Mesum Story

Sex Stories Collection, Koleksi Cerita Seks, Cerita Mesum, Cerita Memek, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Erotis, Cerita Saru, Cerita 17tahun dan Cerita Dewasa Terbaik

Your Ad Here

Pagar Makan Tanaman - 1

Written by admin on 5:00 PM

Namaku Robby. 10 tahun yang lalu, aku punya kisah nyata yang sangat asyik dan sayang untuk tidak aku bagikan pada rekan netter 17Tahun.com. Pengalamanku memuaskan istri teman yang sedang birahi berat namun tidak mendapatkannya dari sang suami, sangat membekas dalam kehidupanku, sehingga karena pengalaman ini pula yang membuat aku sampai kini sering sulit untuk menolak beberapa istri kesepian yang membutuhkan pemuasan birahi. Seperti netter ketahui (yang sudah berpengalaman RT), bila istri sudah birahi dan tidak mendapatkan pemuasan yang maksimal, banyak efek samping yang akan timbul, seringkali keluhan nyeri kepala, mual dan gangguan emosional selalu menyertainya.

Aku hidup dan berbisnis di kota D dengan pulaunya yang sangat terkenal di mancanegara, juga dengan pantai K nya yang indah, tempat wisatawan menjemur diri. Aku bergerak dibidang farmasi. Aku punya teman dekat, baik secara persahabatan maupun dalam bisnis. Namanya Har (samaran) dan istrinya cantik, anggun, usianya sekitar 25 thn, biasa dipanggil Henny. Hubungan bisnisku dengan Har dan istrinya berjalan sinergis, karena Har dan Henny bergerak dibidang Alat Kesehatan (Alkes). Aku sering membawa klien/konsumen pada mereka, demikian juga aku sering mendapatkan orderan dari mereka. Setiap Har memberikan orderan sales untukku, Henny selalu menambahkan orderan tersebut, sehingga menguntungkan aku secara value. Hal ini menambah rasa respekku pada Henny, karena dia selalu memperhatikan dan membantu salesku kalau sedang jelek, tanpa sang suami mengeluhkannya.

Berjalannya waktu, sekitar 1,5 tahun sejak aku kenal mereka, bisnis kami berdua sukses dan Har mengembangkan usahanya sampai keluar kota, bahkan keluar pulau. Seringkali kalau Har pergi cukup lama, dia selalu menitipkan istri dan anaknya padaku untuk aku perhatikan segala sesuatunya. Karena kedekatanku sudah seperti keluarga sendiri, setiap pesan Har selalu aku perhatikan. Aku akui, bahwa Har sungguh berbahagia memiliki istri yang boleh aku katakan mendekati sempurna, dengan tinggi 167 cm, berat sekitar 49 kg, kulitnya putih mulus, penampilannya lemah lembut dengan sedikit kemanjaan dan di pipinya tak ketinggalan dengan lesung pipitnya. Kesanku bahwa kedua insan ini nampak rukun, damai, karena setiap aku berkunjung ke tempatnya, tak pernah sekalipun sang suami tidak didampingi istrinya dan setiap kali istrinya selalu tidak pernah jauh duduk disebelah suaminya sambil salah satu tangannya menggelayut dipundak sang suami, mesra sekali nampaknya. aku jadi iri dibuatnya.

Suatu ketika, Har telepon aku dan berpesan titip anak dan istrinya, karena Har akan ke pulau K selama seminggu.
"Rob, aku mau ke K seminggu, kamu kalau butuh order, langsung aja sama henny yach, tolong perhatikan juga anak istriku ya", pesannya.
"Okey Har, ngga usah kuatir, akan aku bantu apapun keperluan istrimu".
Seperti biasanya, setiap Selasa aku selalu datang ketempat keluarga har untuk mendapatkan orderan, dan seperti biasa juga bila sang suami tidak ada maka Henny yang menemuiku.
"Hay Hen, gimana kabarnya, aku minta orderan nikh, kasih yg banyak ya", pintaku padanya.
"Mau berapa kamu Rob, aku sih siap bantu kamu berapapun kamu minta", balasnya.
Ahh, kalau itu sih aku yakin Henny tahu kebutuhanku, iya ngga?".
Setelah pelanggan sepi dan aku mendapatkan orderan dari Henny, aku akan pamit pulang.
"thanks orderannya ya Hen, kalau ada problem, kontak aku aja", pesanku.
Aku langsung tancap kemobil dan membuka pintu.
"Robby, Rob, ntar dulu, kenapa sih buru-buru pulang?", tanya Henny.
Belum sempat aku menjawabnya, dia langsung menyampaikan keluhannya.
"Rob, itu lho si Raymond (anaknya) agak ngga enak badan, suhu badannya tinggi, dimana yach dokter anak yang bagus, kamu khan tahu?", katanya.
"Oh ada, itu dr. AH di jl.Diponegoro, bagus dokternya", kataku.
"Kamu bantuin aku yach, antarin aku ntar sore", pintanya.
Aku bingung untuk menjawabnya, bingung antara menolong sebagai istri teman baikku dengan perasaan sungkanisasi yang tinggi karena suami tidak ada, kuatir jadi bahan gunjingan tetangganya, apalagi dokter spesialis anak tsb sampai malam selesainya. Henny tahu keraguanku.
"Ayolah Rob, please bantu aku. Pegawai dan sopirku jam 05.00 sore khan udah pulang. Apa aku perlu telepon istrimu untuk mintain ijin?".
Karena kasihan anaknya sakit dan dia sendirian tanpa suami, aku iba.
"Okeylah, kamu mau telepon istriku atau ngga, terserah. Pokoknya ntar sore jam 16.50 wita, aku jemput kamu yach, jangan terlambat", jawabku.
"Thanks ya Rob, kamu baik banget deh, aku udah siap pasti", sahutnya.

Tepat pukul 16.50 wita aku sudah berada di depan pintu rumahnya. Aku tekan bel rumah dan selang beberapa saat Henny muncul dengan pakaian sederhana.
"Ntar ya Rob, tadi ada pelanggan itu lho, aku jadi belum siap kamu datang. Tunggu bentar yach, kamu baca-baca dulu deh", katanya.
"Okey Henny, sampaikan dulu, rias yang cantik biar dokternya naksir ama kamu", gurauku padanya tanpa ada jawaban darinya.
Sekitar 15 menit kemudian, muncul Henny dari balik pintu kamar dengan Gaun yang amboi indahnya. Gaun yang sepantasnya digunakan saat ada pesta atau acara resmi. Aku tertegun akan kecantikannya, kelembutannya dengan mengenakan gaun tersebut. Dengan gaun panjang, putih halus kombinasi bunga-bunga tulip pink didadanya kebawah, aroma parfumnya yang lembut dan pati harganya diatas 1 juta. Dengan sepatunya yang tidak terlalu tinggi (memang Henny body nya sudah tinggi), menambah keanggunan dirinya.
"Hey Rob, emangnya kenapa? koq bengong gitu sih? cantik ngga gini?", tanya Henny.
"Aduh, anggun banget lho Hen. sampai aku terpesona. Apa ngga terlalu bagus untuk hanya kedokter anak, Hen?", saranku padanya.
"Karena Robby yang suruh, okey aja aku tukar bajunya. Kalau gitu, kamu tunggu dulu ya Say..", jawabnya sambil berlari masuk ke kamarnya.
Terkejut aku dibuatnya. apa aku ngga salah dengar nikh, sejak kapan Henny panggil aku semesra itu? Memang bukan henny kalau tidak buat hatiku selalu berdetak keras, dag.. dig.. dug..! Kejutan demi kejutan makin membuat aku mengaguminya. Aku sendiri diruang tamu menunggu sang bidadari ganti pakaian. Sudah 2 kali aku dikejutkannya. Lamunanku pada kejutan pertama dengan gaun indahnya, kedua panggilan mesra yang "mungkin hanya boleh ditujukan pada orang yang paling dicintainya".
"Rob, gimana kalau aku pakai pakaian casual gini, masih feminin ngga?", tanyanya dengan penuh manja sambil menggendong si Raymond (anaknya).
Kembali aku tertegun dibuatnya.Dengan jeans ketatnya dikombinasikan atasan tipis warna biru muda, dengan bunga-bunga kecil warna putih hijau, dibagian bawah bajunya ditali simpul, menampakkan keanggunannya walaupun dengan pakaian gaya apapun. Bisa feminin, bisa juga sensual dengan pakaian casualnya.
"Rob, koq diam aja sih, ngga setuju aku casual gini ya?", tanyanya.
"Henny bidadariku, aku sangat setuju 1000% deh, anggun banget kamu".
"Apa, apa kamu tadi bilang Rob, coba ulangi sekali lagi?", pintanya sambil mendekat dan mencubit perutku sebelah dalam.
"Aduh, sakit lho Hen!", teriakku kecil, karena takut si kecil terkejut.

Tanpa basa-basi lagi, aku segera ajak Henny dan anaknya segera berangkat, karena aku sudah daftarkan dan mendapatkan urutan nomor 26. Perjalanan aku tempuh cukup singkat dan aku bersama Henny terdiam membisu selama menunggu giliran dipanggil masuk. Pikiranku berkecamuk membayangkan kemanjaannya, cara dia mencubitku. Juga saat itu aku kuatir bila ada teman istriku yang lain ketemu dipraktek tsb, atau jumpa relasi, khan bisa timbul rumors macam-macam nantinya, walaupun kalaupun istriku tahu, tidak akan menimbulkan masalah. Kemudian giliranku dipanggil masuk, aku suruh dia masuk sendiri keruang dokter, tapi wajahnya cemberut tanda protes. Aku bingung, gimana nanti sang dokter ngga kaget, koq aku sama perempuan lain? (dokternya sudah kenal denganku). Aku ikuti saja kemauannya, dan setelah aku jelaskan persoalannya pada sang dokter, diperiksa dan diberikan resep. Aku keluar dan menebus obat racikan diapotik sebelah praktek dokter.

Semua berjalan lancar dan aku meluncur pulang kerumah Henny. Si kecil ternyata tertidur pulas dan ternyata tiudrnya terus sampai pagi tidak bangun. Rupanya si kecil cukup paham terhadap sikap, keinginan hati sang maminya. Dalam perjalanan, aku tidak banyak komentar, demikian juga dengan Henny. Entah mengapa, sejak aku panggil dia bidadari, sejak saat itu dia banyak diam. Diam yang bagaimana, hanya Henny yang bisa menjawabnya. Namun nampak wajahnya penuh sorot bahagia, dibuatnya dikit-dikit manja padaku, tanpa mau bicara. Itulah wanita, seribu rahasia hatinya disimpan rapat, bagaikan merpati yang tulus dan suci. Tapi kalau sudah kena hatinya, apapun dia akan pasrahkan, apalagi kalau sang arjuna bisa memanjakannya. Aku rasa semua wanita mempunyai kemiripan yang sama, wanita itu ingin dipuji, dipuja, disanjung, dimanjakan, maka pasti seluruh jiwa raganya akan dipasrahkan pada kita. Banyak pria kurang memahaminya, wanita dijadikan obyek derita, wanita dijadikan pelampiasan nafsunya, tanpa mau mengerti perasaan wanita. Karena hal ini, timbul banyak maslah RT dalam perkawinan, itu tidak lain karena kaum Adam biasanya super egois. Tapi syukur, aku salah satu type pria yang mau mengerti jiwa wanita, aku bisa menyelami perasaan wanita dan aku punya kelebihan bisa membaca suasana hati wanita yang sedang aku hadapi. Demikian yang aku hadapi saat ini, sesosok istri yang cantik, anggun dan manja, penuh romantisme, feminin dsb.

Tepat pukul 18.55 wita, aku tiba kembali dan Henny segera masuk kamar tidur si kecil dan aku menutup pintu pagar. Mobil tetap aku parkir diluar, karena aku pikir tidak lama aku akan pamit pulang. Semua aku lakukan hanya demi menghormati teman baikku, tidak enak berlama-lama dirumah dengan istri orang sendirian saja.
"Rob, kamu jangan pulang dulu yach, temenin aku dinner, okey?", tegur Henny setelah keluar dari kamar.
"Aduh Hen, sorry deh, ini udah malam, ngga enak dilihat tetangga. Khan suamimu ngga dirumah", jawabku.
Tanpa kuduga, wajahnya langsung memerah dan menampakkan kekecewaan yang dalam.
"Rob, aku itu ngga bisa ma'em sendirian, ntar aku ngga ma'em sakit, khan kamu yang repot nganterin aku ke dokter lagi", rayunya padaku.
"Gimana ya Hen", jawabku singkat dan bingung.
"Udah deh, apa aku perlu teleponin istrimu. Please Rob, please bantu aku, temenin aku sekali aja, khan ngga tiap kali kamu bisa nemenin aku berdua aja dinner di rumahku?", rayunya penuh manja.
"Khan udah sering aku makan malam disini, Hen", jawabku menguji.
"Aku pingin berdua aja ama kamu Say.., please yach. Aku mau banyak curhat ama kamu, kapan lagi Rob, mau ya, yach?", pintanya terus merengek tanpa aku diberi kesempatan menjawabnya.

"Ayolah Rob, aku udah siapin masakan kesukaan kamu lho siang tadi. Kamu khan paling suka Tenderloin steak thoo..?", serbunya tanpa aku bisa komentar.
"Okey Hen, gini aja. Aku call suamimu dulu deh, biar suamimu tahu anakmu sakit dan aku tadi ngantarin kamu dan.. aku diundang dinner kamu, gimana okey..?", ini permintaanku yang rasanya win-win situation.
"Boleh aja Rob, berarti kamu mau khan, asyiik..!", begitu responsnya.
Aku berpikir, gawat juga deh menghadapi istri seperti gini, situasi ini bikin aku sulit menolaknya dan segera aku kontak si Har untuk memberitahunya dan ternyata Har penuh pengertian dan sangat percaya padaku dan istrinya.Akankah kepercayaan ini disalahgunakan?
Pembicaraanku dengan suaminya didengar oleh Henny dan langsung wajahnya menampakkan sinar bahagia, seperti anak kecil mendapatkan ice cream.
"Nah Rob.., kamu tunggu bentar yach, aku ganti baju dulu dan siapin ma'em nya biar asyik, benar ngga Say..?", pintanya dengan senyum manis.
"Yach.., aku tunggu deh", sahutku.
Aku pikir, sejak sore hari sudah 3 kali panggil aku dengan kata "Say", apa gak salah tuh istri Har ini?

Bersambung...

Pagar Makan Tanaman - 2

Written by admin on 5:00 PM

Setelah aku tunggu cukup lama sekitar 20 menit, Henny keluar dari balik pintu kamarnya dengan "daster tipis tembus pandang" warna pink.Daster yang menurut aku hanya layak digunakan di kamar tidur bersama suami tercinta. Apalagi dasternya model tali kecil di pundak, dengan potongan di dadanya sangat rendah, sehingga jelas nampak olehku dadanya yang putih mulus dengan belahan bukit kembarnya yang aduhai.. seperti buah sedang ranum-ranumnya. Gila benar Henny ini, pikirku. Karena sinar lampu kamarnya yang sangat terang sedangkan diruang tamu cukup redup, maka di balik dasternya terlihat belahan pahanya yang mulus sampai ke pangkalnya. Di balik daster tipisnya, terlihat BH dan CD mininya berwarna "merah anggur", kombinasi warna yang sangat serasi dan nampaknya Henny ini sukanya warna-warna pastel dan pintar mengkombinasikan warna. Pikirku, di ranjangpun pasti suaminya puas, pasti Henny juga pintar mengkombinasikan gerakan-gerakan ataupun variasi sex yang bikin pria melayang-layang bagaikan di langit ke tujuh.

"Robby sayang.., koq ngelamun terus to, ngga rela yaa dinner disini? Atau ada janji ama WIL mu? he.. he.., bercanda lho Rob..", sapanya bikin aku tersadar dari lamunan sambil dia mendekat padaku.
"Ngawur aja WIL, emangnya aku ada tampang nge-WIL apa? Ngapain mikirin WIL yang jauh, wong ada bidadari disini..", sahutku.
Aku pikir pertanyaan tentang WIl itu pasti cuman pancingan aja dari Henny dan sudah kepalang basah aku buat Henny makin tersanjung aja dengan panggilan bidadari. Aku ingin tahu reaksi selanjutnya.
"Kamu anggap aku bidadari Rob? Ngga salah tuh? Apa pantas sih Rob?", pancingnya lagi makin mendekat, dekat sekali sampai tercium wanginya.
Aku pikir, kena tuh pancinganku. Aku paham benar hati seorang istri/ceweq, kalau udah dimanjain gitu pasti langsung terkapar klepek-klepek, seperti ayam baru disembelih.
"Iya bidadariku.., aku tadi bukan ngelamun tapi kagum ama penampilanmu Hen. Aku bayangkan betapa bahagianya suamimu punya istri seanggun gini. siapa ngga akan kerasan di rumah terus? Seandainya aku punya istri kayak Henny, wah.. aku betah dirumah..", aku sanjung lagi dia.
"Itu menurut kamu.., tapi Har dingin banget koq ama aku. Lagian, apa hanya suami aja yang harus dibahagiakan istrinya? Apa istri juga ngga patut dibahagiakan Rob..?", protesnya dengan manja padaku.
Wah.. mati aku, makin terbuka aja nampaknya nikh. Kena juga pancinganku.
"Wouw, salah besar kalau suami harus dibahagiakan "tanpa" istrinya ikut bahagia. Itu pandangan jaman Siti Nurbaya Hen..!", sanggahku.
"Terus, gimana pendapatmu tentang posisi seorang istri Rob?", tanyanya.
"Aku sangat tidak setuju dengan type cowoq begitu. Di mataku, ceweq itu ciptaan Tuhan yang sempurna, patut untuk disayangi, dihargai, dimanjakan dan untuk itu kita nikah khan karena saling menyayangi, Hen..!".
"Apa suamimu dingin toh Hen..? Kasihan dong kamu Hen..?", tambahku.

Di luar dugaanku, dia tidak menjawab pertanyaanku tapi malah merebahkan kepalanya di pundakku, dan bajuku tahu-tahu sudah basah oleh airmatanya.
"Rob, hanya kamu pria satu-satunya di luar suamiku yang tahu hal ini. Aku percaya kamu, aku tahu kamu baik dan bisa menyenangkan hatiku, makanya aku berani buka penderitaan bathinku selama ini", sahutnya pelan.
"Ak.. ak.. aku lama memendam derita ini Rob! Istri mana yang kuat dengan situasi, Rob..!", tambahnya sambil mulai sesenggukkan.
"Aku pingiin banget cerita ama kamu, aku tahu kamu penyabar dan pasti mau dengerin keluh kesahku.. dan aku harap kamu pria yang bisa membahagiakanku, mau kamu Rob..?", terus aja dia nyerocos tiada henti dan nampaknya bagi Henny malam inilah puncak pemberontakan hatinya.
"Jangan gitu Hen, apalah aku, aku siap koq bantu kasih masukan ke suamimu bila perlu", jawabku sebisanya karena hatiku sudah terbuai aroma birahi.
"Jangan.. jangan Rob, percuma. Dia sudah sangat dingin dan ngga akan berubah dan aku.. aku.. udah ngga respek lagi ama suamiku", jawabnya sambil tangannya menarik tanganku, didekapnya tangan kananku dan pelan-pelan ditaruh di dadanya sambil ditahan oleh kedua tangannya (posisi dia ada di sebelah kiriku).

Perlahan-lahan aku tarik dia dan aku ajak duduk disofa panjang, aku tenangkan dia dan dia kududukkan dikiriku tanpa aku lepas tanganku didadanya, kapan lagi pikiranku yang sudah mulai ngeres. Aku belaian rambutnya yang harum dengan penuh kasih sayang dan kukecup keningnya tanpa permisi lagi. Dia diam saja bahkan matanya dipejamkan sambil wajahnya dipalingkan kearahku, seperti menanti ciuman berikutnya ditempat yang lebih nikmat, benar-benar siap menanti kulumanku.
"Hen.. berapa lama kamu udah menderita, bidadariku..?", rayuku sambil tangan kananku mulai aku turunkan perlahan-lahan.
"Bukan pertanyaan itu yang aku butuhkan Robbyku..", sambil reflek bibirnya menyerangku.
Dikulumnya bibirku, diciumnya dengan nafsu sampai ke hidungku segala, demikian birahinya Henny malam itu.

Tanpa memikirkan bahwa itu adalah istri temanku sendiri dan memang "nafsuku akan sangat cepat meningkat" bila melihat kemanjaan wanita seperti di hadapanku saat ini. Ditambah gaunnya yang menerawang, aroma parfumnya yang pasti harganya jutaan, ketiaknya yang putih bersih tanpa bulu, mata hatiku sudah gelap.. gelap sekali. Aku balas ciuman bibirnya, aku mulai buka mulutkan, aku mainkan lidahnya, aku kulum bibir luarnya yang tipis dan sensual, aku jelajahi rongga mulutnya dengan jilatan lidahku sambil tanganku mulai berani makin turun. aku remas-remas halus, halus sekali buah dadanya. Henny mulai mendesah panjang, ahh.. ohh.. hhm.. hmm..! Tanganku kubawa ke belakang, ingin aku buka ikatan tali BH nya, ehh.. malah dia membusungkan dadanya seolah menginginkan agar segera tali BH itu dibuka.

Sekali tekan, lepaslah tali itu dan.. Henny makin buas menyedot-nyedot lidahku, sampai ketarik dalam sekali dan mau muntah nikmat rasanya. Tangan kananku mulai kedepan kembali, kusentuh pinggir putingnya tanpa aku mau menyentuh putingnya dulu dan tangan kiriku membelai rambutnya. Dia memajukan dadanya, menggerak-gerakkan seolah minta segera disentuh putingnya, dan.. sengaja makin aku jauhi puting itu, makin dia penasaran dan makin desahannya tidak karuan (itu memang teknik aku memancing birahi wanita yang sudah puncak, aku biarkan birahinya tersiksa, dengan teknik ini wanita akan mampu orgasme berkali-kali. Pengalamanku dengan istriku, hanya foreplay dengan sentuhan dan kuluman bibirku di bibirnya di variasi di puting, di telinga dan terakhir di bibir vagina sampai masuk kena klitorisnya, dia bisa orgasme 2-3 kali. Baru setelah itu, aku tembakkan senjataku yang teramat tegang dengan kocokan lembutnya dengan berbagai variasi selama sekitar 10-15 menit, akan membuat minimal orgasme sekali dengan gelora birahi paling puncak dan biasanya aku mencapai klimaksnya dengan memuntahkan spermaku).

"Robby sayang, sentuh.. sentuh putingku Rob, kulum.. cepet kulum Rob.. aku butuh kenikmatan darimu Rob.., ayo.. jang.. jangan mainkan birahiku Rob, aku tersiksa bertahun-tahun, puaskan aku.. puaskan aku, please..!", pintanya sambil berontak dan gaun itu sudah tidak karuan lagi posisinya dan aku terkejut, bibirku digigitnya.
Aku kecup lehernya yang jenjang dan aku kasih kecupan membekas merah anggur, karena aku tahu suaminya masih lama datangnya. Di tengah gelora nafsuku, otakku masih bisa berpikir normal, peduli amat, kalau suaminya mau datang masih nampak merah, aku kerokin aja lehernya, suruh Henny bilang kalau masuk angin, khan beres ngga akan curiga suaminya.

Ciumanku mulai turun ke dadanya, aku lama bermain di sekitar itu sambil jari kananku mulai sentuh putingnya lembut sekali. Puting itu demikian tegangnya, entah berapa lama ketegangan itu terjadi. Dia menggelepar menerima sentuhan lembut pertamaku di putingnya. Aku pilin pelan-pelan dan tangan kiriku mengangkat ketiaknya. Aku angkat dia biar berdiri dengan maksud aku ingin membuka dasternya. Dia paham banget dan membantu menaikkan dasternya keatas dengan cepat dan penuh nafsu, dilemparkannya daster itu jauh sekali sambil menyerbu bibirku kembali.

Tinggallah dua bukit indah dan kenyal di hadapanku dan dibawahnya masih menempel CD merah anggurnya. Demikian buas dan binalnya Henny bila birahinya memuncak, padahal Henny yang kukenal sangat kalem dan lemah lembut. Itulah wanita, sangat berbeda bumi langit antara penampilan luarnya dengan saat di ranjang (kalau mengerti merangsangnya lho yach). Dengan bertelanjang dada dan dengan nafsunya, aku ditarik keras sampai terjatuh di sofa panjangnya. Mungkin ini sudah diharapkan oleh Henny. Tertindihlah tubuh Henny olehku, dengan perlahan tanpa mau melepaskan bibirnya dari bibirku, dia merebahkan diri sambil tangan kirinya menekan kuat aku ketubuhnya, dia ngga mau tubuh kami terpisah, terasa olehku kekenyalan bukit kembarnya.

Tanpa melewatkan kesempatan yang indah di depanku dan situasi birahi Henny yang sudah demikian meletup-letup, maka perlahan tapi pasti ciuman bibirku mulai mengarah ke payudaranya yang kanan, sementara tangan kananku masih melanjutkan memilin-milin puting kirinya. Desahan birahi dan geleparan badannya sudah tidak teratur. Tercium olehku aroma birahi wanita dari nafasnya. Jika pria kurang perhatian, pasti mereka tidak mengetahui perubahan aroma nafas seorang wanita yang birahinya memuncak. Lidahku aku mainkan menggelitik puting kirinya, sebentar aku lepas sesat kemudian aku kulum lagi. Nampak rasa kecewa Henny saat bibirku lepas dari putingnya, tapi matanya terpejam kembali sambil melenguh panjang bila bibirku menyentuh putingnya kembali. Permainan ini sengaja aku ciptakan, biar Henny merasakan ketagihan yang luar biasa, disitu biasanya orgasme wanita hampir tiba.

Tangan kananku mulai lepas dari puting kirinya, perlahan dengan lembut sekali hampir tidak menempel di kulitnya, aku rabakan tangan kananku menurun ke perut dan sekitar pusarnya. Pantatnya sedikit terangkat sambil rambutku dijambak-jambaknya, pertanda meminta sentuhan yang lebih jauh dan lebih nikmat. Dipaksanya kepalaku turun ke bawah, tapi sengaja seolah aku kurang paham, aku terus permainkan puting kanannya, lidahku berputar-putar bagaikan baling-baling helikopter, menerjang keras dan kadang lembut, sambil tangan kananku berputar-putar di antara bawah pusar dan di atas rambut kemaluannya. (Pria yang paham akan hal ini, akan mempermainkan jari-jarinya cukup 1-2 menit di daerah ini, karena daerah ini mempunyai sensitifitas yang tinggi bagi wanita, aliran darah akan memusat di sekitar daerah tersebut, hingga menimbulkan rangsangan yang puncak untuk siap menyemprotkan cairannya. Aku permainkan jariku di situ tidak lama hingga timbul reaksi yang di luar dugaanku sama sekali.

Bersambung...

Pagar Makan Tanaman - 3

Written by admin on 4:59 PM

Dari bagian 2

"Hayo.. sayang, ayo.., sentuhlah pusat kenikmatanku. Henny butuhkan saat ini, ay.. ayo.. ayoo.. Rob. Kejam kamu Rob, kejam kamu, aku mau puncak Rob!", teriaknya keras sekali sambil pantatnya terangkat tinggi bertumpu pada kakinya.
"Iya bidadariku.., tunggu saatnya tiba, aku tahu kapan saat kenikmatanmu akan tiba, aku akan buat bidadariku terbang ke Surga kembali, melayang diawan-awan, ayo Hen.. rasakan.. rasakan yach.., terus.. nikmati aja", celotehku tak karuan lagi sambil tetap memujanya.
Pantatnya terus diangkat beberapa kali sambil menggelepar-gelepar, rambutku dijambak, didorong minta pusat kewanitaannya segera aku sentuh. Aku tetap mendiamkannya, aku buat dia tersiksa dan ciuman bibirku kupindahkan ke puting kirinya dan "secepat kilat", jari tengah kananku menyetuh bibir kemaluannya. Makin menggeleparlah dia dan terasa sudah sangat becek oleh cairan kewanitaannya. Aku gosok-gosok lembut antara bibir kemaluannya sampai ke bawah mendekati anusnya. Saat jariku menyentuh bagian bawah dekat anus, Henny berteriak keras sambil memukul kepalaku.
"Robby.. Robby.., jangan siksa aku, ayoo.. lakukan untukku Say..", pintanya.
Secara pelan aku gosok 3-4 kali, mendadak seluruh tubuhnya mengejang, pantat diangkat tinggi sekali, berteriak histeris dan pundakku dicengkeram dengan kuat dan sampai tergores oleh kukunya. Saat itu menyemprotlah cairan kewanitaannya sangat banyak. Semprotannya seperti pria sedang buang air seninya, sampai mengenai seprei putih di kasurnya. Inilah orgasme pertama yang diterimanya dariku.

Pikirku, tunggu bidadariku, sebentar lagi kubuat kamu melayang-layang kembali, menyemprotkan cairanmu kembali bagaikan pemadam kebakaran menyemprotkan air secara deras. Sejenak tubuhnya melemas, cengkeramannya lepas dari pundakku tapi tangannya mengelus kepalaku. Kulihat senyum manis.. sekali terlihat dari bibirnya yang sensual. Tangan kananku lepas dari kemaluannya, aku elus pahanya sambil bibirku menciumi pusarnya.
"Ahh Rob, geli.. geli Rob! Sayang.., kamu hebat Say.. belum apa-apa aku sudah kamu buat orgasme. Sampai berapa kali Say mau buat aku orgasme seperti tadi?", tanyanya mengandung makna meminta dan meminta.
"Tenang Hennyku yg lembut, berapa kalipun kamu inginkan, aku siap memuaskanmu, kamu malam ini menjadi milikku sepenuhnya", kataku merayu.
"Jangankan malam ini, selamanyapun kalau Robby mau memilikiku, aku siap tinggalkan Har, serius sayangku. Aku butuh kenikmatan darimu", sahutnya.
"Bener nikh bidadariku? Itu tadi belum apa-apa lho, tunggu babak berikutnya yang lebih heboh, surprise untukmu bidadariku..", janjiku.
"Kapan.., sekarang dong Say, aku udah siap nikh menerima serbuanmu".
"Tunggu sayang, sabar aja yach! Kamu akan rasakan bedanya sentuhanku dibanding suamimu dan pria lainnya, tunggu yaa..!", aku meyakinkannya.

Tanganku mulai meraba bawah pusarnya secara halus, terasa gelinjang pantat Henny menerima sentuhanku kembali. Bibirku mulai menjelajahi ketiak kirinya. Menggelinjang lagi dia. Ketiak yang tanpa bulu, putih bersih dan harum baunya, membuat penisku berdenyut-denyut keras dan tak kuduga menyentuh tangan kanan Henny yang masih menggelayut lemas di pinggir sofa.
"Rob.., apa nikh.. pentung karet atau Mr. "P"-mu Say?", celetuknya. (Henny pakai istilah itu untuk penisku).
"Emangnya kenapa bidadariku?", tanyaku pura-pura tidak paham.
"Koq gede banget, panjang dan keras.Apa ngga jebol vagina ceweqmu?", katanya terheran-heran.
"Emang punya suamimu seberapa?", pancingku ingin tahu punya suaminya.
"Ahh.. sudahlah.. jangan nanya-nanya itu lagi. Aku udah bilang, muak aku ama suamiku..", bentaknya.
Bentakan seorang istri yang aku tahu tidak pernah mendapatkan kepuasan dari suaminya, walaupun menunggu sekian tahun, yang saat ini sedang merengkuh kenikmatan tersebut dan merajut kasih dengan teman suaminya.
"Sorry Say, aku merusak susana kenikmatanmu. Okey lupain yach", kataku.
"Ngga apa-apa sayang, sorry aku marah. Aku tidak mau terlewatkan sedetikpun kenikmatan yang baru aku raih bersamamu, Rob..!", sahutnya.
"Robby, mau khan kamu kasih kenikmatan aku lagi, please mulai ya..", pintanya padaku dengan manja sambil mengelus meraih batang kemaluanku.
Tanpa mendapatkan jawabanku, aku mulai menjelajahi seluruh permukaan perutnya dengan bibirku. Aku cium, aku sedot pusarnya yang bersih dan harum (mungkin tadi sedikit disemprotkan parfum).
"Ahh.. nakal kamu yaa Say, geli banget lho Say..!", serunya.
"Mau yang geli atau yang sakit, bidadarku?", tanyaku balik.
"Terserah kamu aja. Aku seneng lho Rob kamu panggil aku bidadari".
Aku teruskan cium pusar itu, terus turun dan turun mendekati bulu indah kemaluannya. Dipikirnya aku akan melanjutkan ke bawah dan mungkin ini yang diharapkan dan aku tahu itu. Sengaja aku buat "trik" agar dia protes dengan cemberut manjanya. Ternyata benar juga.
"Rob, terusin ke bawah donk. Kenapa, jijik ya? Emang kamu ngga pernah kiss kewanitaan istrimu?", pancingnya penuh arti.
"Tenang bidadariku, tunggu dong, sabar..! Kenikmatan akan makin puncak kalau dilakukan dengan lembut sayangku", sahutku.
"Ini yang ngga aku dapetin dari Har lho sayang..", pengakuan jujurnya.
Aku kulum terus sekitar pusar dan bulu halus kemaluannya dia terus mendesah dan makin keras desahan itu sambil mengangkat tinggi pantatnya minta kusentuh klitorisnnya. Tapi aku biarkan dia menderita dengan kenimatannya, aku bikin nafsu birahinya mendekati puncak lagi. Aku baru mau memulai babak kedua untuk kenikmatannya.

Babak kedua aku mulai dengan mencium mata Henny. Dia diam dan menikmatinya sekali. Kudiamkan cukup lama kecupanku di matanya, sambil jari tengah tangan kananku bermain di pusarnya. Kuraba pinggir pusarnya, berganti masuk ke dalam pusarnya. Keluar lagi, masuk lagi terus menerus sampai dengus nafasnya mulai timbul lagi karena rangsangan itu.
Ciumanku beralih ke rambutnya, turun ke telinga kanannya, lidahku menjilati daun telinga bagian dalamnya, menjelajahi semua daerah dalam telinganya dan nampak tubuh Henny mulai menggeliat penuh nafsu. (Bagi sebagian wanita, daun telinga karena kulitnya sangat tipis, sangat sensitif menerima rangsangan dan hasilnya biasanya dahsyat, biasanya langsung cairan kewanitaannya mengalir keluar di vaginanya).

Aku tahu dia suka dengan jilatan di telinga itu, maka sengaja kuperlama, terus turun leher bagian dalam (bawah dagu) dan naik lagi ke dagunya. Lenguhan panjang mulai sering keluar spontan dari mulutnya. Kuturunkan ciuman tersebut ke payudara kirinya, sementara tangan kananku mulai turun menyentuh bibir kemaluannya, mengelusnya, sedangkan tangan kiriku memilin-milin puting kanannya. Aku tekan keras, aku longgarkan, aku tekan lagi sambil aku lakukan gigitan mesra di puting kirinya.
"Auuw.., ihh nakal cayang yaa..", jerit kecilnya sambil membelai rambutku dengan manja.
"Teruskan Say.. Say.., aku suka koq, gigit lagi Say, gigit..", pintanya.
Ahh.. kena juga pancinganku, tambah lagi daerah sensitif Henny yang kuketahui (telinga, pusar, sekitar bulu kemaluannya dan putingnya). Seolah tanpa merespons, aku sedikit menjauh dan ternyata dia menyorongkan susunya mulutku. Aku gigit mesra lagi, pelan tapi lama tak kulepaskan. Dia menggeliat hebat dan menjambak rambutku.
"Gila kamu Rob, pintar banget kamu menaikkan nafsuku. Gila.. gila..", celotehnya nggak karuan sambil tetap menjambak rambutku keras sekali.

Aku buat strategi baru.Tangan kananku meninggalkan kemaluannya dan dia nampak tidak mau tanganku menjauh dari situ, sebab tangannya menuntun tanganku kembali ke sana. Tapi aku lepaskan. Kedua tanganku beralih ke gunung kembarnya yang putih dengan putingnya yang masih kemerah-merahan. Melihat bentuk sekitar putingnya, nampaknya si Har jarang menyedot dan mengulumnya. Sebab kalau puting sering dikulum dan disedot, apalagi sudah punya anak, pasti akan berubah warna coklat kehitam-hitaman. Aku remas-remas kedua susunya sambil aku mainkan putingnya. Kemudian aku tarik sama-sama ketengah dan kutemukan ujung puting kiri dan kanannya, aku hisap dalam-dalam sambil aku gigit pelan sekali. Nampaknya dia menikmati sekali dan minta lagi dan lagi dengan menekan kepalaku agar tidak bisa lepas dari kedua ujung putingnya.

"Ahh.. Ohh.. hhm.. hmm.., terus Rob, terus! Gila bener, Ahh.. terus sedot, terus gigit Say sampai pagi, nikmat sayangku.. nikmat sekali, jangan pernah berakhir Say, terus.. terus, Ahh.. Ohh..!", rintihnya hebat.
Wouw.. aku lihat rona wajahnya memerah pertanda telah terjadi dilatasi atau pelebaran semua pembuluh darahnya, menampakkan darah mengalir deras ke seantero tubuhnya. Kepalanya menengadah keatas sambil melenguh panjang. Terus aku sedot-sedot, aku pilin-pilin kedua putingnya dengan lidahku. Aku putar-putarkan lidahku menjelajahi semua daerah putingnya, makin mengeras sekali kedua putingnya (mungkin suaminya tidak pernah membuat sensasi seperti ini). Didorongnya kepalaku mengarah ke bawah dengan kedua tangannya yang halus dan aku tahu apa yang diinginkannya, tapi kembali birahinya benar-benar aku permainkan, aku ingin dia mendapatkan orgasme kedua kalinya. Aku acuh saja dan tetap menyedot kedua putingnya, sampai dia berteriak.
"Ohh.. geli, ngilu, kejang semua tulangku Rob, stop.. stop ngga kuat aku Say, udah.. udah..! Ahh.. hmm.. hmm.. ehh..", dengusnya sambil mengangkat dadanya.

Pelan-pelan aku lepaskan kedua puting susunya, ciumanku mulai turun ke sekitar pusarnya lagi, tangan kananku mulai meraba bibir vagina. 'Serangan fajar' mulai kuaktifkan, klitorisnya mulai aku sentuh dengan jari tengahku dan ciumanku di sekitar pusar dan bulu kemaluannya aku tingkatkan sambil aku sedot-sedot. Ini menaikkan aliran darah vaginanya. Jariku mulai masuk perlahan-lahan, mencari lubang pipisnya, terus masuk menjelajahi rongga-rongga labia minoranya. Secara refleks pantatnya terangkat keatas meminta agar terus disentuh. Pelan tapi pasti, jariku terus masuk dan naik ke atas klitoris bagian dalamnya, mencari pusat G-Spotnya. Dia berontak bukan marah tapi mungkin berontak, 'mengapa tidak dari tadi kau sentuh bagianku ini?'. (Siapapun wanita itu, kalau G-Spotnya sudah ditemukan dan dirangsang lembut, pasti akan terbang melayang diawan-awan dan dijamin 100% semprotan cairan kenikmatannya akan segera datang).

Kutemukan segumpal daging kecil seperti kutil, masih lembut dan halus dan lembek. Perlahan tapi pasti aku gosok-gosokkan jariku disekitar G-Spotnya, dan.. bagian itu mulai mengeras, tidak lagi lunak tapi mulai kasar permukaannya, bagaikan pasir mengeras, bergerigi dan membesar. Gerakan tubuh Henny sudah tak teratur dengan lenguhan panjang penuh birahi, pertanda semprotan kedua segera tiba.
"Ahh.. Oou.. ngilu Rob, ahh.. aku koq pingin pipis Rob, pipis Rob, pipis..! Rob.. tunggu, tunggu Rob, aku mau pipis nikmat..", rintihan birahinya.
"Pipiskan aja Say, keluarkan, semprotkan Say, muncratkan, nikmati Say..", bisikku mesra ke telinganya.
"Ngga kuat Rob.. ngga kuat! Ngga apa-apa to aku pipis?", tanyanya.
Gila.. pikirku, dia ngga pernah ngerasain pipis birahi? Gila.. apa yg dilakukan suamimu Hen.., keluhku dalam hati. Betapa menderitanya Henny tanpa pernah ada yang membahagiakan bathinnya.
"Aahh.. Ahh.., Rob.. aku pipis Rob..! Rob, tolongin aku Rob, ngilu Rob.., ngilu banget Rob! Ahh.. ahh..", teriaknya dengan histeris sambil tangannya mencakar punggungku kedua kalinya.
Cairannya menyembur keluar seperti yang pertama, kembali mengenai sofanya banyak sekali.
"Robby cayang, gila benar kamu Rob! Udah dua kali kamu buat aku mencapai puncak, meskipun Mr "P"-mu belum sempat menyelam lubang pipisku..", celoteh kekagumannya.
Aku biarkan dia mengoceh dengan kenikmatannya.
"Rob, aku lemes, panas! Keringatku banjir lho Rob.., bawa aku ke kamar, di kamar sejuk karena AC-nya udah aku hidupin dari tadi", sambil kedua lengannya menggelayut di pundakku pertanda minta kugendong manja.
"Okey tuan putri, demi bidadariku, aku siap melakukan perintah tuan", sahutku memanjakannya.
"Aku cayaang.. banget ama kamu Rob, kamu pintar banget puasin aku".
"Hen, itu baru ronde kedua dan belum apa-apa lho, masih kuat ngga?", tanyaku memancing nafsunya sambil menggendongnya dan masuk ke kamarnya.

Bersambung...

Pagar Makan Tanaman - 4

Written by admin on 4:58 PM

Dari bagian 3

Kamar yang sangat pribadi yang hanya boleh dimasuki oleh suami istri sah, saat ini aku menginjakkan kakiku di dalamnya. Gila, suasana kamarnya demikian romantis, ranjangnya dibungkus kelambu tipis seperti dalam film roman barat atau seperti kamar hotel bintang lima saja. Dindingnya penuh wallpaper bernuasa lembut dan romantis. Kasurnya sangat empuk dan 'mentul-mentul'.

Kuletakkan tubuhnya dengan lembut di ranjang, tapi lengannya tak mau lepas dari pundakku. Ditariknya aku mendekat dan diciumnya mataku dengan manja. Aku elus lembut betisnya, perlahan naik kepahanya dan aku stop sampai disitu dulu, memberi kesempatan dia melepas lelahnya. Dia nampaknya tidak setuju dan dia mengelus batang kemaluanku sambil tidur memandangku. Spontan penisku tegang. Dielusnya lembut naik turun penisku, nikmat sekali rasanya mendapatkan sentuhan seorang istri kesepian yang haus kenikmatan birahi. Matanya sayu menatapku dengan wajah meminta dilanjutkan di ranjangnya.
"Rob, kapan kamu keluarinnya. Sini aku hisap mau..?", pintanya memelas.
Batinku, 'Siapa yang ngga pingin? Tapi ntar dulu bidadariku. Aku akan bikin kamu bergetar lebih hebat dalam ronde ketiga, sampai habis cairan nikmatmu nanti'.
Karena elusan lembut tangannya pada buah zakarku, aku mengelinjang dan jujur saja nafsuku naik demikian hebat. Mataku sudah gelap, ingin segera kutembakkan penisku ke liang memeknya. Tapi alam sadarku masih main, aku bertekad bikin Henny benar-benar terkapar dan mencari kenikmatan terus dariku.

Henny telentang di tepi ranjang. Wajahku mulai kuturunkan ke kakinya. Henny heran dan melihatku ke bawah sambil meremas penisku tanpa sadar.
"Kamu mau ngapain cayang, koq ke kakiku?", tanyanya dengan heran.
Tanpa menjawab, aku teruskan program kerjaku ngerjain Henny, kapan lagi aku bisa tunjukkan kemampuanku memuaskan dia, pikirku. Aku ciumi ujung jarinya, aku hisap jempol kakinya.
"Ahh.. gelii..", reflek dia tarik kakinya menjauh dari mulutku.
"Aduh sayang.. nikmat sekali. Pintar juga kamu menaikkan birahiku", tambahnya sambil meremas penisku yang tak lepas dari genggamannya.
Aku tarik kembali kakinya dan kuteruskan menciumnya, terus naik ke betisnya. Dia mulai menggoyangkan kedua kakinya, bergerak kesana-sini. Aku tahu dia mulai terangsang lagi. Segera bibirku kuarahkan ke lututnya dan aku cium kuat-kuat sambil kupegangi agar tidak lepas dari ciumanku. Dia berontak hebat.
"Oouw.., geli..! Teknikmu banyak banget sih Rob, bisa gila aku ML ama kamu..", celotehnya penuh nafsu sambil mulai mengocok penisku lembut.

Aku teruskan ciumanku karena aku tahu dia menikmatinya dan lututnya diangkat ke atas sambil melenguh panjang. Tangan kiriku mulai meraba pahanya, pelan tapi pasti rabaanku menuju pangkal pahanya dan seperti mengerti dan memang menanti, dia buka lebar pahanya, sehingga terlihat klitorisnya yang memerah. Darah sudah mengumpul didaerah itu, pasti sensitifitasnya udah sangat tinggi. Jariku berputar-putar dibibir kemaluannya sambil sesekali seperti tanpa sengaja aku menyerempetkan tanganku ketengah vaginanya, dia menggelinjang manja seperti berharap terulang lagi. Setelah basah lututnya oleh air liurku dan penisku sudah ngga tahan karena elusan jarinya yang lembut, aku mengalihkan ciumanku ke pahanya. Nampak dia melenguh manja sambil kepalanya menggeleng ke kiri dan ke kanan, tanda birahinya mendekati puncak. Pelan tapi pasti, kucium terus sampai menyentuh area lipatan pahanya yang menghubungkan bibir kemaluannya. Sebagian wanita, juga sangat mengharapkan daerah tersebut disentuh, dijilati dan dihisp-hisap. Kenikmatannya sungguh berbeda, mengantarkan ke puncak orgasme. Benar juga dia sudah mulai menggelinjang keras sambil mengangkat pantatnya, sehingga rambut halusnya menyentuh hidungku. Bibirku perlahan-lahan masuk ke wilayah rambut kemaluannya yang tipis. Bulu Henny tipis sekali, tidak terlalu lebat dan tidak kasar. Nampak sengaja bulu itu dirawatnya dengan baik dan harum bercampur aroma khas kewanitaannya mulai aku rasakan, menambah syahwatku meningkat. Kudenguskan nafasku ke liang vaginanya tanpa menyentuhnya dulu. Ini teknik juga untuk memancing agar sang wanita memburu dan setengah memaksa meminta agar menyentuhnya. Benar saja, dia sodorkan bibir kemaluannya ke mulutku kedua kalinya.

Langsung aku meresponsnya karena aku pikir sudah saatnya gelombang kenikmatan aku antarkan ketiga kalinya. Dengan kedua jariku, kubuka sedikit bibir kemaluannya, kutemukan klitorisnya, kukulum, kujilat dan.. kusedot-sedot. Wouw.. rekasinya sungguh dashyat, pantatnya melonjak keatas memukul gusi dan gigiku, luar biasa reaksi wanita yang sedang penuh birahi. Kulumat lembut ujung klitorisnya, merembet ke tepi bibirnya dan menuju bibir bawah yang menyambung ke anusnya. Kembali lonjakan histeris terjadi hingga dia berteriak keras.
"Rob.., ahh.. ahh.., aduhh.. ngga kuat, ayo masukkan, masukkan..", pintanya histeris.
Aku diamkan saja, aku goyang-goyangkan dan lidahku menari-nari di permukaan vagina Henny. Gerakan kakinya tak beraturan lagi, kepalanya ke kiri-ke kanan sambil jari tangan kiriku aku masukkan ke mulutnya. Disedot-sedotnya jariku sambil kadang digigitnya menahan kegelian klitorisnya yang kusedot-sedot.

Lidahku makin menjelajah lebih dalam ke rongga vaginanya, keatas-kebawah, sambil menari-nari. Cairan sudah mengalir namun orgasme belum tiba. Tangan kananku sedikit membantu membuka jalan agar lidahku bisa masuk jauh ke dalam, bila perlu sampai ke dekat G-Spotnya. Lidahku bisa masuk dan mulai naik ke bagian atas klitoris bagian dalam dan tak lama..!
"Robby.., aku mau pipis lagi Rob! Gila kamu Rob, kamu apain aku ini?", teriaknya sambil kukunya mencengkeram rambutku dan menekannya keras kepalaku lebih menempel ke liang vaginanya dan kakinya menjepitku.
"Crutt.. cruut.. cruut..! Ahh.. gila.. gila Rob, ngilu Rob..", cetusnya.
Seketika itu juga cairan itu muncrat dan masuk ke kerongkonganku. Asin, gurih, putih pekat dan nikmat sekali. Langsung kaki dan tangannya lepas mencengkeramku dan kini lemah terkulai diatas kasurnya. Cairan itu tidak sampai jatuh ke sepreinya, karena tertelan semua olehku. Aku mulai menjilati vaginanya, membersihkan cairan yang tersisa dan menelan semuanya.
"Ihh.. ngilu Rob.., kamu ngga jijik Rob?", tanyanya menatapku heran.
"Ngapain jijik ama cairan orgasmemu, kalau sayang, maka segalanya yang bisa menyenangkan hatimu, pasti aku lakukan", jelasku padanya.
"Kamu baik ya Rob! Aku ngga pernah lho dimimik ama suamiku. Apalagi mau sampai jilatin, wong orgasme sampai muncrat kayak tadi aja gak pernah", keluh kesahnya padaku sambil mengelus penisku.
"Kamu bikin aku gila beneran Rob! Nafsuku menggila, puncak kenikmatanku pertama kali gila kayak gini. Aku bisa tergila-gila ama kamu Rob..", tambahnya belum puas memujiku.
"Kamu belum tembakkan pelurumu, aku udah 3X orgasme, wah.. ceweq mana ngga gila ama kamu, Rob..!", celotehnya terus karena kepusan yang kuberikan.
"Aku ngga pernah main ama ceweq lain kecuali istriku", bantahku.
"Kalau malam ini sama siapa Rob, hayoo..!", sergahnya.
"Ohh, itu lain bidadariku. Berdosa aku kalao nggak memuaskan birahimu", jawabku.

Sambil saling memuji dan menyanjung, tanganku mulai memainkan putingnya lagi hingga terjadi denyutan di bibir vaginanya. Aku lihat handuk kecil di ujung ranjang. Aku tarik dan aku pergi ke toilet untuk memberikan sedikit air di handuk tersebut, lalu aku oleskan dengan lembut di vaginanya. Segera kukeringkan bibir kemaluannya dengan tiupan dari mulutku. Henny terkejut menggelinjang geli, mungkin sisa-sisa rasa ngilunya masih tersisa. Karena sudah ketiga kalinya aku membuat Henny orgasme, sudah menjadi kebiasaanku pada istriku, saatnya tiba babak terakhir dimana biasanya aku masukkan penisku ke liang kemaluan istriku. Dihadapanku ada Henny yang terkapar kenikmatan, sementara aku belum meraihnya, ini saatnya.

Langsung straight, ciumanku tertuju pada klitorisnya. Kujilati kiri dan kanan, atas dan bawah sampai pertemuan anusnya. Anusnyapun tak luput aku jilati. Disini Henny menjerit hebat sambil pantatnya terangkat. Cairan putih membasahi klitorisnya, aku hisap dalam-dalam sampai Henny berontak melompat.
"Rob.., ahh.. ooh.., geli Rob! Ayoo.. masukkan, aku capek Rob, please..", pintanya.
Aku naiki tubuhnya dan posisiku menindihnya. Spontan lengan Henny meraih penisku.
"Penismu gede banget cayang, ayoo masukin yach..", pintanya.
Digosok-gosokannya ke klitorisnya, turun ke bawah dekat anus, ke klitoris kembali, sedikit ditekan masuk dan ditarik keluar kembali.
"Ayoo cayang, aku udah ngga kuat. Ngga kebayang gimana ngilunya aku saat penismu yang besar ini nembus liang kenikmatanku..", pintanya.
Perlahan dituntunnya penisku ke arah liangnya, pelan dan dengan lembut aku bantu dorong masuk, agar Henny tidak terkejut dan nyeri karena penisku. Kutekan, kutarik, kutekan dan kutarik. Makin lama tekanannya makin dalam dan.. masuklah setengah penisku ke liang kenikmatannya.
"Oou.. sakit Say, pelan aja yach. Sini aku bantu", katanya meringis.
Karena sudah terlumasi oleh cairan kewanitaannya, cukup mudah penisku masuk walaupun agak sempit. Makin lama makin habis tertelan penisku dan Henny melenguh nikmat sambil matanya melek merem, kepalanya ke kiri dan kanan. Kudiamkan sejenak, ini teknik juga buat membuat wanita menderita menanti sodokan akhir. Henny mengangkat pantatnya meminta aku memulai sodokan mesra.

Kusodok pelan-pelan, bagaikan film slow motion.Ini membuat Henny merengkuh kenikmatan yang luar biasa. Biasanya kaum Adam kalau sudah begini digenjot seenaknya sendiri tanpa variasi kenikmatan pasangannya.
"Hayo.. Rob, aku udah ngga kuat..! Aku mau puncak lagi nikh", rengeknya.
Terasa penisku disedot-sedot di dalam lubang kenikmatannya, kuat sekali cengkeraman Henny sampai lututku terasa ngilu dibuatnya. Dipelintir, disedot tak karuan lagi rasanya, hanya nikamt surga kurasakan. Kugenjot makin kuat dan keras, terdengar bunyi ceplak.. ceplok.., karena basahnya bibir kenikmatan Henny. Selama 10 menit dengan posisi itu, Henny berteriak-teriak histeris karena penisku menyentuh mentok rongga dalam vaginanya. Seprei sudah acak-acakan dan cakaran-cakaran nikmat banyak tergores dipunggungku. Karena aku sudah lelah dan Henny juga loyo, tak terasa sudah 3 jam berlalu, dengan seluruh fantasiku, kupaksakan diri untuk segera orgasme. Dengan beberapa sodokan kilat, aku mengerang keras sambil menjambak rambut Henny. Demikian juga Henny mengerang keras makin menyedot-nyedot penisku di dalam, kedua pahanya menggapit pinggulku kuat sekali. Kepalanya bergoyang tak beraturan lagi.

"Ahh.. ahh.., Hen.. aku keluar Hen! Ahh.. Ohh.., ayo sama-sama, Hen..", pintaku.
Crott.. crott.. crott.., tembakan cairan spermaku keras menyembur di liang kenikmatan Henny. Demikian juga Henny.
"Robby.. Robby.., peluk aku Rob, nikmat Rob, nikmat sekali..", lenguhnya keras sekali.
Serr.. serr.. serr.., cairan itu dimuntahkannya. Terasa oleh penisku ada semburan hangat menerpa dan banyak sekali, deras..! Kami berdua lemas, lelah dan aku rebah disampingnya, diapun memiringkan tubuhnya tanpa mencabut penisku dari liang kenikmatannya.
"Robby, thanks berat yach! Aku ngga nyangka bisa orgasme 4X dalam sekali permainan. Kamu hebat bisa bikin aku gini. Aku takut kehilanganmu Rob, please jangan pernah lupakan aku yach..", cetusnya.
"Suamiku kalau ML denganku, ngga lebih dari 3 menit udah muncrat.., aku ngga pernah orgasme sekalipun, ini udah 7 tahun pernikahanku", keluhnya.
Tanpa terasa airmatanya menetes lagi dan kusuap dengan jariku penuh kasih sayang dan kuyakinkan dia bahwa aku akan selalu menyayanginya.
"Henny sayang, kapanpun kamu butuhkan aku, aku siap memuaskanmu. Suamimu di rumah, kamu call HP-ku, kita atur pertemuan di P Cottage yach..", pesanku.
Aku cabut penisku yg masih tegang dan kami berdua mengakhirinya dengan mandi bersama dan kami tidak jadi dinner karena sama-sama lelah dan terpaksa aku menginap di rumahnya sampai mentari menyingsing di ufuk timur. Bahagia sekali Henny pagi itu, bagaikan baru saja meraih piala Citra yang diidam-idamkan oleh para artis film Indonesia.

Demikian kisah nyataku dalam memenuhi birahi istri temanku sendiri dan akan kulanjutkan kisah asmaraku dengan Henny dalam episode berikutnya yang lebih seru dimana Henny merekomendasikan 2 temannya dengan status istri, untuk menikmati kebahagiaan seperti yang dirasakannya.

TAMAT

Hadiah bagi Pahlawan 01

Written by admin on 6:08 PM

Saya berasal dari Tasikmalaya dan sudah 2 tahun menempuh kuliah di Jakarta. Di sini aku tinggal di sebuah rumah kost yang dihuni banyak mahasiswa perantauan sepertiku. Kisah ini bermula ketika aku sedang berbelanja ke sebuah mall di Jakarta. Aku tidak sendirian, tapi bersama 2 gadis teman kostku, mereka adalah Diana dan Sinta. Keduanya cantik dan sama-sama warga keturunan sepertiku. Diana adalah seniorku semester akhir, sama-sama jurusan manajemen denganku, sifatnya pendiam, banyak yang mengatakan dia judes karena jarang tersenyum, karena sifat tertutupnya inilah temannya cuma sedikit, tapi kalau sudah akrab ternyata orangnya baik dan menyenangkan. Dia sering membantuku dalam tugas-tugas kuliah. Hubungan kami seperti kakak adik, orangnya putih cantik, tinggi, rambut panjang, wajah oval dan bodinya ideal, kalau dilihat-lihat mirip dengan Vivian Hsu, sedangkan Sinta seangkatan denganku tapi dari fakultas psikologi, pacarnya adalah salah satu temanku yang sedang belajar di luar negeri, sifatnya periang dan humoris, kadang-kadang suka bercanda kelewatan, tingginya skitar 160 cm, bodinya langsing, berambut lurus sebahu, wajahnya putih licin dengan hidung mancung, dia dan aku termasuk beberapa dari segelintir orang yang dekat dengan Diana.

Malam itu langit sudah gelap kira-kira jam 19:00, kami sudah selesai berbelanja dan sedang menuju tempat parkir bertingkat. Tempat itu sudah sepi dan gelap karena aku kebetulan parkir di tingkat agak atas jadi jarang ada kendaraan. Suasana di sana cukup menyeramkan hanya diterangi lampu remang-remang. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh 2 orang preman berpenampilan sangar yang menghadang jalan kami.

"Hei babi, tunggu dulu kalo mau lewat serahin dulu duit yang kalian punya, ayo!" kata yang kurus gondrong itu.
"Wah gile bawa cewek juga nih dia, cakep-cakep lagi, eh cewek mau main sama kita nggak!" timpal temannya yang berambut cepak. Aku segera bergerak menepis tangan si cepak ketika hendak mengelus pipi Diana yang tampak ketakutan.
"Hei, hei.. kalau mau duit gua ada tapi jangan macam-macan sama temanku!" bentakku padanya.
Rupanya mereka tidak terima dan si gondrong mengeluarkan pisau lipatnya dan menyerang ke arahku, aku menghindar dan menangkap pergelangan tangannya, kupuntir dengan jurus aikido yang kupelajari sejak SMA, "Ci Diana, Sinta, cepat masuk ke mobil dan lari, jangan tunggu gua!" seruku pada mereka seraya memberi kunci mobil pada Diana, mereka segera masuk ke mobil dan kudengar mesin sudah dinyalakan tapi bukannya lari malah menungguku.

"Heh bangsat, mau jadi jagoan loe, ayo kita hajar dia dulu Wan baru kita kerjain cewek-ceweknya," kata yang gondrong pada temannya. Si cepak menerjang ke arahku tapi kutendang perutnya sampai terhuyung-huyung ke belakang.
"Ayo masih berani maju?" tantangku dengan memasang kuda-kuda. Yang cepak itu masih belum kapok, dia mengeluarkan pisaunya dan mencoba menusukku, kami sempat terlibat pertarungan seperti dalam film-film action. Tanganku sempat tersabet pisau dan membuat luka gores sepanjang kira-kira 10 cm, namun aku berhasil merebut pisau si gondrong dan kupatahkan pergelangan tangannya, sementara yang cepak terkena tinjuku pada mulutnya sehingga terlihat darah pada bibirnya.

Sebenarnya aku mulai kewalahan tapi aku mencoba tetap tenang dengan menggertak mereka dengan pisau yang kurebut sambil berdoa dalam hati, kami terdiam sesaat lalu mereka perlahan-lahan mundur, membalikkan badan dan kabur entah kemana, akhirnya berguna juga ilmu bela diri yang kupelajari selama ini. Aku segera masuk mobil, kusuruh Diana segera tancap gas, dengan wajah masih tampak tegang dia segera menjalankan mobil dan keluar dari situ.

Sinta berkata padaku, "Ihh tangan kamu berdarah tuh, kamu nggak apa-apa?". Sinta membantu mengobati lukaku dengan peralatan P3K di mobilku.
"Leo, kamu nggak apa-apa, kita ke rumah sakit ya," sambung Diana.
"Ah nggak usah kok cuma luka gores aja, nggak sampai kena tulang lagi, tinggal diobatin dan diperban sendiri aja, kalian tenang sajalah, harusnya gua yang terima kasih pada kalian, kalian sudah gua suruh kabur dulu tapi malahan nungguin, kalau gua kalah tadi gimana coba!"
"Leo, kamu masih anggap Cici ini temanmu nggak sih, kamu pikir kita tega ninggalin kamu sendirian kayak gitu!" kata Diana dengan ketus dan menatap tajam ke arahku.
"Udah Ci, lagi nyetir jangan marah-marah, Leo kan tadi kuatir keselamatan kita juga, uuhh.. kamu sih asal omong!" Sinta mencoba menenangkan sambil menyikut dadaku, aku diam saja daripada ribut sama cewek, bukannya takut tapi bikin pusing apalagi mendengar omelan Sinta kalau lagi bawel.

Sesampainya di kost, aku menyuruh mereka istirahat saja supaya tenang, aku sendiri segera masuk kamar. Kira-kira jam 9 malam, aku sedang membaca tabloid Bola, pintuku diketuk, ternyata yang datang Diana dan Sinta yang sudah memakai pakaian tidur.
"Loh, ngapain kalian berdua ke sini malam-malam begini?" tanyaku.
"Kita cuma mau berterima kasih barusan itu, kamu tadi hebat banget deh Le, mirip Jet Lee aja aksinya," puji Sinta dengan tersenyum.
"Boleh kami masuk, ngobrol-ngobrol sebentar?" tanya Diana.
Akhirnya kupersilakan mereka masuk juga mumpung belum ada yang lihat.

"Gimana lukamu Le, sori banget ya demi kita kamu jadi gini, kalo nggak ada kamu nggak tau deh gimana nasib kami," kata Sinta sambil memegangi lenganku yang sudah diperban.
"Ah luka kecil, nggak lama juga sembuh kok, kalian tenang deh."
"Le, kamu hebat deh tadi, makannya kita ke sini rencananya mau membalas budi nih, kami ada hadiah kecil buat kamu," sahut Diana.
"Oh, nggak usah Ci, kita kan temen kok pake hadiah-hadiahan segala."
"Eee, harus diterima lho kalo nggak gua nggak mau omong sama kamu lagi nih!" sambung Sinta setengah memaksa.
"Ya, iya deh, aku terima aja biar kalian puas, makasih loh."
"Tapi loe tutup mata yah, soalnya ini surprise loh," katanya lagi.
"Wah, apa sih pake rahasia segala, ya udah deh, gua merem nih," kataku.
Aku bersandar di ranjang sambil memejamkan mata, kudengar suara tirai ditutup dan Diana berkata, "Awas jangan ngintip ya, ntar batal loh hadiahnya!" disambung dengan suara Sinta ketawa cekikikan.

Akhirnya aku merasakan salah seorang duduk di sampingku dan meraih tanganku.
"Sudah siap?" ternyata suara Diana.
"Sudah, boleh buka mata belum Ci?"
"Tunggu bentar lagi." jawabnya.
Tanganku disentuh & diusapkan pada suatu benda kenyal olehnya. Betapa kagetnya aku ketika meraba benda itu ternyata adalah payudara wanita. Segera kubuka mata dan benar saja, Diana duduk di samping kiriku tanpa sehelai benangpun dan menumpangkan tanganku di payudaranya, sementara Sinta yang juga sudah polos mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu meja sehingga suasana menjadi remang-remang.

"Nah kalo gini kan jadi romantis suasananya." katanya.
Benar-benar kaget bercampur terangsang aku saat itu, aku baru pertama kalinya melihat mereka polos. Tubuh Diana ternyata benar-benar aduhai, perut rata, paha jenjang yang mulus, bulu kemaluan yang rapi dan lebat, dan payudaranya lumayan besar dan kencang, benar-benar mirip dengan Vivian Hsu yang sering kulihat gambar-gambar bugilnya. Tubuh Sinta tidak kalah menarik walaupun payudaranya tidak sebesar Diana, mungkin hanya 34 dengan puting merah muda dengan bulu kemaluan yang lebat pula.

"Loh, kok.. kok begini sih, terima kasihnya kelewatan deh kayaknya," kataku sedikit gagap dan jantungku berdebar kencang karena aku belum pernah main dengan perempuan lain selain pacarku sendiri.
"Tidak Le, kamu memang pantas menerimanya, jadi hutang budi ini impas," jawab Diana lalu dia membuka ikat rambutnya sehingga rambut panjangnya tergerai bebas sedada.
"Wah, Ci liat, mukanya merah tuh, dia malu sama kita kali," kata Sinta sambil tertawa.
"Nggak usah malu Le, kita kan temen dekat bukan orang lain," kata Diana seraya membelai pipiku dan mencium bibirku. Imanku langsung runtuh karena perlakuan mereka, begitu bibirnya menempel di bibirku segera kusambut dengan tarian lidahku di mulutnya, lidah kami saling beradu dengan penuh nafsu, tanganku sudah mulai memijat-mijat buah dadanya dan mulai turun meraba-raba paha mulusnya naik lagi ke kemaluannya dan kuberikan sentuhan halus pada klistorisnya.

Diana yang biasanya pendiam dan lemah lembut itu, malam itu begitu liar & penuh nafsu jauh dari yang sehari-hari. Sinta tidak tinggal diam, dia memelorotkan celana trainingku dan CD-ku sehingga barangku yang sudah tegang menyembul keluar. "Wah besar juga nih, pantes si Vivi betah sama lu Le," godanya. Dijilatinya senjataku dengan penuh nafsu, lalu dimasukkan ke mulutnya dan diemut-emut seperti seperti permen lolipop. Sementara ciumanku pada Diana sudah mulai turun ke dagunya, lalu ke leher. Kusibakkan rambut panjangnya ke samping kiri lalu kujilat-jilat leher kanannya, kugigit pelan sambil menyapunya dengan lidahku. Nafas Diana sudah mulai kacau matanya terpejam sambil mendesah dan meremas-remas rambutku, aku sendiri merasakan sensasi hebat pada batanganku yang sedang dikulum Sinta, baru pertama kalinya kurasakan kenikmatan bercinta dengan dua wanita.

Tanganku mulai naik dari kemaluannya menuju dadanya dan lidahku turun menuju sasaran yang sama, akhirnya kutangkap dada kanannya dengan tanganku dan dada kirinya dengan mulutku, disaat yang sama juga tangan kiriku mengelus-elus pantatnya yang indah itu. Puting yang ranum itu kusedot dan kutarik-tarik dengan mulutku dan dada kanannya kuremas-remas sambil memencet putingnya.

Setelah beberapa saat kurasakan barangku mau meledak karena kuluman Sinta.
"Sin, Sin udah stop dulu.. gua udah nggak tahan nih!" kataku terbata-bata.
Akhirnya dia menghentikan kegiatannya dan berkata, "Lu gitu ah, masa mainnya sama Ci Diana terus, kamu nggak suka Sinta ya, ntar gua bilangin loh ke Ko Hendy (pacar Diana) biar digebuk hehehe.."
"Sori dong Sin, abis kan tadi Ci Diana yang mulai dulu, jadi dia yang duluan dapet."
"Ya udah, biar adil kita undi saja siapa yang lebih dulu melayani Leo, gimana Sin?" Diana memberi usul. Mereka berdua suit dan yang menang adalah Diana.

"Yah, Sinta kalah, ya udah Cici duluan deh, jahat ah!" kata Sinta mencibir pada Diana.
"Tenang Sin kamu juga ntar kebagian kok, Leo kan kuat, ya nggak," kata Diana sambil melirik padaku. Kini Diana berbaring terlentang di ranjang dan Sinta duduk di tepi ranjang menunggu. Kuciumi sekujur tubuhnya mulai dari bibir dan sesampainya di kemaluan, kuangkat kedua kakinya ke bahuku sampai tubuhnya setengah terangkat lalu kudekatkan wajahku ke pangkal pahanya. Bulu-bulu lebat itu kusibakkan dengan jariku dan kujilati belahan di tengahnya. Lidahku bermain-main dengan ganas di daerah itu membuat tubuh Diana mengelinjang-gelinjang disertai suara-suara rintihannya. Tidak kuhiraukan lagi bahwa gadis ini sebenarnya adalah seniorku dan kuanggap kakak angkatku yang harusnya kuhormati, yang terpikir saat itu hanyalah nafsu dan nafsu yang makin membara.

Mendadak kurasakan sebuah tangan dengan jari-jarinya yang lembut menggenggam batang kemaluanku yang nganggur. Pemilik tangan lembut itu adalah Sinta yang tidak tahan hanya menjadi penonton. Dikocoknya batang kejantananku lalu dimasukkan ke mulutnya dan diemut-emut, sementara lidahku terus bekerja di liang kewanitaan Diana, tanganku membuka bibir kemaluan yang rapat itu sampai kulihat tonjolan kecil di tengahnya, dan kumasukkan lidahku lebih dalam lagi agar bisa menjilat benda itu. Rintihan Diana makin menjadi-jadi sambil meremas-remas sprei dan Sinta berpindah menciumi payudara Diana.

Sesaat kemudian kedua paha Diana mulai menjepit kepalaku, badannya tertekuk ke atas. "Oh, Leo.. akhh.. ah!" Erangan itu diiringi menyemburnya cairan hangat berwarna bening membasahi mulutku, setelah itu kuturunkan badannya dan Sinta membantuku menjilati cairan yang masih tersisa di kemaluan Diana sampai bersih, tubuh Diana mulai melemas kembali.

"Leo, kamu waktu main sama Vivi juga seperti ini ya, permainanmu bagus sekali," puji Diana padaku.
"Ah biasa aja kok Ci," sahutku sambil memiringkan tubuhnya dan kuarahkan batangku ke lubang yang sudah basah itu. Sedikit demi sedikit batang itu mulai tertancap di lubang itu diikuti desisan Diana sampai akhirnya dengan susah payah akhirnya mentok juga batangku di kemaluannya yang sempit itu. Setelah itu aku mulai memacu badanku maju mundur sambil meremas-remas payudaraya dan Sinta menjulurkan lidahnya untuk beradu dengan lidahku. Sungguh nikmat sekali rasanya menikmati pijatan-pijatan dinding liang kewanitaan Diana sambil memijat payudaranya dan bermain lidah dengan Sinta, sekali-sekali Sinta juga menjilati leher dan telingaku. Benar-benar aku merasakan diriku bagaikan seorang kaisar yang sedang dilayani selir-selirku saat itu.

Beberapa saat kemudian aku merasa mau keluar dan berkata, "Ci, mau keluar sebentar lagi nih."
"Siram di mulut.. ohh.. ahh.. di mulut Cici!" katanya lirih.
Akhirnya kami klimaks bersama dan kusuruh dia membuka mulut untuk menyemprot spermaku. Cairan putih kental membanjiri mulutnya sampai menetes di sekitar bibirnya, Sinta pun ikut menjilati spermaku yang masih berlepotan di batangku. Diana sekarang tergolek lemas dengan sisa-sisa sperma masih membekas di bibir, dagu, dan lehernya, sesudah mengatur nafas dia tersenyum padaku dan berkata, "Bisa-bisa besok pagi Cici nggak bisa kuliah gara-gara kecapean nih," jarang-jarang dia tersenyum begitu, padahal wajahnya semakin manis kalau lagi senyum. "Sama Ci, saya juga gitu mungkin, sekarang Cici istirahat aja dulu deh, Sinta udah nggak sabar nih," jawabku sambil merengkuh tubuh Sinta dalam pelukanku.

Bersambung...

Hadiah bagi Pahlawan 02

Written by admin on 6:06 PM

"Sin, biarin Cici istirahat di ranjang dulu ya, kita mainnya di tempat lain dulu, oke.."
"Ya terserah kamu deh, asal jangan di luar kamar, kan malu," katanya sambil memencet hidungku dengan nakal.
"Ya, iyalah masa di luar sih, dasar cewek sableng," kataku sambil membantunya berdiri.

Kami berdiri berhadapan saling peluk tanpa mengenakan selembar benangpun, kutatap wajah dan matanya dalam-dalam, semakin dilihat semakin cantik. Kurapatkan dia ke tembok, kukecup keningnya merambat ke telinganya dimana aku berbisik, "Sin, kamu pernah melakukan ini pada siapa saja?"
"Baru loe, Andry, dan bekas pacar gua di SMA, loe sendiri gimana Le, gua ini cewek keberapa yang luperlakukan begini?"
Aku terdiam sesaat lalu kujawab, "Selain Vivi dan Ci Diana mungkin kamu yang ketiga dan terakhir bagiku Sin."
"Kenapa loe bilang aku yang terakhir Le?"
"Ya, karena aku sudah berdosa pada Vivi, aku tidak mau menambahnya lagi."
"Hihihi, ternyata masih ada juga pria lugu seperti kamu Le."
Lalu dia berkata di dekat telingaku, "Jadi loe belum bisa membedakan antara seks dan cinta," habis menyelesaikan kata-kata dia langsung mengulum telingaku dan kubalas dengan meraba punggung mulus dan pantatnya.

Kami saling raba bagian-bagian sensitif selama beberapa saat dan kini kuangkat kaki kanannya masih dalam posisi berdiri dengan bersandar di tembok. Pelan-pelan kumasukkan batang kemaluanku ke liang yang sudah becek itu, benar-benar sempit milik Sinta ini, lebih sempit dari Diana sehingga dia meringis kesakitan sambil mempererat cengkramannya di pundakku saat kumasukkan batangku.
"Aduhh.. ahh.. pelan-pelan Le, sakit.. ahh..!" Sedikit demi sedikit batangku sudah masuk setengahnya.
Kuhentikan gerakanku sejenak sambil berkata, "Sin, kamu siap?"
"Siap apaan sih.. aawww..sakitt!" jeritnya. Sebab saat dia bilang 'sih' kuhujamkan sekuat tenaga sisa batangku yang belum masuk sampai mentok dan kurasakan kepala batang kejantananku menghantam dasar kemaluannya dengan kuat sehingga tubuhnya tersentak dan matanya membelakak kaget, telapak tanganku sudah kusiapkan di belakang kepalanya agar ketika terkejut kepalanya tidak membentur tembok.

"Jahat loe, bikin kaget gua aja," tanpa banyak bicara lagi kugerakkan pantatku maju mundur membuatnya mengerang-erang setiap kusentakkan tubuhku ke depan. Dadaku saling bergesekan dengan dadanya. Sambil terus menggenjot kuciumi terus bibirnya sehingga erangannya tertahan, yang terdengar hanya suara, "Emmhh.. emmhh.. emhmm.."

Beberapa saat kemudian tubuhnya kurasakan seperti menggigil dan dia mempererat pelukannya, demikian juga aku makin erat memeluknya sampai kurasakan hangat pada batang kejantananku disusul keluarnya cairan bening dari liang senggama Sinta, cairan itu mengalir deras dari sumbernya terus turun ke pahanya dan sampai ke ujung kakinya. Perlahan-lahan gerakanku melemah dan akhirnya berhenti, kuturunkan kakinya dan kulepaskan batangku yang masih menancap di kemaluannya. Tubuh Sinta yang sudah basah kuyup oleh keringat melemas kembali dan merosot sampai terduduk di lantai, keringat di punggungnya membasahi tembok di belakangnya. Kuambil tisu lalu kubersihkan cairan kenikmatan yang mengalir membasahi tungkainya.

Kami berdua terdiam sesaat memulihkan tenaga kami yang terkuras. Setelah kurasa segar kembali kuperhatikan dia yang masih terduduk lemas di lantai dengan kaki kiri ditekuk, mataku terpaku mengagumi keindahan tubuhnya membuat gairahku bangkit kembali. "Ngapain sih loe, serem amat melototin gua kaya gitu," katanya sambil menyilangkan kedua tangan menutupi dadanya. Tanpa menjawabnya kutarik lengannya lalu kubuat posisinya berdiri membelakangiku dengan kedua tangannya bertumpu di pinggir meja belajarku. "Aduh.. tunggu dulu Le, gua masih capek, loe jahat ih!"

Dengan segera kubasahi batang kejantananku dengan ludah lalu kumasukkan ke lubang pantatnya dengan paksa dan kuhentakkan biasa saja tapi dia malah menjerit histeris, "Awww.. sakit, toloongg!" Jeritannya ini sempat membuatku kaget juga karena kencang sekali, aku takut sampai mengundang perhatian tetangga sebelahku, untungnya lokasi kamarku ini agak di ujung namun jeritannya tadi cukup luar biasa. Aku melepaskan sebentar tusukanku dan mengintip dari jendela apakah ada yang datang ke sini, lega aku melihat koridor masih sepi tanpa suara dan kamar sebelahku juga sudah gelap, kurasa dia sudah terlelap.

Kudekati Sinta masih tetap dalam posisinya. "Aduh Sin, itu suara tolong dikecilin dong volumenya, gawat nih kalo ada yang tau, pake tolong segala lagi, bisa-bisa dikira ada pembunuhan."
Dasar cewek bandel, dia malah sambil tertawa berkata, "Lucu tampang kamu lagi panik Le, masa kamu lupa si Ferry tetangga sebelah loe kan lagi pulang makanya gua kagetin loe, ini balasan waktu tadi ngagetin gua (ketika posisi berdiri), jadi kita seri hihihi!"
"Ooo jadi loe sengaja ya, awas loe ayo sini tunggu ya balasan gua ntar!" kataku menghampirinya. Dia malah berkelit sambil berlari kecil.
"Wek, sini tangkep kalo bisa," ejeknya dengan menjulurkan lidah.
"Cewek bandel, awas kalo kena ya!"
"Lho kalian lagi ngapain, kok kayak anak kecil aja sih, dari tadi ribut terus," kata Diana yang sudah bangun.
"Ini Ci, gua lagi kasih pelajaran buat si bandel nih."

Akhirnya kutangkap setelah dia terdesak di lemari pakaianku di sudut ruangan, kupeluk dia dari belakang, "Nah ketangkep loe sekarang, mau ke mana lagi."
"Hihihi Leo ampun ah, jangan kasar-kasar!" dia masih tertawa-tawa ketika itu, lalu aku membuat posisinya seperti tadi lagi, kini kedua tangannya yang bertumpu pada lemari.
"Sekarang tau rasa nih balesan gua!" kataku dengan senyum penuh kemenangan.
Kutuntun batang kejantananku memasuki lubang pantatnya yang sempit, sedikit demi sedikit akhirnya amblas seluruhnya. Waktu kumasukkan suara tawanya perlahan-lahan berubah menjadi suara rintihan, senyumnya sirna berganti menjadi ekspresi kesakitan, "Hi.. hi.. hi.. Leo udah ah, lepasin ah.. ahh.. jangan.. ahh.. sakit..!" Mendengar rintihan tak karuan itu nafsuku semakin bangkit, pinggulku segera bergerak maju mundur dengan ganas. Dasar sifatnya bawel, waktu bertempurpun dia masih sempat berceloteh sambil merintih, "Akhh.. kamu.. sadis.. ah.. ntar gua mau.. ohh.. lapor.. aakhh.. sama.. sama Vivi.. ahh!"

Pinggulnya ikut berpacu menyelaraskan dengan gerakanku, yang paling enak adalah saat sentakan kita saling berlawanan arah sehingga menambah tenaga tusukanku agar menancap lebih dalam, bila sudah begitu selalu histeris tapi tidak sehisteris waktu mengagetkanku tadi. Payudaranya juga ikut berayun-ayun kesana kemari, kedua putingnya kutangkap dengan jariku, kupuntir, kutarik, dan kupencet tanpa menyentuh dadanya, aku sengaja berbuat begitu agar dia penasaran dan memohon padaku. Benar saja perkiraanku setelah beberapa lama kumainkan putingnya tanpa menyentuh dadanya dia mulai memohon.
"Le.. ahh.. kamu kok.. oohh.. cuma mainin.. aahh putingnya.. remas dadaku Le.. please!"
"Hehehe.. gua kan udah janji mau ngebales loe tadi, tunggu aja sampai saatnya nanti Sin, hehehe," jawabku sambil tetap menggenjot lalu tangan kiriku menjambak rambutnya hingga kepalanya menengadah ke atas.
"Aaawww.. kamu.. kamu.. ahh.. jahat.. kasar.. awas ya nanti!" Puas hatiku menyiksa si bandel ini hingga tak berkutik memohon-mohon padaku. Menurutku bercinta dengannya lebih enak daripada Diana yang agak pasif, Sinta cukup pintar mengimbangi gerakan-gerakanku, staminanya pun lebih baik sedangkan Diana belum apa-apa sudah takluk, maklum Sinta ini orangnya rajin fitness.

"Uaah.. mau keluar Sin!" jeritku ketika mau mencapai puncak.
"Gua juga.. aahh.. ayo perdalam lagi.. ouchh!"
"Uahh.." begitu spermaku muncrat aku langsung berteriak dan meremas kedua buah dada Sinta dengan keras disusul pula oleh jeritannya.
"Aaakkhh sakiitt.. eenakk..!" Tanpa melepas batang kejantananku , kepalaku menyelinap ke balik ketiak kirinya, sasaranku adalah puting susu yang ranum itu. Mulutku menangkap benda itu lalu kusedot dengan gemas sementara tanganku masih meremas buah dadanya. Kubalikkan tubuhnya hingga kami saling berdiri berhadapan. "Sin, kamu nggak menyesal melakukannya padaku?" tanyaku, dia hanya menggeleng dengan nafas yang masih memburu, tubuhnya licin mengkilap karena berkeringat. "Le gua capek berdiri terus, bantu gua ke ranjang dong," pintanya. Maka kugendong dia ke ranjang dengan kedua tanganku sambil bercumbu mesra, kubaringkan dia di sebelah Diana yang sudah bangun, lalu aku duduk di tepi ranjang karena ranjangku tidak cukup berbaring 3 orang.

"Wuiih main sama Sinta ribut banget, sori ya ngebangunin Cici nih," kataku pada Diana.
"Eee.. loe yang sadis kok masih nyalahin gua, awas ya!" kata Sinta sambil menangkap kemaluanku dan menggenggamnya erat.
"Idiih.. idihh.. gitu ya, lepasin Sin malu tuh diliatin Ci Diana!"
"Minta ampun dulu, kalo nggak kagak bakalan gua lepas nih!"
"Iya, sori.. sori deh yang mulia putri, sekarang lepas dong!" gila bukannya dilepas malahan dijilatinya batang kejantananku yang masih ada sisa-sisa sperma dan cairannya itu.
"Kalian kok berantem melulu sih, lucu ah!" kata Diana lalu dia mendekati kami dan ikut menjilati batang kejantananku. Aku jadi merem melek keenakan menikmati permainan mulut mereka sambil mengelus-elus rambut indah Diana. Aku lalu menyandarkan badanku di ujung ranjang agar lebih nyaman, kedua gadis cantik ini kini berada di depanku sedang mempermainkan kemaluanku. Jilatan demi jilatan, emutan demi emutan membuatku menyemburkan kembali maniku namun kali ini sudah tidak banyak lagi yang keluar akibat terkuras pada ronde-ronde sebelumnya. Dengan rakusnya mereka berebutan melahap cairan putih itu sampai habis bersih, pada bibir-bibir mungil itu masih terlihat percikan spermaku.

Mereka lalu menyuruhku telentang di ranjang, aku tidak tahu mereka mau apa lagi tapi kuturuti saja. Diana lalu naik ke atas kemaluanku dan memasukkan batang itu hingga terbenam dalam kemaluannya, kemudian dia mulai bergoyang-goyang naik turun seperti naik kuda. Sinta naik ke atas wajahku berhadapan dengan Diana dan menyuruhku agar menjilati kemaluannya. Sambil kuelus-elus pantat yang mulus itu, lidahku menjelajahi liang kemaluannya, gerakan lidahku bervariasi dari berputar-putar membuat lingkaran, mempermainkan klitorisnya, menggigit lembut klistorisnya, menusukkan jari tengahku sampai mendorong-dorongkan lidahku ke liang itu.

Tanganku bargantian memijati kedua payudara Sinta dan mengelus paha serta pantatnya, suatu ketika kuraba payudaranya, tanganku juga bertemu tangan Diana di situ, jadi masing-masing payudara Sinta dipijati 2 tangan. Suara desahan mereka berdua memenuhi kamarku, terkadang suara itu berubah menjadi, "Emhh.. emhh.. emhh!" sepertinya itu suara mereka berdua sedang berciuman sehingga desahannya terhambat, aku tidak tahu persis karena waktu itu pandanganku tertutup tubuh Sinta.

Goyangan pinggul Sinta bertambah dahsyat ditambah lagi jepitan pahanya terkadang mengencang membuatku agak kewalahan mengatasinya, sementara Diana yang tidak kalah gilanya makin mempercepat gerakannya sehingga terasa sedikit sakit pada buah pelirku akibat tindihannya. Aku pun tak mau kalah, kubalas dengan menggerakkan pinggulku, kurasakan batang kejantananku sudah terasa licin dan hangat oleh cairan yang keluar dari liang kewanitaannya, bersamaan dengan itu terdengarlah jeritan histeris Diana yang tidak lama sesudahnya disusul erangan Sinta dan tetesan cairan kenikmatannya ke wajahku. Tubuh keduanya mengejang di atas tubuhku selama beberapa saat, kurasakan goyangan Diana mulai melemah sampai akhirnya berhenti, Sinta turun dari wajahku dan langsung menjatuhkan diri di sampingku. Kulihat tampang Diana sudah kusut, rambut panjangnya berantakan sampai menutupi sebagian wajahnya dan tubuhnya sudah bermandikan keringat, dia jatuh telungkup di atasku, payudaranya menindih dadaku, empuk dan nikmat sekali rasanya, lebih enak dari ditindih bantal bulu angsa sekalipun.

Begitu w bahkan Diana, gadis bagaikan gunung es itu sudah tidak perawan lagi, tapi aku tidak peduli soal itu yang penting kenikmatan yang kudapat waktu itu sangat hebat, lagipula liang kemaluan mereka masih sempit karena menurut pengakuan mereka jarang melakukannya karena pacar mereka tinggal terpisah jadi jarang bertemu. Gara-gara permainan liar malam itu besok paginya aku tidak ikut kuliah jam 7 karena tubuhku pegal-pegal terutama bagian pinggang seperti mau copot rasanya, kumatikan wekerku dan meneruskan tidur sampai jam 10.00 ketika si bandel Sinta menggedor pintuku, "Wei.. wei.. bangun pemalas, semalam ngapain aja loe!"

TAMAT

Desahan Istri-istri Kami

Written by admin on 5:55 PM

Triyono (samaran) adalah sahabat lamaku sejak aku SMA. Kini setelah kami sudah mempunyai anak remaja (umurku 46 tahun) dia masih sahabatku, bahkan istrinya yang bernama Atik (samaran) dan istriku sangat akrab, dan kami rutin selalu ketemu kalau tidak dirumahnya, ya dirumahku.

Bahkan jika aku dan Triyono pergi mancing ketengah laut dengan sewa perahu, tak jarang istriku menginap dirumah menemani istrinya atau sebaliknya (karena anak kami sudah remaja dan mereka kuliah dikota lain). Begitu akrabnya kami sehingga tak jarang kami melakukan yang menurut pandangan orang ketiga adalah hal yang aneh, misalnya ditengah gurauan, kadang kadang Triyono memeluk istriku dan menciumi pipinya berkali kali, didepanku maupun didepan istrinya. Demikian pula sebaliknya ketika kami bercengkarama berempat kadang kadang Atik dengan manja tiduran berbantal pahaku. Tentunya sikap kami ini tidak didepan anak anak yang sudah berangkat remaja.

Bahkan pernah didapur rumahku aku memergoki Triyono mencolek pantat istriku, dan kulihat istriku pura pura marah, aku tahu itu dari raut wajahnya, tentu saja sebagai lelaki normal kadang aku dilanda cemburu. Tetapi kami selalu lebih memegang persahabatan, apalagi akupun sering melakukan hal yang sama terhadap istrinya.

Tentu saja keadaan ini tidak terjadi begitu saja, kami menjalin hubungan kekeluargaan sejak kami menikah. Namun sejauh itu kami tidak pernah melakukan hal hal yang terlalu jauh. Sampai suatu hari terjadilah apa yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, setidak tidaknya olehku. Tapi aku yakin ini adalah rencana Triyono dan istrinya yang sudah dipersiapkan (ini kusadari setelah cukup lama peristiwa itu terjadi)

Seperti yang sering kami lakukan, pada hari jumat yang kebetulan hari libur kami berempat ber week end di Villaku didaerah Ciloto. Walaupun tidak terlalu mewah namun villaku ini cukup luas dan cukup nyaman untuk beristirahat di akhir pekan. Kami selalu rutin mengunjunginya paling tidak sebulan sekali, biasanya hanya aku dan istriku, kadang kadang anak anak ikut, atau famili lain.

Kali ini aku mengajak Triyono dan istrinya, tidak ada yang istimewa kami hanya ingin menikmati liburan dan seperti biasanya selesai makan siang dijalan, istriku mampir untuk beli pepes ikan Mas kesukaanku. Sampai di villa sekitar jam jam 2 siang, aku tidur pulas, sampai akhirnya dibangunkan istriku untuk makan malam. Kami makan malam berempat dengan nasi hangat dan pepes ikan.

Selesai makan malam kami menonton TV sambil ngobrol kesana kemari diruang keluarga. Setelah bosan ngobrol, Triyono mengambil inisiatif mengambil kasur dikamarnya dan dihamparkan didepan TV dia dan istrinya menonton TV sambil tiduran, dan akupun berbuat hal yang sama. Atiek masuk kamarnya dan mengganti dasternya dengan baju tidur yang amat tipis tanpa BH dan CD, ini terlihat jelas dari bayangan tubuhnya dibalik gaun tidurnya.

Kulihat dia sangat atraktif mempertontonkan tubuhnya didepanku dan didepan istriku. Kulihat Triyono acuh saja melihat tingkah istrinya. Kamipun menonton TV sambil tiduran, istriku dan Atiek tidur berdampingan ditengah sedangkan aku berada disamping istriku dipinggir. Acara TV terasa membosankan mungkin karena aku tidak bisa konsentrasi, aku lebih terpesona menikmati tubuh yang menggairahkan yang tergolek disamping istriku dan itu membuat adik kecilku dibalik sarung setengah ereksi.

"Pah.., puterin film yang hot.. dong.., aku kedinginan nih.." Atiek menyuruh suaminya memutar film porno.
Aku tahu mereka sering muter film porno karena kami sering tukar menukar film, tapi selama ini kami belum pernah nonton bersama sama.
Sebelum beranjak mengambil film, Triyono basa basi minta ijin istriku "Rin..muter film blue ya.."
"Terserah aja " jawab istriku.

Filmnya cukup bagus dengan latar belakang jaman kekaisaran romawi, adegan sexnya tidak vulgar, dan ini membuat gairahku cepat bangkit. Sarungku sudah terdongkrak keatas sementara kulihat Atiek sering mencuri padang kearah sarungku yang memang sengaja tidak kusembunyikan. Sementara itu istriku sudah memindahkan kepalanya diatas lenganku dan jari tangannya meremas remas jari tanganku. Aku sudah hapal sekali, istriku pasti sudah terangsang.

Triyono menonton film itu dengan memeluk istrinya secara ketat dan tangannya mengusap usap payudara Atiek dari luar baju tidurnya, sesekali diciumnya bibir istrinya dalam dalam. Sementara itu kaki kanan Atiek ditekuk dan pahanya menindih paha istriku, sehingga tak terhindarkan baju tidurnya yang memang pendek makin tersingkap sehingga akupun makin leluasa melahap pahanya yang putih mulus, dan sebagian rambut dipangkal pahanya dengan sudut mataku.

"Mbak Rin,.. Aku jadi pengen nih.." Atiek bicara kepada istriku.
"Ya nggak apa apa, wong Mas nya nyanding koq." Istriku menyahut sambil senyum penuh arti.

Aku makin terangsang, kumiringkan tubuhku menghadap istriku sehingga aku bisa melihat paha mulus Atiek, dan kuselusupkan tanganku dibalik blouse istriku yang tidak ber BH untuk meremas remas buah dadanya, sementara tangannya sudah masuk kesarungku untuk mengelus elus penisku yang sudah berdiri keras. Ia menutup tanganku dengan bantal sehingga gerilya yang kulakukan tidak terlihat oleh Triyono dan Atiek. Walaupun itu sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan, karena mereka sudah tidak memperhatikan kami lagi, keduanya sudah mulai tenggelam dalam percintaan.

Ketika Atiek melepaskan seluruh pakaiannya dan mencopoti pakaian suaminya, Triyono menggeser posisinya merapat keistriku, sedangkan Atiek menindihkan tubuhnya yang bugil dari sebelah kanan, sehingga Triyono berdampingan dengan istriku.
Mereka berciuman sambil saling saling mengelus penuh nafsu, kulihat istriku sering melirik mereka dengan gairah, ikut terhanyut dengan adegan panas persis satu jengkal disampingnya.

Tiba tiba Atiek menghentikan pergulatan dengan suaminya dan tangannya meraih blouse depan istriku dan melepas kancingnya.
"Biar adil dong Mbak.." sambil tangannya terus melolosi seluruh pakaian istriku.
Walaupun wajah istriku protes, tapi usaha mencegah tangan Atiek yang nakal, tidak serius sehingga dengan mudah Atiek melucuti pakaian istriku. Sekelebat kulihat mata Triyono melahap seluruh tubuh indah istriku, bahkan ia segera mengeser posisinya merapat ketubuh istriku, sehingga lengannya menempel pada pinggir payudara istriku.

Aku tak sempat berfikir macam macam, nafsuku mendominasi pikiranku, kucopot seluruh pakaianku sehingga kami berempat sudah bugil, kuciumi istriku, sambil jariku mengelus vaginanya yang sudah basah. Istriku mendesis desis keenakan tangan kanannya mendekap punggungku erat erat, sedangkan tangan kirinya tertindih tangan Triyono.

Kurasakan elusan lembut sebuah tangan halus menelusuri bokongku, bahkan kemudian mengarah keselangkangan dan mengelus buah zakarku. Aku sudah menduga pemilik tangan itu, dan hatiku berdesir ketika kulihat tangan Atiek lah yang sedang mengelus batang penisku, sambil mulutnya menciumi dada suaminya. Aku yakin Triyono melihat tangan istrinya yang sedang beroperasi di batangku yang keras seperti kayu, tapi dia tampak acuh saja, bahkan kini lengan kanannya telah mendidih susu istriku.
Istriku tidak menyadari atau pura pura tidak tahu bahwa tangan Triyono sudah menindih payudaranya, dan wajahnya dipalingkan kearah yang berlawanan.

Atiek sambil berubah posisi dengan setengah duduk dipaha suaminya dengan selangkangan yang terbuka lebar memperlihatkan vagina merah basah yang sangat indah, sementara tangan kanannya menggosokan gosokkan kemaluan suaminya ke klitorisnya, sementara buahdadanya menggantung diremas remas suaminya.

Posisinya tersebut membuat tubuh Triyono merenggang dari tubuh istriku sehingga tangan kiri istriku yang tertidih menjadi bebas. Dari padangan matanya yang sayu dan pahanya sudah direntangkan, aku tahu baha istriku sudah memberi lampu hijau. Dituntunnya penisku kearah lubang vaginanya, dan dalam tempo singkat aku sudah melayang menikmati jepitan lobang kemaluan istriku. Sementara aku mengocoknya perlahan lahan, istriku mendesis desis keenakan, kini wajah istriku menghadap kearah Triyono bahkan hanya berjarak sejengkal dengan wajah Triyono namun matanya terpejam.

Atiek sudah terlengkup ditubuh suaminya, sementara pinggulnya naik turun, mengocok batang suaminya yang sudah melesak ditelan liang kenikmatannya. Sekali kali tangannya meremas bokongku dan istriku melihat aktifitas tangan Atiek ini, tapi rupanya diapun tak ambil peduli. bahkan beberapa kali Triyono mencium mulut istriku yang tengah mendesis, istriku diam saja, walaupun tidak meresponnya. Entah kenapa aku tidak cemburu melihat istriku diciumi oleh Triyono saat sedang kusetubuhi, bahkan aku makin terangsang. Karena kulihat ciuman itu membuat istriku makin bergolak gairahnya. Ini kurasakan dari gerakan dan nafasnya mendengus tidak seperti adat biasanya.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama gerakan istriku tak terkendali, bahkan ia membalas menyedot ciuman Triyono, dan pada saat itulah istriku menghentak hentakkan pinggulnya keatas, mulutnya menghisap mulut Triyono dalam dalam sambil merintih. Dia telah orgasme. Ini diluar kebiasaan, istriku biasanya cukup tahan lama, tapi kali ini dia cepat selesai, padahal aku merasa masih tahan lama.

Kuhentikan kocokanku, kucabut penisku, aku masih tanggung tetapi aku memang tidak ingin selesai sekarang, aku masih berharap istriku bangkit lagi setelah istirahat. Kutatap wajah istriku yang penuh kepuasan. Disampingnya kulihat Triyono menggengam tangan istriku.

Melihat aku tegeletak disamping istriku, dengan kemaluan yang masih tegar, Atiek segera tahu bahwa aku belum ejakulasi. Tiba tiba Atiek menghentikan goyangan pinggul, dicopotnya penis suaminya dari vaginanya. Dengan melangkahi tubuh istriku, Atiek segera menghampiriku, kemudian dengan dasternya yang diambil dari sisi kasur dibersihkannya penisku yang penuh lendir istriku.

Dia menindihku dan menciumku. Aku sempat kaget, aku tak menduga kejadian itu, kulirik Triyono tetapi dia hanya melihat tingkah istrinya tanpa reaksi. Istriku juga hanya melirikku sebentar kemudian memejamkan mata kembali, menikmati sisa orgasme yang ia dapat dariku.

Kubalas ciuman Atiek dengan nafsu, tangan kiriku mengelus bokongnya sedangkan tangan kanan meremas buah dadanya. Atiek menjulurkan lidahnya menyambut lidahku, sementara vaginanya yang basah digesek gesekan ke diatas kemaluanku. Tampak Atiek sudah sangat terangsang, sehingga ciuman kami hanya berlangsung sebentar, segera dia menghentikan ciumannya, ditariknya badannya sehingga sekarang posisinya duduk diatas pahaku, sementara belahan kemaluannya menidih pada batang penisku yang rebah diatas perut.

Kulihat belahan kemaluannya yang merah penuh lendir, aku sudah tidak sabar lagi, kuangkat pinggangnya dengan kedua tanganku, Atiek cepat tanggap, sambil mengangkat pantatnya, diambilnya penisku dan diarahkan kelobang vaginanya. Dalam hitungan detik, kemaluanku sudah menyelusup kedalam vagina Atiek. Atiek melenguh pelan, badannya ambruk kedadaku dan wajahnya menempel disamping kepalaku sambil mendesis desis. Kuangkat pinggulku berusaha mengocok kemaluan Atiek, dan diapun mengikuti gerakanku tetapi pinggulnya digoyang memutar sedangkan otot vaginanya menjepit kemaluanku, jepitan dan putaran pinggulnya tidak akalh dengan istriku, kenikmatan menjalar keseluruh penisku.

Sepuluh menit telah berlalu dan kurasakan Atiek mulai mempercepat goyangannya, mulutnya menciumku dan lidahnya menerobos masuk ke mulutku. Nafasnya tersengal, aku segera mengerti bahwa sedang mulai masuk kemasa orgasme. Tanpa menunggu waktu lagi kupercepat kocokanku, karena kemaluankupun sudah berdenyut denyut enak, dan segera akan keluar.

Ketika kurengkuh bokongnya, Atiek merengkuh pundakku makin kencang, dari mulutnya keluar erangan kenikmatan yang panjang dan kemaluannya ditekan keras ke kemaluanku, dia sedang orgasme. Dan segera kulepas pula air maniku menyemprot didalam vaginanya. Kenikmatan yang luar biasa.

Walaupun permainanku sudah berakhir tetapi Atiek tidak mau mencopot kemaluanku dari vaginanya, dia hanya mengeser tubuhnya dari dadaku untuk meringakan tindihan tubuhnya diatas tubuhku. Kesadaranku mulai pulih, kulihat istriku sedang bergumul dengan Triyono. Dengan tubuh yang bugil dia menindih tubuh istriku, mereka berciuman dengan pelan dan dalam, tangan meremas remas buah dada istriku yang tergolong besar dan montok, sementara tangan istriku mengelus bokong Triyono, dan kudengar desahan halus dari mulutnya itu pertanda istriku sudah mulai terangsang lagi.

Melihat istriku terangsang, tiba tiba akupun terangsang kembali. Aku sangat senang istriku menikmati sexnya, Kuhadapkan tubuhku kearah istriku, dan Atiek segera merangkul pinggangku dengan kakinya dari belakang, sambil menikmati sisa orgasme yang kuberikan padanya.

Triyono sedikit mengeser tubuhnya dan tangan yang tadinya meremas tetek istriku turus kebawah, kearah kemaluan istriku, dan istriku mengangkat pinggulnya ketika jari tengan Triyono memutar mutar clitorisnya. Desahan dari mulutnya makin keras.. Triyono mengangkat tubuhnya dan dibukanya lebar lebar paha istriku.

Istriku menoleh kearahku, matanya sayu memandangku seolah minta ijin padaku. Kupandangi dia, dia sangat cantik tak kuasa aku menghalanginya. Kukecup bibirnya kuusap rambutnya tanda bahwa aku menyetujuinya. Dan ketika penis priyono melesak kedalam vaginanya, istriku memejamkan mata keenakan, dan tangannya mengelus elus penisku seirama dengan kocokan yang diberikan Triyono.

Kuciumi bibirnya, pipinya lehernya, atau mana saja yang kudapat karena istriku dalam kenikmatan, selalu kepalanya tidak bisa diam, menoleh kekiri kekanan sambil menjilat jilat bibirnya sendiri. Sementara tangan kanannya mengocok penisku tangan kirinya merangkul pundak Triyono. Tangankupun tak henti hentinya meremas remas buah dadanya. Kudengar pula desisan Triyono menambah suasana jadi makin mengairahkan.

Tiba tiba istriku berhenti menggelengkan kepalanya, dahinya berkerut dan giginya menggigit bibr bawahnya, dia menoleh kearahku, istriku akan selesai dan sebentar lagi pasti akan melenguh panjang.
"Pah.. aku sudah nggak tahan.. Pahaahh.. eghh.. eegghh"
pada saat itu dia mendongakkan wajahnya keatas, matanya menatap mata Triyono dengan sayu.

Pada saat yang sama, aku tak tahan menahan ejakulasi, digenggaman tangannya. Kulihat Triyono menekan kemaluannya dalam dalam kevagina istriku untuk berejakulasi.. Ketika dia mencabut kemaluanya, kulihat sisa air mani meleleh keluar dari bibir vagina istriku, yang berwarna kemerahan.

Malam ini adalah malam pertama dimana istriku merasakan penis orang lain selain punyaku apalagi dia merasakannya sekaligus dalam selang beberapa menit, sebuah pengalaman yang sangat memuaskan kami berempat.

Sejak itu kami sering melakukannya, sedikitnya sebulan sekali, dan kami berkomitmen ini hanya dilakukan berempat, Bahkan kini muncul ide baru dari Atiek untuk menambah menjadi tiga pasangan. Hanya saat ini kami belum menemukan pasangan yang bisa diajak main. Pengalaman ini ditulis juga atas persetujuan kami semua.

TAMAT

Banner Ads

Sponsored

Welcome To Mesum Story

Blog ini berisi kumpulan cerita mesum, cerita ini membahas bagaimana awalnya ML (ngentot) itu terjadi, Silahkan menikmati yang kami sediakan :) Keep Mupeng !!!

Want to subscribe?

Subscribe in a reader.