Mesum Story

Sex Stories Collection, Koleksi Cerita Seks, Cerita Mesum, Cerita Memek, Cerita Ngentot, Cerita Panas, Cerita Erotis, Cerita Saru, Cerita 17tahun dan Cerita Dewasa Terbaik

Your Ad Here

Kesabaran membawa nikmat

Written by admin on 8:29 PM


Namaku Suharto Mulyo Waspodo dan biasa dipanggil Harto, pada waktu naik ke kelas 2 SMU karena kondisi keluargaku maka 5 tahun yang lalu aku diikutkan pada keluarga pamanku di Cirebon. Pamanku (sebut saja om Hardomo) adalah pengusaha pakaian jadi yang menurut ukuran keluargaku termasuk sukses. Oleh Om Hardomo, aku dididik menjadi seorang pengusaha dengan ikut membantu semua aktifitas usahanya, diharuskan bias nyetir mobil agar bisa mengantar barang dll. Tidak jarang kalau libur sekolah diajak om sampai ke Jawa Tengah. Yang jelas kehidupanku menjadi lebih baik dan wawasanku lebih luas. Namun apa hendak dikata tiga tahun yang lalu Om Hardomo di usia 42 th meninggal karena sakit dengan meninggalkan istrinya Tante Atun 39 th tahun beserta 2 orang anaknya Diah 15 th yang duduk di kelas 3 SMP dan Aditya 12 th yang duduk di kelas 6 SD. Sepeninggal beliau kehidupan kami menjadi kurang baik, usaha yang telah dibangun Om Hardomo mengalami penurunan karena sebagian modal waktu itu dipakai untuk biaya pengobatan dll.

Hasil musyawarah keluarga aku diharuskan tetap ikut pada keluarga almarhum dan membantu usahanya agar dapat berjalan syukur kalau kembali seperti semula. Aku tahu diri, karena pada waktu itu Diah dan Aditya akan melanjutkan sekolah, maka akupun harus mengalah untuk menunda kuliah dan terfokus pada usaha untuk menopang kehidupan kami.

Satu tahun begitu cepat berlalu, aku sering mengantar tante ke Tegal Gubug mencari bahan pakaian yang dibutuhkan, mengantar ke tempat-tempat rekan bisnis almarhum di sekitar Cirebon. Usaha sudah mulai lancar dan kehidupan kami sedikit demi sedikit membaik. Aku salut dengan Tante Atun dalam pembukuan dan pengelolaan usaha yang rapi dan teliti (hampir semua yang ada dalam usahanya dapat termonitor) tidak jarang pula tante menyetir mobil sendiri untuk mengantar barang dan mencari bahan. Namun tetap aku harus memendam keinginanku untuk melanjutkan kuliah walaupun tante pernah memberi lampu hijau tapi selalu kujawab ”nanti saja kalau usaha tante sudah mapan”.

Suatu saat tanteku ingin mengembangkan usahanya ke Jawa Tengah seperti yang dilakukan almarhum dulu. Kami merencanakan perjalanan dengan matang ke beberapa kota di Jawa Tengah selama 4 hari. Aku dan tante berangkat ke Jawa Tengah dengan bergantian menyetir, kami berusaha untuk ketemu dan menjalin kerjasama kembali dengan beberapa rekan kerja almarhum. Seharian di jalan dan bekerja ternyata sangat capek sekali. Habis makan malam kami langsung ke hotel melati untuk menginap dan kami hanya menggunakan satu kamar saja karena untuk menghemat biaya.

Setiba di kamar hotel kami sudah lelah sekali, setelah beres-beres tante langsung mandi dan aku juga mandi setelah tante selasai mandi. Di kamar mandi sayup-sayup saya dengar tante menelphon Diah, itu hal yang biasa dari seorang ibu, tapi bagi saya luar biasa karena dalam kondisi yang demikian lelah tante masih sempat memperhatikan anak-anaknya.

Selesai mandi saya lihat tante menngunakan daster (seperti biasa kalau dirumah) sedang tiduran di tempat tidur.
” To, tante tidur dulu ya. Tante capek sekali ”
“ Iya tante, Harto juga mau terus tidur “
Akupun pakai kaos dan celana pendek, jam 8 malam kamipun sudah tidur karena rasanya lelah sekali.

Kira-kira antara jam 10 – 11 malam aku terbangun mau ke kamar mandi buang air kecil, aku lihat tante sedang duduk nonton TV, perasaan saya bertanya-tanya ada apa dengan tante.
” Kok tante tidak tidur ”
” Tante tidak bisa tidur, badan tante pada sakit, mungkin terlalu capek ya to” sahutnya
Aku langsung ke kamar mandi dan setelah buang air kecil saya naik ke tempat tidur lagi. Tiba-tiba tante bicara.
” To, tante tahu kamu capek sekali, tapi tante mau minta tolong pijitin tante, apa kamu mau?”
” Mau tante, tapi apa sebaiknya tidak dikerok saja tante, biar anginnya keluar”
Sejenak tante diam terus menjawab
” Ya kalau kamu mau beli dulu minyak gosok untuk ngerokin tante”

Kuambil dompet dan rokokku terus keluar. Sambil merokok saya beli minyak gosok dan langsung kembali lagi ke kamar. Aku melihat tante masih tidak berubah duduknya dan tetap lagi nonton TV.
” Ayo tante, aku kerokin ”
Tante Atun kemudian pakai kain terus dasternya dicopot dan naik ke tempat tidur, terus tidur telungkup. Saya melihat punggung tante sampai batas pinggang saja karena kebawah tertutup kain. Aku terkesima, ternyata tante yang 41 th ini walaupun tidak terlalu putih tapi mulus sekali.
” Tante tali BH nya dilepas ya, supaya gampang ngeroknya ”
Tante diam saja, jadi langsung aku lepas tali BH nya kemudian aku mulai ngerok.

Sepanjang mengerok, naluri kelelakianku berjalan dan terus berjalan semakin cepat. Bagaimana bentuk dan rupa tante yang polos tanpa apa-apa, bagaimana rupa kemaluannya dan bagaimana rasanya. Terus dan terus tanpa bisa aku hentikan dan semakin lama semakin nikmat aku dibawa khayalanku itu terus dan terus imajinasiku terus melambung. Otakku diperas dan akhirnya ”Aku harus mendapatkan Tante Atun sekarang, aku harus merasakan enaknya tubuh tante harus dan harus sekarang” gumanku.
Tapi bagaimana caranya sekarang?
Terus mulainya dari mana ?
” Ada apa, to? “ kata tanteku bak pedir yang membuyarkan semua khayalanku.
” Tidak ada apa-apa, Harto urut sekalian ya tante. Biar tante terus tidur pulas”
“ Apa kamu bisa? Tapi tidak ada salahnya kalau dicoba”
Hatiku bersorak horreee! pokoknya kalau tujuan sudah ditetapkan pasti selalu ada jalan.

Aku mulai mengurut leher terus ke belikat. Disitu agak lama saya urut, karena saya mulai menjalankan rencanaku, sambil urut sesekali saya pegang buah dadanya yang tertindih badan tante dan saya lihat tidak ada reaksi dari tante.
” Lumayan juga, kamu bisa ngurut” katanya
” Iya tante, ini tukang urut dadakan ”
” Bisa saja, kamu ”
Saya mencoba serelak mungkin agar tidak ada kecurigaan dari tante dan aku terus mengurut sampai ke pinggang.
” Kenapa kamu buka kaosmu, to? Keringatan ya kalau capek ya sudah dulu ”
” Sudah kepalang capek tante, sekalian saja ” Hampir saja rencanaku gagal
Aku mulai mengurut kaki tante, aku mulai dari telapak kakinya secara bergantian terus ke atas sampai dengkul, aku melihat tante sering meringis menahan sakit, sehingga kakinya bergerak dari posisi demula dan mulai sering kulihat CD nya yang berwarna merah muda. Sementara senjata biologisku semakin meronta-ronta di dalam celana pendekku.

Oh ya perlu saya ceritakan juga, sewaktu aku SMP dan SMU kalau pagi di kamar mandi sering kontolku kurendam dengan teh basi (kemarin) yang buket terus diurut-urut. Katanya bisa tambang panjang dan besar. Tapi benar Sekarang punyaku panjangnya tidak kurang dari 18 cm dengan diameter 4cm.

Aku melihat tante melonggarkan ikatan kainnya yang ada di perut, dan terus kuurut sampai ditengah-tengah pahanya. Terus terang ingin rasanya mengurut sampai pangkal pahanya tapi takut ketahuan rencanaku. Sabar dan sabar pasti ada buah kesabaran.
Aku kembali berpindah mengurut punggungnya, tapi sasaranku sudah beda. Bagaimana harus kulepas CD merah jambu itu. Kulumuri tanganku dengan minyak gosok lagi dan mulai mengurut kembali dari punggung terus kebawah, sampai di pinggang karena ikatan kainnya sudah longgar dan mungkin sekarang sudah lepas, maka urutanku terus ke bawah dan lebih mudah mencapai CDnya. Disitu terus kuurut, kuperhatikan tante keenakan, perlahan-lahan dan sedikit-dikit tanganku menyelinap ke dalam CD nya walaupun sedikit. Saya tidak mau keburu-buru karena takut ketahuan dan supaya tante merasa terbiasa.
” To, kok kamu ngurutnya sampai kesitu-situ, awas jangan kurang ajar kamu !”
Aku sudah tidak mendengarkan lagi omongan tante, sekarang bagiku yang penting CD itu copot titik. Lalu kuambil lagi uang logam 500 dan pinggangnya kukerok terus ke bawah. Tante diam, kembali tidak curiga. Aku mulai ngerok pantatnya dan tante sampai sekarang tidak ada kecurigaan sama sekali dan tanpa terasa kainnya sudah lepas, kali ini jurusku sukses.
” Turunkan sedikit CDnya, ya tante. Biar ngerok dan ngurutnya mudah dan CD tante tidak kena minyak gosok” Dan mungkin dalam benak Tante Atun masuk akal juga alasanku, tapi dia jawab.
” Sedikit saja dan jangan kurang ajar, mijitnya jangan disitu terus tante geli ”
” Mana berani, aku kurang ajar sama tante ” sambil menjawab lembut walaupun keinginanku hampir mencapai ubun-ubun rasanya dan didalam celana pendekku terus saja ada yang meronta-ronta.
Waktu kupelorotkan CD nya perut tante diangkat jadi lebih mudah dan aku pura-pura kebablasan sehingga CD nya sampai ditengah-tengah antara angkal paha dan dengkul. Aku langsung urut lagi dengan posisi terbalik dari pantat terus ke paha, sehingga tante yang tadinya menoleh kearahku tidak jadi ngomong apa-apa dan kelihatan dia mengantuk dan keenakan diurut. Dan aku teruskan mengurut seperti itu sehingga tante merasa terbiasa, padahal tanpa terasa CD itu semakin ke bawah. Aku urut tante agak ditekan jagi tante secara tidak sengaja kakinya terus bergerak-gerak kecil menahan urutanku dan tanpa terasa CDnya lepas sekarang yang ada dihadapanku adalah Tante Atun yang bugil dengan posisi tidur tengkurap.

Dengan sigap aku ganti posisi sekarang didekat kaki tante dan terus mengurut, tapi sekarang urutanku dari bawah ke atas. Sambil mengurut secara bergantian dan secepatnya kubuka kancing celana, resleting dan pelan-pelan kuturunkan, sekarang akupun sudah telanjang. Didepanku ada Tante Atun yang telanjang juga dengan posisi tengkurap. Kuurut bagiang dalam kakinya dari bawah keatas terus menerus dan pelan-pelan kaki bergeser sehingga semakin ngangkang dan aku lihat betapa menariknya lubang kenikmatannya yang berwarna merah jambu. Pelan-pelan aku terus bergerilya dan terus maju, dan kini kepala kontolku sudah mengarah ke lubang vaginanya. Kemudian dengan gerakan yang terukur dan terarah kumasukkan kontolku ke lubang kenikmatannya.
“ Eh.. eh apa-apaan ini to “ tante berusaha menghindar dan mencoba berontak. Tapi dengan berontaknya itu menyebabkan kepala kontolku masuk. Slep slep slep rasanya nikmat sekali.
“ Eehh….eeehhh.” kudengar lenguhannya yang ditelinga terasa merdu dan indah.
“ To, sudah to, sudah ya “ pintanya, tapi mana aku mau melepaskan hasil buah kesabaranku.
“ Tante, Harto minta maaf, tapi harto pingan sekali tante “ pintaku tanpa melepakan kepala kontolku yang menancap di selangkangannya.
” Tante, Harto mohon sama tante, boleh ya, walaupun hanya kepalanya saja tante, boleh ya” aku meratap sambil terus menindih dan bertahan. Akhirnya dia diam tidak bergerak.
” Ingat ya to, kepalanya saja. Jangan kamu masukan semuanya ”
” Kamu sudah berani kurang ajar sama tante dan itu dosa dan ingat om Hardomo” Tante mencoba mengingatkanku, tapi aku sudah tidak mau tahu.
” Iya tante, harto ngerti, tapi harto pingin sekali. Boleh ya ” aku merengek, karena itu jurusku untuk dapat menguai semua dan tante diam saja, menyerah. Aku tahu dia menangis, tapi ini harus kuteruskan. Aku mulai memompa kemaluannya dengan kontolku walaupun hanya kepalanya saja.
” Ehhh…eh…eh” Terus dan terus kupompa, kini yang masuk sudah setengah, nikmatnya bukan main. Lalu aku beranikan memeluknya, menciumnya, kuraba-raba susunya dia diam saja, tapi nafasnya terdengar makin memburu. Kupastikan dia, dalam keadaan bimbang antara dosa dan nikmat. Aku percaya nikmat dan enak itu pelan-pelan akan terus senguasainya, aku harus kembali sabar dan sambil terus kupompa dalam posisi seperti itu.
” Ehh…aduh, to, kamu.ehh…berani…eeh..nya…sst..s….sama ..stt… adu….h tante…..ehh..” Saya pastikan sekarang kenikmatan lebih dirasakannya dan terus terus kupompa vaginanya. Enak, sempit dan sekarang sudah agak licin. Kurang lebih 5 menit terus begitu.

Sambil kucium, kuraba-raba terus dan terus nikmat sekali
” Tante, sekarang boleh ya dari depan ” pintaku dan dia diam saja. Kucopot kontolku dan kubalikkan badannya dia diam saja, dan aku sengaja tidak melihat wajahnya takut sisa-sisa tangisnya masih ada dan tidak menikmati keindahan tubuhnya dulu, takut dia berubah pikiran. Jadi langsung kutindih, kukakangkan kakinya dan kumasukan lagi kepala kontolku ke liang kenikmatannya dan aku langsung mencium susunya menjilati putingnya. Sekali lagi belum saatnya aku melihat wajahnya yang manis. Kugenjot dan kupompa terus, betul-betul nikmatnya bukan main. Karena vaginanya sudah licin maka pelan-pelan dan pasti akhirnya kontolku bles bles bles masuk semua. Uakh nikmatnya, kudiamkan sembentar kurendam kontolku dan kubiarkan dan ternyata ada denyut-denyut dalam vaginanya. Nikmat sekali nikmat sekali dan kudengar nafatnya memburu. Pasti diapun keenakan.
” Aduh ehh.. ini.. stt..masuk.. semua to, uhh… jangan… ehh…. terus…. uhh…aduh …. terus …. terus…. uakh….ahh…. ehh aduh… sudah…. ahhh….ahhhhhhh…… terus….terus…..” kudengar rintihannya yang semakin ngaco dan pantatnya sering bergerak-gerak mengimbangi gerakanku. Akhirnya, tante memelukku sangat kencang, pantatnya dinaikkan dan kakinya menjepit pahaku lengungannya panjang
” Aduhhhhh……. ehhhh……aukkhhh” Aku tahu dia orgasme karena dikepala kontolku terasa ada cairan hangat sekali dan inilah saatnya yang kutunggu untuk dapat mencium bibirnya. Kulumat bibirnya dan ternyata dia membalas, kucium bibirnya pipinya telinganya dengan rakus. Tangannya masih memelukku tapi pantatnya berhenti bergoyang dan jepitan pahanya mengendor
” Boleh ya, aku manggil sanyang ?” kubisikan kata-kata manja ditelinganya
” Ehh…. kamu nakal… aukh.. boleh sayang…. boleh…. ohhhh… uhhhhh…… ohh sayang…. ohhh…. ehhh… terus…. uhhh…….” suaranya tidak karuan dan terusku percepat pompaanku.

Kutatap mukanya dia masih buang muka, mungkin masih malu. Sengaja kucopot kontolku dan gugesek-gesekan dimulut liang kenikmatannya karena aku akan minta memasukkan kontolku kevaginanya, apa dia sudah mau. Dia mendesah sambil menyembunyikan mukanya diketakku dan terus kugesek-kesekan kontolku.
” Sayang, masukan lagi kontolku sayang ” dia meraba selangkangannya dan memegang kontolku lalu memasukannya lagi ke liang kenikmatannya.
” Akh…. ehhh… ” lenguhnya
” Pelan-pelan sayang auh…. aduh…. ehhh.” dan blesss bles kumasukan kontolku tanpa sisa dan kutekan. Uhhh enak sekali hangat sempit licin dan berdenyut-denyut. Lalu kupompa lagi vaginanya terus dan terus semakin cepat.
” Aduh…..ehhhh…. uhhhh…. ohhhh….ssssttt……” kembali memelukku kencang pantatnya naik dan bergoyang-goyang tidak teratur dan pahanya kembali menjepitku. Aku pompa ku genjot terus terus dan terus semakin kencang. Semakin tidak karuan gerakannya.
” Aduh…ssstttt…… auhhh…….. ehhh” Kucium kulumat bibirnya, telingannya, puting susunya.
” Enak …. sayang….eehhhh…. enak…. sayang…. aduh ….” kuulangi pertanyaanku
” Aukh…. iya…ehhhh…. aduhhh…… uuhhhh enak….. ”
” Aduh….. uhhhhhhh…. aduh…….. uhhhhhhhhhhhh” dan crot crot creet spermaku keluar dalam vaginanya, nikmat sekali
Tubuhku dan tubuhnya melemas, kubiarkan kontolku sampai melemas dan keluar sendiri.

Dia terus kekamar mandi dan kuikuti, dia cebok akupun mencuci senjataku. Dia mau makai kembali kainnya tapi kutarik naik ketempat tidur dan tidur telanjang dengan berpelukan. Lemas sekali rasanya tapi nikmatnya bukan main.

Kira-kira jam 6 pagi aku terbangun, aku melihat Tante Atun ada di depan kaca rias sedang menyisir. Kuperhatikan terus dia memakai bedak dan lipstik sementara badannya masih tertutup kain setinggi dada (dalam bahasa jawa disebut kembenan). Aku bangun, kubalutkan selimut kebadanku dan langsung kekamar mandi, buang air kecil, sikat gigi dan cuci muka. Kupegang kemaluanku keras sekali rupanya minta jatah lagi. Dikamar mandi akupun berpikir, fantasi sex ku semakin liar, tapi apakah dia masih mau atau hanya menganggap tadi malam adalah kekurangajaran dan kesalahanku yang jangan sampai terulang lagi atau sudah dapat menerima dan berlanjut sesuai yang kuinginkan. Lalu bagaimana caranya menjinakkan merpati yang sudah ada digegaman?. Harus bisa dan tidak frontal, pelan-pelan sabar pasti bisa. Kuhampiri dia dan kupeluk erat-erat dari belakang sejenak lalu kuangkat dia berdiri, kubelai rambutnya kutatap mukanya yang ternyata setelah berias tampak lebih cancik, dia tertunduk kemudian memelukku sambil menyembunyikan mukanya. Kupegang dagunya kuangkat kepalanya dan kukecup bibirnya.
” To, kita sudah melakukan hal yang tidak boleh kita lakukan, kita berdosa dan …….” sebelum diteruskan langsung kujawab
” Tadi malam kita sepakat untuk saling memanggil sayang ” aku ingin ngomong tadi malam enakkan nikmatkan tapi belum berani, ingat jangan sampai merpati itu lepas, ingat dia butuh kelembutan dan sedikit bumbu-bumbu rayuan yang manis dan ”mematikan”.
” Iya, tapi …….. ” sebelum dilanjutkan kulumat bibirnya dengan lembut.
” Eeehhhh…….. ” dia melenguh. Kueratkan pelukannya sambil kuusap usap punggung dan pantatnya juga kuremas-remas pantatnya
” Oohhh…. eh…. ” dia mendesah dan bergayut badannya, tidak kusiakan kesempatan ini, kutarik kainnya dan brall terlihatlah tubuh telanjangnya dan akupun membuka sendiri selimut ditubuhku sehingga sangat terasa kontolku menusuk-nusuk kemana saja. Sambil kuciumi dengan rakus bibirnya pipinya telinganya terus pelan-pelan kugeser dekat tempat tidur dan kurebahkan dia, kuanikkan tubuhnya ketempat tidur dengan posis terlentang.

Kulumat bibirnya dan tanganku sudah bergerlya kemana saja, kujilati dan kuisap puting susunya sambil kuelus-elus bibir selangkangannya yang lebut dan berbulu agak lebat kutuntun tangannya memegang kontolku.
” Ehhhh…. ehhhh ” kembali dia melenguh dan nafasnya mulai memburu
” Bibir memekmu lembut selaki, sayang ”
” Kontolmu besar sekali, sayang… ohhhh… ehhhh”
Kunaiki tubuhnya, kuisap kujilati dan kuremas-remas susunya. Kulihat bibirnya sedikit terbuka matanya terlihat seperti orang mengantuk dan nafasnya terus memburu sementara lenguhan dan desahannya terus terdengar. Aku terus mencium mendilati dari susunya terus kebawah di pusarnya dan ters kebawah.
” Jangan sayang… bauk… dan jijik kan ohhhh … ” dia menutup kemaluannya dengan tangan.
” Tidak apa-apa sayang…. aku ingin sayang ….. ” sambil kulepaskan tangannya mula-mula ditahan tapi lama-lama melemah juga dan
” Aukh…… Uhhh……… diapain sayang … aduhhh…. enak sekali… sssttttt ” kujilati vaginanya kuisep-isep itilnya, dia terus melenguh mendesah dan menggelinjang-gelinjang tidakkaruan.
” Aduuuhhhhh…… oohh….. ooohhh ” tangannya menjambak rambutku keras dan pahanya menjepit kepalaku sementara pantatnya diangkat setinggi tingginya. Rupanya dia belum pernah mengalami sensasi ini dan sekarang dia mengalami orgasme, memeknya semakin hangat karena ada cairan yang keluar, kujilati cairan itu, asin. Kulihat liang kenikmatannya berwarna merah yang membara dan banjir.” Jangan dilihat sayang, …. malu ahhhh….”

Kunaiki tubuhnya dan kucium bibirnya…
” Bibirmu asin …. dan agak bau sayang……..eehhh “ tidak diteruskan karena terus kulumat.
Tanpa dikomando dia pegang kontolku dan dimasukan keliang kenikmatannya dan bless
” Aduh ….. enak sekali sayang ” kutekan sekuat kuatnya kemaluanku dan kudiamkan sejenak, terasa hangat dan kurasakan memeknya berdenyut-denyut seperti menghisap-hisap dan memeras-meras kontolku. Kupompa dan kugenjot sekuat kuatnya, imajinasi sex ku terus melayang-layang, ingin rasanya tidak berhenti selama-lamanya,nikmat sekali, ennnak.
” Aduh … sssttttt…. aku tidak kuat lagi sayang oooohhhh…..” badanya menggelinjang-gelinjang tidak karuan dan terus kupompa, kugenjot.
”aaaahhhhhhh…….. eeehhhhmmmmm…..” dan crot creet crottt croott air maniku tumpah di liang kenikmatannya bercapur maninya yang juga menyembur. Dia menjabakku kuat-kuat, kakinya menjepit pahaku sambil menaikkan pantatnya setinggi-tingginya. Kurasakan kontolku amblas dan kutekan sekuat-kuatnya, sama-sama rasanya tak mau lepas.
” Sayang, kamu luar biasa, tapi gila…. rasanya ubun-ubun ini mau pecah ”
” Tapi nikmatkan sayang? ”
” Ahhh jangan tanya begitu ah ” bisikan-bisikan mesra yang menghanyutkan terus
Dia tertidur miring memeluk dan memegang kontolku, aku yakin dia tak mau melepas lagi dan imajinasi sex kupun terus melayang dan terus berkembang dan harus kupraktekkan dengan kenikmatan yang semakin memuncak.

Kami keluar hotel kurang lebih jam 11 siang dan langsung menuju kota lain di Jawa Tengah. Siang bekerja malam menikmati keindahan sex yang luar biasa dan semakin liar, segala posisi telah dipraktekkan bahkan dia sudah terbiasa minum air maniku. Terus dan terus dan tanpa terasa lima hari telah terlewati. Saat ini pukul 4 sore, kami sedang dalam perjalanan pulang ke Cirebon.
” Yang, kita mampir dulu ya, pulangnya besok sore saja, kan pekerjaan sudah selesai ”
” Akh, kamu itu tidak ada puas-puasnya ” jawabnya sambil matanya melotot dan tangannya mencubit perutku. Tapi waktu mobil kubelokkan kehotel dia diam saja, tanda setuju. Kami masuk hotel dan terus mandi air panas di sower dan langsung tidur untuk melepas lelah dan menyimpan tenaga untuk malam nanti.

Kami bangun antara jam 6 dan jam 7, terus cari makan sambil keliling kota.
” Aku mau minum jamu dulu ya sayang, biar kuat dan puas nanti malam ” dan matanya melotot waktu ku kobok memeknya. Setelah mutar-mutar kami kembali ke hotel kurang lebih jam 10 malam.

Kulihat dia langsung ke kamar mandi, sedangkan aku langsung telanjang bulat dan berdiri menyambut dia datang, kurasakan kontolku berdiri tegak sangat keras dan lebih besar dan panjang menantang.
”Ayo telanjang sayang dan isap kontolku ini” dia menurut saja seperti kerbau sudah dipatok hidungnya.
” Ehmmm….. kok besar sekali kontolnya sayang …. ehmmm …. ” sambil jongkok dia menjilati dan mengulum kontolku, kepalanya batangnya bijinya semua, sementara aku lihat dari kaca seperti anak kecil makan es krim. Nikmatnya bukan main. Kurang lebih 5 menit terus begitu sambil kukocok-kocokkan kontolku ke mulutnya.

Lalu kusuruh dia naik ke atas meja yang sudah dilamaki selimut dan diberi bantal jadi posisnya setengah duduk dan terlentang, kukakangkan kakinya dan kuisap memeknya, itilnya kujilati sambil kumasukan dan kukocok-kocok dua jariku pada vaginanya dan kugesek-gesekan dua jariku diantara itilnya.
” Ehh.. nikmat sekali….sttt .. mau uuhhh….diapain lagi…… ” tubuhnya terus menggelinjang dan tidak karuan. Sebelum orgasme aku hentikan, kulihat mukanya merah matanya liar dan kumasukkan kontolku ke liang kenikmatannya blesss beleesss masuk semua
” Uhhh…. nikmat ….. sekali, sayang …. aduh enak sekali memekmu …… ” dan diapun mau menjerit waktu kutekan sekuatnya, buru-buru kulumat bibirnya.
Kutarik kontolku pelan-pelan, kulihat matanya melotot merasakan kenikmatan yang luar biasa dan seakan isi memeknya ikut tercabut.
Aku mulai dengan permainan pertama, kutaruh tanganku untuk menyangga kakinya yang kukakangkan selebar-lebarnya, kupompakan kepala kontolku saja dari lambat terus semakin cepat dan kuhitung sampai 40 kali aku melihat dia meringis ringis, mendesah desah dan melenguh terus menerus. Pada hitungan ke 41 sampai dengan 80 kuperlambat pompaanku tapi dari kepala sampai amblas semua kontolku masuk di vaginanya. Matanya melotot terus terpejam, tangangya mencengkeram lenganku sukuatnya, mulutnya ditutup sekuat kuatnya dan tubuhnya tidak bisa menggelinjang karena terkunci dan serr serr croot seer dari dalam memeknya keluar cairan sangat banyak dan terus kupompa ciplak ciplak terus bunyi memek beradu dengan pangkal kontol dan pada akhir hitingan ke 81 langsung kutekan sekuatnya sambil melumat mulutnya karena aku takut dia menjerit. Setelah kurang lebih kudiamkan 1 menit kulepas lumatanku.
” Gila kamu sayang, betul-betul gila. Ehh… eh…. aku … diapakan .. sayang… rasanya …baru kali ini aku ehh… merasakannya…. ehh..” nafasnya masih megap-megap dan matanya merem melek. Lalu dia melumat bibirku dengan mesra dan lembut sekali.
” Aku puas sekali sayang….. terima kasih….. ” kembali dia melumat bibirku.
Pelan-pelan kuajak turun dan kuperlihatkan tumpahan cairan dari memeknya dan dia memelukku.
” Kenapa ? ”
” Malu ahh…. banyak sekali ya sayang” kembali dia mencium bibirku.

Kupangku dan kubelai-belai rambutnya, kubiarkan dia istirahat sebentar. Lalu bukit kembar di dadanya kuusap-usap, lalu kuremas-remas dia diam saja terus kuisap putingnya. Kembali dia mendesis.
” Ngewe lagi yuk, sayang…. ” Dia diam saja karena sudah pasrah dia sudah ketagihan kontolku. Aku suruh di berkaca di cermin sambil berdiri, dari belakang kupeluk dan kuremas-remas buah dadanya, dia mendesah lagi dan mulai terangsang. Kurapatkan kakinya dan badanya membungkuk tangannya pegangan cermin.
“ Mau diapain lagi sayang…. malukan ngaca begini…. “ Aku diam saja, lalu kupandangi memeknya yang menonjol dan terjepit. Kuusap-usap memeknya dan kubelah-belah pakai dua jari, kucari itilnya dimana kuusap usapkan kepala kontolku dimulut vaginanya yang terjepit lalu pelan-pelan kumasukkan dan memang agak sulit masuknya
“ Aduhh… geli sayang…ayo dikasur saja sayang … aduh… diapain … lagi sayang…. aduh “ slep slep kepala kontolku mulai masuk dan terus kumasuk keluarkan kontolku terus dan terus sampai blesss bleess beless masuk semua.
” Aduh …. geliii…. sayang…. ngilu sekali .oohhhh. …. tidak kuat berdiri……. lagi…….ahhhh sssttt…….. kamu… juga….sttt…ohh..enak .. sayang …”
” Nikmat ….sekali ehh..sayang… ehh.. ” terus aku pompa, genjot dan terus tubuhnya bergayut tidak dapat menahan berdiri lagi. Kupegangi perutnya dan pantatku tetap kuayun-ayunkan mengocok memeknya eunak sekali.

Setelah puas dengan posisi itu, kutidurkan dia di pojok pas disiku kasur. Dengan posisi ini aku yakin setiap pompaanku kontolku bisa mencapai dasar rahimnya fantasiku akan kutuntaskan sekarang karena entah kapan lagi aku dapat kesempatan seperti ini. Aku melihat dia langsung ngangkang minta kuhujamkan senjata biologisku, tapi aku tidak. Kubengkekkan kakinya yang sudah ngangkang sehingga liang vaginanya menganga merah membara selebar-lebarnya.
” Aukh…. stttt….. gilaaaa…. amu …appppakan…sttttt ….ayang..ohhh” lenguhnya sudah tidak jelas lagi ketika kumasukkan mulutku keliang vagina yang menganga itu dengan rakus dan waktu kena itilnya dan langsung kusedot kuemut kuat-kuat, kulepas dan kuamblaskan kontolku ke liang surgawinya. Kuayun pantatku pelan-pelan sampai kontolku keluar dan kuamblaskan lagi terus seprti itu. Kulihat dahinya dikerutkan, mulutnya dikatupkan kuat-kuat dan matanya melotot dan memejam sementara tangannya meremas sprei kasur. Kurasakan terus aliran laharnya yang mengalir deras sampai memeknya banjir. Kurang lebih 5 menit dan kutekan kuat kuat karena akupun tidak dapat lagi membendung cairan yang mengalir dalam senjata biologisku dan crot crot tumpahlah spermaku sebanyak-banyaknya dalam vaginanya. Dengan mandi peluh aku peluk dan kulumat bibirnya. Nikmat sekali dan luar biasa.

Aku naik ke tempat tidur dan kutarik tangannya mengikutiku. Selama 10 menit kami diam, dia tidur miring sambil memegang dan mengelus-elus kontolku. Kuambil alat cukur jenggot dalam tasku. Lalu kubalikkan tubuhnya dan kukangkangkan pahanya terus kucukur jembutnya sambil sesekali kujilat memeknya. Kuajak dia berkaca dan lucu melihatnya.
” Aku tidak terima jadi begini sayang ” Dia membalikkan badannya dan menghisap puting susuku terus melumat kemaluanku sambil dielus dan dikocok. Aku merasakan dia semakin liar dan kamipun terus bergumul.

Keesokan harinya jam 4 sore kami sudah sampai dirumah. Kulihat tante atun lagi cerita dengan Diah dan Aditya, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa dengan kita berdua. Kurebahkan tubuhku dalam kamar. Kembali aku harus bersabar, aku harus menunggu tiga hari. Kenapa? Karena dengan beberapa kali dia minum spermaku, aku yakin libidonya akan naik dan melonjak, aku yakin nanti diseluruh liang vaginanya akan gatal minta digaruk kontolku, aku yakin jembutnya yang mulai tumbuh akan menyebabkan memeknya akan gatal luar biasa. Akibatnya bisa kita perhitungkan, luar biasa.

Dan terjadilah pada hari keempat.

TAMAT

Pembantuku Montok dan Kenyal

Written by admin on 8:08 PM


Perkenalkan nama saya dwi tinggi 178cm berat 65kg saya kuliah di daerah jogja. Rumah saya tidak tauh dari tempat kuliahku. Di rumah saya ada seorang pembantu dari Jawa Barat berkulit agak hitam tetapi manis dengan umur 18thn tinggi sekitar 165cm, rambut panjang sebahu lebih dikit dan dicat agak merah (bukan cat orang kampung, cat rambutnya bagus seperti orang yang sering ke salon) dan payudara yg besar, 35B. Tidak ketinggalan pantat nya yang montok dan berisi.

Yang saya ingin ceritakan adalah pengalaman nyata saya pada bulan november tahun 2007. Waktu itu saya baru pulang dari kampus saya langsung diajak pergi oleh keluarga saya. Saya diajak jalan di mall, tp saya tidak mau karena capek. Seperti kebiasaan saya, setiap rumah kosong saya sangat sering ntn film porno. Karena di kamar saya tidak ada tv maka saya nonton di ruang tengah. Rumah saya ada 2 dijadikan satu. Dua rumah saya berbeda jalan. Tadi saat keluarga saya baru pergi pembantu saya bilang mau main sama temannya. Setelah saya lihat rumah blakang, ternyata pembantu saya membawa kunci rumah. Yasudalah kalo dia main juga sampai malam biasanya. Langsung saya menyetel film porno dengan membuka cd dan mengelus2 penisku yang keras, tp tidak mengocoknya. Nanti setelah nontonnya.

Tanpa diduga-duga pembantu saya masuk dengan pelan sehingga saya tidak sadar. “Mas, ngapain sih ?” kata pembantu saya dengan nada agak kaget. Saya langsung panik dan memakai celana sambil mematikan tv “Ngga ko, lagi bosen aja. Jangan bilangin yang lain ya as..(nama panggilan pembantu saya)” kataku dengan sedikit memohon. “Hmm.. Tapi aku dibolehin nonton, aku baru sekali nonton soalnya, itu juga uda lama di kampung”

“Hah kamu baru skali ? Yauda tapi janji jgn bilang yang lain” Saya berpikir, gila cewe ini body mantep tp masi polos soal bgituan. “Lagian ko kamu pulangnya cepet ? Biasanya malem pulangnya” kataku. “Temen aku disuruh pulang sama majikannya soalnya ada pesta suruh bantu2in” “Oooh”. Saya lanjutkan film nya dan pembantu saya hanya bengong dan menatapnya dengan serius. Saat itu saya belum terpikir bahwa akan menyetubuhinya. “Mas ko cewenya kayak seneng sih digituin ?” tanyanya. “Ya seneng lah, kan enak, emank kamu pengen?”. “Nanti aja kalo uda gede”. Langsung terpikir olehku ingin menyetubuhi body nya yang mantap. Dia duduk di bawah dan saya di sofa panjang, saya tiduran di sofa.Dari atas aku raba pipinya dengan lembut lama kelamaan ke leher dan memainkan puting nya dari luar baju. Dia diam saja, dan tiba2 dia memberontak. “Mas kan aku bilang ntar mau nya kalo uda gede” “Iya maaf, aku khilaf.” Dia melanjutkan menontonnya dan melihat film itu dalam adegan mengeluarkan sperma ke mulut. “Ih mas emank enak ya?” “Cobain aja”jawabku. Langsung saya pura2 menyenggol remote hingga terlempar agak jauh. “Duh as, ambilin dong tolong”. Dia merangkak sesuai dengan harapanku, langsung saya peluk dari atas dan meremas-remas payudara yang besar itu. “Maaaassshmmmpphhh…” Saya membalikkan badannya dan mencium bibirnya. Dia tampak sedikit diam. Saya masukkan tangan saya kedalam baju dan BH nya dan memainkan puting susunya. “mmhh.. Ooh… M..mm..ass jang..ann” “udah kamu ikutin aja ntar enak kalo ga enak tampar saya sepuasnya”. Langsung kubuka baju dan BH nya, terpampang dihadapanku payudara yang montok bulat besar dengan puting merah muda. Kuremas sambil kucium bibir nya. Lalu kuputar2 dan kujilat puting susunya. “mmhh.. Eehh.. Mmmaass”.

Setelah 10 menit saya buka celananya dan celana dalam, kemaluannya sangat indah dengan bulu bulu halus yang rapi. Kujilat2 dan kumasukkan jari ku hingga mengenai clitorisnya. “ooohh.. Mmmhhh.. Argghhh..” setelah beberapa menit saya memainkan kemaluannya “mmass.. Aku uda ga tahan, ada yang pingin kluarr..” keluarlah cairan dia dan aku hisap sampai habis. “gimana ? Enak ga ? Kamu baru pertama kali ya ?” “iya mas enak, ini baru pertama kali” setelah 5 menit saya membuka seluruh pakaian saya dan dia agak kaget melihat penis saya yang cukup besar. “yauda giliran kamu skarang, kamu jilatin pelan-pelan” dia mulai menjilati penis saya, walaupun belum begitu bisa, tidak apalah. Saya juga menjilati kemaluannya lagi dan membentuk posisi 69.

“eeeh..ooh..as.. Bentar lagi aku keluarr” “aku juga mas kayak yang tadi, pengen keluar juga” crott..crot.. Sperma saya keluar lalu dia. “as kamu jilatin kayak yang di film tadi” “ii..ya mas” tampak seperti baru pertama kali melihat. Lalu dia jilat seperti yang dia lihat “gimana enak ?” “asin mas hehehe”. “ada lagi yang enak” “apa mas?” “uda liat aja”. Aku mengarahkan penisku ke kemaluan nya, saya gesek2 di bibir kemaluannya, “aaahh..mmmhhh..”. Setelah beberapa saat saya mencoba memasukkannya, sangat sempit, sepertinya dia masih perawan. “aaaahh..mmmmaaasss..sakiittt…” “tahan dulu ya nanti ngga ko”. pelan-pelan kucoba menerobos kemaluannya. Setelah beberapa kali akhirnya setengah kemaluanku masuk dalam kemaluannya. Kusodok pelan-pelan hingga akhirnya masuk 3 per 4 kedalam kemaluannya..

Mulai kugenjot pelan-pelan penisku. “AAAHH.. mass..mmmhh..oohh” sepertinya rasa sakit campur nikmat sedang dirasakan olehnya. Sampai akhirnya semua penisku masuk kedalam kemaluannya. “aaahh…mmass sakitt”. Kubiarkan sejenak penisku didalam sampai dia terbiasa. Setelah tenang langsung kugenjot penisku dengan kencang dan dia mulai menemukan iramanya. Dia menaik turunkan pinggulnya. “aahh..ahh…” desisannya semakin kencang. Clitorisnya kugesek dengan penisku sampai mengenai ujung kemaluannya. “mmmaass..terruus..enaaakk” mendengar itu makin kukencangkan lagi genjotan ku. “aass.. Aku mau keluaar, didalem ya” “mmm..aksuud mmmas ?”.

Sebelum kujawab aku sudah mengeluarkan spermaku sekitar 5 kali semprotan. “eehh.. Anget mas..aku juggga mau kelluaar” lalu dia mengeluarkan cairan nya untuk ketiga kalinya. “kamu lagi aman kan ?” “maksud mas?” “rahim kamuuu” “oohh.. Iya aman ko mas”. Kami langsung tergeletak lemas. Hingga kami membersihkan diri dan melakukannya lagi di kamar mandi, tapi skarang dia yang memulai. Saat dia memakai sabun tiba-tiba mengocok penisku persis seperti di film tadi, setelah keluar lagi dia jilat. Dikamar mandi dia sampai 4 kali orgasme. Sejak saat itu saya sering melakukan hubungan seks. Sebagian besar dia yang selalu memulai. Sekarang dia lebih liar, setelah kuajarkan beberapa gaya.

Pernah suatu hari saya tidak tahan, orang tua saya ada di rumah tetapi di kamar, kebetulan saya hanya mempunyai satu adik masih balita, jadi dia tidur di kamar ortu saya. Waktu itu siang hari, saya kedapur dan asiah sedang menyiapkan makan, langsung kuremas payudaranya dari belakang. “mas ga tahan ya? Hehe aku juga daritadi” dia langsung mengulum penisku dan mengocok penisku sambil aku memainkan payudaranya. Itu perbuatan yang nekat menurut aku.

Suatu hari juga karena kami berdua lagi kepengen saya beralasan membeli kebutuhan kuliah dan pembantu saya bilang mau menelpon keluarganya di wartel, kalo nelpon di rumah suka ga enak ama ortu ku. Akhirnya kami ketemuan di ruko, saya membawa mobil dan menuju hotel yang harganya cuma 50rb an. Kami melakukan dengan sangat bergairah. Saat itu saya rasa hubungan seks yang paling saya sukai. Dan sampai skarang pembantu saya masih ada di rumah..

Wasti Anak Pembantuku

Written by admin on 7:41 PM


Dony, begitu nama panggilanku. Tumbuh sebagai laki-laki aku boleh dibilang sempurna baik dalam hal ketampanan maupun kejantanan dengan tubuhku yang tinggi tegap dan atletis. Dalam kehidupan aku juga serba berkecukupan karena aku adalah juga anak angkat kesayangan seorang pejabat sebuah departemen pemerintahan yang kaya raya.

Saat ini aku kuliah di kota Bandung, disitu aku menyewa sebuah rumah kecil dengan perabot lengkap dan untuk pengawasannya aku dititipkan kepada Oom Rony, sepupu ayahku yang juga pemilik rumah untuk memperhatikan segala kebutuhanku. Oom Rony adalah seorang pejabat perbankan di kota kembang ini dan dia kuanggap sebagai wali orang tuaku. Sekalipun aku sadar ketampanan dan segala kelebihanku digila-gilai banyak perempuan, namun aku masih belum mencari pacar tetap. Untuk menyalurkan hobby isengku saat sekarang ini aku lebih senang dengan cewek-cewek yang berstatus freelance atau cewek bayaran yang kunilai tidak akan membawa tuntutan apa-apa di belakang hari. Begitulah, pada tahun keempat masa kuliahku secara kebetulan aku mendapat seorang teman yang cocok dengan seleraku. Seorang gadis berstatus pembantu rumah tangga keluargaku tapi penampilannya cantik berkesan gadis kota. Jadinya konyol, di luaran aku terkenal sebagai pemuda mahalan kelas atas tapi tanpa ada yang tahu justru partner tetap untuk ber-”iseng”-ku sendiri adalah seorang gadis kampung yang status sosialnya jauh di bawahku.

Sriwasti nama asli si cantik anak bekas pembantu rumah tangga orangtuaku, tapi lebih akrab dipanggil dengan Wasti. Sewaktu mula-mula hadir di tempatku ini dia memang meringankan aku tapi juga membuat aku jadi panas dingin berada di dekatnya. Pasalnya dulu aku pernah punya skandal hampir menggagahi dia sehingga dengan kembalinya dia kali ini dalam status istri orang tapi tinggal kesepian ini tentunya menggali lagi gairah rangsanganku kepadanya. Usianya 3 tahun lebih muda dariku, dia dulu dibiayai sekolahnya oleh orangtuaku dan ketika tamat SMA dia pernah beberapa bulan bekerja membantu-bantu di rumahku sambil berusaha masuk Akademi Perawat. Sayang dia gagal dan kemudian pulang kampung lagi untuk menerima lamaran seorang pemuda di tempat asalnya itu.

Waktu masih di rumah orangtuaku itulah aku yang tertarik kecantikannya, kalau pulang dari Bandung sering iseng menggoda dia, suatu kali sempat kelewatan nyaris merenggut kegadisannya. Sebab di suatu kesempatan Wasti yang memang kutahu menaruh hati padaku sudah pasrah kugeluti dalam keadaan bugil hanya saja karena aku masih tidak tega dan juga masih takut sehingga urung aku menodai dia. Kuingat waktu itu secara iseng-iseng aku sengaja ingin menguji kesediaannya yaitu ketika ada kesempatan dia kuajak ke dalam kamarku. Beralasan meminta dia memijati aku tapi sambil begitu kugerayangi dia di bagian-bagian sensitifnya. Ternyata dia diam saja tidak berusaha untuk menolakku, sehingga aku meningkat lebih terang-terangan lagi. Susunya memang menggiurkan dengan bentuknya yang membulat kenyal tapi aku masih mengincar lebih ke bawah lagi.

“Was gimana kalau kamu buka dulu celana dalammu, Mas Dony pengen gosok-gosokin yang enak di punyamu?” bujukku dengan tangan sudah meraba-raba di selangkangannya.

Wasti tersipu-sipu dengan gugup ragu-ragu, meskipun begitu menurut saja dia untuk membuka celana dalamnya yang kumaksudkan itu.

“Ta… tapi.. nggak apa-apa ya Mass…?” kali ini terdengar nada tanya kuatirnya.

Aku yang memang cuma sekedar menguji segera menenangkan dia. “Oo tenang aja, nggak Mas masukin inimu cuma sekedar ditempel-tempelin aja kok…” jawabku sambil juga menurunkan celana dalamku memamerkan batangku yang sudah setengah tegang terangsang.

Kuambil tangannya dan meletakkan di batang kemaluanku meminta dia memainkan batang itu dengan genggaman mengocok, ini diikuti Wasti mulanya dengan wajah kikuk malu tapi toh dia mulai terbiasa juga. Nampak tidak ada tanda-tanda risih karena baru kali ini dia melihat batang telanjang seorang laki-laki. Layap-layap keenakan oleh kocokannya sambil begitu sebelah tanganku juga ikut meremasi susu bergantian dengan bermain di liang kemaluannya. Lama-lama terasa menuntut, kuminta Wasti merubah posisi bertukar tempat, dia yang berbaring setengah duduk tersandar di kepala tempat tidur, dari situ aku pun masuk duduk berlutut di tengah selangkangannya.

Dalam kedudukan ini tangan Wasti bisa mencapai batanganku dan mengocoknya tepat di atas liang kemaluannya sementara kedua tanganku yang bebas bisa bermain dari kedua susu sampai ke liang kemaluannya. Lagi-lagi Wasti memperlihatkan air muka khawatir karena dikira aku sudah akan menyetubuhinya tapi kembali kutenangkan dan menyuruh dia terus mengocok dengan hanya menggesek-gesek ujung kepala batang kemaluan di celah menguak liang kemaluan berikut klitorisnya. Cukup terasa enak buatku meskipun memang penasaran untuk berlanjut lebih jauh, tapi begitupun aku bisa menahan emosiku sampai kemudian kocokannya berhasil membuatku berejakulasi. Menyembur-nyembur maniku tumpah di celah liang kemaluannya yang terkuak mengangkang, tapi sengaja kutahan tidak kutusukkan di lubang itu.

“Huffhh pinterr kamu Was… besok-besok bikinin lagi kayak gini ya?” kataku memberi pujian ketika permainan usai.

Wasti mengangguk malu-malu bangga dan sejak itu setiap ada kesempatan aku ingin beriseng, dia yang kuajak dan kugeluti sekedar menyalurkan tuntutanku. Memang, sampai dengan saat itu aku masih bertahan untuk tidak mengambil keperawanannya karena masih terpikir status kami yang berbeda. Aku majikan dan dia pembantu, padahal dalam segalanya Wasti betul-betul seorang gadis yang mulus kecantikannya. Dibandingkan dengan wanita-wanita cantik yang kukenal belakangan, Wasti pun tidak kalah indahnya. Tapi itulah yang namanya pertimbangan status padahal akhirnya aku toh bertemu lagi dan membuat hubungan yang lebih jauh dengannya.

Di kampungnya Wasti dinikahi Ardi seorang pemuda tetangganya, dia sempat beberapa bulan hidup bersama tapi ketika Ardi yang lulusan Akademi Teknik, minta ijin selama setahun karena mendapat pekerjaan sebagai TKI di suatu negara Arab, Wasti praktis hidup sebagai janda sendirian. Begitu, untuk mengisi waktunya dia juga meminta ijin agar bisa mencari pekerjaan tambahan dan dia pun teringat kepadaku karena aku memang pernah menjanjikan hal itu kalau dia ingin mendapat tambahan pencaharian. Ardi setuju karena aku sudah bukan asing bagi mereka, maka sesaat sebelum Ardi berangkat ke Arab dia ikut mengantar Wasti meminta pekerjaan padaku.

Kedatangan Wasti untuk menawarkan tenaganya tentu saja tidak bisa kutolak tapi untuk tinggal bersama di rumah sewaanku jelas akan mengundang kecurigaan orang, dia pun kutawarkan tinggal sambil bekerja di sebuah tempat usahaku. Kebetulan aku memang mengusahakan sebuah Panti Pijat yang sebetulnya dimodali Oom Rony, sehingga kehadiran Wasti bisa membantu mewakili aku sebagai orang kepercayaanku dalam mengawasi tempat pijat itu. Wasti langsung setuju tapi waktu suaminya sudah berangkat meninggalkan dia barulah dia berkomentar bingung soal pekerjaan itu.

“Tapi.., aku bener nggak disuruh kerja mijet Mas?” katanya agak keberatan dengan tugas yang belum dimengertinya itu.

“Ya enggak dong, kamu disana Mas kasih tugas utama sebagai pengawas tempat itu. Kalau soal mau belajar mijet sih boleh-boleh aja, malah bagus supaya Mas bisa kebagian rasanya juga,” kataku sambil tersenyum menggoda.

“Ngg.. gitu nanti ada yang ngajakin tidur aku, gimana Mas..?”

“Boleh, tapi minta ijin Mas dulu. Yang jelas Mas dulu yang pakai baru boleh dikasih yang lain,” kataku tambah menggoda lebih jauh.

Di sini Wasti langsung mesem malu-malu, tapi begitupun senang dengan tawaranku untuk mewakili aku mengawasi usaha tempat pijatku. Dia kuberi kamar di rumah yang kukontrak untuk usaha pijat itu tapi secara rutin seminggu dua kali dia datang membantu membersihkan rumahku dan mengambil baju-baju kotorku untuk dicucikannya.

Begitulah dengan adanya Wasti yang seolah-olah membawa keberuntungan bagiku, usahaku pun semakin bertambah ramai. Apalagi dia yang semula hanya bertindak sebagai tuan rumah setelah mulai belajar teknik memijat dan mulai mempraktekkan kepada tamunya, semakin banyak saja mereka yang datang mem-booking Wasti. Antri para tamu itu hadir dengan niat ingin mencicipi asyiknya pijatan sambil tentunya berusaha merayu agar bisa menikmati lebih dari sekedar pijatan si manis Wasti ini. Tetapi mereka belum sampai ke situ karena di bulan kedua kehadiran Wasti baru kepadakulah yang paling dekat dengannya saat ini, dia memberikan keistimewaannya.

Karena sudah pernah ada hubungan sebelumnya maka mudah saja bagiku untuk membuat kelanjutan intim dengannya, cuma saja setelah beberapa lama baru terpikir olehku untuk mencicipi dia. Waktu itu aku terserang muntaber dan sempat seminggu aku terbaring di rumah sakit dengan ditunggui bergantian oleh Wasti dan Indri kakak perempuanku yang sengaja datang dari Jakarta untuk mengurusi sampai dengan kesembuhanku. Keluar dari rumah sakit dan setelah melihat aku sudah mendekati pulih kesembuhanku, Indri pun kembali lagi ke Jakarta dengan meninggalkan pesan pada Wasti untuk tetap mengurusi sampai aku betul-betul sembuh. Lewat lagi dua hari tenagaku kembali pulih seperti semula tapi seiring dengan itu mulai timbul lagi tuntutan kejantananku dan kali ini aku berencana akan menyalurkannya pada Wasti sebagai sasaranku yang paling dekat denganku saat itu. Ini karena aku selama dirawat olehnya merasa lebih akrab perasaanku dan berhutang budi sekali padanya.

“Tau nggak Was? Apa yang pertama-tama mau Mas bikin kalau udah sembuh bener dari sakit ini?” tanyaku mengajak dia ngobrol menjelang kesembuhanku.

“Apa tuh kira-kira Mas?”

“Mas kepengen begini…” kataku sambil memberi tanda ibu jari dijepit telunjuk dan jari tengahku.

Wasti langsung ketawa geli mendengarnya. “Hik, hik, hik… Mas Dony yang dipikir kok itu dulu. Emang puasa berapa hari ini udah kepengen banget sih?”

“Justru itu, kepingin sih jangan bilang lagi tapi coba tebak siapa nanti yang bakal Mas ajak tidur?”

“Hmmm siapa ya? Mas sih banyak ceweknya mana Wasti tau siapa orangnya?”

“Orangnya ya kamu Was.”

“Nggg kok malah aku, kan masih banyak yang cakep lainnya Mas…” Wasti kontan tersipu-sipu malu seolah tidak percaya denganku.

“Yang Mas pilih emang kamu kok, sementara jangan dulu dikasih ke yang lainnya ya!” kataku sambil menarik dia mendekat kepadaku.

“Kasih siapa Mas, kan katanya harus ijin Mas dulu?”

“Makanya itu nanti Mas yang pakai dulu. Kasih Mas ya?” Kali ini kususupkan tanganku ke selangkangannya mengusap-usap bukit kemaluannya dan diterima Wasti dengan mengangguk sambil menggigit bibir malu-malu.

Dia sudah bersedia dan ketika tiba saatnya, aku sengaja mengajaknya keluar menginap di hotel karena aku ingin betul-betul bebas berdua dengan dia. Maklum di rumah sewaanku masih kukhawatirkan Indri ataupun keluargaku dari Jakarta akan muncul sewaktu-waktu sehingga tidak terlalu aman rasanya. Segera aku pun bersiap-siap dan membuka lemari untuk mengambil uang tapi ide nyentrikku mendadak timbul ketika terpandang sweaterku yang tergantung di situ. Kuminta dia memakai sweater itu tapi tanpa mengenakan apa-apa lagi di balik itu, ini memang diturutinya tapi sambil meringis geli ketika sudah naik ke mobil duduk di sebelahku.

“Mas ini ada-ada aja, masak aku cuma disuruh pakai kayak gini sih?”

“Kamu biar cuma pakai gini tetep keliatan manis kok Was,” kataku membesarkan hatinya.

“Tapi kan lucu Mas, di atasnya anget tapi di bawahnya bisa masuk angin…”

“Maksud Mas Donny begini supaya pemanasannya bikin cepet tambah kepengennya. Sambil nyupir gampang megang-megangin kamu…” jelasku dengan menjulurkan tangan ke selangkangannya sudah langsung merabai liang kemaluan telanjangnya.

Wasti tersipu-sipu tapi toh menurut juga ketika aku meminta dia menaikkan kedua kakinya ke atas jok sehingga liang kemaluannya lebih terkangkang lebar, lebih leluasa tanganku bermain disitu. Dia dari sejak dulu memang tidak pernah membantah apapun permintaanku. Mengusap-usap bukit yang cuma sedikit ditumbuhi bulu-bulu kemaluannya serta meremas-remas pipi menggembung dari bagian kewanitaannya yang menggiurkan ini, terasa kenyal daging mudanya itu. Dipermainkan begitu tangannya otomatis terjulur ke kemaluanku membalas memegang seperti dulu ketika dia masih sering bermain-main dengan milikku, tapi cuma sebentar karena segera dicabut lagi.

“Lho kenapa nggak diterusin?”

“Nggak ah, nanti keburu muncrat duluan. Mas kan udah puasa beberapa hari pasti sekarang udah kentel susunya, kan sayang kalau keburu tumpah di luar nanti Wasti nggak kebagian.”

“Lho kan dipanasin dulu botolnya nggak apa-apa. Siapa tau kelewat kentel malah nggak mau netes airnya nanti?”

“Masak nggak mau keluar Mas?”

“Oh iya lupa, kalau diperes-peres pakai lubang sempit ini memang pasti keluar sih. Tapi sambil dikocokin yang enak nanti ya?”

Rangsangan selama perjalanan sudah mulai memanaskan gairah birahi kami, ketika tiba di hotel kelanjutannya semakin membara lagi. Di hotel yang kupilih, Wasti sudah kusuruh masuk ke kamar duluan sementara aku masih menutup pintu mobil sebelum kususul dia disitu. Kubuka sekalian bajuku hingga telanjang bulat sementara dia masih berlutut di sofa yang menempel dekat jendela, pura-pura memandang ke luar mengintip lewat gordyn jendela. Segera aku merapat dari belakangnya langsung membuka sweater satu-satunya penutup tubuhnya, begitu sama telanjang bulat kupeluk dia merapatkan punggungnya ke dadaku dan mulai mengecupi lembut lehernya dengan diikuti kedua tanganku bermain masing-masing meremasi susu dan bukit kemaluannya.

“Maass… botolnya kerasa udah keras bener…” katanya mengomentari kemaluanku yang sudah mengencang menempel di atas pantatnya.

“Iya, udah ngerti dia sebentar lagi bakal ditumpahin isinya ke lobang ini,” jawabku singkat.

Kupondong dia dan membaringkan di atas tempat tidur langsung kudekap dan mencumbui dengan kecupan-kecupan seputar wajahnya dan usapan-usapan tangan di sekujur tubuhnya. Kenangan lama terungkit, gemas-gemas sayang rasanya dengan tubuhnya yang mulus lagi cantik ini. Ingin kulampiaskan emosi nafsuku tapi seperti takut dia kesakitan oleh tenagaku, jadinya setengah keras setengah tertahan serbuanku. Remasan tangan kuganti saja dengan permainan mulutku, tanpa menghentikan kecupanku yang mulai kujalari menurun ke leher menuju ke buah dadanya. Wasti selain mulus bersih juga tidak berbau keringatnya sehingga enak untuk kucium-ciumi dan kujilat-jilati. Tiba di bagian susunya, kedua bukit daging yang putih membulat bagus lagi kenyal ini segera kukecap dengan mengisap berganti-ganti masing-masing pentilnya. Mengenyoti bagian puncaknya, kungangakan lebar-lebar mulutku serasa ingin memasukkan banyak-banyak daging menonjol itu agar dapat kusedot sepuas-puasnya. Di dalam mulutku lidahku berputaran menjilati pentilnya, menggigit-gigit kecil membuat dia mengerang dalam geli-geli senang.

“Ssh ahngg… geli Masss…” suaranya merengek manja membuat aku semakin gemas bergairah.

Air mukanya mulai merah terangsang karena sambil begitu aku juga menambahi dengan mempermainkan liang kemaluannya. Menggosok-gosok klitorisnya dan mulai mencucukkan satu jariku mengoreki bagian mulut lubangnya. Ada satu yang istimewa dan menyenangkan itu dia mempunyai klitoris jenis besar yang jarang kujumpai pada kebanyakan kemaluan-kemaluan perempuan. Aku sudah lama mengenal bagian ini tapi masih juga seperti penasaran membawa aku merosot ke bawah untuk memperhatikannya lebih jelas.

“Ihhh… Mas ini mau ngeliat apa sih…?” Wasti rupanya kikuk malu dengan perobahan mendadakku. Tangannya bergerak ingin menutup bagian itu tapi cepat kusingkirkan.

“Kok mau ditutup sih, kan Mas kangen pengen ngeliat itil gedemu kayak dulu Was?”

“Hngg.. punyaku jelek kok mau-maunya diliat sih Mas…?”

“Kamu keliru, justru yang begini disenengin orang laki soalnya jarang ada…”

“Aaah Mas Dony menghibur aja. Apanya disenengin, jadi ketawaan malah…”

“Lho Mas sendiri udah keliling banyak cewek belum pernah dapet yang gini. Udah denger cerita dari orang-orang baru Mas penasaran lagi sama kamu Was…”

“Nggg abiiss Mas nggak dulu-dulu ngambilnya… Sekarang udah keburu diambil Kang Ardi duluan baru Mas minta, kan Wasti nggak tega ngasihnya kalau udah bekas-bekas Mas…” timpal Wasti dengan air muka membayangkan kecewa.

Melihat ini buru-buru aku menghibur. “Tapi nggak apa, biarpun gitu Mas Dony juga tetep seneng sama kamu kok. Sini Mas bikinin buat kamu.” Tanpa menunggu jawabannya aku langsung menunduk dan menyosorkan mulutku di celah itu.

“Adduh Mass, Wasti nggak mau gitu..!” Kaget dia, ingin mencegah tapi kedua tangannya sudah lebih dulu kupegangi masing-masing tanganku.

Sesaat dia membelalak seolah tidak percaya aku mau bermain begini dengannya tapi sebentar kemudian terhempas kepalanya mendongak dengan dada membusung kejang ketika tersengat geli kelentitnya kujilat dan kugigit-gigit kecil. Sebentar kubiarkan dia tenggelam dalam nafsu birahinya sampai terasa cukup baru kulepas permainan mulutku. Karena sudah lebih dulu kuhisap kemaluannya maka ketika aku meminta dia sekarang menghisap batang kemaluanku langsung diikutinya dengan senang hati.

“Nggak usah lama-lama Was, kasih ludah aja biar Mas masukin sekarang…” kataku untuk tidak berlarut-larut dulu dalam permainan pembukaan ini.

Wasti cepat mengikuti permintaanku dan sebentar kemudian dengan bantuan tangannya aku sudah menyusupkan batang kemaluanku masuk di liang kemaluannya. Begitu terendam kutahan dulu untuk menurunkan tubuhku menghimpit mendekapnya, mengawali dengan kecupan mesra di bibirnya untuk mengembalikan rangsang nafsunya yang sempat menurun oleh suasana tegang sewaktu menyambut batangku. Memang baru pertama kali buat dia tapi terasa ada kerinduan yang dalam baginya sehingga terasa hangat sambutannya.

Nikmatnya jepitan liang kemaluan mulai terasa meresap, maklum, biasanya belum sampai 4 hari saja aku pasti sudah ngeluyur untuk mencari partner isengku. Dengan sendirinya senggama penyalur kerinduanku saat ini ingin kurasakan dengan senikmat-nikmatnya tanpa perlu terburu-buru. Kebetulan lagi partnerku ini termasuk barang baru yang muda lagi menggiurkan, jadi harus kuresapi asyiknya detik demi detik agar betul-betul mendapatkan kepuasan penyaluran yang maksimum. Setelah merasa cukup meresap asyiknya rendaman batang kemaluan dalam hangat liang kemaluannya, aku pun mulai memainkan batangku memompa pelan-pelan mencari nikmatnya gesekan batang.

“Ssshh Waaas.. enak sekali memekmu… sempitt rasanyaa…” Baru dua tiga gesekan saja aku sudah gemetar memuji rasa yang kuterima. Mukaku jadi tegang serius saking asyik diresap nikmat, bertatapan sayu dengan matanya yang sama mesra namun tergambar sinar senang dan bangga di situ.

Makin kupompa makin meluap nikmatnya apalagi Wasti mulai menambahi dengan memainkan liang kemaluannya mengocok lewat putaran pinggulnya.

“Adduu Waass… pinterr kammu ngocokknyaa… tapi Mas kepengenn cepet keluarr diginiinn… ssh mmm…” Sudah terbata-bata suara gemetarku bukan asal memuji tapi memang cepat saja aku dibuat tidak tahan oleh bantuan putaran kemaluannya.

Cairan mani terkumpul disitu tinggal menunggu waktu untuk disemburkan saja. Segera Wasti kudekap lagi dengan sebelah lengan di lehernya sedang sebelah lagi menahan pantatnya, aku pun mengganti gerakan tidak lagi menggesek tapi memutar batanganku dan menekan dalam-dalam sambil mengajak dia bercium melumat hangat. Wasti menyambut ajakanku dengan balas mendekap, kedua kakinya naik membelit pinggangku erat-erat. Seperti mengerti kalau batang kemaluanku sudah dikorek dalam-dalam berarti aku ingin mengajak dia berorgasme bersama-sama. Dia pun tidak menahan-nahan lagi.

“Ayyo Wass… Mass keluarinn yaaa…?”

“Iyya, iyaa Mas.. sama-sama…”

“Hhaaghh..! dduhhss… adduhh Wass… Mass kelluarr… sshhgh.. ahhgh… hghhh.. aaah … aaahshg duuuh… hoh… hnggg hmmm…” Baru saja ajakan berorgasmeku disahut Wasti aku pun sudah meledak mengaduh tiba di puncak kepuasanku.

Bukan main! Semprotan cairan maniku serasa dahsyat menyembur-nyembur, menumpahkan seluruh kerinduanku sepertinya panjang dan lama sekali diperas-peras oleh pijatan kemaluannya sampai dengan tetesan yang terakhir. Aku sendiri tidak memperhatikan lagi bagaimana partnerku ini ikut berorgasme karena bola mataku sudah terbalik saking nikmatnya aku berejakulasi. Luar biasa, jujur kukatakan bahwa inilah saat orgasme yang paling enak sejak aku mulai bisa bersetubuh dengan perempuan. Kerinduan birahi nafsuku yang tertunda cukup lama menurut ukuranku ini betul-betul mendapatkan penyalurannya yang memuaskan sekali. Begitu puasnya sehingga ketika tubuhku melemas Wasti masih tetap kupeluki dan kukecupi bertubi-tubi seputar wajahnya diikuti pujian tanda senangku.

“Was… kamu kok enak sekali sih… Mas Dony rasanya puas bener numpahin kepengennya sama kamu…”

“Enak nggak main sama Wasti, Mas?” masih dia bertanya manja namun dengan nada bangga di situ.

“Hmmsshh eenaak bener deh… Ini ibarat lagi laper-lapernya dikasih kue enak langsung pas bener kenyangnya.”

Wasti tertawa senang. “Wasti sendiri juga puas Mas diminumin susu kentelnya Mas Dony…” katanya sambil membalas mengecupi bibirku.

Berlanjut lebih jauh tentang Wasti, ada suatu pengalaman Wasti yang ingin kuceritakan di sini sejak dia bekerja di panti pijatku, yaitu tentang keintimannya dengan Oom Rony. Oom Rony memang doyan dipijat tapi merasakan dipijat seorang perempuan muda dia tidak pernah karena maklum dia takut dicurigai orang kalau pergi ke panti-panti pijat, selain itu Tante Yosi istrinya galak dan ketat mengawasinya. Maka ketika suatu kali dia kubawa ke sebuah panti pijat secara sembunyi-sembunyi Oom Rony langsung ketagihan. Itu sebabnya waktu kuusulkan untuk bekerja sama mengusahakan sebuah panti pijat milik temanku yang hampir bangkrut, Oom Rony segera setuju menyertakan modalnya atas namaku. Dengan begitu dia bisa menyalurkan kesenangannya dipijati gadis-gadis muda karena cuma beralasan pergi denganku saja baru Oom Rony bisa aman tidak dicurigai Tante Yosi. Kami berdua diketahui Tante Yosi sering pergi memancing sebagai salah satu hobby kami. Dari mulai sekedar dipijat ternyata mulai meningkat kepingin beriseng dan gadis pemijat yang diincarnya justru Wasti. Alasannya karena Wasti sudah dikenalnya sebagai orang dalam di rumahku sehingga dia yakin Wasti tidak akan menuntut apa-apa padanya. Aku sendiri semula tidak mengira kalau perkembangan pijat-memijat itu jadi semakin jauh. Hal ini baru kuketahui ketika suatu sore Mas Didik sopir sekaligus orang kepercayaan Oom Rony datang menjemput Wasti yang kebetulan sedang membersihkan rumahku, kudapati Wasti gelisah dan kurang enak air mukanya.

“Mas, bilang aja aku sekarang udah nggak bisa, udah pulang kampung, lalu Mas nawarin temen-temen lain aja…” katanya membujuki aku di kamar sementara Mas Didik menunggu di ruang tamu.

“Lho tadi Mas ditelepon Bapak memang bilang kamu ada disini kok, emang kamu kenapa…? Lagi capek ya mijetin Bapak sekarang? Kalau capek nanti Mas yang ngomongin,” kataku menawarkan. Bapak adalah menurut sebutan Wasti kepada Oom Rony.

“Nggak gitu Mas, tapi….” disini dia berat untuk meneruskan dan memandangiku dengan malu-malu takut.

Aku paham ada sesuatu yang disembunyikan dan kubujuk dia dengan lembut sampai akhirnya Wasti pun mengaku bahwa meskipun sudah sering memijat tapi baru belakangan ini Oom Rony terangsang untuk mengajak Wasti ber-”iseng”. Permintaan ini berat karena Wasti merasa kikuk dan sungkan sekali kepada Oom Rony dan untuk itu dia berusaha menolak dengan yang terakhir kali dia memberi alasan sedang haid. Jelas alasan yang begini cuma mengulur waktu saja sehingga untuk yang berikut ini Wasti merasa tidak bisa menolak lagi. Itu sebabnya dia jadi gelisah serba salah terhadapku. Mendengar sampai di sini aku cuma tersenyum membuat Wasti jadi lega. Memang, baik aku maupun dia sebenarnya sama mengerti bahwa Oom Rony sebagai laki-laki wajar kalau sesekali kepengen ber-”iseng” di luaran. Cuma saja bagi Wasti dia berat karena dia takut aku tersinggung dan marah kepadanya. Begitu, agak beberapa saat kami terdiam mencari jalan keluar tapi akhirnya kuanjurkan Wasti untuk memberi saja.

“Iddihh Mas Dony kok malah nyuruh ngasih, gimana sih?!” nadanya terdengar agak kurang enak dengan usulku.

“Gini Was, kamu kan ngerti kalau Bapak susah mau ‘ngiseng’ begini di luaran. Kebetulan bisa ketemu kamu yang udah dianggap deket bisa nyimpan rahasia, kan nggak apa-apa kalau diikutin sekali-sekali. Dijamin deh Mas Dony nggak marah soal ini.”

Mendengar dari aku sendiri yang berbicara seperti itu hanya membuat dia terdiam berpikir sebentar tapi kemudian menyetujui anjuranku. Setelah mendapat ijin khusus dariku Wasti pun bersedia untuk pergi memijat Oom Rony di hotel tempatnya menginap. Hotel itu adalah tempat rahasia Oom Rony dan tidak ada yang tahu kecuali Mas Didik yang membawa ke situ.

Kami bertemu lagi keesokkan harinya di panti pijat, rasa penasaran kubawa dia ke sebuah kamar untuk mendengarkan pengalamannya dengan Oom Rony sambil meminta dia memijati aku. Wasti yang ditanya soal semalam langsung menyembunyikan muka malunya di dadaku belum langsung menjawab.

“Lho kok masih berat nyeritainnya, kan Mas udah ngasih ijin? Gimana, kesannya asik atau nggak kan Mas kepengen tau?” tanyaku mendesak terus.

“Kesannya… aaaaa… maluu aku Maaass….!” Wasti menjerit malu makin membenamkan wajahnya ke dadaku. Kutunggu beberapa saat sampai malunya mereda barulah dia mau bercerita pengalamannya malam tadi.

Seperti yang sudah dibayangkan Wasti, baru saja memijat sebentar bagian punggung Oom Rony sudah berbalik minta dipijat bagian depan. Disitu sambil mengambil tangan Wasti untuk memijati seputar selangkangannya dia mulai memancing-mancing jawaban Wasti tentang kesediaannya untuk memenuhi ajakan ber-”iseng”-nya waktu itu. Wasti meskipun merasa sudah tidak ada yang diberati tapi masih kikuk untuk mengiyakan langsung. Dia hanya menggigit bibir malu-malu meskipun begitu tangannya bekerja juga menyusup di balik handuk yang dikenakan Oom Rony dan segera memijat daerah selangkangan yang dimaksud untuk merangsang kejantanannya. Jelas cepat saja batang itu naik menegang.

“Ihhhng… cepet bener bangunnya Bapak punya…” katanya mengomentari batang kemaluan kencang Oom Rony di genggamannya.

“Makanya itu, biar nggak tambah penasaran sebaiknya diselesaikan sama kamu Was?” jawab Oom Rony sambil merayapkan tangannya dari belakang pantat Wasti menyusup mengusapi tengah selangkangannya.

“Mmm… tapi mesti dilicinin dulu Pak…” lagi-lagi Wasti tidak menjawab langsung, hanya mengambil cream pemijit dan melumuri seputar batang itu agar menjadi licin.

Sekarang Oom Rony mengerti bahwa Wasti sudah bersedia menyambut ajakan ber-”iseng”-nya, dia beraksi lebih dulu membuka belitan handuk yang dipakainya.
“Kalau gitu ke sini aja supaya nggak habis waktunya. Ayo buka dulu bajumu terus naik sini Nduk!” kata Oom Rony terburu-buru saking senangnya.

Wasti berhenti dan mengikuti permintaan Oom Rony untuk segera membuka bajunya. Tapi meskipun sudah terbiasa bertelanjang bulat di depan lelaki, tidak urung dengan majikan besarnya ini Wasti merasa kikuk sekali. Lebih-lebih waktu ditarik berbaring bersebelahan disambut masuk dalam pelukan Oom Rony yang langsung menyerbu dengan remasan gemas dan ciuman bernafsu di seputar lehernya, Wasti jadi risih karena merasa tidak pantas dengan besarnya perbedaan status di antara kedua mereka.

Sekalipun sudah dicoba memejamkan mata dan menghayalkan dia sedang digeluti salah seorang langganan “Oom Senang”-nya tapi tetap saja terbawa sebagai majikan besar ini sulit hilang, sehingga Wasti seperti kaku tidak berani bergaya manja-manja genit. Padahal Oom Rony sudah tidak perduli soal status dan jabatannya, juga tidak perduli dengan status lawan mainnya. Yang dia tahu saat itu ialah si gadis pembantu yang cantik ini begitu menggiurkan dalam penampilan polosnya sehingga Oom Rony yang sedang mendapat kesempatan menggelutinya pun tambah lebih bersemangat lagi.

Dari mulai kedua susunya, sudah habis-habisan masing-masing daging kenyal yang bulat montok itu diremasi dan disosor rakus mulut Oom Rony. Disedot-sedot bagian puncaknya sambil dikulum pentilnya digigit-gigiti kecil membuat Wasti menggelinjang kegelian, begitu juga seputar tubuh si cantik sudah rata dijelajahi rabaan tangan Oom Rony yang sibuk penasaran. Mendarat di selangkangannya bukit daging setangkup tangan itu pun diremasi gemas, jarinya mengukiri celah hangat mengiliki kelentit dengan gemetar bernafsu. Semakin Wasti meliuk erotis semakin merangsang nafsu Oom Rony sampai akhirnya dia tidak tahan berlama-lama lagi. Dia pun berhenti dan segera mengambil ancang-ancang untuk mulai menyetubuhi Wasti. Menangkap bahwa Wasti mungkin masih kikuk dengannya, Oom Rony meminta Wasti berbalik agar dia bisa memasuki dari arah belakang. Ini diikuti Wasti tapi belom Oom Rony sudah merapat menepatkan sendiri ujung batang kemaluannya dan langsung menekan masuk.

“Tapi… lho, lhoo, lhooo..?!” Wasti sampai menjengkit dengan meringis bengong karena dia merasakan suatu kesalahan tusuk pada lubangnya.

Bukan di lubang kemaluan tapi justru lubang anusnya yang disodok batang itu. Dan konyolnya baru saja dia akan memperbaiki sudah keburu keluar komentar Oom Rony. “Ssshhmmm.. enakk Waass.. sempit sekali punyakmuu hhhshh…” baru terjepit sudah langsung dipuji rasanya.

Wasti jadi urung membetulkan karena dia kuatir Oom Rony tersadar dan malu hati, malah hilang selera nafsunya dan batal meneruskan permainan. Biar saja, mumpung suasana kamar remang-remang gelap mudah-mudahan sampai dengan selesai Oom Rony tidak menyadari kekeliruannya. Syukur, Oom Rony memang kelihatan bernafsu sekali terasa dari sodokannya yang gencar dengan tubuh gemetaran persis seperti anjing sedang dalam siklus birahinya. Maklum, dia betul-betul lapar sekali menyetubuhi partner muda seperti ini. Dan melihat ini Wasti menambahi dengan bantuan goyangan pinggulnya mengocok batang itu, maka tidak berlama-lama lagi sebentar kemudian terdengar tenggorokan Oom Rony menggeros tersendat-sendat ketika dia berejakulasi memuntahkan cairan maninya. Itulah apa yang dialami Wasti ketika melayani Oom Rony semalam.

“Tapi urusannya sekarang gimana nih, semalem yang ini dipakai juga nggak? Kalau nggak biar Mas Dony yang ngisi sekarang?” tanyaku menggoda sambil menyusupkan tanganku meremas langsung kemaluan telanjangnya. Wasti memang selalu bertelanjang bulat jika memijati aku.

“Main yang keduanya memang dipakai juga, tapi biarpun gitu asal yang mau ngasih lagi Mas Dony sendiri tetep aja Wasti penasaran Mas..” jawabnya dengan mulai bermain di kemaluanku.

“Kalau gitu pertamanya pakai yang depan dulu ya? Abis itu baru masukin yang di belakang, soalnya Mas Dony juga jadi nafsu deh denger ceritamu barusan.”

Wasti hanya mengangguk tersipu-sipu menyetujui permintaanku. Memang, permainan anus ini dipelajarinya dariku, jadi meskipun awalnya dulu dia kerepotan dengan batang kemaluanku tapi sekarang sudah terbiasa dengan ukuranku. Tanpa menunggu lagi dia pun segera mengencangkan batang kemaluanku. Dengan tekniknya yang terlatih dia pun mengerjai batangku. Mula-mula dikocoki pelan dengan genggaman tangannya sampai setengah menegang, setelah itu diteruskan dengan kerja mulutnya yang mengulum dan mengisap, baru setelah tegang kaku dia pun memasang dirinya untuk siap kusetubuhi. Kalau sudah sampai disini permainan asyik pun berlangsung sebagaimana yang sering kami lakukan berdua. Yaitu seperti keinginanku, mula-mula kuresapi pijatan lubang kemaluannya di batang kemaluanku tapi ketika menjelang tiba ejakulasiku, barulah kupindahkan ke lubang anus untuk menyelesaikan permainan dengan menyembur-nyemburkan cairan maniku disitu.

Rupanya Oom Rony setelah mendapatkan Wasti bukan sekedar ketagihan lagi tapi lebih dari itu dia ingin berlanjut memelihara Wasti sebagai “gendak” peliharaannya. Kedengarannya enak buat Wasti tapi begitupun dia selalu minta pendapatku dulu. Setelah berunding denganku akhirnya kuberi jalan bahwa Wasti bersedia tapi hanya selagi suaminya masih belum pulang saja. Syarat ini disetujui Oom Rony dan begitulah Wasti langsung menghilang dari Panti Pijat tanpa ada yang tahu karena sebenarnya dia sedang bersembunyi di rumah yang disewakan Oom Rony untuknya. Akan tetapi sekalipun suaminya sudah ada, hubungan Oom Rony dengan Wasti tetap berlanjut yaitu Oom Rony secara rutin memanggil Wasti dengan alasan minta dipijati. Pasalnya Wasti semenjak dipelihara sebagai langganan kesayangan Oom Rony kehidupannya bisa terjamin dimana Wasti diberi modal untuk membuka sebuah usaha percetakan. Ini dianggap hutang budi bagi Ardi karena setelah pulang dari Arab Ardi tidak medapat pekerjaan lagi sehingga keluarga ini tergantung nafkahnya dari usaha percetakan itu.

Berlanjut pada hubungan itu mulanya Wasti dipanggil ke hotel seperti biasa tapi karena yang begini lama-lama justru mengundang kecurigaan Ardi maka Wasti mengusulkan sebaiknya Oom Rony datang ke rumahnya saja. Dengan berlaku seolah betul-betul akan dipijati tapi diam-diam berhubungan badan, cara begitu malah aman tidak akan dicurigai siapapun. Oom Rony menimbang-nimbang ternyata usul Wasti benar dan begitulah hubungan unik ini berlangsung justru seperti dilindungi oleh Ardi. Awalnya waktu siang itu sementara kedua suami istri sibuk melayani percetakan di bangunan sebelah, Wasti memberitahu Ardi bahwa hari ini adalah jadwal pertama kedatangan Oom Rony, dia pun meminta tolong suaminya meneruskan pekerjaannya sendirian karena dia sebentar lagi akan menerima langganan tetapnya itu. Ardi pun mengangguk dan mengambil alih tugas itu.

“Udah tinggal aja Was biar Mas yang ngurus. Kamu cepet aja ganti baju nanti Oom Rony keburu dateng,” begitu jawab Ardi.

Wasti pun bergegas masuk ke rumah untuk mempersiapkan diri, dia bisa lega untuk menerima Oom Rony yang datang sesuai jam yang dijanjikan. Singkatnya begitu Oom Rony muncul sudah langsung diajak ke kamar tidurnya, disini mau tak mau perasaannya agak kurang tenang juga karena baru pertama inilah dia berterang-terangan melakukan kegiatan di rumahnya sendiri, tapi perasaan ini mulai terlupa ketika sebentar kemudian Oom Rony mulai sibuk merangsang mengecapi sekujur tubuhnya. Terus terang, kalau bukan karena uangnya sebenarnya bagi Wasti dari penampilannya laki-laki gemuk pendek lagi botak ini sama sekali tidak menarik ataupun menerbitkan seleranya. Tapi untungnya selain uangnya cukup royal, juga cara bermain seksnya bisa juga memuaskan Wasti sehingga Wasti cukup senang melayaninya. Cara merangsang mulutnya yang rakus diikuti menjilat-jilat rata sekujur tubuhnya mula-mula memang kurang “sreg” bagi Wasti kalau masih memulai pembukaan dari bagian atas. Agak jijik rasanya dengan ludah Oom Rony yang melengket di seputar wajahnya. Tapi kalau sudah menurun ke bawah baru terasa ada keasyikan yang membawa dia naik dalam birahinya. Cuma perlu sering diingatkan karena laki-laki ini suka kelewat gemas.

“Aahss Paakk.. jangan digigit keras-keras.. sakitt…” merintih Wasti tapi dengan muka geli senang, menahan kepala Oom Rony kalau terasa puting susunya tergigit agak sakit.

Oom Rony sadar lagi, buru-buru menekan emosinya untuk mencoba lebih halus, tapi biasanya tidak lama karena sebentar kemudian sudah terlupa lagi dia untuk kembali menggigiti gemas sekujur tubuh Wasti. Wasti sering kewalahan, biarpun sudah merengek-rengek dia dengan menggeliat-geliat meronta-ronta menolaki kepala botak Oom Rony dengan maksud ingin menghindari tapi Oom Rony malah tambah bernafsu kepada perempuan yang gayanya makin genit merangsang ini. Tambah bertubi-tubi dia menyerbu Wasti. Mau tak mau Wasti mengalah, sudah hafal dia kalau belum puas membuat mengenyoti gemas di bagian susunya, belum berpindah Oom Rony dari situ. Tapi kalau sudah bergeser ke bawah, caranya pun serupa juga. Tidak hanya di atas, yang di bawah inipun dia sama rakusnya. Malah lebih lagi. Sebab tidak perduli kemaluan Wasti entah berapa orang yang sudah memakai, dia tetap bernafsu sekali menghisap dan menjilat-jilat sambil menyosorkan mukanya tersembunyi di selangkangan Wasti.

Wasti sendiri memang senang dirangsang begini, cuma lagi-lagi kalau terasa geli menyengat membuat dia refleks menolaki kepala Oom Rony, akibatnya sama, gigitan-gigitan gemas langsung mendarat di bagian seputar bukit kemaluannya. Malah lebih bertubi-tubi karena Oom Rony lebih bernafsu dengan bukit kemaluan Wasti yang baginya begitu menggiurkan sekali karena Wasti sering mencukuri bulu-bulu kemaluannya agar lebih merangsang langganannya. Jadi kalau bisa digabungkan suara-suara yang sedang terjadi, maka di bangunan sebelah suara riuh pegawai-pegawai percetakan yang sedang sibuk bekerja sambil bercanda akan berpadu rengekan manja sang majikan perempuan dalam kamar yang sedang merasa keenakkan bercanda dengan kemaluannya dikerjai mulut Oom Rony.

“He.. hehngg.. aahsss diapain gittu… gellii iihhh..” merengek-rengek kegelian dia kalau terasa ujung lidah Oom Rony berputaran menjilati klitoris sesekali menyodok-nyodok pendek di pintu lubang kemaluannya, atau juga kalau gigitan-gigitan kecil Oom Rony di bibir dalam kemaluannya terasa seperti ditarik-tarik ke atas. Kepala botak Oom Rony yang menempel di selangkangannya dipermainkan seperti bola, kadang didekap, diusap-usap kalau merasa keenakkan atau kadang ditolaki kalau geli terlalu menyengat.

Tapi Wasti tidak hanya bisa menerima, dia juga pintar memberi “asyik” pada lawan mainnya karena inilah salah satu yang membuat dia juga jadi perempuan kesayangan langganannya itu. Sebentar kemudian bertukar permainan dengan Wasti sekarang yang ganti menghisap batang kemaluan Oom Rony. Dengan pengalamannya yang banyak Wasti tahu persis bagaimana menyenangkan lelaki lewat permainan mulutnya. Teliti dan cukup lama dia menjilati sepanjang batang, menghisap-hisap kepala bulatnya, melocoknya sekaligus dan mengenyot-ngenyot kantung zakarnya membuat batang kemaluan Oom Rony yang tadi setengah mengeras sekarang bangun mengencang. Merasa sudah cukup barulah keduanya tiba di babak senggama. Kembali Wasti mulai merasakan asyiknya bagian lubang kemaluannya dikerjai, kali ini disogok-sogok batang kemaluan Oom Rony. Ini yang dibilang meskipun tampangnya tidak “sreg” tapi Oom Rony cukup menyenangkan Wasti. Memang tidak besar tapi batang kemaluan lawannya ini cukup bisa bertahan lama kerasnya untuk Wasti terikut sampai di kepuasannya. Itu juga sebabnya meskipun di babak awal pembukaan rangsangan Oom Rony kurang disukai Wasti tapi kalau sudah sampai di bagian ini Wasti cukup senang bersetubuh dengan langganannya yang royal memberi uang itu. Terbukti mimik mukanya berseri cerah memainkan kocokan lubang kemaluannya mengimbangi tarik tusuk batang kemaluan Oom Rony menggesek ke luar masuk lubangnya.

Seirama dengan bunyi “mencicit” putaran roda mesin cetak yang seolah kurang pelumasan di bangunan sebelah, di kamar ini papan tempat tidur pun bergerit oleh gerak putaran kemaluan Wasti mengocok batang kemaluan Oom Rony. Keduanya justru kebanyakan dilumas karena semakin lancar saja beradunya kedua kemaluan terasa dengan semakin cepatnya goyangan keduanya tanda sudah akan mencapai akhir permainan.

“Hshh.. ayyo Was… Bapakk keluarr…” di ujungnya Oom Rony segera memberi tanda tiba di ejakulasinya.

“Ayyo Pakk.. sama-sama… hhoghh.. dduhh…” Wasti cepat menyahut, dia pun segera menyusuli dengan orgasmenya.

Berpadu kejang tubuh mereka ketika masing-masing mencapai puncak permainan secara bersamaan. Oom Rony merasa puas dengan pelayanan Wasti, begitu juga Wasti terikut merasa puas dalam permainan seks bersama langganan tetapnya ini.

Akan tetapi bukan hanya Oom Rony saja yang bisa bercinta dengan Wasti di rumahnya itu tapi aku sendiri pernah mengambil bagian seperti itu dengannya. Sudah dua kali aku bertandang ke rumahnya sekedar untuk ngobrol-ngobrol, tapi pada kali ketiga aku datang bertepatan Ardi sedang keluar rumah, saat itulah kesempatan baik ini ingin dimanfaatkan Wasti. Ceritanya waktu aku menumpang buang air kecil, Wasti menunjukkan kamar mandi yang berada di kamar tidurnya tapi rupanya dia menunggu dengan tidak sabaran lagi. Karena baru saja ke luar kamar mandi aku langsung ditubruk pelukan rindunya.

“Duh Mas Dony… Was kangen banget deh, Mas nggak kangen ya sama aku?” katanya membuka serangan dengan menciumi seputar wajahku.

“Sama aja Was, tapi kan nggak enak masa dateng-dateng lalu minta gitu sama kamu. Lama nggak perginya Mas Ardi?”

“Dia lagi ngurus ke kantor pajak, pasti lama pulangnya kok…”

Sebentar pembicaraan terputus sampai disini karena kami memuasi diri dulu dengan saling melepas rindu lewat ciuman bibir yang saling melumat hangat dengan posisi masih berdiri berdekapan di ruang tengah itu. Disitu rupanya kami sudah tidak sabaran menunggu karena sambil mulut tetap sibuk kuikuti dengan tanganku langsung bekerja melepas penutup badannya, ini dituruti Wasti bahkan sampai lolos hingga bertelanjang bulat di pelukanku. Begitu terpandang tubuh mulusnya darah pun langsung panas menggegelegak. Hmmm… kuakui lekuk liku tubuhnya yang indah dan tetap tidak berubah sejak dulu nampak begitu menggiurkan dan memompa darah birahiku menaikkan rangsanganku. Masih ingin kunikmati pemandangan indah ini tapi Wasti yang sudah bertelanjang bulat di depanku seperti kuatir aku batal berubah pikiran, dia segera menarik aku lagi dalam pelukan untuk melanjutkan berciuman sambil dia juga membalas membantu membukai bajuku. Kali ini jelas lebih asyik, bergelut lidah bertempelan hangat kedua dada telanjang cepat saja membawa nafsu birahi naik menuntut, sehingga tidak bermesra-mesraan lebih lama lagi kami pun bersiap masuk di babak utama.

“Ayo Mass.. buka juga ininya…” berdesis suaranya sambil tangannya ingin melorot celanaku, tampak dia seperti ingin terburu-buru.

Kuturuti permintaannya sebentar kemudian kami sudah sama2 telanjang masih melanjutkan berciuman merangsang nafsu yang tentu saja naik dengan cepat. Sekarang baru nyata kerinduan Wasti karena sambil masih sibuk bergelut lidah bertukar ludah, sebelah tangannya yang terjulur ke bawah sudah langsung beraksi meremas-remas gemas jendulan batanganku. Diserang begini ganti aku juga membalas. Kedua tanganku yang semula merangkul pinggangnya kuturunkan meremasi kedua pantatnya dan memainkan jariku menggaruki bibir luar kemaluannya, mengukiri celah hangatnya membuat Wasti mulai menggelinjang terangkat-angkat pantatnya menempelkan jendulan kemaluannya ke jendulan batanganku. Lama-lama tidak tahan, Wastipun tidak membuang-buang waktu untuk merendahkan tubuhnya dan langsung mencaplok kepala batangku, dilocoknya beberapa lama dengan mulutnya sekaligus membasahi dengan ludahnya. Setelah terasa basah licin barulah dia menegakkan lagi tubuhnya dan menunggu aku berlanjut untuk berusaha memasukkan di lubang kemaluannya.

Kuteruskan sesaat ciumanku dengan kembali mengiliki klitorisnya, sementara Wasti menyambut dengan juga melocok menarik-narik batang kemaluanku. Saling merangsang begini tentu saja membuat tuntutan birahi jadi naik tinggi. Merasa cukup, kutunda ciuman sebentar untuk membawa dia bersandar ke dinding di belakangnya, Wasti menurut hanya memandangi aku agak bingung.

“Nggak di tempat tidur aja Mas…?” tanyanya seperti kurang cocok dengan tempat yang kupilih.

“Di sini dulu, sekali-sekali kita main berdiri kan bisa juga?” begitu jawabku menentukan keputusanku.

Meskipun agak kurang “sreg” tapi dia juga sudah kepingin berat jadinya menurut saja ketika setelah kusandarkan ke dinding, kulanjutkan dulu dengan mengecupi mesra seputar wajahnya sambil tetap menghangatkan bara nafsu dengan bermain sebentar mengusapi kemaluannya, menggaruki klitorisnya.

Dia kuserbu dengan membuat tidak sempat protes lebih jauh karena segera ujung jariku merasakan licin basah liang kemaluannya. Batang kemaluan yang sudah dibubuhi ludah kudekatkan masuk terjepit di selangkangannya menempel ketat di lubang kemaluannya. Begitu kena mimik mukanya langsung tegang rahang setengah menganga karena jika dua kemaluan yang sama telanjang sudah ditempel begini, hangatnya mau tidak mau menuntut untuk melibat lebih dalam. Sinar matanya makin sayu meminta dan ini kupenuhi dengan mulai berusaha memasukkan batang kemaluanku. Kedua lutut kutekuk agak merendah, dari situ kutekan membor ke depan ujung batangku sampai terasa menyusup masuk di jepitan lubang kemaluan Wasti, ini karena dia juga menyambut dengan menjinjit dan membuka lebar-lebar pahanya.

“Ahngg Mass Doonyy..” keluar erang senangnya sambil menyebut namaku.

Seperti biasa dia selalu terlihat repot jika dimasuki batangku, tegang serius mukanya sambil sesekali melirik ke arah pintu seperti masih kuatir kalau ada yang masuk mendadak sementara dia sedang sibuk dalam usahanya ini. Begitupun pelan-pelan tenggelam juga batangku ditelan lubang kemaluannya masuk dan sebentar kemudian terendam habis seluruh panjangnya. Aku berhenti sebentar untuk dia menyesuaikan ukuranku baru setelah itu aku pun mulai menikmati jepitan asyik kemaluannya di batangku. Lepas dari sini kami berdua sudah langsung meningkat meresap nikmat senggama tanpa perduli suasana sekitar lagi. Aku mengawali dengan memainkan batangku menusuk tarik ke luar masuk, sebentar kemudian diimbangi Wasti dengan memainkan pinggul mengocokkan lubang kemaluannya. Masing-masing sama berkonsentrasi pada rasa permainan cinta dengan di atas kembali saling melumat bergelut lidah, kali ini untuk melengkapi gelut dua kemaluan yang mengasyikan dalam posisi senggama berdiri ini. Sambil begitu kedua tanganku pun meremasi sekaligus kedua susunya menambah enaknya permainan.

Wasti baru sekali kuajak main gaya begini tapi sudah langsung tenggelam dalam kelebihan rasanya. Terbukti baru disogok-sogok beberapa saat saja dia sudah tegang serius mukanya, tapi sebelum sampai ke puncaknya segera kuangkat dia berpindah posisi ke tempat yang lebih santai buat dia dan baru sekarang kubaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.

“Wiihhss… Mas Donny kangen aku kontolmu Mass… ssshh mantepp rasanya…” komentar pertama dengan nada suara bergetar terdengar senang seperti anak kecil baru diberi mainan. Saking rindu dan senangnya sampai mengalir keluar air mata bahagianya.

Tidak kusahut kata-katanya tapi dengan gemas-gemas sayang aku menindih untuk mengecup menggigit bibirnya dan dari situ kusambung dengan mulai memainkan batangku keluar masuk memompa di jepitan lubang kemaluannya. Inipun masih pelan saja tapi reaksinya sudah terasa banyak buat kami. Pinggulnya dimainkan membuat lubang kemaluannya berputaran memijati batanganku, hanya tempo singkat kami sudah meningkat dalam serius tegang dilanda nikmatnya gelut kedua kemaluan. Air muka kami sama tegang dan sinar mata sama sayu masing-masing hanyut meresapi jumpa mesra yang baru ini lagi kami lakukan setelah lewat cukup lama perpisahan keintiman kami. Menatap wajah si manis sedang hanyut begini tentu saja menambah rangsangan tersendiri yang membuatku makin meningkatkan tempo, sambil tetap meresapi asyik yang sama pada gelut dua kemaluan kami.

“Enak nggak Was rasanya punya Mas…?” bisikku menguji di tengah kesibukanku, sekedar ingin tahu komentarnya.

“Hsh iya ennak sekalli Mass… kontol Mas Donny palingg ennak dari semuanya… hhssh wihh kerras sekalli.. ennaakk.. adduuuh Maas iya ditekenn gittu dalem bbanget hhshh… Mass Donyy ennaak sekalii Maaas…”

Wasti kuhapal memang tipe spontan terbuka, dipancing sedikit saja langsung keluar suaranya mengutarakan apa yang sedang dirasakannya. Jelas menyenangkan mendapat partner bercinta seperti ini, segera kutenggelamkan juga perasaanku menyatu dalam asyik senggama sepenuh perasaan dengannya. Makin lama gelut kami makin berlomba hangat tanda bahwa masing-masing mulai menuju ke puncak permainan, sampai tiba di batas akhir kuiringi saat orgasme kami dengan menempel ketat bibirnya saling menyumbat dengan lumatan hangat.

“Hhrrh.. hghh.. nghhorrh.. ssshghh.. hoorrhgh.. hhhhng.. hngnhfffgh.. ngmmgh…” suara tenggorokan kami saling menggeros bertimpal seru mengiringi saat ternikmat dalam senggama ini.

Mengejut-ngejut batang kemaluanku menyemburkan cairan maniku yang juga terasa seperti diperas-peras oleh pijatan dinding kemaluannya. Sampai terbalik kedua bola mata kami saking enak dirasa tapi begitupun sumbatan mulutku belum kulepas menunggu sentakan-sentakan ekstasinya melemah. Baru ketika helaan nafas leganya ditarik tanda kenikmatan berlalu, aku pun melepas tempelan bibirku menyambung dengan kecupan-kecupan lembut seputar wajahnya.

“Hhahhmmhh.. Mas Ddony… assyiknyaaa… keturutan kangenku sama Mas…” kembali terdengar komentarnya dengan masih saling berpelukan mesra.

“Mas sendiri juga kangen sekali sama kamu Was,” kataku jujur membalas perasaan hatinya.

“Bener?” tanyanya menguji dengan nada manja. Tapi tetap menjepitkan otot-otot lubang kemaluannya di batanganku menunggu sampai terlihat aku mulai mengendor menghela nafas legaku, di situ baru dia berhenti dan membiarkan aku melepaskan batanganku dari lubang kemaluannya. Aku lega dan puas tapi air mukanya juga tampak berseri tanda senang telah berhasil memuaskan kerinduannya denganku.

Sejak dari hari itu berlanjut lagi hubungan lamaku dengan Wasti di setiap kedatanganku ke rumahnya tapi dengan alasan yang sama seperti Oom Rony yaitu pura-pura minta dipijat oleh Wasti. Hari itu aku datang ke rumahnya bertemu dengan Ardi yang sedang sibuk mencetak di bangunan sebelah, dia mempersilakan aku menemui Wasti di rumah induk. Aku pun mengiyakan dan waktu masuk ke rumah kudapati Wasti di dapur sedang mencuci piring-piring dan gelas bekas makan siang mereka. Wasti menoleh dan tersenyum manis menyambut kehadiranku serta meminta aku menunggu dulu di ruang tamu. Timbul niat isengku menggoda, kurapati dia yang saat itu masih berdiri di depan meja cucian piring, langsung memeluk dari belakang mencumbui dia. Mengecupi lehernya sambil kedua tanganku meremasi bukit susunya. Karuan Wasti menggeliat-geliat dengan muka malu-malu geli, ingin menghindar tapi mana mau kulepas begitu saja. Akhirnya dia diam saja membiarkan aku menggerayangi tubuhnya, dia sendiri tetap meneruskan mencucinya karena dipikirnya mana mungkin aku berani mengajak dia untuk waktu yang senekat ini.

“Mas Dony ini nggodain aku aja, paling-paling Mas juga udah ngiseng sama yang lain, sekarang kayak sudah kepengen lagi…?”

“Lha memang kepengen kok, sama kamu kan belum?” jawabku sambil mengangkat rok belakangnya, langsung melorotkan celana dalamnya.

Tentu saja Wasti jadi kaget karena tidak mengira bahwa aku betul-betul serius meminta.

“Heh Mas Dony! Ngawur ah, ini kan masih di dapur… nanti aja di kamar Mas… kalau di sini nanti ada yang liat gimana?” Wasti masih coba memperingatkan aku agar mengurungkan kenekatanku tapi aku sudah tidak bisa menahan lagi. Malah sudah kulepas ritsleting celanaku membebaskan kemaluanku langsung menempelkan batanganku di selangkangannya.

“Kasih sebentar aja kan bisa Was, dari sini kan kita bisa ngeliat ke sebelah kalau ada yang datang…” kataku meminta sambil menenangkan dirinya.

Kebetulan di dekat meja cucian piring itu ada jendela kaca dimana kami bisa melihat keadaan bangunan percetakan di sebelah.

“Ahhs Maaass..!” Wasti kontan menjengkit ketika terasa batang telanjangku yang menempel di lubang kemaluannya itu sudah mulai naik mengencang.

Sempat bingung dia tapi dari semula ingin berkeras menghindar akhirnya Wasti jadi tidak tega juga, langsung melunak suaranya berbisik. “Wih, wih Masss… kok cepet banget sih keras bangunnya…?”

“Makanya itu.. Mas Dony masukin ya?”

“Iya tapi aku belum basah Mas…”

“Nanti Mas basahin sebentar…”

“Tapi jangan lama-lama ya, nanti keburu ada yang dateng malah tambah penasaran…”

Tanpa membuang-buang waktu aku berjongkok di belakang Wasti dan segera menyosor di lubang kemaluannya yang juga cepat memasang posisi agar lebih mudah, dengan membuka secukupnya kedua pahanya serta menunggingkan sedikit pantatnya. Sambil begitu Wasti sendiri terpaksa menunda dulu pekerjaannya dan menunggu dengan bertopang kedua tangan di tepi meja cucian sambil pandangannya terus melekat memperhatikan ke luar jendela kaca itu. Niatnya memang semula hanya ingin sekedar memberi buat aku, tapi ketika terasa sedotan dan jilatanku di lubang kemaluannya ditambah lagi dengan satu jariku yang kucucukan menggeseki kecil di lubang itu, yang begini cepat saja membuat gairahnya terangsang naik. Cepat-cepat dia membilas kedua tangannya yang masih penuh sabun karena sesewaktu mungkin diperlukan untuk memegangi tubuhku.

Betul juga, tepat saatnya dia selesai membilas bersamaan aku juga selesai mengerjai liang kemaluannya. Segera kubawa batanganku ke depan lubang kemaluannya dan mulai menyusupkan masuk dari arah belakang, langsung saja sebelah tangan yang masih basah itu dipakai untuk memegang pinggulku, sebagai cara untuk mengerem kalau sodokanku dirasa terlalu kuat. Tapi rupanya tidak. Biarpun sudah dilanda gairah kejantananku, tapi aku masih bisa meredam emosi tidak kasar bernafsu. Selalu hati-hati sewaktu membor batangku masuk meskipun seperti biasa Wasti selalu menunggu dengan muka tegang. Dia baru melega kalau batangku dirasanya sudah terendam habis di lubang kemaluannya.

“Keras sekali rasanya Mas…?” komentar pertamanya sambil menoleh tersenyum kepadaku di belakangnya.

Kugamit pipinya dan menempelkan bibirku mengajaknya berciuman.

“Kalau ketemu lubangmu memang jadi cepet kerasnya…” jawabku berbisik sebelum menekan dengan ciuman yang dalam.

Kami mulai saling melumat sambil diiringi gerak tubuh bagian bawah untuk meresap nikmat gelut kedua kemaluan dengan aku menarik tusuk batang kemaluan, sedang Wasti memutar-mutar pantatnya mengocoki batanganku di liang kemaluannya. Inipun niat semula masih sekedar memberi bagiku saja, tapi tidak bisa dicegah, dia pun dilanda nikmat senggama yang sama, yang membawanya terseret menuju puncak permainan bersamaku.

Dari semula gerak senggama kedua kami masih berputaran pelan, semakin lama semakin meningkat hangat, karena masing-masing sudah menumpukkan rasa enak terpusat di kedua kemaluan yang saling bergesek, sudah bersiap-siap akan melepaskannya sesaat lagi. Wasti tidak lagi bertopang di tepi meja tapi menahan tubuhnya dengan lurus kedua tangannya pada dinding depannya. Di situ tubuhnya meliuk-liuk dengan air muka tegang seperti kesakitan tertolak-tolak oleh sogokan-sogokan batanganku yang keluar masuk cepat dari arah belakangnya, tapi sebenarnya justru sedang tegang serius keenakkan sambil membalas dengan putaran-putaran liang kemaluannya yang menungging. Masing-masing sudah menjelang tiba di batas akhirnya, hanya tinggal menunggu kata sepakat saja.

“Aahs yyohh Wass… Mass sudah mau samppe…”

“Iya Mass… sama-samaa… sshhhah-hhgh.. dduhh… oohgsshh… hrrh.. hheehh.. Wass.. ayyoo.. dduuh Maass… aaddusssh.. hrhh…”

Pembukaan orgasme ini masing-masing saling mengajak dan berikutnya saling bertimpa mengerang mengaduh dan tersentak-sentak ketika secara bersamaan mencapai batas kenikmatan. Jika dihitung secara waktu maka permainan kali ini relatif cepat namun bisa juga membawa Wasti pada kepuasannya. Memang hampir saja terlambat, karena baru saja aku mencabut batang kemaluanku sudah terdengar langkah kaki seseorang akan masuk ke rumah induk. Ternyata memang Ardi yang datang. Wasti sendiri tidak sempat lagi mencuci lubang kemaluannya, buru-buru dia menaikkan celana dalamnya untuk menyumbat cairan mani bekasku yang terasa akan meleleh ke pahanya dan selepas itu dia pura-pura kembali meneruskan mencuci piring yang sempat tertunda itu.
TAMAT.

Permainan Seks Yang Tabu (Bagian 2)

Written by admin on 9:06 AM


Cerita in merupakan lanjutan dari Permainan Seks Yang Tabu (Bagian 1). Kuraih selimut dan kututup tubuh bugilku aku tiba tiba jadi malu sekali pikiranku juga galau tak karuan aku telah melakukan sesuatu yang benar benar tabu kak Agus merapat ke tubuhku dan memberi kecupan di kening ku tapi aku diam saja dia lalu bangun dan melangkah ke kamar mandi semapat kulihat langkahnya agak sepoyongan tenaganya pasti terkuras habis.

Beberapa saat kemudian ku dengar dia sudah mandi aku pun bangkit kurasakan kepalaku pening aku kembali duduk di pinggir ranjang yang spreinya awut awutan kulihat ada bercak darah di tengahnya hatiku terenyuh itu kan darah perawanku oohh.. tak lama Kak Agus selesai dengan hanya bertelanjang dia menghampiriku yang sudah mulai berpakaian “lho may kamu tidak madi dulu ?ayo kita mandi sama2
“tidakk kak aku mau pulang aku nggak enak aja pikiranku” kataku lalu dengan cepat kukanakan kembali semua pakaianku sesampai di ruang tamu aku masih terdiam nggak tau mesti ngomong apa kulihat kak Agus cerah sekali wajahnya dia tersenyum terus sejak dari kamar diantarnya aku pulang dengan mobilnya dimobil aku masih terdiam perasaan ku benar benar kacau segala macam pikiran melintas di kepalaku “oohh..pusing deh jadinya

“aku takut hamil kak” pintaku tapi kak Agus dengan terseyum langsung berkata bahwa kalau itu terjadi dia akan menikahiku tapi aku ragu mana mungkin orang tua ku terutama ayah tiriku mau menyetujuinya masak rekan kerjanya sendiriyang menikahi anaknya yang terpaut 20tahun lagi umurnya pasti ayah ibu tidak setuju tapi kak Agus nampak tenang saja aku turun di persimpangan dekat rumahku dan berjalan kaki seperti layaknya sehari hari pulang sekolah,masuk rumah kulempar kan tas ku ke meja lalau aku langsung masuk kamar mandi ibu agak heran juga melihat aku langsung mau mandi untung dia tidak memperhatikan cara jalanku yang agak beda karena baru selesai disetubuhi lakilaki vagina ku ngilu jalanku pun agak beda kurasakan sepertinya kontol kak Agus masih didalam memekku dikamar mandi kucuci bersih celana dalam ku dari sisa sisa darah dan lendir lalu kulihat tubuhku di cermin kamar mandi “uuhh sialan kak Agus’dia membuat beberapa cupang di sekitar susu ku 3 di susu kanan dan 1 di susu kiri tepat dibawah puting susunya cih cepat kusiram tubuhku dengan air dan kugosok sabun sebanyak nya seolah dengan begitu aku akan terhilang dari noda2 malam harinya aku sulit tidur entah kenapa aku terbayang selalu wajah kak Agus dan permainan kami siang hari tadi aku juga memikirkan bambang pacarku apa katanya kalau dia tau semua ini? aahhh… aku capek sekali tubuh ku pegal semua terutama buah dadaku dan selangkanganku yang paling ngilu aku ahirnya tertidur…

Pengalaman sex pertama ku itu tidak berahir sampai disitu karena kak Agus selalu meminta dan meminta lagi dan aku selalu berbohong pada orang tua ku untuk pergi sebentar ke toko atau kemana aja padahal aku bertemu kak Agus,sms dari kak Agus aku sembunyikan dari siapa pun juga ibu dan ayah tidak tau kalau aku ada hp karena ku sembunyikan dan kumatikan kalau malam menjelang tidur baru kunyalakan untuk smsan dengan kak Agus sms kami mulai dari ngobrol biasa sampai sms porno dia ternyata pandai juga merangsang aku walau cuma lewat sms seperti malam itu aku sampai bolak balik kamar mandi untuk membersihkan memekku karena banyaknya cairan ku yang keluar akibat saling sms hot dengan kak Agus sampai cape rasanya aku dan kak Agus ahirnya buat janji lagi untuk ketemu hari sabtu nya aku akan bolos sekolah lagi untuk bisa kerumahnya.kak agus begitu pandai memainkan perasaan ku hingga aku menjadi ketagihan untuk mengulang permainan tabu itu.

Seperti yang sudah kami sepakati hari sabtu pun tiba dan aku sudah siap lahir batin untuk melakukan hubungan terlarang itu sekali lagi aku memang sudah sangat ingin entah kenapa mungkin aku termasuk cewek yang bergairah kata orang kalau cewek yang tangannya bayak ditumbuhi bulu bulu halus pasti itu cewek doyan sex nah kurasa aku masuk kategori itu dirumahnya kak Agus sudah mempersiapkan segala nya kamar tidurnya yang rada gelap karena jendelanya tertutup dipasangi lampu warna merah 5 watt tempat tidurnya kulihat sudah rapi sekali dengan seprei putih.

Hari itu meski dengan pakaian seragam aku berdandan manis sekali khusus buat kak Agus ku kupakai rok yang agak pendek 5 cm diatas lutut dan baju seragam kekecilan rambut ku kubiarkan tergerai lepas kak Agus sampai gregetan melihat ku dia tambah payah saat aku mulai melepaskan pakaianku sambil berdiri di sudut kamar musik berirama erotis dari cd nya tantric sex mengiringi ku membuka seragam ku perlahan lahan kini aku sudah tidak malu lagi sama dia karena aku sudah mengambil keputusan untuk menerima cintanya karena dia serius akan menikahi ku kini layaknya aku ini sudah jadi istrinya akulepas pakaian seragamku dihadapannya dan kak Agus lagi lagimenelan ludahnya saat aku tinggal mengenakan BH dan celana dalam saja yang ukurannya agak mini mirip bikini ini semua memang pemberiannya sengaja dia kasih ke aku agar kupakai saat saat begini lelaki ini seleranya memang luar biasa dengan gaya yang sangat erotis menurutku.

Aku lepaskan BH ku perlahan dan ku lemparkan ke arahnya.Kak Agus yang sedang duduk di ranjangnya tertimpa BH ku dimukanya lalu perlahan celana dalam ku ku lorotkan kebawah saat itu kak Agus mendecak kagum melihat susuku tergantung karena aku agak membungkuk cepat aku berdiri tegak kembali dan dengan sengaja membusungkan dadaku aku berjalan telanjang bulat kearah nya aku berikan ujung puting susuku tepat di mukanya dan kuminta kak Agus untuk menghisapnya “ka sayang..hisaplah susuku say,hisaplah sepuasmu hari ini aku sudah jadi istrimu oohhh…say…ayolah…

Kak Agus kini terkesiap dengan keberanianku dipegangnya kedua susuku dan mulutnya mulai mengemut putingya dengan lembut oooouuuuhhh…nikmatnya…aku mendesah ku elus pundaknya,kulihat juga mata kak Agus merem melek nampak sekali dia menikmati susuku dia lalu mencium bibirku dengan mesranya lalu beranjak melepaskan pakaiannya dengan cepat dan aku pun merebahkan diriku diranjangnya kuangkat tanganku ke belakang dan aku berpegangan pada kayu ranjangnya sambil ku menggelinjang seperti ular kugosok kedua belah pahaku satu sama lain sambil menggigit bibirku.

Kulihat kak Agus sudah telanjang bulat dan kemaluannya yang besar itu terayun ayun. Dia kemudia berlutut diatas ranjang diantara kaki kaki ku kupermainkan biji pelernya dengan menggunakan punggung kaki kananku hal ini membuat lelaki itu terbuka mulutnya tanpa mengeluarkan suara hanya terdengar sedikit “akh”dia kaget aku bisa melakukan itu untuknya belajar darimana pasti pikirnya padahal itu cuma reflek naluri sex ku aja gosokan kaki ku di kemaluannya membuat kak Agus tidak tahan lagi segera dia memeluk dan menindih tubuhku dan seperti biasa susuku jadi sasaran empuknya uuuhhh… kenapa selalu susuku jadi sasaran dan bagian bawah puting susuku yang merupakan daerah paling sensitif dari tubuhku disedotnya membuatku histeris “aaakhh…ssshhh…hhooohhh…kak ayo lah kak kataku meminta tapi dia tidak menghiraukan kini jilatan lidahnya menjalar ke perutku lubang pusarku dijilat dan dipermainan lidahnya “oooohhh…kak…ampun..geli kak…”

Tapi itu semua belum membuatnya untuk menyetubuhi ku hari itu kak Agus memandikan aku degan ludah dan lidahnya tak sejengkal pun tubuhku yang lolos dari lidahnya dijilatinya celah celah diantara jari kakiku aku mengelinjang hebat lidahnya seperti ular sex yang pandai mencari tempat sensitif tubuh perempuan kaki ku betisku dijilatnya sambil meracau tak karuan “oooh maya tubuhmu wangi sekali kakimu indah sayang kusambil berkata begitu dijilatnya betisku lalu pahaku bahkan buah pantatku yang besar digigitnya gemas “auuu…aku menjerit kaget kubalikkan tubuhku kak Agus menjilati paha depanku yang putih dan ditumbuhi bulu bulu halus lalu tanpa ku duga sebelumnya dibuka lebar lebar pahaku dan dijilatinya belahan Vagina ku “hhaaahhh…aku terpekik saat lidahnya mempermainkan biji kacang ku aku menggelinjang hebat rasanya bisa gila aku keremas erat bantal di kepalaku dan kakiku menyepak menghentak tapi kak Agus menahan ku kuat kuat tubuhku menggigil menahan nikmat campur geli kutarik dia ke atas seraya meminta dia untuk segera menyetubuhi aku.

“Aahhh…sayangku ayolah setubuhi aku kak…setubuhi aku..sekarang juga aku sudah tak tahan..kak…sambil tersenyum puas kak Agus mengarahkan batang kemaluannya ke mulut vagina ku yang sudah becek karena terangsang hebat walau begitu masih agak susah juga untuk diterobos penisnya dengan usaha yang agak keras barulah penis besar itu amblas kedalam vaginaku aku menatapnya sayu dan terpekik tapi suaraku tidak keluar mulutku membentuk O saja nafasku tersengal sengal bukan apa tetapi kemaluan laki laki ini sungguh besar sih.Kak Agus menelungkupiku dan berkata “maya istriku sayang mari kita bercinta sayang..

Lalu dia mulai menggoyangku naik turun seirama dengan musik tantric sex yang masih mengalun mengiringi permainan kita.hari itu kak agus luar biasa sekali kuatnya dipompanya aku tanpa ampun semua nafsunya yang masih terpendam dikeluarkan bersama dengan tenaganya atau mungkin dia sudah minum obat kuat entahlah yang jelas aku yang dibawah tindihan nya sampai menggelepar gelepar tak karuan kakiku menghentak hentak setiap gerakan nya diikuti suaraku,

“ahh..ahh…ahh..ah…ahh..auh..oohhh…terus begitu lagi lagi kurasakan isi pangkal pahaku seakan mau sobek digesek gesek kontolnya yang gede itu kurasakan seperti penuh sesak semua dalam liang vaginaku cairan cintaku keluar semua membasahi lubang pantatku aku tak peduli semua itu aku juga sudah lupa dengan pendidikan moral dan segala macam sopan santun adat istiadat persetan semua ini kan nikmat sekali perempuan mana yang bisa bertahan dengan moralnya jika sudah disetubuhi seperti ini? tidak bisa tidak aku jadi binal akibat permainan tabu ini entah naluri dari mana ku balas goyangannya dengan memutar mutar pinggulku seperti ayakan dan ini membuat kak Agus mengerang kenikmatan “aaahhkkhh…maya…maya…oouuhh…sayangku… nikmat sekali…vaginamu keset dan sempit sayang….akh akh..akh…ahhh..aaaaaahhhh…setelah berkata begitu tubuhnya mengejang hebat pelukannya jadi kuat dan kasar.goyangnya semakin cepat dan agak kasar nampak sekali dia mau membuatku kalah diremasnya susuku berkali kali sambil menatapku.melihat aku masih bisa bertahan dijilatinya bagian bawah puting susuku lalu disedotnya

“aaaakkhhh…aaaauuuuu…kak..kak..aku mau keluar nih….ookhh..hh..hh..hh lelaki itu berhasil membuatku orgasme dengan taktiknya dia sudah tau kelemahan ku aku mencapai puncak kenikmatan ku secara luar biasa aku menjerit histeris sampai sampai ditutupnya mulutku dengan mulutnya takut suaraku terdengar orang diluar jalan sana kami berpelukan erat sekali mengiringi orgasmeku dan hari itu aku sampai 3 kali klimaks dan sesudah aku 3 kali ahirnya kak Agus mendapatkan klimaksnya juga secara sempurna tubuh kami berdua ahirnya terkulai lemas bagaikan daging tak bertulang dan nafas terengah engah tapi kenikmatan yang kami dapatkan hari itu paling berkesan bagiku…

Pengirim:
Maya
Email: maya_awad@yahoo.com

Permainan Seks Yang Tabu (Bagian 1)

Written by admin on 8:50 AM

Nama ku Maya aku sekarang berumur 25 tahun aku sulung dari 3 bersaudara semuanya perempuan tapi mereka saudara tiri dan ayahku adalah ayah tiri yang menikah dengan ibuku setelah aku berumur 10 tahun oh ya aku berwajah cukup cantik dan menarik terutama bentuk tubuhku yg langsing sejak kecil sudah menjadi perhatian kaum lelaki dan keperawananku sudah hilang sejak aku berumur 18 tahun nah lewat blog ini aku ingin menceritakan penaglamanku saat pertama kali berhubungan badan dgn laki2 yg menyebabkan hilangnya kesucianku.

Pembaca sekalian seperti yg sudah kukatakan sejak awal bahwa aku gadis yg cukup cantik dan bertubuh indah sehingga sejak di bangku SMP aku sudah jadi incaran banyak cowok,baik itu sesama teman sekolah,anak SMU,mahasiswa maupun pria pria dewasa yang tergolong pencinta wanita termasuk ayah tiriku itu yah ini adalah kisah nyataku ayah tiriku yang bernama pak Awaludin itu ternyata diam2 memendam rasa cinta padaku tanpa sepengetahuan ibu ku ini karena ibu ku sudah tidak menarik lagi sebagai wanita yg berumur diatas 40 tahun yang giat bekerja mencari nafkah itu sudah jarang mengurus dirinya sehingga beliau jadi gemuk dan tidak suka merawat diri hal inilah yang membuat ayah tiriku mulai melirik wanita lain dan gilanya dia ternyata akulah yang diincarnya kembali oh Tuhan aku sangat terkejut saat pertama kali dia bilang cinta padaku dan ingin menikahi ku dia ingin aku jadi istri ke 2 nya,saat itu aku baru duduk di kales 1 SMU negeri di kota kami.

Aku tegas2 menolak permintaannya itu apalagi dia mengatakan cintanya padaku tanpa sepengetahuan ibuku karena dia masih takut kalau2 ibu ku marah,nah sejak saat itu ayah tiriku selalu membayangi hidupku kemanapun aku pergi dia selalu ingin tau dan selalu dia jemput aku saat aku pulang sekolah atau pulang les dan sebagainya.aku sebenarnya tidak suka di perlakukan spt itu tetapi dia selalu memaksaku untuk di antarnya dan yg paling menjengkelkan dia mulai cemburu padaku jika ada teman lelakiku yang coba mendekatiku gerak gerik ku mulai dibatasi dan dia bilang ke ibu ku bahwa sebagai gadis remaja yg bertumbuh dewasa aku harus di jaga ketat agar tidak salah jalan dan ibu ku mempercayainya aku sampai harus menolak cinta beberapa teman lelaki ku di SMU dan dua kali aku diputuskan oleh pacarku yaitu kak Ari pelatih Drumband ku dan kak Tyo kakak kelasku mereka berdua baru memacariku 3 bulan dan terpaksa putus karena disamperin ayah tiriku dan di ancam olehnya agar menghentikan hubungan mereka denganku alasannya aku harus konsentrasi belajar dan membantu orang tua “maya harus bekerja membantu saya karena kita orang yg paspasan hidupnya jadi dia perlu bekerja sesudah pulang sekolah maka itu bapak minta pd kalian untuk putuskan hub pacaran kalian karena Maya belum saatnya memikirkan hal itu bapak harap kalian bisa mengerti”.

Begitulah katakata ayahku saat menemui kak Ari dan menyuruh menghentikan hubungan cintanya denganku.padahal ku tahu benar ayahku begitu karena cemburu sekali pada anak muda itu.aku cuma bisa kesal saja dengan tindakan ayah tiriku itu.Pada saat aku naik kelas 2 SMU aku mendapatkan pengalaman hidup yang luar biasa yang mengawali berubahnya hidupku saat itu aku berumur 18 tahun dan aku berkenalan dengan seorang Pria yang cukup tampan dan simpatik namanya Agus sugiarto umurnya 38 tahun jadi 20 tahun lebih tua dariku seperti umur ayah tiriku dan kupanggil dia Kak Agus dia adalah teman ayah tiriku dalam berbisnis hasil bumi mereka adalah rekanan bisnis yang sering pergi ke luar kota untuk mencari hasil bumi untuk di jual keluar daerah seperti bawang putih,asam pinang dll.

Kak Agus orangnya baik dan penuh simpatik dia juga suka memberi oleh2 untuk keluarga kami terutama ke 2 adik ku yang masih SD itu sering diberinya coklat tak jarang juga aku dikasih juga pokoknya kak Agus akrab sekali dengan keluarga ku cuma sebagai wanita yang sudah remaja menjelang dewasa aku mulai bisa merasakan ada sesuatu dalam pandangan mata kak Agus saat dia menatapku aku tahu kak Agus suka juga padaku lelaki ini memang masih bujang sampai seusia itu dan hal ini tidak diketahui oleh ayah tiriku mungkin dia berpikir teman bisnisnya itu tidak akan tertarik pada anak ABG macam aku Huh..dasar bodoh padahal dia sendiri suka padaku.

Kak Agus memang luar biasa nekad nya kalo pas datang kerumah ku dan ayahku tidak ada serta ibuku masih di belakang dia suka mencolek lenganku setelah memberiku coklat aku cuma tersenyum saja dan balas memukul pundaknya seraya berkata”jangan nakal ya aku lapor ayah ku baru tau rasa kakak ini,dan kak Agus akan tertawa jika sudah begitu padahal kalo mau jujur aku suka kok di godain sama dia karena memang aku mulai bersimpati pada lelaki itu karena selain baik hati dan cukup tampan kak Agus juga pandai dalam banyak hal orang nya intelek sekali menurutku dia punya wawasan berpikir yang luas dia sering menasehati aku dan membantu ku dalam pelajaran sekolah hal ini membuat kami cepat akrab sampai disini hubungan kami masih biasa2 aja kuanggap dia kakak bahkan ayah ku bukankah umurnya sebaya dgn ayahku?

Pada suatu kesempatan di saat kelas ku mengadakan kegiatan extra kurikuler biologi di suatu pantai tanpa kusangka sebelumnya kak Agus berani datang ke tempat itu menemuiku diselasela kegiatan pelajaran tsb dia minta ijin pada guru biologi ku dgn alasan ada urusan keluarga yg perlu disampaikan aku di kasi ijin 10 menit untuk menemuinya di belakang sebuah gedung.dengan terheran heran aku bertanya padanya “ada keperluan apa kak? kok tiba tiba bisa datang ketempat ku ini?

“Maya kakak tidak lama lama kakak cuma mau memberimu sesuatu”
setelah berkata begitu dia menyerahkan sebuah HP padaku aku pun terheran2 dan bertanya
“untuk apa ini kak”

ini untuk memperlancar komunikasi kita berdua Maya” aku masih menatapnya dengan heran tapi dia langsung melanjutkan “Maya aku suka padamu sayang”kak cinta sama kamu dan HP ini untuk kita saling komunikasi dan tolong agar orang tuamu tidak tau akan ini juga adik2 mu jangan ssampai mereka tau aku beri kamu ini”

“hidupkan HP ini hanya pada malam hari saat semua sudah tidur dan SMS lah aku OK say? kamu juga suka pada Kakak bukan?
aku kaget sekali diserang tibatiba begini tapi aku senangnya dikasih HP aku tidak tau mau bilang apa pada kak Agus aku masih terbengong saat tiba2 dia memelukku dan mendaratkan sebuah ciuman hangat dibibirku yang merah ini aku kaget untuk yg kedua kalinya dan hanya bisa mendesah kecil lalu kak Agus melepas pelukannya dan pamit padaku seraya berkata ingat malam ini kita mulai saling SMSan kemudian dia sudah berlalu kembali kemobilnya aku kembali ke tempat semula masih terbayang olehku ciuman hangat nan lembut tadi dari Kak Agus membuatku tdk bisa konsentrasi pada pelajaran Biologi sungguh inilah pertama kali dalam hidupku.

Dan malam itu kami mulai saling SMS setelah semua orang sudah tidur aku dan kak agus saling SMSan selama 2 jam lebih mengutarakan isi hati kami masing2 kuceritakan semua tentang diriku juga keluargaku,tak lupa pula tentang kelakuan ayah tiriku dan kak Agus mengatakan agar aku tenang dan bersabar sampai saatnya Kak Agus akan meboyongku pergi dari rumah ini.

Sejak saat itu aku dan kak Agus berpacaran secar Back street dan sangat hati2 agar tidak ketahuan oleh orang lain terutama oleh ayah tiriku.pada suatu hari 2 bulan setelah kami berpacaran Kak Agus dan ayah ku pergi bersama keluar kota rencananya mereka pergi seminggu untuk mencari hasil bumi ke daerah lain tetapi besok sorenya aku mendapat SMS dari kak Agus bahwa dia akan menjemput ku ke sekolah siang itu saat pulang nanti Kak tunggu kamu di depan toko Fotocopy say,begitu bunyi smsnya dan saat aku keluar sekolah betul saja kuliahat mobilnya sudah parkir menunggu ku di depan toko fotocopy aku segera menghampirinya dengan terheran2.

“Lho bukannya kak lagi keluar kota dengan ayah” kok udah pulang” dia cuma tersenyum seraya membuka pintu dan menyuruhku masuk,setelah pantatku duduk di jok mobilnya dia mengatakan bahwa dia minta pulang sebentar selama 2 hari nanti dia akan kembali menyusul ayahku di daerah dengan alasa ada panggilan keluarga padahal kak agus berbohong pada ayahku hanya untuk bisa leluasa bersama ku tanpa takut ketahuan aku terperanjat juga mendengar kenekad tan nya “trus kita mau kemana nih Kak”
kita kerumah Ku say”
“kamu kan blum pernah kerumah ku selama ini Kan”
masa kakak terus yang datang kerumahmu?
ok lah tapi disana kita ngapain kak” kita akan kencan say” dirumah ku tidak ada siapa2 jadi kita bebas berdua”
20 menit kemudian mobilnya sudah masuk ke garasinya yang langsung disamping rumahnya
kak Agus memeluk pundakku danmembawaku kedalam rumahnya dari pintu samping garasi rumahnya sedrhana saja tetapi bersih dan rapi siang itu aku dengan masih berseragam SMU dan tas sekolah untuk pertama kalinya datang kerumah seorang lelaki dewasa berduaan saja,”silahkan duduk dulu Say,kak ambilkan minuman ya aku mengangguk seraya duduk di sofanya pikiranku masih bertanya tanya apa gerangan yang akan ku lakukan dengan kekasih baru ku ini sesaat kemudian kak agus sudah kembali membawa 2 kaleng cocacola dingin dan sepiring kue Brownies kesukaan ku “silahkan dimakan sayang,itu ibu ku yang buatkan untuk ku”katanya.

oh ya” ibunya kak masih perhatian sekali ya sama kak?
iya dong karena kak blum ada istri nanti kalo kamu jadi istriku baru kamu buatkan untuk ku” sambil makan aku tersenyum pada nya “ah kak ini masa udah yakin akan menikah dengan ku kita kan baru 2 bulan lebih jadian kan? kak agus cuma nyengir kemudian dirapatkannya tubuhnya pada ku seraya memeluk pundakku aku dengan santainya mengangkat kedua pahaku dan ku tumpangkan di atas pahanya lalu kak agus melepaskan sepatuku dan juga kaos kaki ku kami bersanda di sofa itu dan berpelukan ku minta kekasih ku itu untuk menciumku seperti saat pertama dipantai dulu dan kali ini kak agus memberiku ciuman bibir yang jauh lebih indah dan nikmat dari yang pertama aku yang belum berpengalaman dalam berciuman cuma bisa menerima nya dan secara naluri sedikit sedikit kubalas permainan lidahnya tanganya mengelus rambut tebalku lalu memegan kedua pipiku dan mengecup dan menyedot lidahku membuatku mendesah lirih perlahan ciumannya turun keleherku yang putih mulus itu membuatku memeluknya erat dan semakin erat saat telingaku di sapu dengan bibirnya.

oooooohh…ssshhh hahhh…
kak..kak..hahhh..aku mendesah desah kak agus tambah gila diremasnya pahaku dielus elusnya 5 menit berlalu ciuman kami terlepas dan nafas kami terengah engah dan entah bagaimana kak agus sudah menarikku kekamar tidurnya dan anehnya aku mau saja ikut dengannya sesampai didalam kamar dibukanya kemejanya sambil menatapku syahdu aku cuma bisa terpaku di hadapannya perlahan dia melangkah ke arah ku lalu tangannya membuka kancing baju seragam SMU ku aku terperanjat cepat kutahan jemarinya dan berkata “kak mau ngapain kak” dia tidak bersuara dan dengan lembutnya dikecupnya keningku dan berkata “sayangku meri bercinta” aku terkesiap mendengar nya “jangan kak aku takut”
“jangan takut sayang disini aman”

“tapi bagaimana jika ayah sampai tau”? “tenanglah maya ku sayang ayahmu tad bisa tau akan hal ini”
dan kancing terhir ku terbuka sudah lalu pakaian seragamku dibiarkan jatuh kelantai kemudian giliran rok Abuabu ku yang dilepasnya dengan mudah dan menyusul jatuh di bawah kaki ku hatiku berdeba debar tak kusadar keringat dingin membulat di bahuku kini aku cuma tinggal mengenakan celana dalam dan bh saja kak agus melepaskan celanya panjangnya dengan cepat sekali sehingga tinggal cd nya saja
Kami berdua berdiri saling berhadapan kak agus memegan bahuku dan dengan tatapan mata yang sayu dan sedikit senyum dibibirnya dirapatkannya tubuhnya ke tubuhku.

Aku mulai ketakutan dan airmata ku berlinang aku sadar akan apa yang akan terjadi pada diriku sebagai gadis remaja aku tau lelaki ini menghendaki persetubuhan denganku hal ini sangat menakutkan bagiku aku blum menginginkannya kugeleng kan kepala ku perlahan lahan sambil menatap kak Agus dengan air mata yang hampir meleleh tapi tiba tiba tangan kanannya meremas lembut buah dadaku yang kiri “hhaahahh..oohh… aku mendesah kaget akan sensasinya,nikmatnya karena seumur hidupku belum pernah ada tangan lelaki yang melakukan itu aku hanya melirik ke arah susu kiriku itu dan kembali kupandang wajah lelaki itu dengan perasaan galau sedetik kemudian BH ku terlepas kaitannya

Dibelakang lalu perlahan BH berukuran 34 itu ditarik lembut dari tubuhku oleh kak agus dan di lemparkan ke atas ranjang nya kini tampaklah buah dada ku yang membusung kedepan yang lagsung diremas remas oleh tangan kak agus dengan penuh nafsu tapi lembut lelaki ini pandai mempermainkan perasaan wanita mungkin ini pengalamannya yang ke 100 aku tak tau susuku montok dengan puting kecil berwarna coklat kemerahan membuat kak agus menelan ludah berkali kali tatapan matanya jadi liar nafasnya memburu digendongnya aku yang hampir telanjang bulat itu lalu diletakkannya tubuhku di atas ranjang nya kemudian dia memeluk ku dan mulai menghisap puting susu ku dengan hisapan yang mantap dan liar “aaaaahhh…ooooooooohhhh…ssshhss hahhhh…kak ….akhh… aku merintih sejadi nya karena tidak tahan diperlakukan seperti itu ini lah pertama kalinya susuku dipermainkan mulut laki laki seperti itu aku menggelinjang hebat diatas ranjang itu seraya memeluknya erat dan merintih mendesah aku memang tidak tahan apalagi saat bibirnya menghisap bagian bawah puting susuku.

“aaaaaahhh..ooohhh…hh..hh..hh aaaaahhhhh…..hah…hah… kak…kak…oohh…aku aku terus menjerit merintih dan mengerang kenikmatan kak agus lalu berjongkok dan menarik celana dalamku yang kecil itu segera kutahan tangannya dan sekali lagi kukatakan tidak berkali kali “tidak kak kita tidak bileh melakukan ini jangan kak” tapi kak Agus bagai kesetanan malah mnjilati pahaku yang putih mulus berbulu halus itu hal ini membuatku merinding wanita mana yang sanggup bertahan jika paha bagian dalamnya di kecup bibir lelaki aku yakin tidak ada perempuan yang sanggup menahan nafsu birahinya jik a diperlakukan demikian begitu pula aku dan tangannya yang nakal mulai menyentuh vagina ku dari luar celana dalamku vagina ku sudah mulai basah oleh cairan cintaku perlahan tapi pasti celana dalamku mulai ditarik melewati pahaku lalu terlolosi dari betisku dan telanjang bulatlah diriku hari itu juga aku Maya gadis SMU kelas dua yang masih berusia 18 tahun terlentang bugil diatas ranjang seorang lelaki yang seumuran ayahku untuk pertama kalinya aku telanjang bulat dihadapan laki laki walau dia adalah pacarku tapi aku malu juga kurapatkan pahaku agar vagina ku tidak kelihatanolehnya tetapi tangannya sungguh cekatan membuka kedua belah pahaku kak agus sudah tak bisa menguasai dir lagi sambil berjongkok dipinggiran ranjangnya dibukannya pahaku dan selangkangan ku lebar lebar dengan mulut setengah terbuka wajahnya mendekati bibir vagina ku jari jemarinya menguakkan bibir kemaluanku kemudian lidahnya menjilati liang vagina ku itu vagina ku dgn bulu yang tercukur rapi itu hari itu bertemu denganlidah seorang laki2 yang betul2 jantan aku menggelinjang bagai ular minyak di atas tempat tidur itu hampir menjerit karena menahan nikmat tiada tara aku sampai menghentak hentakan pantatku berkali kali nafasku terengah engah erangan nafsu perempuan keluar dari mulutku sejadi jadinya keremas sprei ranjang itu kuat kuat menahan sejuta nikmat permainan lidah kak Agus ooo..hh..hh..ah..ahh…ahh..hahh..hah..hah..hah..aaaaauuuuuuhhh…
ah..ah..ah..ah..ooooooohhhhhh
Lubang kemaluan ku sampai becek oleh ludah kak Agus dan cairan cintaku sendiri klitorisku sampai tegan mengencang ooohh…ooohh…ooohh… cukuppp!!!aahhhh….cukupp!!1 sayang aku mohon oooh ….hah…ah..ah.. hentikan kaaaaakkkkhh…ahh ahh…kujambak rambutnya dan kutarik kepalanya ketas kak agus mengikuti seraya menjilati perutku dadaku leherku dan naik kebibirku kembali kami berpelukan erat sekali sambil berciuman bibir ketat dan lengket luar biasa akibat gejolak nafsu birahi yang tak tebendung lagi kak agus lalu melepaskan pelukan nya berdiri dan membuka celana dalamnya secepat kilat dan tampak oleh ku batang kemaluan kekasih ku itu berdiri tegak dan ukurannya itu membuatku kegat bukan main panjangnya mungkin 18cm dan besarnya luarbiasa baru pertama melihat kemaluan laki laki langsung lihat yang besar banget urat uratnya sampai mencuat mirib batang kayu dengan ujung kepala nya yang besar berwarna agak kemerahan da berkilat licin nafasnya sudah terengah engah ditimpanya tubuhnya ditas tubuh ku seraya memberiku ciuman ciuman mautnya aku hanya bisa pasrah diperlakukan seperti itu kak agus menciumi sekujur tubuhku menghisap payudaraku sebelum ahirnya dia bejongkok membuka pahaku dan mengarahkan batang kemaluannya yang sudah keras sseperti kayu itu ke mulut vagina ku akal sehat ku masih tersisa sedikit kembali kugelengkan kepalaku dan memintanya untuk mengurungkan niatnya kedua tangan ku menahan dadanya aku berkata “”kak jangan kak… jangan lakukan ini kumohon… tapi anehnya pahaku tak kututup kubiarkan selangkangan ku terbuka menanti tusukan batang kemaluan nya kak agus tdk peduli dengan permohonan ku malah ujung kepala penisnya diarahkan untuk menghunjam bibir vagina ku besarnya batang kemaluannya dan keadaan vagina ku yang masih perawan menyulitkan kak agus melakukan penetrasi berkali kali hampir masuk tetapi sesak dan terpeleset membuatku terpekik pekik “auh!..ohh..aauu!!..ohhhh
diludahinya ujung kemaluannya lalu ditaruhnya kembali tepat di mulut vaginaku dan dia mendorong pantatnya dari atas ke bawah perlahan namun dengan tenaga yg besar sambil bertumpu pada tangannya ahirnya perlahan lahan sedikit demi sedikt batang kemaluan Kak Agus bisa masuk ke dalam liang Vaginaku yang perawan itu aku terpekik keras aaaakkkhhh!!!….aahhhhh…aaaaauuuuuuuhhh…oohhh..oohhh.. kak teganya kau Aaaakkkkhh!!…tak ayal lagi batang kemaluan itu berhasil menerobos masuk semuanya kedalam vagina ku aku pun menangis dibawah tindihan tubuh kekar lelaki itu lelaki yang kucintai dengan sepenuh hatiku sempat kulihat wajahnya kuyu rambutnya acak acakan tatapannya nanar seperti orang yang keletihan dengan mulut terbuka rupanya kak agus mendapatkan sensasi kenikmatan luarbisa beruntung sekali dia di usia nya yg 38 th hari ini juga dia bisa mencicipi tubuh indah dan wajah cantik ku plus keperawanan ku jangankan kemaluan lelaki jari ku saja belum pernah kumasukan kedalam vagina ku tapi hari ini kemaluan kak agus berhasil menerobos sedalam dalamnya liang vaginaku pecahlah sudah perawanku aku menyesal sekali tetapi dorongan nafsu sex ku tak bisa juga ku acuhkan sentuhan berikut kak agus kembali meremas remas susuku sambil mulai mengoyang aku naik turun memompa aku dengan penisnya yang besar suara kami terdengar jelas saling memburu pelukannya erat sekali aku pun demikian seolah takut akan kehilangan pasangan masing2 goyangan tubuhnya luar biasa tubuh kekar nya menindih tubuh munggilku keringat bercucuran membasahi tubuh kami berdua payudaraku sampai berkeringat sebesar biji jagung bercampur keringat kak agus yang jatuh menetes dari dahinya ciumannya makin liar tak terkendali goyangannya pun semakin cepat batang kemaluannya masuk keluar dalam vaginaku yang sudah becek tak karuan bisa kurasakan ada yang mengalir dari vagina ku menetes lewat lubang pantatku dibawah mungkin itu darah perawnku yang mulai membasahi sprei dibawah aku sudah tak peduli lagi ak mulai merasakan kenikmatan tiada tara dari permainan tabu ini ini pengalaman pertamaku disetubuhi laki laki aku sudah lupakan semua norma norma kesusilaan karena nikmat ini sungguh luar biasa ooooooooouuuuuuhhhh….aaaahhhhh..hah..hah..ahh..hah..hah..hah..hah..suaraku seirama dengan genjotan naik turun kak agus 20 menit berlalu kak agus masih mengoyang ku suaranya seperti orang yang sekarat kadang dia meringis seperti orang kepedasan sambal sssshhh…hah…ssshhh…hah begitu ters menerus 55 menit lagi berlalu dan tampak oleh ku kak Agus sudah tak sanggup lagi menggoyang ku nampaknya dia akan mencapai puncak pelukannya pada tubuhku makin erat ku balas dengan lebih erat lagi goyangngannya semakin cepat dan agak kasar suara erangan dan jeritan kenikmatan kami saling bersahuta sahutan ahhh…ahhh…ooohhhh..oohh.oh..oh..oh..ah..ah..ahh..hhah..kurasakan denyutan kenikmatan semakin menjadi di vaginaku 2 menit kemudian kudapatkan orgasmeku yang pertama dari permainan sex dengan laki laki ini aku hampir histeris kupeluk kak agus erat2 dan kugigit dadanya saat itu pula lelaki itu memuntahkan cairan spermanya suara erangannya seperti orang yang kesakitan aaaghhrrrkkhhh…ooooooohhh ooohhhh..maya maya…maya…i love you maya…maya…setelah mengerang demikian kami seling berciuman bibir erat sekali melepaskan semua hasrat bisa kurasakan tubuh kak agus sampai gemetar hebat seperti orang kedinginan demikian pula aku 1,5 menit sesudah itu pelukan kami mengendor perlahan lahan dan kak agus ngelongsor diatas tubuhku masih sambil meremas susu keringat bercucuran di tubuh kita berdua sampai ranjang pun terasa basah oleh keringat cinta dan nafsu kami

Pengirim:
Maya
Pamangoogle@yahoo.com

Bersambung….

Banner Ads

Sponsored

Welcome To Mesum Story

Blog ini berisi kumpulan cerita mesum, cerita ini membahas bagaimana awalnya ML (ngentot) itu terjadi, Silahkan menikmati yang kami sediakan :) Keep Mupeng !!!

Want to subscribe?

Subscribe in a reader.