerti dan tidak mengeluh. Yang terakhir kuinginkan adalah dicap sebagai tukang pengeluh dan bawel. Lagipula Aan memang terlihat letih dan lemas, membuatku cemas. Tapi harus kuakui, penampilan penis Aan saat lemas nampak imut sekali. Duduk bersandar pada tembok, Aan mengocok-ngocok penisnya dengan frustrasi. Untuk memudahkan masturbasi, untuk sementara, kondomnya dilepas dulu. Nampak kepala kemaluannya mengkilap karena precum. Lelehan precum segera mengalir menuruni batangnya begitu kondom terlepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, tidak.. Aahh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampak sedikit kecewa pada dirinya sendiri, Aan mengocok-ngocok penisnya dengan putus asa. Saya tak bisa hanya berbaring saja, saya harus melakukan sesuatu. Maka saya pun bangkit duduk dan memeluknya. Kucium bibirnya dan kuremas dadanya. Saya terus menghiburnya dan menyemangatinya. Kucoba segala cara untuk mebangkitkan nafsu birahinya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.. Hhoohh.." desahnya saat kubantu meremas-remas penisnya yang setengah tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan namun pasti, Aan mendapatkan kembali ereksinya. Keringat memang masih terus mengucur, membasahi sekujur tubuhnya, namun Aan sudah siap tempur kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo sayang, kita ML lagi, yuk," ajaknya, tersenyum mesum padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana mungkin kutolak? Kembali berbaring pasrah di atas lantai, saya membuka kakiku lebar-lebar dan menaruhnya di atas pundaknya yang lebar. Sisanya diurus oleh Aan. PLOP! Kepala kemaluannya kembali memasuki anusku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.." desahku. Kehangatan penisnya datang kembali, membawa kenikmatan.&lt;br /&gt;"Oohh.. Fuck me, Aan.. Aahh.. Fuck.." Kata 'fuck' seolah merupakan kata ajaib untuk setiap pria 'top'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab begitu mendnegar kata itu, mereka akan langsung menyodomi lebih kuat dan lebih dalam. Aan pun demikian. Permainannya menjadi brutal dan penuh nafsu, tapi saya suka. Tubuhku terguncang-guncang, mengikuti irama penetrasinya. Isi perutku seakan-akan berantakan, akibat dari amukan penisnya. Namun kenikmatan menjalari tubuhku, membuatku lupa diri..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aarrgghh.. Yyeeaahh.. Fuck.. Oohh.. Aahh.." erangku, memeras-meras dadanya.&lt;br /&gt;"Uugghh.. Oohh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aan juga keblingsatan dan lupa diri. Kenikmatan akibat menyodomiku membuatnya semakin keras menyodomiku. Keringatnya bertetesan, membasahi tubuhku. Sesekali Aan menyuarakan erangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.. Aarrgghh.. Aahh.. Hhoohh.." Aan memang tidak banyak bicara jika sedang ML.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tipe pria yang lebih suka 'no talking, action only'-sedikit bicara, banyak bertindak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhoohh.. Oohh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya merem-melek, merasakan nikmatnya bersetubuh denganku. Napasnya mulai terdengar agak keras. Nampaknya dia akan ngecret sebentar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aarrgghh!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, Aan ngecret! Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Tubuhnya bergetar dan mengejang, otot-ototnya bermunculan karena kontraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh!! Hhoohh!! Oohh!! Hhoosshh!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-5607639065148481768?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/5607639065148481768/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=5607639065148481768' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/5607639065148481768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/5607639065148481768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2008/11/aan-valentinku-2.html' title='Aan, Valentinku - 2'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-2493916369532493182</id><published>2008-11-30T20:42:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T20:42:00.149-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sesama Pria'/><title type='text'>Aan, Valentinku - 1</title><content type='html'>Cerita ini ditulis berdasarkan pengalamanku dengan seorang pria yang sangat kucintai. Ada adegan sex vulgar dan ada juga detail non-sex dalam cerita ini, ditulis sebagai jawaban atas segelintir email yang mengeluhkan bahwa cerita-ceritaku vulgar dan terlalu banyak mengumbar seks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aan, cerita ini kutulis khusus untukmu, sayang. Saya tak mau kehilanganmu. Selamanya, di hatiku akan selalu ada sebuah tempat untukmu. Kuharap suatu hari nanti, kamu sudi menjadi pasangan hidupku. Semoga ceritaku ini dapat mengubah pikiranmu. Saya akan ada di sini untuk menunggumu, sayang. Dan saya akan selalu mencintaimu, sampai kapan pun juga..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, saya sengaja duduk berjam-jam di depan komputerku, mencoba untuk mengetik sebuah email untuk Aan-ku yang tersayang. Besok dia akan berangkat ke Arab Saudi untuk bekerja selama 2 tahun. Dan saya merasa bahwa saya harus menumpahkan isi perasaanku sebelum dia pergi. Aan adalah teman gay-ku. Kami pernah beberapa kali memadu kasih, meskipun demikian, kami tidak terikat sebagai pasangan gay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hanyalah sepasang teman yang sangat akrab seperti sepasang kekasih. Tapi saya telanjur jatuh cinta padanya. Saya tak peduli bahwa kami berlainan ras dan agama. Saya juga tak peduli bahwa umur Aan enam tahun lebih tua dibanding umurku. Saya hanya tahu bahwa saya sangat mencintainya. Sesekali air mataku menetes saat kuketik setiap kata. Kenangan-kenangan indah bersamanya kembali membayangiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika email itu sudah selesai kutulis, air mataku kembali menetes. Kubaca ulang emailku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Aan, Honey, tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Rasanya seperti baru kemarin saja kita bertemu, padahal kita sudah mengenal satu sama lain sejak awal Juli 2004. Jujur kuakui, saat pertama kali kudengar suaramu di telepon, kubayangkan kamu sebagai seorang bapak-bapak berkumis, bertubuh tambun. Tapi saat kita bertemu, saya kaget sekali. Kamu ternyata rupawan dan menawan. Percaya atau tidak, saya hampir pingsan karena senang. Sampai-sampai, saya hampir terjungkal saat melihat wajahmu menyembul dari balik pintu rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat benar hari itu, hari di mana kita pertama kali bertemu. Saat itu hari Minggu, tepat 1 hari sebelum Pemilu, dan kamu mengajakku kencan di WTC Mangga Dua. Meskipun kita tak bisa berlaku seperti sepasang kekasih di situ, tapi saya sangat senang bisa jalan bareng denganmu. Saya masih bisa merasakan rasa manis dari es kelapa yang kamu belikan untukku. Kita ngobrol berjam-jam di food court sambil menunggu temanmu. Kamu, pada saat itu, memang ingin bersetubuh denganku. Dan saya pun tak menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu, saya mungkin terdengar murahan dan gampangan pada saat itu, tapi ada sesuatu dalam dirimu yang sangat kusuka. Sejak pandangan pertama, saya sudah telanjur jatuh cinta padamu. Bagiku, kamu sangat ganteng, meskipun perutmu agak berlemak. Saya tetap suka, kok:) Kegantengan memang subjektif; tak semua orang akan berpikir hal yang sama tentang dirimu. Kamu juga sangat baik, perhatian, dan penuh cinta kasih. Kamu bahkan rela datang jauh-jauh dari Bekasi hanya untuk menemuiku dan menghabiskan waktu sampai malam bersamaku. Memang kamu tak bisa datang setiap hari, tapi saya cukup tersentuh dengan perhatianmu. Karena itu, saya bersedia menyerahkan tubuhku padamu. Dan saya tak menyesal telah melakukannya pada malam itu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berhenti membaca di bagian ini, ingatan tentang Aan muncul dalam benakku. Saat itu kami memang terpaksa menghabiskan berjam-jam di WTC menunggu kepulangan temannya. Berhubung rumahku ramai, jika kami ingin ML, kami terpaksa harus numpang di kamar kost temannya yang kebetulan tak jauh dari tempatku. Selama di mall itu, Aan dan saya membicarakan banyak hal. Saya amat terbuka padanya, kuceritakan semuanya tentang diriku, kisah cintaku, dan kehidupanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali, saya memujinya karenaa saya terpesona akan ketampanannya. Tapi dia tak pernah percaya akan pujianku, katanya saya gombal:) Andai dia bisa melihat isi hatiku, dia akan tahu betapa saya memujanya. Kebetulan kami mendapat tempat duduk yang agak terpencil sehingga kami bisa pegang-pegangan tangan. Namun hal itu malah membuat kami semakin terangsang. Batang kemaluan kami menegang, berdenyut, dan basah. Kami terpaksa harus sabar menunggu sampai malam, menanti temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, di dalam kamar kost teman Aan, kami dapat bercinta. Kamar itu memang kecil tapi bersih. Aan dan saya sudah tak sabar lagi, kami saling meraba dan mencium. Dengan tak sabar, Aan dan saya segera melolosi pakaian kami. Rasanya senang sekali saat saya dapat bertelanjang bulat di depannya. Saya ingin Aan melihat seluruh tubuhku; saya tak malu sama sekali. Penisku berdenyut-denyut, minta dipuaskan. Kulirik celana dalam Aan yang dilempar ke lantai. Celana dalam abu-abu itu basah dengan noda precum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aan pasti sudah tak sabar ingin memasuki tubuhku. Kusapukan pandanganku ke depan, dan kulihat Aan beridiri di depanku tanpa busana. Badannya yang telanjang bulat terpampang jelas untuk konsumsi mataku. Setetes precum mengalir keluar dari lubang penisku, menebarkan kenikmatan. Mataku tak bosan memandang dadanya yang padat berisi. Pada dasarnya, Aan mempunyai bakat untuk berbadan kekar. Bentuk dada, bahu, dan punggungnya lebar dan kuat. Tapi karena tidak dilatih, sebagian sudah didiami oleh lemak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Aan tetap terlihat seksi dan merangsang bagiku. Sepasang puting kecoklatan yang agak besar dan lebar menjaga dadanya. Dengan gemas, kuremas-remas dadanya. Aan hanya menutup matanya sambil mendesah pelan. Penisnya sendiri berdenyut-denyut dengan liar. Semakin keras remasanku, semakin keras pula desahannya. Kedua tangannya terulur dan lalu memeluk tubuh telanjangku. Kami pun saling berpelukkan. Kulit tubuhnya menyentuh kulit tubuhku, dan kehangatannya menyelimutiku. Saya terlena seketika itu juga, larut dalam pelukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu seksi sekali, Endy sayang. Saya jadi ngaceng berat, nih. Masih mau kan ML ama saya?" tanyanya seraya mendaratkan ciuman di pipiku, pelukannya mengencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sengaja, penisnya yang tegang beradu dengan penisku. Precum kami terpercik ke lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, sayang. Saya mau ML ama kamu. Please fuck me," jawabku, penuh gairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaraku agak mendesah, jelas terdengar bahwa saya sangat membutuhkan seks. Nafsu memang telah mengambil alih otakku. Yang dapat kupikirkan pada saat itu hanyalah seks, seks, dan seks. Dan saya yakin dalam pikiran Aan juga hanya ada seks saja. Tapi seks yang kami berdua pikirkan bukanlah seks semalam karena nafsu belaka, melainkan seks yang berdasarkan atas hubungan cinta. Aan dan saya saling mencintai, meskipun arti cinta kami agak berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengharapkan cinta yang berkepanjangan. Sementara Aan lebih suka cinta sementara. Saya tak menyalahkannya sebab Aan punya alasannya sendiri. Bibir kami lalu saling bertautan, terkunci oleh asmara dan nafsu. Kami terus berciuman tanpa mempedulikan kehadiran teman Aan. Saat ciuman kami selesai, Aan-ku yang tampan lalu duduk di lantai, menyandar ke tembok. Tanpa disuruh, dengan patuh, saya merangkak ke arahnya dan mengulum batangnya. Saya suka dengan bentuk kemaluan Aan, pas di mulutku. Arahnya yang agak miring ke kanan malah membuatnya semakin unik dan merangsang. Kepalanya agak kemerahan, berkilat dengan precum. Kujilat-jjilat dengan penuh semangat. Sesekali kukocok-kocok batang kejantanannya untuk mengeraskannya. Kudengar erangan erotis meluncur dari bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oohh.. Yyeeaahh.. Hisap terus.. Oohh.. Hisap terus, sayang.. Hhoosshh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman Aan juga gay, maka dia tak keberatan dengan adegan panas yang kami mainkan di depannya. Namun sebagai seorang pecinta pria, tentunya dia pun ingin ikut serta. Berjongkok di belakangku, temannya itu sibuk memerah kemaluanku, seakan-akan saya sapi. Tangannya yang agak besar dan kapalan itu memerah-merah batang kemaluanku. Eranganku tertahan di dalam mulutku yang tersumbat penis Aan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mmpphh.. Mmpphh.." Rasanya nikmat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedotanku pun makin keras dan Aan hanya dapat merem-melek saja. Kakinya terasa menegang, menahan gejolak nikmat yang memancar dari batangnya. Precumnya yang asin membanjiri mulutku, kuhabiskan semua tanpa sisa. Precumku sendiri menetes membasahi lantai kamar, tetap diperas oleh teman Aan itu. Tapi tiba-tiba temannya itu melepaskan perasannya. Berdiri menghadap Aan, temannya itu menyodorkan penisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aan tak menolak dan langsung mengulumnya dengan penuh kenikmatan. Jujur, saat itu saya agak cemburu sedikit, tapi saya sadar bahwa semua itu hanyalah seks demi nafsu birahi semata, dan bukan demi cinta. Maka kualihkan perhatianku kembali pada penis Aan yang menuntut untuk dipuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SLURP! SLURP! Ah, enak sekali. Penis Aan bukanlah yang pertama yang kuhisap. Sudah ada beberapa penis lain yang sempat singgah ke dalam mulutku. Dari semuanya, rasa penis Aan paling enak, apalagi bila dicampur saus precum. Selama beberapa menit, kami saling menghisap penis, tenggelam dalam nafsu birahi homoseksual. Bunyi hisapan mulut kami bergema dan memenuhi telinga kami sehingga nafsu birahi kami pun semakin terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-2493916369532493182?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/2493916369532493182/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=2493916369532493182' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/2493916369532493182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/2493916369532493182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2008/11/aan-valentinku-1.html' title='Aan, Valentinku - 1'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3544284632955672560.post-5656049050233092858</id><published>2008-11-29T20:40:00.000-08:00</published><updated>2008-11-29T20:40:00.162-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sesama Pria'/><title type='text'>Abang Becak Seksi</title><content type='html'>Di dekat tempat tinggalku, sering ada becak mangkal. Para abang becak di situ rata-rata penampilannya di bawah standard: tua, jelek, kurus. Tapi ada satu yang menarik mataku. Sepintas abang becak yang satu ini tidak cocok menjadi abang becak. Sungguh! Usainya pun nampaknya di antara 20 dan 30-an. Rambutnya pendek, namun terlihat tak terurus. Brewok tipis menghias wajahnya yang terkesan tangguh. Bentuk tubuhnya memang tidak kekar berotot, namun lumayan seksi juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib memang kejam terhadapnya; padahal dia lebih cocok jadi cover boy. Sifat gatalku akan cowok kumat lagi. Dia harus kudapatkan! Mudah sekali untuk menarik perhatiannya sebab dia pun sering memperhatikanku diam-diam. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkinkah dia juga homo? Kalau dia juga homo, pasti mudah untuk menggaetnya sebab dia takkan menolak saya yang berkulit putih dan mulus ini :) Apalagi usiaku masih muda, sekitar 20-an. Berhubung saya ngefans sekali sama dia, saya sering mengikutinya. Untungnya dia hanya beroperasi di sekitar lingkungan tempat tinggalku saja. Maka gampang sekali untuk membuntutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu hari, kulihat dia berhenti di sebuah gang buntu. Gang itu memang sepi banget dan berlokasi di kawasan yang tertutup. Di sekitar tempat itu hanya ada puing-puing bangunan. Sejauh mata memandang, tak ada seorang pun yang berada di sekitar itu. Abang becak itu pun memarkir becaknya di sekitar tempat itu. Untungnya dia tak melihatku karena saya bersembunyi di balik tembok puing. Mengira aman, abang becak itu pun melolosi pakaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa malu, dia bertelanjang bulat, padahal saat itu masih siang hari bolong. Saya hanya bisa menelan ludah menyaksikan keindahan tubuhnya yang bagaikan patung Yunani. Otot-ototnya terpahat sempurna, atletis sekali. Dadanya bidang, seakan menantang semua orang, 'Pegang saya!' Kontolnya juga luar biasa, panjang dan nampak nikmat. Teriknya matahari membakar tubuhnya sehingga keringat mulai bermunculan. Saya ingin sekali memeluknya dan memintanya untuk mengentotinku, tapi saya tak mau terlihat murahan. Saya mau dia yang datang padaku, dan bukan saya yang datang padanya. Lagipula saya belum tahu pasti apakah dia cowok homo atau bukan. Kalau bukan, muka saya bisa dipermak habis-habisan oleh dia:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di balik persembunyianku, kusaksikan si abang becak itu mulai mengocok-ngocok kontolnya. Adegannya berjalan lambat dan erotis. Kontolku juga ngaceng berat dan terpaksa kukeluarkan. Sambil mebayangkan enaknya disodomi oleh abang itu, saya mengocok kontolku seirama dengan irama kocokannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhohh.. Hhoosshh.. Oohh.." erangannya terdengar keras. Kulihat kepala kontolnya mulai bocor dengan precum. Kontolku juga sedang basah-basahnya. Kuremas kepalanya dan..&lt;br /&gt;"Oohh.." Precum-ku mengalir kelaur dari kepala kontolku. Erotis sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupercepat kocokanku. Naik-turun. Naik-turun. Kontolku terasa makin emngeras saja. Si tukang becak itu juga mulai nampak terengah-engah. Dia pasti akan segera mencapai klimaksnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"AARGGHH!!" teriaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Pejuh demi pejuh disemprotkan kontolnya. Semprotan pejuh itu mendarat di tanah berdebu satu demi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"OOHH!! UUGGH!! AAHH!! HHOOH!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhnya yang atletis dan mengkilap itu berguncang-guncang bagaikan kuda jantan yang sedang orgasme. Wajahnya menyeringai nampak kesakitan. Namun bukan rasa sakit yang dia rasakan, melainkan rasa nikmat yang tak tertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh!! oohh!!" Saya menyaksikan dengan seksama bagaimana pejuhnya muncrat keluar. Ah, andai saja saya bisa menelannya.. Tiba-tiba, badanku sendiri mulai terguncang-guncang. Saya ngecret!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRROOTT!! Saya hampir saja berteriak karena nikmat tapi kutahan. Saya hanya berani mendesah nikmat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hhoohh!! hhosshh!! oohh!! hhoohh!!" Kontolku berdenyut-denyut dengan liar. Namun karena pejuhku terlalu kental seperti jelli, pejuhku jatuh ke tanah seperti agar-agar cair.&lt;br /&gt;"Oohh!! hhohh!! hhoohh!!" desahku lagi. Keringat juga membasahi tubuhku yang masih berpakaian lengkap. Begitu selesai, saya hanya mengelap kepala kontolku dengan bajuku, dan kemudian saya cepat-cepat kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hari tu, saya makin sering memikirkannya. Saya ingin mendapatkannya, dan harus mendapatkannya! Maka pada suatu hari, saya menjalankan rencana bejatku. Untuk pertama kalinya, saya menaiki becaknya dan minta agar diantarkan ke rumahku. Saya berpura-pura santai dan tidak terlihat mencurigakan. Abang becak tampan itu pun nampak cuek. Sepanjang perjalanan, saya berusaha menutupi kotolku yang ngaceng di balik celanaku. Malu 'kan dilihat orang lain :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya kami di tujuan, saya langsung turun. Kebetulan daerah tempat tinggalku memang sepi. Maka tanpa malu saya biarkan tonjolan celanaku nampak. Abang becak itu melihat tonjolan celanaku dengan mata penuh nafsu. Saya tahu bahwa saya pasti bisa mendapatkan kontolnya! Berbohong bahwa saya tidak punya uang receh, saya masuk ke dalam sebentar sementara dia menunggu di luar. Namun saya sengaja membiarkannya menunggu dna menunggu. Mulai tak sabar, abang itu penasaran dan lalu melongok ke dalam jendela. Saya sudah menebaknya dari tadi. Oleh sebab itu, saya sudah telanjang duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa malu, saya menelanjangi diriku sebulat-bulatnya di ruang tamu. Saya tahu benar bahwa mata abang becak itu mengikuti setiap gerak tubuhku. Berdiri membelakanginya, saya berpura-pura tidak tahu dan asyik meraba-raba tubuhku. Sengaja kukeluarkan erangan-erangan erotis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.. Oohh.. Oohh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuusap-usap putingku dan kukocok-kocok kontolku. Ah, sungguh nikmat. Tiba-tiba saya mendengar suara pintu depan dibuka, dan tak berapa lama kemudian, abang becak yang masih muda dan seksi itu pun sudah berdiri di belakangku. Saat saya berbalik dan menatapnya, abang becak itu sudah telanjang bulat. Celana dan kaus usangnya teronggok di dekat kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilannya saat telanjang persis dengan yang sering kubayangkan dalam fantasi mesumku. Abang becak itu nampak sangat tampan dan seksi. Wajahnya berbrewok tipis, mungkin sudah berumur satu atau dua hari. Sekilas, dia nampak seperti salah satu anggota keluarga aktor tampan Syach. Namun wajahnya lebih menyerupai Teddy Syach, jadi abang itu kupanggil Teddy saja. Dadanya agak bidang dan berperut rata. Bulu-bulu halus tumbuh di sekitar putingnya yang coklat dan tegang. Kontolnya bersunat dan nampak tegang sekali. Kepala kontolnya masih kering, namun saya yakin bahwa sebentar lagi kepala kontol itu akan bocor, sebocor-bocornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bang, entotin saya donk," pintaku dengan intonasi erotis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dada telanjang yang atletis milik si abang becak itu keremas-remas. Ah, nikmatnya bersentuhan dengan dada pria macho. Kulihat si abang becak itu tak berkedip, namun matanya menyiratkan nafsu birahi yang sangat besar. Saat kupalingkan pandanganku ke bawah, kulihat kontolnya sudah ngaceng berat. Kepala kontolnya yang bersunat masih kering dan terlihat kasar. Kontol itu lumayan panjang, sepanjang kontol aktor gay yang sering kulihat di VCD porno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa basa-basi, abang becak itu langsung memelukku dan menciumiku dengan penuh nafsu. Ciumannya begitu 'panas' dan bernafsu, seolah dia belum melampiaskan nafsu birahinya selama berbulan-bulan. Bibirku sampai terasa gepeng dicium seperti itu. Tangannya yang kuat menjelajah tubuhku dan meneliti setiap lekuk tubuhku. Sesekali putingku dipelintir dna kontolku dikocok-kocok. Saya hanya mampu menahan napas sambil menikmati semua tindak tanduknya yang bejat. Saya ingin dia memperkosaku. Saya ingin menyerahkan tubuhku untuk dia pakai, untuk memuaskan hasrat homoseksualnya. Lagipula, saya terlahir untuk dipakai cowok. Untung bagi mereka, saya tidak menagih ongkos servis:) Mungkin lain kali, saya harus mengganti biodataku saat mengisi kolom hobby. Mulai sekarang akan kutulis 'Hobby: Dientotin cowok berkontol besar' ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si 'Teddy' mulai mendorongku ke bawah. Saya tahu, dia ingin dihisap. Dengan sigap, kulayani nafsu bejatnya itu. Tanpa ragu, kumasukkan kepala kontolnya ke dalam mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.." dia mendesah saat kepala kontolnya kubungkus dengan lidahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidahku memang ahli. Teddy merasa seolah-olah lidahku seperti tangan yang sedang mencoli kontolnya. Dan rasanya memang nikmat sebab Teddy sampai kelojotan seakan-akan dia akan orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.. Hisap terus.. Oohh.. Dasar homo.. Aahh.. Sukanya liat kontol cowok.. Aahh.. Sekarang sedot kontol gue.. Aahh.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teddy berkata-kata jorok dan kasar, membuatku semakin terangsang. Saya memang ingin agar dia memakai tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aahh.." erang Teddy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali dia gantian dia yang menyodok-nyodok mulutku dengan kontolnya. Saya sudah terbiasa maka saya tidak muntah. Teddy nampaknya senang diservis seperti itu. Kalau dia senang, saya pun senang. Kontolku yang ngaceng mengeluarkan precum yang jatuh menetes ke lantai. Sementara kontol Teddy sudah membasahi mulutku dengan berliter-liter precum. Cairan precum-nya terus saja keluar seolah-olah dia sedang kencing. Belum pernah saya menghisap kontol seperti itu. Tapi saya suka, sebab rasa precum jauh lebih enak dibanding pejuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusedot kepala kontolnya lebih kuat, untuk mendapatkan lebih banyak precum. Teddy mengerang-ngerang dan napasnya mulai menderu-deru. Abang becak tampan ini akan segera berorgasme. Saya makin mengerjain kontolnya sampai akhirnya dia tak tahan lagi. Pemuda itu pun berteriak-teriak, menyuarakan orgasmenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"AARRGGHH!! OOHH!! AARRGGHH!! OOHH!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejuhnya terlontar ke dalam mulutku dan langsung kutelan dengan perasaan bersyukur. Rasanya nikmat sekali. Teddy terus--menerus mengerang dan mengejang sampai pejuhnya habis sama sekali. Kemudian, tubuhnya yang telanjang bersimbah keringat itu pun melemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berdiri kembali dan menciumi mulutnya. Sisa-sisa pejuhnya masih menempel di langit-angit mulutku. Dengan lapar, teddy menjilati bagian dalam mulutku dan menghabiskan sisa pejuhnya itu. Wah, Teddy memang homoseksual benaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makasih atas servis loe.. Aahh.." bisiknya smabil memelintir putingku kembali.&lt;br /&gt;"Tapi gue belum sempat ngentotin loe.. Mau 'kan dingentotin kontol gue ini?" tanyanya sambil menggosok-gosokkan kontolnya ke perutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya mendesah dan membalikkan tubuhku. Dengan patuh, saya mengambil posisi gaya anjing di atas lantai dan menunggu serangan kontolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"AARRGGHH!!" erangku, hampir jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontol Teddy memaksa masuk dengan kecepatan penuh. Saya merasa seperti ditusuk tombak. PLOP! Kontol itupun masuk, namun anusku berkobar dengan rasa sakit. Tanpa menunggu, Teddy langsung menggenjot badanku. Dengan penuh nafsu, dia meraba-raba tubuhku seraya mengerjain lubang anusku. Kontolku juga ak luput dari tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"AARGGHH.. AARRGGHH.. OOHH.. AAHH.." erangku saat Teddy sibuk mengentpotin saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya memang enak. Kontol itu bergerak masuk dan keluar, melonggarkan anusku. Tetesan precum melumasi jalannya sehingga Teddy lebih mudah mengentotinku. Saya hanya bisa mengerang-ngerang seperti gigolo 'bottom' murahan. Kubiarkan nafsu mengendalikan diriku. Ah, nikmatnya dingentotin kontol! Tubuh kami berguncang-guncang, seirama dengan sodokkan kontolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"AARGH!! AAGHH!! AAHH!! AARRGGHH!!"&lt;br /&gt;"Aahh.. Gue ngentotin loe.. Aahh.. Loe doyan kontol kan? Aahh.. Gue pake badan loe.. Aahh.. Gue perkosa lobang loe.. Aahahh.. Dasar homo rendahan.. Aahh.. Mau aja diperkosa ama gue.. Aahh.. Aahh.." racau Teddy, sambil meraba-raba badanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin dia berkata yang macam-macam, semakin dia merangsang nafsu homoseksualku. Saya senang dipakai olehnya dan ingin agar dia menuntaskan orgasmenya di dalam badanku, tanpa kondom! Lagipula, dia memang lagi mengentotin pantatku tanpa kondom :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Teddy mulai kelojotan dan mengerang-ngerang. Wah, pejantan ini akan ngecret sebentar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"AARRGGHH!! BANGSAT! AAHH.. GUE SAMPE.. AARRGGHH..!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CCRROOTT!! CCRROOTT!! CCRREETT!! CCRREETT!! CCRROOTT!! Pejuh Teddy yang panas dan putih kental ditembakkan berkali-kali masuk ke dalam rongga tubuhku. Pejuh itu terasa hangat di dalam tubuhku. Enak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"AARRGGHH!! OOHH!! UUGGHH!! AAHH!!" Beberapa tetes pejuh bocor keluar saat kontolnya bergesekan dengan nausku. Dan kemudian, saya pun ngecret.&lt;br /&gt;"AARRGGHH!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CCRROOTT!! CCRROOTT!! CRROOTT!! CRROOTT!! Pejuhku tersembur keluar, jauh ke depan, mengotori lantai. Teddy senang melihat diriku yang sedang kesakitan menahan orgasme. Demi menambah kesakitanku, dia sengaja mencubit putingku dan menyodok-nyodokkan kontolnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"AARRGGHH!! AARRGGHH!! AARRGGHH!!" CCRROTT!! CRROOTT!! Tubuhku mengejang-ngejang dan menggelepar-gelepar selama beberapa saat seperti ikan kehabisan air, lalu semuanya kembali normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terengah-engah, kami berbaring di atas lantai yang penuh dengan sperma. Kami saling memeluk dan merasakan kehangatan tubuh masing-masing. Tentu saja, selama itu kami juga sibuk berciuman dan saling meraba. Kemudian, Teddy bangkit dan menciumiku. Katanya saya tidak perlu membayar ongkos becaknya sebab saya sudah membayarnya dengan lobang anusku. Sejak saat itu, saya menjadi cowok simpanan Teddy. Kapan pun dia ingin melmapiaskan nafsu birahinya, dia akan mengentotiu sampai saya berteriak minta ampun. Kebayang gak sih enaknya dientot Teddyy?? ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3544284632955672560-5656049050233092858?l=mesumstory.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mesumstory.blogspot.com/feeds/5656049050233092858/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=3544284632955672560&amp;postID=5656049050233092858' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/5656049050233092858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3544284632955672560/posts/default/5656049050233092858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mesumstory.blogspot.com/2008/11/abang-becak-seksi.html' title='Abang Becak Seksi'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12486819353063848638</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12508717224327415487'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>