Mesum Story

Sex Stories Collection, Koleksi Cerita Seks, Cerita Mesum, Cerita Memek, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Erotis, Cerita Saru, Cerita 17tahun dan Cerita Dewasa Terbaik

Your Ad Here

Gairah Dua Mantan Kekasih

Written by admin on 1:00 PM

Sepulang sekolah kurasakan suasana yang sepi di rumahku. Satu persatu nomor telepon teman kusambung dan tiada yang ada di rumah. Sesaat kucoba telepon mantan pacarku, ternyata ada, dan kucoba satunya lagi dan ternyata juga ada. Kuajak mereka janjian ke rumahku.

Sejam telah berlalu. Mereka berdua akhirnya datang. Suasana sepi rumah hilang. Akhirnya kami saling bercanda. Rian dan Anto adalah mantanku dan kami awalnya teman yang cukup akrab dan suka berkumpul bersama. Sebenarnya masih ada perasaan suka di hatiku terhadap mereka. Rasanya kurindu akan suasana dulu. Kami mulai bercanda dan duduk bersamaan. Rian memang mantanku yang agresif. Terkadang ia memegang tanganku dan juga merangkulku. Anto melihat reaksi Rian tampaknya ia tak mau kalah. Hal yang sama pun ia lakukan.

Mungkin karena mereka mantanku maka aku tidak canggung. Sebenarnya aku menyukai sentuhan-sentuhan mereka. Tahap demi tahap kejadian pun terlewati. Kadang aku dipeluk Rian dan kadang aku dipelukan Anto. Aku pun tak mau kalah, kebetulan Anto saat itu diam dan kupeluk ia dari belakang. "Rin, itu kamu empuk ya," sahut Anto sambil menggoyangkan punggungnya yang tertempel dadaku sehingga bergesekan. Kurasakan nyilu dan nikmat di putingku, dan membuatku terdiam sesaat. Kemudian,
"Masa, sori Nto.. tapi enak ya," ucapku sambil bercanda.
"Kayak gitu nggak enak, yang enak kayak ini," perlahan Rian menarikku dan perlahan kulepaskan Anto.
Rian memelukku, tangannya kurasakan menyentuh dadaku dan mengusap-usapnya lalu meremas-remas.

Sesaat kuterdiam menahan nafas dan agak terkaget dengan sentuhan Rian. Kurasakan putingku mengeras dan menegang membuat aliran darahku terangsang keseluruh tubuh. Rasanya nyilu dan nikmat membuat seluruh tubuhku merinding dan lemas. Perlahan mengalir ketonjolan didekat saluran kencingku. Kemudian kurasakan bibir vagina dan anusku berdenyut-denyut. Kusadari aku terangsang. Untung Rian tak menyentuh selangkanganku. "Udah yan, lepasin tangannya dong!" ucapku sambil kedua tanganku melepaskan kedua tangan Rian dari dadaku. Walaupun sebenarnya kusuka, tapi kutolak karena aku terangsang. Kurasakan sebuah bibir mencium kupingku. Mataku melirik ke arah wajah tersebut dan kulihat sekilas wajah Anto. Sesaat kuterdiam kembali. Nikmat di dalam darahku mengalir kembali. Bibir Anto kemudian melumat daun telingaku. Kurasakan nikmat dan lembut mulut Anto dan membuatku tidak dapat mengelak dan menolak. Perlahan lidah Anto menjulur masuk ke lubang telingaku. "Aaahh.." hanya itu yang bisa kuucapkan. Daguku terangkat tinggi. Kurasakan putingku mengeras dan menegang menjadi sensitif. Kurasakan nyilu dan nikmat di putingku.

Tampaknya Rian tak mau kalah. Segera tangannya meremas-remas dadaku. Perlahan kurasakan mulut Rian melumat bibirku. Lidahnya menjilati semua yang ada di mulutku. Aku hanya bisa terdiam tak bergerak, kurasakan pikiranku melayang jauh. Birahiku mengalir di dalam darahku. Tubuhku semakin sensitif dan haus akan sentuhan. Terlintas di pikiranku berharap mendapatkan yang lebih lagi. Kurasakan buaian tangan Anto di pahaku sehingga membuat daerah sensitif di selangkanganku semakin menjadi. Kurasakan rokku perlahan diangkat Anto. Tangannya mengelus-elus pahaku dari daerah paha luar, dalam dan sampai di belahan selangkanganku.

Terlintas di pikiranku bahaya bila pembantuku melihat kejadian ini. Perlahan kulepaskan bibirku dari bibir Rian. Dengan suara yang tegang dan gemetar akhirnya dapat kuucapkan,
"Udah dong..! Jangan ya, nanti pembantuku ngeliat."
Akhirnya mereka berhenti.
"Sorry ya Rin, aku kangen ama kamu," ucap Anto.
"Aku juga, maaf ya.. abis tubuh kamu bagus nggak kayak pacar gua sekarang," sahut Rian sambil salah satu tangannya mengelus dadaku.
"Nggak apa-apa aku juga, kita ke atas yuk!" ucapku.
Lalu kami bergegas pindah ke atas.

Selesai naik tangga ternyata Rian langsung memelukku sambil berjalan. Kedua tangannya menggerayangi buah dadaku. Kurasakan putingku menegang nyilu yang nikmat. Birahi mengalir dalam darahku membuatku terangsang. Kemudian kami bertiga duduk. Dan tak lama kemudian tubuhku kali ini dirangkul oleh Anto. Tangannya mengelus dan meraba pahaku, kemudian perlahan menyusup di rokku. Tak lama kemudian celana dalamku yang membentuk belahan kemaluanku terlihat jelas. Tangannya bergerak dari bagian paha luar, dalam, dan selangkanganku. Terasa bibir vaginaku berdenyut dan sensitif. Sebenarnya tanpa mereka sadari aku sedang menikmati kejadian ini dan aku terangsang. Aku berusaha menyembunyikan perasaan ini.

"Rina.. Paha kamu mulus.. putih.. kulit kamu lembut ya," sahut Anto dengan kedua tangan yang menikmati tubuhku. Sesaat kemudian kurasakan tangan Rian mendekap salah satu buah dadaku yang sedang terangsang. Sesaat nafasku tertahan kemudian batinku terdiam. Kurasakan nikmat di dadaku. Putingku sedang dialiri darah birahi. Perlahan daguku terangkat tinggi. Akhirnya nafasku berburu.

Tampaknya Rian dan Anto tahu bila aku terangsang. Tanpa basa basi lagi mereka melakukan permainan selanjutnya. Perlahan tangan Rian yang mendekap dadaku turun dan menyusup kaosku. Kurasakan tangan Rian menyentuh kulit perutku dan menyusup sampai mendekap dadaku yang tertutup BH dan kemudian meremas-remas. Daguku terangkat tinggi. Kemudian bibir Rian kurasakan mengecup dan mencuimi leherku. Mataku terpejam dan kugigit lembut bibir bawahku.

"Oouuhh.." dengan pelan desahan itu keluar dari mulutku. Semakin kukeluarkan suara dari mulut maka semakin mereka menjadi. Kurasakan tali BH-ku terlepas dan BH-ku mengendor. Entah siapa yang melakukannya. Kurasakan tangan Rian mendekap dadaku secara langsung. "Aahh," kurasakan. Dadaku diremas-remas lagi dan kemudian kedua putingku dimainkan oleh Rian. Nikmatnya!

Perlahan BH dan kaosku diangkat. Udara pun menyentuh putingku langsung dan merangsang tubuhku. Celana dalamku dibuka Anto. Kaos dan BH-ku dilepas Rian. Rokku tidak ketinggalan. Pakaian yang menyelimuti tubuhku berserakan entah berada dimana.

Akhirnya tiada sehelai kainpun di tubuh ini. Semakin tubuhku polos semakin buaian udara merangsang tubuhku. Rasanya tubuh ini ingin dinikmati. Perlahan tangan Anto membuat kakiku mengangkang lebar. Rasanya buaian angin merangsang paha dalam dan daerah kemaluanku dan membuatku berharap untuk mendapatkan kenikmatan. Kurasakan bibir Anto menyentuh dan mengecup bibir vaginaku. Daguku terus terangkat tinggi dan dadaku reflek membusung seakan menyodorkan diri. Kurasakan seperti ada setrum yang mengalir dari bibir vagina ke seluruh tubuh.

"Oouuhh.." dengan panjang kuucapkan. Kurasakan tangan Rian meremas dadaku dan memainkan putingku. Ah, dua titik sensitifku terangsang. Dengan reflek dadaku kubusungkan sesampai-sampainya. Tampaknya Rian tidak diam melihatku begini. Segera ia menghisap salah satu putingku lagi. Ah, sekarang ketiga titik sensitifku terangsang. Kurasakan jari-jari Anto perlahan masuk ke liang vaginaku. Lalu keluar lagi dan akhirnya keluar masuk dengan cepat dan serakah. Kurasakan birahiku melayang dan terangsang membuatku pasrah dan menikmati cara mereka yang sedang menikmati tubuhku. Kuarasakan kemaluanku basah. Anusku juga terkena air yang mengalir. Tampaknya Anto mengetahui hal ini. Perlahan salah satu jarinya masuk ke anusku. Semakin lama anusku licin dan jari Anto dapat keluar masuk mudah. Akhirnya jari-jari Anto keluar masuk dikedua liang tubuhku. Nikmat kurasakan dan entah mengapa semakin kusodorkan kedua liangku ke arahnya. Bibir Anto menikmati daerah pinggang dan perutku. Aah, seperti listrik mengalir dalam darahku dan juga daerah daerah tubuhku yang mereka sentuh.

Akhirnya kuterbaring dan kulihat Anto melepaskan celananya. Kulihat miliknya terhunus dan ia tujukan ke liang vaginaku. Kurasakan sentuhan miliknya di bibir vaginaku. Perlahan-lahan masuk. Dagu dan dadaku terangkat tinggi. "Aaahh.." kuucapkan sambil akhirnya milik Anto menancap dalam di liang vaginaku. Kemudian ia keluar-masukkan. Kurasakan gesekan milik Anto keluar masuk. Nikmat rasanya sampai-sampai anusku berdenyut-denyut. Mataku setengah terpejam dan kadang-kadang tubuhku goyang karena tak tahan merasakan nikmat. Sekilas terlihat Rian melepaskan celananya. Kulihat miliknya lalu ia tempelkan ke mulutku. Kurasakan di bibirku dan tampaknya aku menyukainya. Perlahan miliknya dimasukkan ke dalam mulutku. Entah mengapa mulutku terangsang. Lalu kudekap milik Rian dengan tanganku. Kuayun-ayunkan dan kuhisap dengan mulutku. Kurasakan seluk beluknya dan kunikmati dengan lidah dan mulutku. Kujilat, kuhisap, kutelan dan seterusnya.

Beberapa saat kemudian kurubah posisiku jadi mengungging. Dengan begini mulutku dapat menikmati milik Rian yang terhunus. Perlahan kurasakan kenikmatan yang berbeda. Milik Anto perlahan ia cabut dari liang vaginaku dan kemudian ia hunuskan ke anusku yang kurasakan berdenyut-denyut nikmat. Perlahan ia masukkan ke anusku yang sudah terangsang, basah dan longgar karena jemarinya. Akhirnya tertancap dalam dan ia keluar masukkan dengan pelan. Karena sudah licin maka ia keluar-masukkan dengan cepat dan akhirnya menyembur cairan di liang anusku.

"Ouuhh.." kuucapkan sambil menikmati semburan yang Anto keluarkan. Setelah itu Anto mendiamkan miliknya diam tertancap. Sesaat kemudian ia mainkan lagi. Anusku sangat licin karena cairannya. Kadang ia keluarkan dulu dan kemudian dia tancapkan lagi. Tampaknya ia sengaja. Karena setiap tancapan aku mendesah karena merasakan nikmat.

Beberapa saat kemudian kurasakan banyak cairan yang menyembur dari milik Rian. Karena kubenar-benar terangsang maka kurasakan nikmat. Lalu kutelan dan entah mengapa malah membuatku tambah terangsang. Setelah habis kulepaskan hisapanku. Rian terdiam. Anto menarik pundakku. Sehingga ia dapat memelukku dari belakang. Tangannya meraba-raba dadaku.

Kurasakan ia berdiri dan aku tergantung di miliknya yang menancap. Kulihat Rian menghampiriku lagi. Kurasakan miliknya ia tancapkan ke liang vaginaku. Ah, aku diapit. Kurasakan kedua liangku mereka masuki. Dan akhirnya kami sama-sama sampai puncak dan puas.

Suasana rumah yang sepi sangat merangsang kami. Kemudian aku ajak mereka ke kamarku. Di sana tubuhku mereka nikmati lagi dan lagi. Aku pun menikmatinya juga. Karena gairah kami yang tinggi maka kami lakukan berulang-ulang. Sampai disaat kuhisap milik mereka dan tiada cairan yang mereka keluarkan di mulutku dan liangku. Kurasakan tak ada semburan.

Karena sudah malam akhirnya kami jalan keluar bertiga. Kami jalan-jalan dengan mobilku yang kaca filmnya hampir 100%. Kami main di utara Jakarta. Kemudian kami buat mobil goyang sampai jam 04:00 pagi. Tentu kami melakukan istirahat. Dan kami keluar dan balik jam 04:00 lebih. Tampaknya gairah seumur kami memang fit. Anto dan Rian bergiliran menyetir. Dan diperjalanan tiada sehelai kainpun di tubuhku. Kondisi kaca mobil yang memungkinkan sehingga selepas dari mojok aku pun masih bercinta dengan mereka. Sampai-sampai penjaga karcis pun tidak melihat tubuh polosku. Diperjalanan aku duduk di belakang dan mereka bergiliran bercinta denganku. Mungkin karena tubuhku yang lebih unggul dari cewek-cewek lain jadi mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan yang jarang ini. Dan mereka terus menikmati tubuhku.

TAMAT

Aib Membawa Sengsara

Written by admin on 12:59 PM

Aku ingin menceritakan pengalaman nyata teman ayahku yang selalu kudengar dari mulut ke mulut. Nama teman ayahku adalah Gunawan, dia adalah seorang pemuda yang cukup tampan dari kalangan orang strata atas. Sebenarnya posisinya lebih tinggi dari ayahku tetapi karena aib yang telah menimpanya (yang akan kuceritakan di kisah ini), membuat posisi yang sangat diidam-idamkan oleh semua orang di kantor ayahnya hanya tinggal impian bagi Gunawan. Saat itu dia memegang posisi sebagai Vice President tetapi karena aib itu terpaksa posisinya digantikan oleh ayahku, tetapi walau demikian Gunawan bisa menerimanya dan tetap menganggap ayahku sebagai temannya walaupun tidak begitu akrab.

Gunawan tinggal di daerah Pondok Indah dan semenjak orang tuanya pindah ke Semarang, dia hanya ditemani oleh seorang pembantu rumah tangga yang masih gadis. Nama pembantu itu adalah Rini. Rini bekerja di keluarga Gunawan sejak Gunawan masih bersekolah di TK, jadi Rini sudah dianggap sebagai keluarga sendiri oleh keluarga Gunawan.

Hari itu adalah hari senin (menurut pengakuan Gunawan kepadaku), saat itu adalah hari pertama dia menjadi Vice President di kantor tempat ayahku bekerja. Gunawan berhasil mengalahkan semua kandidat yang ingin menjadi Vice President termasuk ayahku. Kebanggaan menjadi Vice President membuat Gunawan menjadi lupa diri, dia meliburkan diri karena dia merasa bahwa perusahaan gas bumi yang cukup terkenal di Jakarta telah hampir jatuh ke tangannya. Selama perjalanan ke rumah, dia menggoyang-goyangkan kepala sambil mendengarkan lagu Metallica kesukaannya. Akhirnya Gunawan sampai di rumah dan duduk di serambi depan. Gunawan memanggil Rini untuk menyiapkan kopi yang menjadi kegemarannya.

Tak lama kemudian muncullah sosok Rini yang hanya mengenakan BH dan celana dalam memberikan secangkir kopi kepada dirinya. Gunawan sempat kaget karena tidak biasanya Rini memakai pakaian seperti itu, Rini menjelaskan bahwa dia memakai demikian karena dia baru saja selesai mandi dan dia berpakaian seadanya untuk menemui Gunawan.

Gunawan menjadi gugup melihat pemandangan yang menggairahkan di depan matanya karena secara jujur Rini secara sekilas mirip dengan finalis sabun LUX yang sering muncul di TV apalagi dia selalu memakai sabun LUX yang membuat tubuhnya selalu harum dari jauh. Gunawan tidak bisa menutupi dirinya bahwa dia terangsang melihat pemandangan ini terbukti dari batang kemaluannya yang sudah menegang dan seakan-akan memaksa keluar dari celana kerjanya. Untuk menghilangkan gairah seksual karena melihat tubuh Rini yang indah, Gunawan meluangkan waktu untuk membaca surat kabar Kompas yang berada di depannya.

Sialnya, nafsu seksual Gunawan yang cukup tinggi tidak dapat diredam hanya dengan membaca surat kabar. Gunawan bangkit dari kursinya dan mendekati Rini yang sedang memotong daging untuk sarapan Gunawan. Gunawan berkata, "Rin, aku mau tidur dulu sebentar, jika ada telpon bangunkan aku ya", dan Rini cuma mengiyakan perkataan Gunawan. Setelah itu, Gunawan beranjak pergi dari Rini menuju ke kamar tidurnya.

Rupanya saat itu Gunawan tidak bisa tidur nyenyak karena dia masih terbayang oleh sosok molek Rini yang selama ini dia selalu anggap sebagai seseorang yang membantu urusan di rumah. Sosok pembantu rumah tangga telah berubah menjadi obsesi seksual bagi Gunawan, sehingga secara sadar ataupun tidak sadar, Gunawan mulai membuka celananya dan mengelus-elus batang kemaluannya yang semakin lama semakin besar dan dia mulai mengocoknya dengan ritme yang teratur.

Di saat Gunawan sedang bermasturbasi ria, tiba-tiba dia dikejutkan oleh masuknya Rini ke dalam kamarnya sambil mengatakan, "Den, ada telpon, katanya dari petugas Asuransi.. ahh.." dan setelah itu dia menutup matanya mungkin karena malu melihat tuannya sedang memperlihatkan batang kemaluannya yang besar dan mengocoknya dengan ritme yang teratur. Gunawan menjadi kaget dan dia langsung menghentikan masturbasinya dan mulai mendekati Rini yang sedang menutup matanya dengan kedua tangannya. Gunawan dengan mendadak langsung menyerang Rini dan memeluknya dengan beringas. Rini menjadi takluk karena bagaimanapun Gunawan adalah majikannya yang selalu dia turuti selama bertahun-tahun semenjak dia masih berumur 10 tahun.

Gunawan mulai memeluk Rini dan mengangkat Rini ke ranjang yang tidak jauh dari posisi Rini berdiri. Rini sama sekali tidak memberikan perlawanan dan nampaknya dia mulai mendesah-desah ketika lidah Gunawan mulai menjilati liang kenikmatan Rini yang sudah semakin basah. Dengan nafsunya yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun, Gunawan merobek pakaian Rini sehingga sekarang Rini telah telanjang bulat dan tanpa membuang waktu, Gunawan mencium payudara Rini yang lumayan besar sambil jari-jarinya memainkan klitoris dan liang kenikmatan Rini yang sudah semakin basah. Rini semakin menyukai permainan ini dan di hadapannya dia tidak lagi menganggap Gunawan sebagai sosok majikan, dia menganggap Gunawan sebagai sosok laki-laki jantan yang berusaha membantu Rini untuk mendapatkan kepuasan batin yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya dan dia tidak bisa menolak bahwa sebenarnya sejak dulu, dia sangat mencintai majikannya yang bernama Gunawan ini dan sekarang dia sedang bercinta dengan dream lovernya dan dia merasakan ini semua seperti mimpi.

Namun Rini menyadari bahwa ini semua adalah kenyataan karena Rini bisa mencium Den Gunawan yang sangat dia sayangi dan dia mencium Gunawan bagai seorang kekasih. Hingga akhirnya permainan jari-jari Gunawan di selangkangan Rini memberikan puncak kenikmatan yang tidak pernah di terima oleh Rini sebelumnya. Rini menjadi gemetar dan memeluk kepala Gunawan yang sedang mencumbunya dan pada saat dia mencium Gunawan, dia mendesis panjang karena dia sadar bahwa dia sedang mengalami puncak kenikmatan yang sangat dinanti-nanti oleh seorang wanita di saat senggama.

Rini kelelahan karena dia baru saja melepaskan nafsu birahinya akan tetapi Gunawan masih belum puas karena di saat Rini sedang beristirahat dengan menutup matanya, Gunawan memainkan batang kemaluannya yang sudah menegang di sekitar liang kenikmatan dan klitoris Rini. Hal ini membuat nafsu Rini menjadi naik kembali dan dia mendesah-desah dan memohon kepada Gunawan untuk sesegera mungkin memasukkan batang kemaluannya. Mendengar permintaan Rini kemudian Gunawan memasukkan batang kemaluannya dengan perlahan-lahan ke dalam liang kewanitaan Rini dan Rini sempat menggigit bibir bagian bawahnya karena merasakan kesakitan di saat batang kemaluan Gunawan yang cukup gagah menantang itu memasuki goa kenikmatannya.

Gunawan mendiamkan batang kemaluannya di dalam liang kewanitaan Rini untuk beberapa saat sambil memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Rini. Ketika liang kewanitaan Rini dapat menerima kehadiran batang kemaluan Gunawan, Gunawan mulai menggoyangkan selangkangannya sehingga batang kemaluannya di dalam liang kenikmatan Rini mulai mengocok-ngocok dinding liang kewanitaan Rini. Rini tidak bisa membohongi perasaannya karena dia sangat menyukai permainan tuannya. Dengan perkasa, Gunawan mengangkat tubuh Rini yang sedang tiduran sehingga dia sekarang sedang bersenggama dengan Rini dalam posisi duduk. Gunawan terus menaik-turunkan tubuh Rini yang sangat seksi itu dan dengan refleks, Rini mencium Gunawan sambil mendesis-desis kenikmatan yang membuat Gunawan semakin mempercepat gerakan selangkangannya yang sedang mengocok liang kenikmatan Rini.

Rupanya, Gunawan tidak puas dengan posisi duduk yang dia lakukan secara cukup lama, dia kemudian menyuruh Rini berdiri dan menyandar ke meja rias yang berada di belakangnya. Rini menuruti perintah pujaannya itu dan dia bersandar di meja rias yang selalu dipakai oleh Gunawan sebelum dia pergi ke kantor. Ketika perintah dilakukan, Gunawan langsung memasukkan batang kemaluannya yang masih tegang dan mulai basah oleh cairan kewanitaan Rini ke dalam anus Rini. Rini menjadi sangat kesakitan karena dia belum pernah menerima anal sex sebelumnya, tetapi lama-kelamaan dia mulai menyukai permainan ini dan dia malah mengusap-usap batang kemaluan tuannya yang sudah masuk ke dalam anusnya dengan tangan kirinya dari depan dan di saat yang bersamaan dia mengulum jari-jarinya sambil mengeluarkan desahan-desahan yang cukup erotis.

Setelah bermenit-menit melakukan doggy style, Gunawan akhirnya melepaskan batang kemaluannya dari dalam anus Rini dan menyuruh Rini untuk berada di posisi atasnya. Rini menyetujui usul itu dan ketika Gunawan tiduran di ranjang, Rini mulai berada di atas tubuh Gunawan dan berusaha memasukkan batang kemaluan Gunawan ke dalam liang kenikmatannya. Rini sudah terbiasa oleh ukuran batang kemaluan Gunawan sehingga dia tidak merasa sakit ketika batang kemaluan Gunawan masuk ke dalam liang kewanitaannya. Rini bergoyang-goyang ke kiri ke kanan membentuk suatu sensasi sendiri bagi Gunawan dan Gunawan berkata, "Rinn, gue sukaa bangett.. gue udah gak tahan nih" Kata-kata Gunawan yang bercampur desahan membuat Rini semakin bersemangat dan mempercepat gerakannya. Gunawan mendesah sambil mendelikkan matanya di saat dia mengetahui bahwa Rini sedang bergetar hebat karena dia sedang melepaskan hasratnya dan dia merasakan bahwa batang kemaluannya sedang dialiri oleh cairan kenikmatan dari Rini.

Gunawan juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri karena pijitan liang kewanitaan Rini terhadap batang kemaluannya akan segera meledakkan puncak nafsunya. Memang benar karena tidak lama kemudian, Gunawan memeluk Rini dengan erat sekali sambil memuntahkan cairan spermanya ke dalam liang kewanitaan Rini. Gunawan sempat bergetar hebat untuk waktu 2 menit karena melepaskan cairan spermanya yang seakan-akan tiada henti itu. Gunawan kemudian memeluk Rini dan mencium bibirnya sambil membiarkan batang kemaluannya yang semakin lama semakin melemah itu.

Peristiwa itu terulang sampai lebih dari beberapa kali yang berakibat Rini mengandung bayi dari Gunawan dan hal ini membuat banyak orang malu atas aib yang dialami oleh Gunawan, sehingga perusahaan di mana dia bekerja dan sanak keluarganya tidak mengenal Gunawan lagi dan sekarang dia telah pindah ke Cirebon. Dari berita terakhir yang aku terima, Gunawan bekerja sebagai penjaga kedai makanan Sunda di Cirebon. Sungguh malang nasib Gunawan karena dari Vice President menjadi penjaga kedai makanan hanya karena dia terbawa hawa nafsu.

TAMAT

Akhir Pekan Terindah

Written by admin on 12:56 PM

Aku sudah berkeluarga, tapi aku punya WIL yang juga sangat kucintai. Aku sudah menganggap ia sebagai istriku saja. Karena itu aku akan memanggilnya dalam cerita ini sebagai istriku. Dari obrolan selama ini ia mengatakan bahwa ia ingin melihatku 'bercinta' dengan wanita lain. Akhirnya tibalah pengalaman kami ini.

Siang di hari Sabtu itu terasa panas sekali, tiupan AC mobil yang menerpa langsung ke arahku dan 'istriku' kalah dengan radiasi matahari yang tembus melalui kaca-kaca jendela. Aku sedang melaju kencang di jalan tol menuju arah Bogor untuk suatu keperluan bisnis. Seperti telah direncanakan, kubelokkan mobil ke arah pom bensin di Sentul. setelah tadi tak sempat aku mengisinya. Dalam setiap antrian mobil yang cukup panjang terlihat ada gadis-gadis penjaja minuman berenergi. Sekilas cukup mencolok karena seragamnya yang cukup kontras dengan warna sekelilingnya.

Dari sederetan gadis-gadis itu tampak ada seorang yang paling cantik, putih, cukup serasi dengan warna-warni seragamnya. Ia terlalu manis untuk bekerja diterik matahari seperti ini walaupun menggunakan topi. Tatkala tersenyum, senyumnya lebih mengukuhkan lagi kalau di sini bukanlah tempat yang pantas baginya untuk bekerja. Aku sempat khawatir kalau ia tidak berada di deretanku dan aku masih hanyut dalam berbagai terkaan tentangnya, aku tidak sempat bereaksi ketika ia mengangguk, tersenyum dan menawarkan produknya. Akhirnya dengan wajah memohon ia berkata, "Buka dong kacanya.." Segera aku sadar dengan keadaan dan refleks membuka kaca jendelaku. Istriku hanya memperhatikan, tidak ada komentar.

Meluncurlah kata-kata standar yang ia ucapkan setiap kali bertemu calon pembeli. Suaranya enak didengar, tapi aku tak menyimaknya. Aku malah balik bertanya, "Kamu ngapain kerja di sini?"
"Mom, kita kan masih perlu sekretaris, kenapa tidak dia aja kita coba."
"Ya, boleh aja", jawab istriku.
"Gimana mau?" tanyaku kepada gadis itu.
"Mau.. mau Mas", katanya.

Setelah kenalan sebentar dan saling tukar nomor telepon, kulanjutkan perjalananku setelah mengisi bensin sampai penuh. Istriku akhirnya tahu kalau maksudku yang utama hanyalah ingin 'berkenalan' dengannya. Ia sangat setuju dan antusias.

Malam sekitar jam 20:00 HP istriku berdering, sesuai pembicaraan ia akan datang menemui kami. Setelah diberi tahu alamat hotel kami, beberapa saat kemudian ia muncul dengan penampilan yang cukup rapi. Ia cepat sekali akrab dengan istriku karena ternyata berasal dari daerah yang sama yaitu **** (edited), Jawa Barat. Tidak sampai setengah jam kami sudah merasa betul-betul sebagai suatu keluarga yang akrab. Ia sudah berani menerima tawaran kami untuk ikut menginap bersama. Ia sempat pamit sebentar untuk menyuruh sopir salah satu keluarganya untuk pulang saja, dan telepon ke saudaranya bahwa malam itu ia tidak pulang.

Setelah cerita kesana-kemari akhirnya obrolan kami menjurus ke masalah seks. Setelah agak kaku sebentar kemudian suasana mencair kembali. Kini dia mulai menimpali walau agak malu-malu. Singkat cerita dia masih perawan, sudah dijodohkan oleh keluarganya yang ia belum begitu puas. Keingintahuannya terhadap masalah seks termasuk agak tinggi, tapi pacarnya itu sangat pemalu, termasuk agak dingin dan agak kampungan walau berpendidikan cukup. Kami ceritakan bahwa dalam masalah seks kami selalu terbuka, punya banyak koleksi photo pribadi, bahkan kali ini kami ingin membuat photo ketika 'bercinta'.

"Udah ah, kita sambil tiduran aja yuk ngobrolnya", ajak istriku.
"Nih kamu pakai kimono satunya", kata istriku sambil memberikan baju inventaris hotel. Sedangkan aku yang tidak ada persiapan untuk menginap akhirnya hanya menggunakan kaos dan celana dalam. Ia dan istriku sudah merebahkan badannya di tempat tidur, kemudian aku menghampiri istriku langsung memeluknya dari atas. Kucumbu istriku dari mulai bibir, pipi, leher, dan buah dadanya. Istriku mengerang menikmatinya. Aku menghentikan cumbuanku sejenak kemudian meminta tamu istimewaku untuk mengambil photo dengan kamera digital yang selalu kami bawa. Tampak ia agak kikuk, kurang menguasai keadaan ketika aku menolehnya.

Setelah aku mengajarinya bagaimana menggunakan kamera yang kuberikan itu, kemudian kuteruskan mencumbu istriku. Dengan telaten kucumbu istriku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kini tamuku tampaknya sudah menguasai keadaan, ia dengan leluasa mengintip kami dari lensa kamera dari segala sudut. Akhirnya istriku mencapai klimaksnya setelah liang senggamanya kumainkan dengan lidah, dengan jari, dan terakhir dengan batang istimewaku. Sedangkan aku belum apa-apa.

"Sekarang gantian Rin, kamu yang maen aku yang ngambil photonya", kata istriku.
"Ah Mbak ini ada-ada aja", kata Rini malu-malu.
Sebagai laki-laki, aku sangat paham dari bahasa tubuhnya bahwa dia tidak menolak. Dalam keadaan telanjang bulat aku berdiri dan langsung memeluk Rini yang sedang memegang kamera. Tangan kirinya ditekuk seperti akan memegang pinggangku, tapi telapaknya hanya dikepal seolah ragu atau malu. Kuraih kamera yang masih di tangan kanannya kemudian kuberikan kepada istriku.

Kini aku lebih leluasa memeluk dan mencumbunya, kuciumi pipi dan lehernya, sedang tanganku terus menggerayang dari pundak sampai lekukan pantatnya. Pundaknya beberapakali bergerak merinding kegelian. Kedua tangannya kini ternyata sudah berani membalas memelukku. Kemudian aku memangkunya dan merebahkannya di tempat tidur. Kukulum bibir mungilnya, kuciumi pipinya, kugigit-gigit kecil telinganya, kemudian kuciumi lehernya punuh sabar dan telaten. Ia hanya mendesah, kadang menarik nafas panjang dan kadang badannya menggelinjang-gelinjang.

Tidak terlalu susah aku membuka kimononya, sejenak kemudian tampak pemandangan yang cukup mempesona. Dua bukit yang cukup segar terbungkus rapi dalam BH yang pas dengan ukurannya. Kulitnya putih, bersih dengan postur badan yang cukup indah. Sejenak aku menoleh ke bawah, tampak pahanya cukup menawan. Sementara itu onggokan kecil di selangkangan pahanya yang terbungkus CD menambah panorama keindahan.

Ia tidak menolak ketika aku membuka BH-nya, demikian juga ketika aku melepaskan kimononya melewati kedua tangannya. Kuteruskan permainanku dengan mengitari sekitar bukit-bukit segar itu. Seluruh titik di bagian atasnya telah kutelusuri tidak ada yang terlewatkan, kini kedua bukti itu kuremas perlahan. Ia mendesah, "Eeehh.."

Tatkala kukulum puting susunya, badannya refleks bergerak-gerak, desahnya pun semakin jelas terdengar. Kuulangi lagi cumbuanku dari mulai mengulum bibirnya, mencium pipinya, kemudian lehernya. Kemudian kuciumi lagi bukit-bukit indah itu, dan kemudian kupermainkan kedua puting susunya dengan lidahku. Gelinjangnya semakin terasa bergerak mengiringi desahannya yang terasa merdu sekali.

Petualanganku kuteruskan ke bagian bawahnya. Ia mencegah ketika aku akan membuka CD-nya yang merupakan pakaian satu-satunya yang tersisa. "Ya nggak usah dibuka" ujarku, "Aku elus-elus aja ya bagian atasnya pakai punyaku", bujukku. Ia tidak bereaksi, tapi aku langsung saja menyingsingkan CD-nya ke bawah. Tampaklah dua bibir yang mengapit lembah cintanya dihiasi bulu-bulu tipis. Kupegang burungku sambil duduk mengangkang di atas kedua pahanya, kemudian kuelus-eluskan burung itu ke ujung lembah yang sebagian masih tertutup CD. Agak lama dengan permainan itu, akhirnya mungkin karena ia juga penasaran, maka ia tidak menolak ketika kulepaskan CD-nya.

Kini kamu sama-sama telanjang, tak satu helai benang pun yang tersisa. Kuteruskan permainan burungku dengan lebih leluasa. Tak lama kemudian cairan kenikmatannya pun sudah meleleh menyatakan kehadirannya. Burungku pun lebih lancar menjelajah. Tapi karena lembahnya masih perawan agak susah juga untuk menembusnya.

Ketika kucoba untuk memasukkan burungku ke dalam lembah sorganya, tampak bibir-bibir kenikmatannya ikut terdorong bersama kepala burungku. Menyadari alam yang dilaluinya belum pernah dijamah, aku cukup sabar untuk melakukan permainan sampai lembah kenikmatannya betul-betul menerimanya secara alami. Gelinjang, desahan, dan ekspresi wajahnya yang sedang menahan kenikmatan membuatku semakin bersemangat dan lebih percaya diri untuk tidak segera ejakulasi. Ia sudah tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Akhirnya kepala burungku berhasil menembus lubang kenikmatan itu.

Kuteruskan permainanku dengan mengeluarkan dan memasukkan lagi kepala burungku. Ia merintih kenikmatan, ia pasrah saja dengan keadaan yang terjadi, karena itu aku yakin bahwa rintihan itu bukan rintihan kesakitan, kalaupun ada, maka akan kalah dengan kenikmatan yang diperolehnya. Selanjutnya kulihat burung yang beruntung itu lebih mendesak ke dalam. Aku sudah tidak tahan untuk memasukkan seluruh burungku ke tempatnya yang terindah.

Kemudian kurebahkan badanku di atas tubuhnya yang indah, kuciumi pipinya sambil pantatku kugerakkan naik turun. Sementara burungku lebih jauh menjangkau ke dalam lembah nikmatnya. Akhirnya seluruh berat badanku kuhempaskan ke tubuh mungil itu. Dan.., "Bless.." seluruh burungku masuk ke dalam surga dunia yang indah. Ia mengerang, gerakan burungku pun segera kuhentikan sampai liang kewanitaannya menyesuaikan dengan situasi yang baru.

Setelah agak lama aku pun mulai lagi memainkan gerakan-gerakanku dengan gentle. Kini ia mulai mengikuti iramaku dengan menggerak-gerakkan pinggulnya. Selang berapa lama kedua tangannya lekat mencengkram punggungku, kakinya ikut menjepit kedua kakiku. Kemudian muncul erangan panjang diikuti denyut-denyut dari lembah sorganya. "Eeehh.." desahnya. Aku pun sudah tidak tahan lagi untuk menumpahkan seluruh kenikmatan, segera kucabut burungku kemudian kumuntahkan di luar dengan menekan ke selangkangannya. "Eeehh.." erangku juga. Kami berdua menarik nafas panjang.

Setelah agak lama kemudian aku duduk, kuraih kaos dalamku kemudian aku mengelap selangkangnya yang penuh dengan air kenikmatanku. Tampak tempat tidurnya basah oleh cairan-cairan bercampur bercak-bercak merah. Ia pun segera duduk, sejenak dari raut wajahnya tampak keraguan terhadap situasi yang telah dialaminya. Aku dan istriku memberi keyakinan untuk tidak menyesali apa yang pernah terjadi.

Besok paginya aku sempat bermain lagi dengannya sebelum check out. Betul-betul suatu akhir pekan yang susah dilupakan. Akhirnya ia kutitipkan bekerja di perusahaan temanku.

TAMAT

Banner Ads

Sponsored

Welcome To Mesum Story

Blog ini berisi kumpulan cerita mesum, cerita ini membahas bagaimana awalnya ML (ngentot) itu terjadi, Silahkan menikmati yang kami sediakan :) Keep Mupeng !!!

Want to subscribe?

Subscribe in a reader.